Kesepian

Kesepian
Kamulah Ratunya


__ADS_3

"Tuan Djani Sudrajat yang terhormat, kenapa anda seperti bapak-bapak yang suka bergosip, bahkan membanggakan diri sendiri" Qaynaya tidak mengerti dengan suaminya yang sedari tadi berbicara sendiri.


"Eehhh Ratuku, apa Putri kita sudah tertidur kembali?" Djani mendekati Qaynaya setelah mengeringkan tangannya.


"Banyak sekali yang mendekati ku semenjak dahulu, tapi hanya kamu yang aku tuju. Dan selamanya hanya kamulah ratu ku" Djani lalu membopong tubuh Qaynaya dan membawanya ke sebuah sofa.


"Kenapa aku baru tau kalau kamu ini begitu sombong?" Qaynaya saat ini berada dalam pangkuan Djani.


"Kamu adalah wanita pertama yang menarik perhatian ku, dan berhasil membuat ku terjatuh, lalu aku terus terdiam di dalam jurang cintamu itu, tidak bisa keluar lagi dalam jurang itu. Tapi di dalam jurang itu hanya ada cinta dan kasih sayang. Jadi aku sendiri yang memang tidak bisa dan tidak sanggup untuk pergi dari jurang itu"


"Kamu ini sangat puitis sekali, sebenarnya ada apa? kamu malah membuatku curiga" Qaynaya mengerutkan keningnya melihat suaminya yang biasanya tidak banyak bicara, dan hanya langsung melakukan aksinya.


"Aku tidak bisa melakukannya saat kita berpacaran, tidak bisakah sekarang aku melakukannya. Kamu terlalu mandiri sejak dahulu, sekarang jadilah manja dihadapan ku, aku pun seperti itu, karena aku akan selalu manja dan menunjukkan perasaanku padamu" Djani lalu memeluk erat tubuh istrinya.


"Apa yang membuatmu menyukaiku?" tanya Qaynaya, pertanyaan yang sudah sangat sering dia tanyakan dulu.


"Karena kamu begitu jahat" jawab Djani, lalu merebahkan tubuh Qaynaya ke atas sofa.


"Kamu sangat jahat. Karena berani memenjarakan hatiku selamanya" Djani melakukan aksinya diatas sofa, tidak lupa dia mengunci pintu rumah terlebih dahulu.


Dua insan yang baru bertempur dengan panasnya itu, masih betah tiduran sambil berpelukan di atas sofa.


"Aku bahkan menolakmu beberapa kali, tapi kamu tidak berhenti berusaha, aku pikir kamu hanya penasaran padaku, tapi ternyata sampai sekarang kamu masih ada di sampingku. Selamanya aku harap jangan berubah, aku akan semakin mengikat kencang dirimu di sisiku, jadi jangan pernah berfikir untuk pergi" Qaynaya menggesekkan pipinya pada dada bidang suaminya. Sekelebat ingatannya saat akhirnya menerima Djani sebagai kekasihnya membuatnya tersenyum.



💞💞💞 Flashback 💞💞💞



"Kenapa kamu terus menolaknya?" tanya Serli di suatu siang saat mereka sedang jam kosong, dan memilih untuk nongkrong di kantin kampus.



"Dia itu populer, banyak dari mahasiswi di sini bahkan dari luar kampus kita yang menyukainya, bahkan setiap hari dia menerima pernyataan cinta. Aku hanya berfikir kalau dia pasti hanya penasaran saja padaku"



"Dia tidak pernah menerima satupun pernyataan cinta itu, dia terkenal dengan sifat dinginnya. Baru kamu yang dia sukai" Rani ikut nimbrung setelah membeli beberapa camilan.



Qaynaya masih ragu untuk menerima perasaan Djani, walau pria itu sudah melakukan berbagai macam cara, untuk bisa menarik perhatian darinya.



Saat mereka bertiga sedang asyik mengobrol, Djani dan Doni serta teman yang lainnya juga datang ke kantin. Mereka semua langsung bersorak untuk menggoda Djani dan Qaynaya.



Karena malu, Qaynaya memalingkan wajahnya tidak mau melihat kearah Djani. Begitupun Djani yang tidak mendekat ke tempat dimana Qaynaya berada, dan memilih duduk di kursi yang sedikit jauh.



"Ada apa nih? sang Dewi dan Dewa di kampus ini kenapa saling diam? boleh dong aku yang maju?" ujar Doni, tapi belum juga Doni bangkit dari duduknya untuk mendekati Qaynaya, tatapan mata Djani sudah berhasil menghentikan niatnya.



"Iya, iya,, aku mengerti" Doni memilih untuk memesan sesuatu untuk dimakan.



Qaynaya terlihat tidak nyaman dan grogi, karena banyak mata yang melihat kearahnya. Itulah yang sebenarnya tidak di inginkan oleh Qaynaya, dia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian.



"Kemana Qay?" tanya Rani.



"Aku mau ke kelas terlebih dahulu, kalian selesaikan dulu saja makan nya" Qaynaya langsung berjalan cepat pergi dari kantin.



Qaynaya masuk ke dalam ruangan kelas dimana jam mata kuliah berikutnya akan dilaksanakan. Tapi dia tidak menyadari bahwa Djani mengikutinya dari saat dia berjalan pergi dari kantin. Setelah sampai di kelas, Qaynaya langsung memakai headset bluetooth yang baru dia ambil dari dalam tasnya, dan mulai bernyanyi mengikuti irama lagu yang sedang dia dengarkan.



"Terlambat sudah aku menyadari, Setelah hatiku, kini terluka. Hatiku yang tulus selalu mencintai, dan menyayangimu segenap jiwa



Kini kucoba untuk merenungi. Dalam hati ini kucoba bertanya, apakah salahku hingga dirimu pergi? Cintaku menjadi harapku sia-sia



Dalam diam ku terpaku mengingat kisah kita. Sedih hatiku tiada berbicara, lemah diriku sungguh tidak berdaya. Kepergianmu membuatku tersiksa



Andaikan waktu bisa ku putar kembali. Kuingin dirimu tetap ada di sini, melewati kisah cinta yang kita jalani, ku tak mampu bila dirimu pergi



Terdiam ku tenggelam meniti sepi malam. Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan. Mengalir air mata membasahi pipi. Ku tepis kan semua dengan ikhlas hati



Andaikan waktu bisa ku putar kembali. Kuingin dirimu tetap ada di sini. Melewati kisah cinta yang kita jalani. Ku tak mampu bila dirimu pergi.



Terdiam ku tenggelam meniti sepi malam. Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan. Mengalir air mata membasahi pipi. Ku tepis kan semua dengan ikhlas hati



Ku Ikhlaskan engkau pergi. Dalam hatiku pun sudah rela. Jika nanti kau kembali. Pintu hatiku selalu terbuka" Qaynaya terus bernyanyi pelan, tapi dia masih tidak menyadari kehadiran Djani di belakangnya.



"Aahhhh, ini kenapa lagi" Qaynaya berhenti bernyanyi saat ponselnya tiba-tiba eror dan berhenti memutar musik yang sedang dia dengarkan. Akhir-akhir ini dia sedang sangat suka mendengarkan lagu milik Nazia Marwiana, yang berjudul terdiam sepi.



Rupanya ponsel Qaynaya yang terlihat sudah sangat usang itu sering eror.



"Ahahahaha" terdengar suara tawa yang membuat Qaynaya menoleh. Dua sahabat nya sudah ada di belakangnya dan mentertawakan diri nya.



"Sudah aku katakan, ganti ponselmu" ujar Rani lalu duduk di samping Qaynaya.



"Tidak perlu, ini masih bisa dipakai. Mohon maaf ya para sultan sejak lahir, membeli ponsel tidak semudah itu bagi kami kaum mis,,,,"



"Huusssstttt!!" Serli menutup mulut Qaynaya dan menghentikannya berbicara.



"Aku paling tidak suka kalau kamu sudah membicarakan tentang hal itu, lagipula kamu di suruh beli tidak mau, padahal aku tau kalau kamu sangat mengirit, jadi pasti punya uang. Kami belikan juga kamu tidak mau" Rani memainkan rambut Qaynaya yang terlihat lucu karena di kriting Curly.



"Apa sih Rani, geli tau ngga?" Qaynaya lalu mengibaskan rambutnya.



"Kamu sangat cantik Qay, aku saja yang perempuan sangat kagum dan menyukai mu, apalagi para pria ya" ujar Rani lalu merapikan rambut Qaynaya yang berantakan, karena barusan di kibaskan.



"Aku tidak suka disentuh, lepaskan tanganmu" Qaynaya memegangi tangan Rani untuk memintanya menghentikan hal yang tidak disukainya itu.



"Rambutmu berantakan Qay, aku hanya membantu merapikan, supaya penonton dan pendengar setia mu tidak terganggu melihat rambutmu yang seperti nenek lampir ini" Rani tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Qaynaya, dan tetap merapikan rambut sahabatnya itu.



"Penonton? pendengar?" tanya Qaynaya heran, lalu tanpa sadar dia menoleh ke belakang dan melihat dimana Djani duduk. Mereka berpandangan untuk sesaat, tapi Qaynaya langsung kembali memalingkan wajahnya menghadap ke depan.



"Sejak kapan dia ada disana? bukankah dia tidak mengikuti kelas ini ya?" tanya Qaynaya berbisik pada kedua sahabatnya.



"Dari kami datang, dia sudah ada disana. Dia juga melarang siapapun masuk ke dalam ruangan ini, hanya kami yang diperbolehkan" bisik Serli menjawab.


__ADS_1


"Ini sangat memalukan" wajah Qaynaya memerah karena malu.



"Siapa yang berani melarang para mahasiswa untuk masuk ke dalam ruangan!!" dosen masuk dengan marah, karena para mahasiswa dan mahasiswi bergerombol di depan pintu masuk ruangan kelas, yang mana sebentar lagi akan dimulai pembelajaran.



"Saya pak" jawab Djani singkat dan menganggukkan kepalanya pada sang dosen, lalu segera bergegas keluar karena memang dia tidak mengikuti kelas sang dokter.



"Oh Djani, ada apa? apa ada yang sedang kamu cari?" tanya dosen tersebut dengan ramah, sepertinya kemarahannya telah menguap begitu melihat siapa biang keladinya.



"Djani itu terlihat dingin, bahkan para dosen pun terlihat segan padanya" bisik Rani pada Qaynaya, mereka tidak lagi mendengar pembicaraan Djani dan dosen.



"Sebenarnya siapa Djani ya? tapi menurut berita yang aku dengar, dia hanyalah orang biasa. Dia bahkan jauh dari kedua orang tuanya" Rani membisikkan sesuatu yang membuat Qaynaya keheranan.



"Tau dari mana?" tanya Qaynaya.



"Dia itu populer, tentu banyak yang mencari tau tentangnya, dan itu menjadi berita umum di kampus ini. Kamu saja yang kutu buku dan selalu saja ketinggalan berita. Aku beritahu ya Qay, dia itu hanyalah orang biasa, jadi terima saja perasaannya. Kamu kan pernah mengatakan tidak mau kalau sampai mempunyai kekasih atau suami dari kalangan atas" Rani lalu terdiam karena dosen menatapnya tajam.



"Kalian kalau mau mengobrol di luar saja sana!"



Tidak ada lagi yang berbicara dan mulai focus pada materi yang diberikan oleh sang dosen.



Waktu terasa lama bagi Rani yang sebenarnya tidak terlalu menyukai mata kuliah yang sedang dia ikuti, dia hanya mengikuti nya karena ada Qaynaya dan Serli.



"Akhirnya selesai sudah penderitaan ku ini" ujar Rani lalu merentangkan kedua tangannya. Qaynaya dan Serli hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah sahabatnya.



"Kalian mau langsung pulang atau bagaimana? aku pulang dulu ya" Qaynaya bangkit dari duduknya, tapi Serli menarik tangannya kembali hingga terduduk ditempat semula.



"Bagaimana kalau kita menonton sebuah film yang baru saja rilis, film beranak dalam kubur" Serli mengajak kedua sahabatnya untuk nonton ke bioskop.



"Siapa yang beranak dalam kubur?" tanya Qaynaya dengan polosnya.



"Luna maya, dia yang kali ini memerankan tokoh Suzana, ayolah temani aku. Sudah lama aku menunggu waktu perilisannya, tapi aku tidak berani untuk nonton sendiri"



"Aku tidak bisa Serli, aku harus menemani ayahku" jawab Qaynaya.



"Apa ayahmu masih sakit?" tanya Serli kemudian, dia tidak menyangka kalau ayah dari salah satu sahabat nya itu masih saja belum sembuh.



"Penyakit ayahku tidak mungkin sembuh" Qaynaya menjawab dengan sedih. Rani dan Serli menjadi sangat merasa bersalah.



"Maaf Qay, baiklah ayo kami antarkan pulang" Serli sudah kembali ceria lalu bangkit dari duduknya dan menarik tangan Qaynaya.



"Tunggu!" Rani berteriak meminta kedua sahabatnya untuk tidak meninggalkan dirinya.




Djani berdiri di depan plang yang dipegangi oleh beberapa sahabatnya, termasuk juga Doni yang terlihat kepanasan dan keberatan.



"Qaynaya, aku semakin dan semakin terjatuh padamu. Tolong selamatkan aku" bunyi dari plang besar berwarna pink dan biru tersebut. Qaynaya tidak bisa menghindar, apalagi dia sudah semakin di kerumuni para mahasiswa lain yang ingin melihat tontonan yang tidak ada setiap hari tersebut.



"Djani begitu populer, dia banyak disukai oleh mahasiswi di kampus ini. Tapi kenapa dia harus menyukai wanita seperti itu?" ujar seseorang yang suaranya bisa terdengar sampai ke telinga Qaynaya.



"Walau dia cantik, tapi wanita itu dekil dan miskin" sebuah suara lain yang begitu terasa sangat menyakitkan bagi Qaynaya saat mendengarnya. Tapi dia kemudian menyadari bahwa apa yang di dengar nya adalah suatu kebenaran.



Djani mendekati Qaynaya dengan membawakan satu buket bunga besar yang didalamnya terdapat sebuah ponsel keluaran terbaru dengan merk yang sangat terkenal.



"Qay, aku mohon jadilah kekasihku" Djani menyodorkan buket itu ke hadapan Qaynaya.



"Tolong jangan buat keributan disini. Dan aku tidak mau" Qaynaya langsung berlari pergi, dan disusul oleh Serli serta Rani.



Dalam perjalanan pulang, Qaynaya terus terdiam. Kedua sahabatnya juga tidak berani mengatakan sesuatu, karena menyadari kalau Qaynaya sedang tidak ingin berbicara.



Setelah sampai dirumahnya, Qaynaya langsung masuk kedalam kamar nya, Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah. Qaynaya begitu malu, bagaimana bisa seorang Djani menyukai dirinya. Walau Rani dan Serli mengatakan kalau Djani adalah orang biasa, tapi hati Qaynaya merasakan sesuatu yang lain.



Lagipula orang biasa apanya yang menembak perasaan seorang wanita menggunakan sebuah ponsel yang sangat mahal, saat pernyataan cinta Djani yang pertama kali untuk Qaynaya juga, dia membawakan bunga yang super mewah, yang bagi seorang mahasiswa biasa, tidak mungkin sanggup untuk membelinya.



Setelah memikirkannya, Qaynaya bertekad untuk tidak pernah mau menerima perasaan Djani padanya. Qaynaya tidak mau berpacaran dengan orang kaya, karena itu pasti hanya akan putus ditengah jalan. Bagi Qaynaya, dia harus bisa sadar diri, supaya nantinya tidak sakit hati.



Sudah banyak kasus dan contohnya, orang biasa yang berpacaran dengan orang kaya, pasti akan putus di tengah jalan. Karena keluarga pihak si kaya, pasti tidak merestui hubungan anaknya dengan orang yang tidak punya, atau istilahnya adalah miskin.



Untuk perasaan sendiri, sebenarnya Qaynaya sedikit menyimpan perasaan pada Djani. Tidak mungkin bisa dipungkiri, pria tampan seperti Djani pasti saja membuat hati Qaynaya sedikit tertarik. Apalagi ini adalah pengalaman pertama dia ditembak dua kali secara langsung oleh pria yang sama.



Biasanya pria akan berhenti berusaha begitu ditolak, tapi tidak dengan Djani, dia masih saja terus berusaha.



Keesokan harinya, Qaynaya berangkat kuliah seperti biasanya. Dan sudah pasti karena kejadian kemarin, dia selalu menjadi perhatian semua orang, tidak terkecuali dengan para dosen.


"Kenapa wajahmu begitu lesu?" tanya Rani yang entah dari arah mana, tiba-tiba saja sudah berada di samping kiri Qaynaya dan merangkulnya.


"Jangan khawatirkan apapun Qay, kamu ini sekarang adalah selebritis yang berani menolak bintang kampus ini untuk yang kedua kalinya" ujar Serli yang juga entah dari mana, dan langsung berdiri di samping kanan Qaynaya.


"Para mahasiswi sepertinya sangat membenciku, lihatlah tatapan mata mereka yang seolah ingin menghabisi ku" Qaynaya bergidik ngeri melihat para mahasiswi cantik yang berjejer rapi di setiap sudut.


"Aku heran kenapa Djani tidak menyukai mereka saja. Bukankah mereka lebih segalanya dariku?" ujar Qaynaya lalu berjalan cepat, karena tidak mau merasakan kecanggungan yang teramat sangat.


"Ini sungguh membuatku canggung, dan bahkan sedikit takut. Masa kuliah kita masih ada beberapa semester, lalu apakah selamanya aku harus seperti ini" Qaynaya mengeluh lalu segera berjalan ke salah satu kursi, supaya dia bisa segera duduk.


"Djani tidak terlihat dimanapun, biasanya sebelum kamu datang, dia sudah menunggumu di dalam ruangan manapun yang kamu tuju" Rani berbicara sambil celingukan mencari keberadaan Djani.


"Mungkin dia malu karena kejadian kemarin, dan para wanita di luar sana itu marah pada Qay, karena membuat pangeran mereka patah hati" jawab Serli enteng.


Tidak lama kemudian, dosen pengajar datang, para mahasiswa dan mahasiswi langsung terdiam dan dengan focus mendengarkan materi.


Waktu sudah menunjukkan saatnya untuk istirahat makan siang. Mereka mengantri untuk membeli makan siang, Qaynaya tidak mengerti, kenapa kantin kampus siang ini terasa sangat berbeda. Suasananya sangat ramai, hingga untuk memesan makanan kesukaannya juga harus mengantri panjang.


Qaynaya mengikuti arah langkah Serli yang berada di depannya, dia yang tadi tidak sempat sarapan terlihat begitu lemas dan menyandarkan kepalanya pada punggung sahabatnya itu. Setelah Serli selesai memesan, sekarang giliran Qaynaya, tapi karena tidak memperhatikan keadaan sekitar, dan kepalanya masih berada di punggung Serli saat dia berbicara, Qaynaya tidak tau siapa yang sedang dia ajak berbicara.


"Bi Euis, tolong aku mau satu mangkok mie ayam ya, terimakasih" ujar Qaynaya lalu mengangkat wajahnya, sehingga dia menyadari bahwa yang dihadapannya bukan bi Euis yang biasanya menjual mie ayam.

__ADS_1


Djani tersenyum dengan tampannya di depan Qaynaya, dibalik sebuah etalase. Qaynaya kelabakan melihatnya.


"In, iinnni uangnya" Qaynaya menyerahkan uang yang sedari tadi dipegangnya. Djani lalu mengambilnya.


"Apa tidak ada pesanan yang lainnya?" tanya Djani, yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Qaynaya.


"Baiklah, ini kembalian nya dan tunggu sebentar, nanti pesananmu akan kami antarkan" Djani tidak bisa menghilangkan senyuman manis di wajahnya saat memandangi wajah merah merona Qaynaya.


Karena terdorong dari belakang, Qaynaya terdesak dan menubruk etalase.


"Aawwwww!" Qaynaya memegangi pinggiran etalase yang sedikit tajam untuk berpegangan, tapi tangannya menjadi terluka.


"Hati-hati!!" Djani berteriak marah melihat kearah mahasiswi yang mendorong Qaynaya.


"Dia yang terlalu lama memesan, salah sendiri" jawab mahasiswi itu.


"Matamu itu bisa melihat tidak?!!" Rani berteriak marah pada mahasiswi yang mendorong Qaynaya.


"Dia belum kepinggir karena sedang mengambil kembalian" ujar Rani lagi, kemudian dia memeriksa jari Qaynaya yang berdarah.


"Wahh,, lukanya lebar,, ayo Qay kita bersihkan dulu" ajak Rani, sambil menggandeng tangan Qaynaya.


"Maafkan aku" ucap Qaynaya, dia merasa bersalah karena membuat keributan, lalu segera pergi, dan menghalangi Serli, yang hendak membalas orang yang telah melukainya.


"Kenapa tidak kamu balas Qay, biasanya kamu pintar membela diri!" Serli kesal pada Qaynaya.


Qaynaya tidak membalas dan hanya diam, lagipula luka gores seperti itu tidak terlalu menyakitkan, hanya saja dia malu karena kejadian itu ada di depan Djani.


Setelah lukanya dibersihkan, Rani lalu memberikan plester luka pada jari Qaynaya. Untung saja kampus mereka tidak jauh di depannya ada warung.


Mereka tidak kembali ke kantin, dan memilih untuk makan siang di cafe yang berada di sekitar kampus.


"Maafkan aku, gara-gara aku kalian jadi harus makan di luar, apalagi tadi kita sudah memesan makanan. Sia-sia sudah uang yang sudah kita bayarkan tadi" Qaynaya meletakkan kepalanya di atas meja. Perutnya sangat lapar, ditambah kejadian yang membuatnya malu, membuat Qaynaya bertambah gemetaran.


"Kamu ini kayak remaja yang baru jatuh cinta saja, cuma berpandangan sebentar dengan pria sudah gemetaran begini. Tidak mungkin kan kalau ini karena luka gores mu itu?" Rani mencibirkan bibirnya melihat Qaynaya.


Mereka heran melihat Qaynaya yang terlihat memiliki perasaan terhadap Djani, tapi menolak perasaan pria yang sudah dua kali menyatakan perasaannya.


Setelah terus didesak oleh kedua sahabatnya, Qaynaya lalu mengatakan alasannya menolak Djani. Yang pertama tentu saja karena Qaynaya masih tidak yakin kalau Djani benar-benar mempunyai perasaan terhadap dirinya, karena Qaynaya hanya berfikir bahwa Djani pasti hanya penasaran saja padanya, dan setelah mendapatkan keinginannya, Djani pasti akan meninggalkan dirinya suatu saat nanti.


Lalu yang kedua adalah, Qaynaya merasa dia tidak pantas untuk Djani yang merupakan pujaan hati para wanita, sementara dirinya hanya wanita biasa.


"Apa kamu tidak pernah menyadari kalau kamu itu adalah dewi di sekolah ini? kamu itu idola para pria, hanya saja kamu tidak pernah mau menyadarinya" ujar Rani, lalu menyodorkan sendok pada Serli.


Mereka lalu makan, karena makanan pesanan mereka sudah datang, dan saat mereka tengah asyik makan sambil mengobrol, ada beberapa mahasiswi yang datang mendekati meja Qaynaya.


"Hey cewek sok cantik?!, jangan pura-pura lagi di hadapan semua orang, kamu itu sok kecentilan dengan menolak Djani di hadapan umum sebanyak dua kali. Kamu pikir kamu secantik itu apa?!" ujar salah satu mahasiswi.


Qaynaya dan kedua sahabatnya masih diam dan meneruskan makan siang mereka, apalagi saat melihat jam tangan, terlihat kalau waktu makan siang sudah hampir habis. Hingga saat kaki meja di tendang oleh salah satu mahasiswi itu, Qaynaya bangkit dari duduknya sambil mengelap mulutnya.


"Aku memang cantik, apa kalian tidak bisa lihat?" ujar Qaynaya, lalu mengambil Tote bag miliknya.


"Ayo kembali ke kampus, waktu makan siang sudah selesai" ajak Qaynaya pada Serli dan Rani.


Saat hendak berjalan, Qaynaya di hadang oleh salah satu mahasiswi dan hendak mendorong tubuh Qaynaya, tapi belum sempat hal itu terjadi, Qaynaya menghindar dengan cepat, sehingga mahasiswi itu jatuh ke depan karena tidak bisa mengendalikan tubuhnya.


Serli dan Rani tertawa melihat mahasiswi itu yang jatuh tersungkur.


"Memang dia cantik, memang kami cantik. Lalu kamu mau apa?" ujar Serli lalu sedikit menyenggol bahu mahasiswi lain yang masih berdiri, dan terlihat tidak ada niatan untuk menolong temannya yang tadi terjatuh.


Djani tersenyum melihat adegan itu, dia tadi langsung menyusul kemana perginya Qaynaya, dan bisa mendengarkan semua yang dikatakan oleh pujaan hatinya.


"Dia memang sangat cantik dan pemberani" gumam Djani, lalu berjalan mengikuti kemana perginya Qaynaya.


Djani melihat Qaynaya duduk disebuah kursi, lalu dia menghampirinya dan duduk di depannya. Serli dan Rani tentu tau diri dan segera pergi, walau sempat dilarang oleh Qaynaya.


"Ini uang milikmu dan kedua sahabatmu, bukankah kalian tidak jadi makan di kantin. Jadi ini aku kembalikan" Djani menyerahkan uang pada Qaynaya.


"Tidak perlu, itu punya bi Euis, kami sudah memesan dan membayar, jadi ya sudah" Qaynaya menolaknya.


"Tidak bisa seperti itu dong, kan kalian tidak makan. Lagipula makanan yang kalian pesan juga belum dibuat. Uang ini pasti sangat berarti untukmu, seperti berarti juga untuk ku. Kamu juga lihat sendiri kalau aku bekerja membantu bi Euis di kantin, itu karena aku membutuhkan uang tambahan, mungkin kamu sudah dengar kalau aku jauh dari keluargaku. Itu karena aku ingin belajar mandiri, maafkan aku kalau kemarin aku membuat dirimu kesal karena hadiah yang aku berikan. Sebenarnya aku hanya ingin terlihat keren saja didepan mu, karena ponsel itu sebenarnya aku beli dari uang semesteran yang harus dibayarkan bulan depan. Untung saja tidak kamu terima, jadi aku jual lagi. Maafkan aku ya" Djani tersenyum dan hendak pergi, karena Qaynaya tidak juga menjawab penjelasannya.


"Kenapa kamu menyukai ku? bukankah begitu banyak perempuan lain di kampus ini. Mereka lebih segalanya dari diriku" Qaynaya akhirnya menanyakan hal itu langsung kepada Djani.


"Apakah cinta butuh alasan?" Djani menjawab dengan sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Qaynaya.


"Aku pergi dulu, sepertinya kelas ini akan segera dimulai" Djani lalu bangkit dari duduknya begitu melihat seorang dosen masuk kedalam ruangan. Serli dan Rani lalu kembali ke dekat Qaynaya, begitu Djani sudah pergi.


Kedua sahabatnya itu kepo dan menanyakan apa yang dikatakan oleh Djani, apakah mungkin pria itu kembali menyatakan cintanya, dan banyak pertanyaan lainnya yang terus ditanyakan secara bergantian, mereka bahkan lupa kalau dosen sudah datang.


Qaynaya memegangi kepala kedua sahabatnya, Serli dengan tangan kanan, dan Rani dengan tangan kiri, lalu mengarahkan wajah Rani dan Serli kedepan, supaya mereka bisa melihat dosen yang tengah melotot.


Serli dan Rani kaget lalu segera focus untuk mendengarkan apa yang di jelaskan oleh dosen. Materi kuliah kali ini sangat singkat, karena dosen mempunyai urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan, tapi dosen itu mempersilahkan seseorang untuk masuk kedalam ruangan.


"Perkenalkan ini adalah asisten saya, dia yang akan melanjutkan untuk memberikan materi kali ini, karena saya ada keperluan yang sangat tidak bisa ditinggalkan" dosen itu lalu segera pergi setelah asisten yang dia maksud sudah masuk kedalam ruangan.


"Djani?" ujar semua mahasiswa dan mahasiswi yang berada dalam ruangan. Mereka tentu sudah sangat mengenal siapa Djani, karena sudah beberapa lama sering masuk kedalam kelas mereka, hanya untuk sekedar melihat Qaynaya.


Kali ini Djani berada di depan kelas, dan dengan luwesnya mengajar. Para mahasiswi tentu saja makin klepek-klepek melihatnya, karena tidak cukup dengan tampan dan romantis, ternyata Djani juga sangat pintar.


"Bagaimana bisa semua diborongnya. Dia sangat tampan, caranya menembak wanita sangat romantis, dia juga adalah pentolan dari grup basket di kampus ini. Dan yang paling utama adalah sikapnya yang sangat cool, membuat orang makin penasaran padanya" bisik salah satu mahasiswi pada teman disebelahnya.


"Tapi dia sudah menyukai Qay yang sok cantik itu"


"Sebentar lagi juga Djani tidak akan menyukainya lagi, karena Qay sangat sok, pasti Djani akan segera berpaling, saat ini dia hanya sedang penasaran saja"


"Kamu yakin?"


"Tentu saja, lagipula Qay memang cantik, tapi kan dia miskin. Dia hanya cocok jadi mainan saja"


Mereka cekikikan, hingga dihentikan oleh Djani yang mendekati meja mereka, dan menanyakan materi yang tadi sudah dis jelaskan. Kedua mahasiswi itu gelagapan dan tidak bisa menjawab.


Saat Djani melihat ke arah Qaynaya dan hendak bertanya padanya, Qaynaya menggelengkan kepalanya. Bukan karena dia tidak bisa, tapi karena tidak mau gosip dirinya dan Djani semakin menjadi-jadi.


"Apa itu Wirausaha?,, coba jawab, kamu yang memakai baju warna kuning" Djani menunjuk kepada Serli, yang membuat gadis yang tengah tersenyum kearah Qaynaya itu menjadi terkejut.


Serli mengira kalau yang akan ditanya oleh Djani adalah Qaynaya, sekalian mereka bisa saling berpandangan, seperti dalam drama romantis, tapi ternyata perkiraan Serli salah, karena yang ditunjuk oleh Djani adalah dirinya.


"Anu, itu adalah anu,, apa Qay?" tanya Serli pada Qaynaya yang terus menggelengkan kepalanya.


"Saya wakilkan ya pak, karena Qay adalah yang terpintar di kelas ini" ujar Serli, yang pastinya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Qaynaya.


"Coba Qay, tolong bantu sahabatmu untuk menjelaskan" ujar Djani. Qaynaya tidak bisa membantah, karena bagaimanapun juga, saat ini Djani tengah menggantikan dosennya.


"Wirausaha adalah tindakan berani dalam melakukan kegiatan yang beresiko dan mengerahkan tenaga serta pikirannya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Orang-orang yang berwirausaha adalah mereka yang memiliki jiwa kreatif sekaligus inovatif. Peran seorang wirausaha sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Hal itu karena wirausaha dapat membangun perekonomian di negaranya" Qaynaya menjelaskan dengan detail.


Djani sangat puas dengan jawaban Qaynaya, tapi saat ini tidak ada senyuman yang dia tujukan pada Qaynaya, karena dia sadar kalau saat ini bukan waktunya untuk menunjukkan perasaan nya pada gadis yang terus saja membuatnya semakin kagum.


Setelah hari itu, Djani sering kali terlihat di kantin untuk membantu bi Euis, begitu juga dengan menjadi asisten dosen, hal itu masih sering dia lakukan. Selama ini sebenarnya Djani sudah melakukan hal itu, hanya saja sengaja menyembunyikannya dari Qaynaya, dan selalu izin bekerja saat Qaynaya berada di kantin, atau memilih bekerja di belakang, dan tidak melayani pesanan. Begitu juga dengan menjadi asisten dosen, Djani selalu meminta izin pada dosen untuk tidak mau mengajar di kelas Qaynaya, karena Djani pikir Qaynaya tidak akan menyukai pria yang hanya bekerja di sebuah kantin dan menjadi asisten dosen saja.


"Kamu ini masih kuliah, hal itu menurutku sudah sangat luar biasa" Qaynaya sudah semakin akrab dengan Djani dan tidak lagi selalu menghindarinya, mereka juga sering mengobrol bersama di saat ada waktu.


Hingga beberapa bulan kemudian, sebelum mereka menyelesaikan kuliah, Djani kembali menyatakan perasaannya dan Qaynaya menerimanya.


Dengan mantap pilihan itu diambil oleh Qaynaya, karena dia yakin dengan Djani yang tidak hanya penasaran padanya. Djani juga begitu ulet dan bekerja keras, lalu yang paling penting bagi Qaynaya adalah, Djani bukan dari kalangan konglomerat seperti yang dia takutkan, karena bagaimana mungkin seorang anak konglomerat mau bekerja keras. Begitulah yang Qaynaya pikir saat itu.


Mereka menjalani masa pacaran yang manis, walau di beberapa waktu, mereka mengalami kejenuhan, dan sempat terjadi masalah, karena keduanya merasa kesepian yang disebabkan oleh pendirian Qaynaya yang terlalu kaku dalam berpacaran.


Tapi setelah melalui berbagai macam cobaan, mereka akhirnya bisa bersama.


💞💞💞 Flashback End 💞💞💞




"Kalau saat itu aku mengatakan padamu, siapa sebenarnya kedua orang tuaku, pasti kamu menolakku sampai akhir kan?" tanya Djani, lalu semakin mempererat pelukannya pada Qaynaya.



"Tentu saja" jawab Qaynaya singkat dan jelas.



"Untung saja kamu taunya di akhir, jadi kamu sudah tercebur dahulu" ujar Djani.



"Dasar jahat" Qaynaya gemas lalu menggigit dada suaminya.



"Tapi kamu cinta kan?" tanya Djani lalu mengendurkan pelukannya supaya bisa memandangi wajah istrinya.



"Iya, aku sangat mencintaimu" jawab Qaynaya.



"Hanya kamulah ratu satu-satunya dalam kerajaan hidup dan cintaku. Asal kamu tau juga, dalam kerajaan ku, tidak akan aku biarkan wanita lain yang bergelar selir atau apapun itu sebutannya, masuk kedalam kerajaanku" Djani lalu mencium kening Qaynaya.



Djani dan Qaynaya mendengar tangisan Andjani, yang tentu saja membuat mereka langsung bangun.

__ADS_1


__ADS_2