Kesepian

Kesepian
Hukuman


__ADS_3

"Mau kemana?" Qaynaya bangun dari tidurannya dan duduk diatas ranjang saat melihat sang suami selesai mandi dan sudah rapi dengan pakaiannya.


Djani tidak menjawab apapun lalu segera keluar dari dalam kamar. Qaynaya menahan tangisannya, saat dia akan turun dari ranjang, Neli masuk ke dalam kamar membawakan makanan.


"Makan dulu sayang, kamu mau kemana? maafkan Djani yang sepertinya sangat sibuk. Dia harus segera meeting dengan ayah mertuamu, karena klien penting sudah menunggu terlalu lama"


"Nenek, maafkan aku" Qaynaya menyadari kesalahannya.


"Sudahlah sayang, jangan dipikirkan lagi. Sekarang yang penting kamu sudah aman, dan ingat untuk tidak melakukannya lagi, sekarang cepatlah makan"


Qaynaya makan ditemani oleh Neli. Mereka sambil mengobrol membicarakan masalah yang dihadapi oleh Qaynaya. Neli meminta pada cucu menantunya itu untuk tidak mengambil langkah apapun, tanpa dibicarakan dengan Djani ataupun dengan nya.


"Percayalah pada Djani" Neli membelai rambut Qaynaya, dan memintanya untuk menghabiskan semua makanannya. Setelah Qaynaya selesai makan, Neli meminta nya untuk beristirahat kembali.


Qaynaya menurut, karena dia memang sangat mengantuk. Badannya juga terasa sakit karena terbentur saat terjadi kecelakaan.


Cukup lama Qaynaya tidur, hingga waktu menjelang sore hari, Qaynaya baru terbangun. Setelah mandi dan memakai baju, Qaynaya lalu keluar dari dalam kamar. Rasa canggung tentu saja dia rasakan saat melihat semua anggota keluarga melihat kearahnya.


Qaynaya mengangguk dan menyapa semuanya. Rini dan Sasha tidak bereaksi apapun, Neli yang baru keluar dari dapur langsung mendekati Qaynaya, dan memintanya untuk kembali istirahat saja dulu.


Neli memberitahu pada Qaynaya kalau Djani akan lembur bekerja dan pulang larut malam, jadi Qaynaya tidak perlu menunggu nya. Raut kecewa sudah pasti terlihat dari wajah Qaynaya, tetapi dia mencoba untuk tersenyum.


Qaynaya berjalan perlahan menuju taman di samping rumah, tanpa sengaja dia berpapasan dengan pelayan yang tidak menyukainya. Pelayan itu menyindir Qaynaya dengan sebutan tidak tau diri dan merepotkan saja.


"Apa yang kamu katakan?!" Neli yang kedatangannya tidak disadari oleh pelayan itu juga mendengarnya.


"Ti,, tidak nyonya, saya tidak mengatakan apapun" pelayan itu terlihat ketakutan.


"Walaupun kamu adalah pelayan yang ditunjuk sebagai kepala pelayan, tapi jangan pernah seenaknya bersikap. Apalagi terhadap nona muda mu sendiri, cepat minta maaf pada nona Qay!!" Neli berteriak marah, pelayan itu semakin ketakutan dan terlihat menggigil.


"Tidak nenek, sepertinya nenek salah dengar. Mari sudahi saja dan jangan diperpanjang lagi" Qaynaya menggenggam tangan Neli lalu mengajaknya untuk duduk di kursi taman tersebut. Tapi Neli yang sudah terlanjur marah, dengan keras memanggil Rini untuk segera memecat pelayan yang berani menyinggung perasaan Qaynaya.


Pelayan itu bersimpuh di hadapan Rini, dan terus mengucapkan permintaan maaf serta memohon untuk tidak dipecat.


"Bukankah nyonya tidak menyukainya, jadi saya hanya membantu nyonya untuk membuat nya semakin tidak betah dan segera pergi dari sini"


Ppplllaaakkkkk


Tamparan keras mengenai sang pelayan yang tidak sadar bahwa dia telah salah bertindak dan terlalu ikut campur dalam urusan majikannya.


"Menantuku tidak mungkin menyakitimu dan bahkan membalas perbuatanmu, jadi aku yang membalasnya. Aku tidak tau sudah berapa kali kamu menyakitinya, tapi aku pastikan kalau ini yang terakhir kalinya, sekarang enyahlah dari sini!!" Rini mengambil tisu lalu membersihkan tangannya yang baru dipakai untuk menampar pipi pelayan sok berkuasa itu.


Qaynaya tidak mengetahui kejadian itu, karena dia masih berada di taman kecil. Rini memperhatikan menantunya itu dari balik jendela di lantai atas di balkon kamarnya. Senyuman tipis terlihat di ujung bibir Rini saat melihat apa yang dilakukan oleh Qaynaya.

__ADS_1


"Walau kamu bisa terbang, jangan sombong padaku" Qaynaya berbicara dengan seekor kupu-kupu yang hinggap di setangkai bunga mawar, saat kupu-kupu itu terbang, Qaynaya melambaikan tangannya.


"Qay, ayo masuk sayang. Sudah mulai gelap, dan di luar anginnya kencang, nanti kamu masuk angin" Neli memanggil Qaynaya.


"Sini duduk di sebelah nenek, kita menonton televisi bersama-sama" Neli menuntun Qaynaya menuju ruang keluarga yang sudah ada Sasha duduk di sofa, sedang tertawa menonton televisi dengan chanel acara lawakan.


Qaynaya tidak tau harus bagaimana, dia juga tidak berani untuk menyapa terlebih dahulu. Sasha kembali menonton televisi setelah sejenak melihat kedatangan Qaynaya.


"Dia sangat cantik dan menawan, mungkinkah Djani akan mencintai nya juga seiring dengan berjalannya waktu? Kenapa kamu ini Qay?? pikir saja pakai logika, mana ada pria yang tidak terpesona pada wanita seperti ini" Qaynaya terus memperhatikan Sasha, hingga tidak menyadari bahwa Rini telah duduk di samping Neli.


"Sayang, untuk makan malam ini kamu mau apa?" Neli mengagetkan Qaynaya dan membuat Qaynaya terlonjak kaget. Saat melihat kearah Neli, Qaynaya kembali terkejut melihat Rini yang berada di samping Neli.


"Aahh!" Qaynaya yang sedikit memundurkan badannya karena kaget, tidak sengaja membentur tembok.


"Hati-hati Qay, apa kepala mu sakit?" Neli mendekat dan mengusap lembut kepala Qaynaya. Sasha tidak bisa menyembunyikan tertawanya. Dia geli melihat tingkah Qaynaya yang kaget melihat Rini.


"Ahahahaha"


"Apa yang kamu tertawakan!!?" Rini kesal pada Sasha, dia juga sedih karena menantunya terlihat takut padanya.


"Tidak Tante, ini acara lawakannya sungguh sangat lucu" Sasha ngeles tapi masih tidak bisa mengendalikan tawanya.


"Neli dengar dari Djani kalau kamu sangat pandai membuat nasi goreng, nanti lagi kalau kamu sudah semakin membaik kondisinya, buatkan untuk nenek ya?" Neli tersenyum dan mengusap lembut bahu Qaynaya, seolah tahu akan kecanggungan dan kegelisahan Qaynaya.


Malam sudah larut, tetapi tidak terlihat juga kedatangan Djani. Neli meminta pada Qaynaya untuk menunggu di dalam kamar saja, tetapi Qaynaya menolak dan beralasan masih ingin menonton televisi. Semua sudah memasuki kamarnya masing-masing, hanya tinggal Qaynaya dan Neli yang masih duduk di sofa ruang keluarga.


"Nenek terlihat sangat mengantuk, lebih baik nenek tidur saja terlebih dahulu. Aku juga akan masuk ke dalam kamar sebentar lagi, ini acara yang aku tonton sudah mau selesai"


"Yakin tidak apa-apa?" tanya Neli sambil bangkit dari duduknya, karena dia memang merasa sangat mengantuk. Setelah Qaynaya meyakinkan, Neli juga lalu masuk ke dalam kamarnya.


Melihat televisi terlalu lama membuat Qaynaya juga mengantuk, tanpa sadar dia ketiduran di atas sofa.


"Aaahhh!" Qaynaya kaget saat merasakan seseorang menyentuhnya. Tanpa sadar Qaynaya mendorong orang tersebut. Saat sudah benar-benar sadar, Qaynaya langsung berdiri dan meminta maaf, ternyata yang menyentuhnya adalah Djani yang berniat menggendongnya masuk kedalam kamar.


"Kapan kamu datang? apa kamu sudah makan malam?" Qaynaya bertanya kepada suaminya, tetapi Djani masih enggan untuk berbicara dan langsung berjalan menuju kamar mereka. Qaynaya mengikuti dari belakang.


Djani membersihkan diri dan berganti baju. Qaynaya tersenyum dengan manisnya menunggu suaminya.


"Kenapa tidur disini?" Qaynaya mendekati Djani yang tiduran di sofa, kembali tidak ada jawaban. Djani bahkan menutupi wajahnya dengan selimut. Qaynaya memegangi lengan Djani dan kembali meminta maaf.


"Maafkan aku, ayo tidur di ranjang. Disini sempit, nanti kamu terjatuh" setelah menunggu beberapa saat, Djani tidak juga bereaksi apapun. Qaynaya lalu berjalan perlahan menuju ranjang, dia tidak bisa memaksa suaminya.


Qaynaya tiduran dan memandangi suaminya dari ranjang, lama-kelamaan matanya terpejam karena malam sudah sangat larut. Sepertinya dia juga lelah bermonolog dengan hatinya dari tadi. Dia tau kalau suaminya masih sangat marah padanya.

__ADS_1


Pagi hampir menjelang, Qaynaya bangun dengan cepat, tapi saat melihat kearah sofa, ternyata suaminya sudah tidak ada lagi disana. Qaynaya mencari kedalam kamar mandi, dan dia juga tidak menemukan keberadaan suaminya disana.


Qaynaya mencuci wajahnya lalu segera bergegas keluar dari kamar, dia masih berusaha mencari suaminya.


"Djani sudah berangkat bekerja, dia tidak membangunkan dirimu karena kamu masih terlihat sangat nyenyak tidur. Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Neli yang sedang duduk sambil membantu pelayan menata meja makan, Qaynaya lalu membantu Neli.


"Sudah sayang, tidak perlu melakukan ini. Cepatlah masuk kembali ke dalam kamar mu, nanti saat sarapan sudah siap, nenek akan memanggilmu"


"Aku akan membuat nasi goreng, bolehkah nek?"


"Kamu yakin sudah sehat dan tidak lelah?"


"Yakin nek, aku kan tidak terluka"


Neli lalu membiarkan Qaynaya memasak, Rini memperhatikan menantunya yang sedang memasak bersama dengan pelayan yang bertugas di dapur, sesekali terdengar Qaynaya yang mengobrol dengan pelayan.


"Qay ternyata sangat baik, dia tidak sombong, walau dia adalah menantu di rumah ini, aku benar-benar sudah sangat salah faham terhadap dirinya" batin Rini, lalu segera pergi karena melihat Qaynaya yang berjalan menuju ke arahnya.


"Tante sudah bangun? apa mau sarapan sekarang? apa yang mau tante makan untuk sarapan?" tanya Qaynaya saat melihat mertuanya. Qaynaya yang tengah membawa satu wadah besar nasi goreng lalu segera meletakkan nya karena semakin terasa panas.


"Apa saja yang ada dimeja makan" jawab Rini sambil melihat kearah nasi goreng buatan Qaynaya.


Tidak lama semua sudah berkumpul untuk segera sarapan, Neli dan Rega memuji nasi goreng buatan Qaynaya.


"Nasi goreng sederhana, dengan resep ala kampung memang membuat kita merasa sangat rindu dengan kampung halaman. Rasanya sangat enak, terimakasih Qay atas sarapannya" Rega memberikan pujian nya setelah selesai makan.


Mereka lalu kembali pada rutinitas mereka masing-masing, Qaynaya juga masuk kedalam kamar untuk mandi, walau dia tidak tau apa yang akan dia lakukan setelahnya.


Qaynaya mencoba untuk menghubungi Djani lewat panggilan telepon, tapi Djani tidak mengangkatnya. Qaynaya tidak menyerah dan mengirimkan pesan.


"Sayang maafkan aku"


"Maaf cintaku"


"Mmaa aaafff"


"😘😘😘😘😘 maafkan aku 🥺🥺🥺🥺🥺"


"Sayang balas pesanku 😔"


Qaynaya sedih karena pesannya terbaca tapi tidak dibalas, dengan langkah gontai, Qaynaya memilih untuk berlama-lama berendam dalam air hangat.


"Aku harus bekerja setelah Djani tidak marah lagi, bisa mati bosan kalau terus seperti ini" Qaynaya memainkan busa sambil berbicara sendiri.

__ADS_1


Tidak ada yang berbeda seperti kemarin, karena Djani masih terus mendiamkan dan selalu menghindari Qaynaya.


__ADS_2