Kesepian

Kesepian
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Djani tersenyum melihat potret anak dan istrinya yang menjadi wallpaper laptopnya, hingga perhatiannya teralihkan oleh bunyi ponselnya yang mendapatkan notifikasi pesan.


"Jadi tidak ada bukti sama sekali?" tanya Djani pada Ardi, mereka sedang saling berbalas pesan.


"Sekarang sudah malam, tidurlah terlebih dahulu, bukankah besok kamu harus bersekolah, kenapa masih saja melakukan hal ini, maafkan aku karena meminta mu membantuku dalam mencari bukti tentang kejadian yang membuat Anna terluka. Sekarang sudahi saja, aku akan mencarinya sendiri" Djani merasa bersalah pada Ardi yang sangat bekerja keras untuk membantunya.


"Tidak apa-apa om, aku melakukannya untuk Aan"


"Apa bisa untuk tidak menyukai Anna? setidaknya sudahi saja perasaan mu pada Anna"


"Ap, apa maksud dari perkataan om?"

__ADS_1


"Bisakah untuk tidak menyukai Anna anakku?"


"Apa kesalahan yang aku perbuat? tolong katakan, aku akan memperbaikinya"


"Tidak ada, kamu sudah melakukan yang terbaik, tapi bisakah untuk tidak lagi menyukai Anna, karena ini akan membahayakan untuknya"


"Apa yang membuat hal ini berbahaya bagi Aan? aku berjanji akan selalu menjaganya" Ardi sepertinya sangat berusaha keras supaya perasaan tidak dipaksa untuk dikubur.


Saat pertemuan pertamanya dengan Andjani, diwaktu mereka masih sangatlah kecil, Ardi selalu terpesona pada kecantikan Andjani, bahkan saat kanak-kanak, mereka juga selalu bermain bersama, dengan Ardi yang selalu menjaga Andjani dari apapun.


"Aku mohon om, jangan memintaku untuk mengubur perasaan ku pada Aan, karena aku tidak akan sanggup, untuk sekarang tolong om katakan padaku, sebenarnya apa yang membuat Aan bisa dalam bahaya kalau aku terus menyukainya?" Ardi sangat bersedih, dia begitu menyukai Andjani, dan sudah beberapa kali menyatakan perasaannya pada gadis itu, tapi selalu ditolak, dan kali ini, ayah dari gadis yang disukainya juga menolak dirinya.

__ADS_1


"Apa aku begitu buruk sehingga aku ditolak?" Ardi bertanya, dia bahkan tidak bisa menahan air matanya saat menulis pesan itu.


"Ini karena kamu begitu baik dan tampan. Om dan tante sangat menyukaimu juga, kamu anak yang pintar dan juga selalu membantu dan menjaga Anna. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi apa yang dialami Anna saat ini, sepertinya karena kamu menyukainya"


"Aku masih tidak mengerti" Ardi yang sepertinya memang tidak paham dengan arah pembicaraan Djani, terus saja meminta penjelasan dari Djani.


"Cheril menyukaimu, sepertinya itu yang membuatnya melukai Anna, dan kedua orang tuanya sangat berpengaruh di negara ini, itulah sebabnya mengapa tidak ada bukti sama sekali, mereka pasti sudah melenyapkan semuanya" Djani menjelaskan, dia juga sepertinya sangat khawatir dengan hal ini, hanya saja dia tidak memperlihatkannya dihadapan Qaynaya.


"Apa mungkin seperti itu?" Ardi akhirnya mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Djani, dan sepertinya itu memang sangat masuk akal, karena Cheril sudah beberapa kali menyatakan perasaan padanya, tapi selalu dia tolak.


"Baiklah om, aku mengerti. Aku akan berusaha untuk menjauh dari Aan, kalau memang itu yang terbaik untuk nya, selamat malam" Ardi menyudahi percakapan dirinya dengan Djani, dan untuk menghentikan air matanya yang terus mengalir, dia memilih untuk mandi, bahkan tanpa memperdulikan rasa dingin, dia mandi tanpa menggunakan air hangat. Karena baginya, rasa dingin ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang yang dirasakan oleh hatinya saat ini.

__ADS_1


Cintanya yang bahkan belum mekar, harus layu sebelum berkembang. Ardi meraung-raung di dalam kamar mandi, dia tidak perduli bahwa dia adalah seorang pria, tapi hatinya begitu sakit hingga tidak bisa menahan perasaannya dan terus menangis.


__ADS_2