
"Aapppaaa?"
"Iya nyonya, saya mendapatkan kabar bahwa nyonya Lina telah meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit" polwan yang tadi pergi mencari informasi telah kembali dan langsung memberikan berita yang dia dapatkan.
"Lalu dimana suamiku?!" Rini langsung bangkit dan menepis tangan polwan yang berniat untuk menahannya.
"Biarkan aku pergi. Aku berjanji tidak akan kabur, aku hanya ingin menemui suamiku, aku berjanji" Rini memohon karena begitu khawatir pada suaminya.
Para polwan dan polisi yang menjaganya saling berpandangan, tapi saat mengingat kalau Rini adalah orang dibela oleh Rini, yang notabene adalah putri dari kepala posisi di kantor tersebut, mereka lalu saling mengangguk dan salah satu dari mereka membawa Rini untuk menemui Rega.
Deraian air mata tidak bisa lagi Rini bendung, begitu dia sampai didepan sebuah jeruji besi, dimana Rega berada.
__ADS_1
"Sayang, kenapa harus seperti ini. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!" Rini terjatuh di lantai dan memegangi jeruji besi, Rega menggenggam tangan istrinya supaya istrinya lebih tenang.
"Apa benar kamu membunuhnya? ini pasti tidak benar, cepat katakan kebenarannya dan kita bisa segera pergi dari tempat ini, Djani dan Qaynaya tidak lama lagi pasti pulang, mereka pasti sangat khawatir saat pulang dan tidak ada kita dirumah" Rini berkata pelan masih dengan air mata yang tidak bisa dia kendalikan.
"Tenang sayang, kamu akan aku pastikan segera keluar dari tempat ini, jangan khawatir" Rega membelai rambut tangan istrinya. Rini berhenti menangis dan memandangi wajah suaminya. Perkataan Rega sangat janggal baginya.
"Kenapa hanya aku yang pasti akan segera keluar, lalu apa yang akan terjadi padamu?,, apa benar kamu membunuhnya?" Rini yang tadi berhenti menangis, kembali menangis bahkan menjadi histeris. Rega tidak tau lagi bagaimana harus menenangkan istrinya, dia tidak bisa berbuat banyak karena terhalang jeruji besi yang menghalanginya.
Salah satu polisi meminta Rega untuk tenang, karena itu bisa saja memberatkan hukumannya, karena tidak berkelakuan baik. Rega terdiam saat melihat Rini yang sudah mendapatkan pertolongan. Rega harus bisa menahan diri supaya bisa menyusun rencana dan strategi.
"Apa yang bisa kita lakukan?" Rega berbicara dengan pelan, hingga salah satu tahanan yang berada satu ruangan dengannya menjadi heran, karena Rega berbicara sendiri.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" Rega kembali berbicara.
Setelah berbicara yang entah dengan siapa, Rega kembali duduk di ujung ruangan.
Rini dibawa kesebuah ruangan untuk segera mendapatkan pertolongan supaya bisa segera siuman. Setelah beberapa saat, Rini tersadar dan kembali menangis saat mengingat Rega.
"Tenang nyonya. Harus nyonya ingat bahwa saat ini, nyonya juga dalam proses hukum, jadi tolong bersikaplah kooperatif dan tidak membuat keributan"
Rini melihat kearah polwan yang sedang berbicara dengannya, dia lalu mengingat saat memukuli Geby, tapi bukan itu yang membuatnya terdiam, karena dia tidak menyesalinya.
"Dimana sekarang Geby? dia yang seharusnya dipenjara, karena telah memfitnah suamiku!!" Rini turun dari ranjang dan melepaskan selang infus yang berada di pergelangan tangannya.
__ADS_1