
"Jangan menolak diriku lagi!!" Djani sepertinya sudah semakin kesal karena tidak juga mendapatkan keinginannya, sementara Qaynaya mencoba untuk semakin menjauh darinya.
"Kamu benar-benar ingin aku berbuat kasar?" Djani mencengkeram kuat tangan Qaynaya yang sedang merapikan bajunya, nafas Djani terdengar sangat berat dan tidak teratur.
"Lepaskan,," Qaynaya berontak dan terus berusaha menjauh dari Djani, Qaynaya adalah wanita yang selalu berfikiran jauh, dia masih tidak bisa menerima perbedaan kasta yang jauh antara mereka.
"Aku tidak yakin dengan hubungan pernikahan ini, cobalah untuk memahami situasi kita Djani,, tolong mengerti keadaanku,, memang sudah seharusnya kita tidak saling bertemu kembali,, pulanglah Djani,, aku sangat yakin kalau kedua orang tuamu juga tidak menyetujui hal ini, pernikahan kita bahkan tidak diketahui oleh mereka" Qaynaya semakin menggeser kan badan nya menjauh dari Djani.
"Kamu benar-benar menguji kesabaranku,, sekarang mendekat lagi padaku atau aku yang akan menangkap mu dan kamu tau sendiri apa yang akan aku lakukan. Aku akan mengurung mu selamanya!!" Djani mencoba menahan amarahnya walaupun tidak mungkin bisa menyembunyikan perasaannya karena sangat terdengar dari suaranya yang berat.
"Cepat mendekat lah,, aku memberikan waktu lima detik dan tidak akan memberikan kesempatan apapun lagi!" Djani lalu bersiap untuk menghitung.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
"Empat"
Saat hitungan kelima akan segera terdengar, Qaynaya secara perlahan mendekat ke arah Djani, karena di dalam kegelapan, Qaynaya menubruk tubuh suaminya, tetapi Djani tidak mungkin marah dan malah senang karena istrinya mendekatinya dan mau mendengarkan keinginannya.
Djani memeluk erat Qaynaya, sepertinya nafsunya mulai bisa terkontrol. Qaynaya lalu secara perlahan duduk di sebelah Djani setelah suaminya itu melepaskan pelukannya, awalnya Djani berusaha untuk memangku Qaynaya, tetapi istrinya itu menolak dan memohon.
"Aku mohon biarkan aku duduk sendiri,, dan bagaimana kalau kita nyalakan dulu lampunya, supaya kita lebih leluasa untuk berbicara" Qaynaya hendak bangkit untuk segera menyalakan lampu, tetapi Djani menahan tangannya.
"Biarkan lampunya padam,, aku tidak mau kamu melihat wajah konyol ku saat ini" Djani sebenarnya sangat berusaha untuk bisa menahan nafsunya, dia tidak mau kalau sampai Qaynaya melihat kondisinya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Djani yang langsung membuka kakinya dan dia lingkarkan pada pangkuan istrinya, Qaynaya yang kaget, menjerit pelan. Djani sepertinya tidak memberikan Qaynaya kesempatan untuk berbicara dengan tenang.
"Kalau seperti ini, Djani akan bisa mendengarkan detak jantungku yang tidak karuan,, aku juga sebenarnya sangat merindukannya tetapi aku harus sadar diri" batin Qaynaya yang sekarang tubuhnya sudah berada dalam pelukan suaminya kembali.
Qaynaya tidak bisa berbicara karena Djani tidak memberinya kesempatan dan terus mengendus leher kirinya, sementara tangannya tidak bisa banyak bergerak karena dalam pelukan erat Djani.
"Jangan menolak lagi,, tubuhmu lebih jujur dan sepertinya menginginkannya juga, tidak bisakah kalau kita lakukan dahulu,, setelahnya kita bisa berbicara tentang apapun" Djani semakin kuat memeluk tubuh Qaynaya karena istrinya itu mencoba untuk bergerak.
"Tidak akan pernah aku lepaskan lagi" bisik Djani lalu menggigit pelan telinga istrinya.
"Sekarang aku dalam masa subur,, saat pertama melakukan nya,, waktu itu aku sedang tidak subur jadi tidak hamil, kalau saat ini Djani melakukannya,, aku bisa hamil,, sementara aku masih belum yakin dengan kelanjutan dari pernikahan ini" Qaynaya berbicara dalam hatinya, dan terus berfikir bagaimana cara untuk bisa lepas dari pelukan dan dekapan suaminya.
"Aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini,, karena aku tau kalau ini hanya akan menyakiti kita semua, tolong pahami situasinya" Qaynaya menggelengkan kepalanya supaya Djani melepaskan bibirnya dari lehernya, apalagi Qaynaya juga merasa semakin terpancing.
"Kamu mau aku meninggalkan keluarga ku? dan hidup bersama dengan mu di tempat ini?" Djani tidak tau harus menjelaskan apa lagi karena Qaynaya tidak percaya dengan dirinya.
"Bukan itu maksudku,, jangan pernah mencoba untuk melakukan hal konyol seperti itu" Qaynaya menjadi panik dengan apa yang dikatakan oleh Djani.
"Lalu aku harus bagaimana lagi? kamu tidak juga percaya padaku, aku berjanji akan selalu berjuang untuk pernikahan kita, itu berarti kamu juga harus berjuang karena pernikahan ini kita berdua yang menjalani, jadi kita berdua harus saling menguatkan, kita memang tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tetapi setidaknya kita harus terus mencoba mempertahankan sampai akhir,, bukankah aku juga berjuang dan terus berusaha sehingga aku bisa menemukan keberadaan mu saat ini?"
Qaynaya mencoba untuk memahami perkataan suaminya dan hanya diam, Djani mengambil kesempatan dan kembali mendorong tubuh istrinya sehingga dia mudah untuk melakukan keinginannya.
"Djani jangan" Qaynaya menghalangi tangan Djani yang mencoba untuk membuka kembali bajunya, tetapi wanita seperti Qaynaya tidak mungkin bisa melawan pria kekar seperti Djani.
"Aaahhhh" Qaynaya merintih karena merasakan sentuhan tangan Djani.
"Aku tau kamu juga menginginkan diriku sayang,, jangan menahannya,, karena aku ini adalah suamimu, kamu juga berhak melakukan apapun yang kamu inginkan" Djani berkata sambil melucuti pakaian istrinya, saat Djani sudah sangat tidak sanggup lagi, Qaynaya kembali bangkit dan mendorong tubuh Djani yang terlihat sudah bergetar hebat.
"Tiiddaakk Djani,,, lepaskan!"
"Kenapa kamu terus menolak diriku?! apa kamu mau kalau aku melakukannya benar-benar dengan paksaan?!!" Djani merasa sangat kepanasan, dia tidak mungkin bisa menahannya lagi.
"Jangan disini, ayo kita pulang, tidak etis rasanya,,, kita bukan binatang yang melakukan hal seperti ini dimanapun"
"Apa kamu barusan menyindir diriku" tanya Djani.
"Iya,, kamu adalah buaya"
"Aaappaaa?! baiklah sayang, aku adalah buaya yang akan memangsa mu seumur hidupku" Djani menarik tubuh istrinya, hingga saat ini Qaynaya lah yang ada diatas tubuhnya.
Qaynaya membelai lembut pipi suaminya, belaian tangannya semakin kebawah, tapi saat tangannya sampai di pusar suaminya, Qaynaya kembali ragu untuk meneruskan nya.
__ADS_1
"Jangan berhenti" Djani tidak membiarkan tangan Qaynaya menghentikan kegiatannya, dan terus berusaha membuat tangan lembut Qaynaya untuk memegangi miliknya yang sudah berontak dari tadi meminta sang pawang untuk menjinakkannya.
"Hanya milikmu, lakukan apapun yang kamu inginkan" bisik Djani begitu dia merasakan tangan istrinya telah menggenggam miliknya, Qaynaya melepaskan tangan nya saat terdengar rintihan dari Djani.
"Jangan lepaskan sayangku,, jangan siksa aku lagi" Djani semakin tidak sabar, Qaynaya lalu membenarkan posisi nya diatas pangkuan suaminya, dia sangat paham dengan apa yang diinginkan oleh suaminya, dengan pelan Qaynaya lalu memasukkan benda milik suaminya ke lahan miliknya secara perlahan.
"Aaakkkhh"
"Uuuuggghhh"
Mereka mendesis bersamaan, saat dengan pelan namun pasti, mereka telah kembali bersatu seutuhnya, Qaynaya tidak tau harus apa lagi, dan hanya diam, karena seperti itu juga baginya sudah sangat enak, mungkin karena dia belum berpengalaman, belum mengeksplor apapun dari hal itu.
"Bergerak sayang" bisik Djani.
"Tidak mau, sudah seperti ini saja" jawab Qaynaya sambil meremas rambut suaminya.
"Aaawwhhhh" Qaynaya tiba-tiba meremas rambut Djani dengan kuat karena suaminya itu sekarang telah bergerak menggoyangkan pinggulnya.
"Saaakkiittt" rintih Qaynaya, miliknya sepertinya belum sepenuhnya beradaptasi dengan milik suaminya.
"Tahan sebentar saja sayang" bisik Djani sambil terus bergerak perlahan.
Dengan gerakan seperti itu tentu akan membutuhkan waktu yang lama untuk Djani bisa menuntaskan hasratnya, dengan perlahan dia mulai menambah kecepatannya.
Saat Qaynaya menjerit, Djani tersenyum senang, dia sangat senang mendengar rintihan dari Qaynaya, yang awalnya rintihan keras, semakin lama semakin pelan dan berganti dengan desaha*.
"Masih sakit?" bisik Djani.
"Sedikit,, aaaakkkhhhh Djjjaaanniiii!!" Qaynaya kejang dan semakin mendekap erat suaminya, Djani yang belum mendapatkan puncaknya harus bersabar sebentar untuk memberikan waktu pada istrinya beristirahat dan mengatur nafasnya.
"Djani sudah,,, kita lanjutkan dirumah" pinta Qaynaya yang sudah lemas, tapi Djani tidak mungkin menuruti hal tersebut.
"Jangan curang sayangku" jawab Djani lalu merebahkan tubuh lemas istrinya, sekarang dia yang harus mengambil kendali, sebenarnya dari tadi juga dia yang bergoyang, karena walau diatas, Qaynaya hanya diam.
"Aku harus banyak mengajarinya" batin Djani yang langsung berusaha memasukkan kembali miliknya pada lubang penuh kenikmatan milik istrinya, walau dia juga belum berpengalaman dalam praktek, setidaknya dia sudah berlatih banyak teori dari video-video yang dia tonton.
"Sayang, karena kamu mengingkari janji mu, maka aku akan menghukum mu seumur hidup" ujar Djani sambil terus bergoyang, sementara Qaynaya terus menggelengkan kepalanya, karena menahan rasa sakit dan nikmat yang datang bersamaan.
"Kamu pernah berjanji dengan mengatakan akan terus menempel pada ku, tapi ternyata kamu pergi,, baiklah sayangku,, tahan sebentar lagi" Djani lalu mengerahkan tenaganya untuk bergerak semakin cepat, Qaynaya semakin mendesis tidak karuan hingga akhirnya dia merasakan kehangatan yang berbarengan dengan rasa nikmat menghampiri dirinya.
"Aaaakkkhhhh,, Djannniiii!"
"Qaayyyy,, aaagggghhhh!"
Teriakan mereka terdengar berbarengan saat Djani menyirami lahan istrinya, mereka berpelukan dengan erat, Djani lalu turun dari tubuh istrinya tetapi tidak melepaskan pelukannya.
"Ayo pulang kerumah kita" ajak Djani sambil merapikan rambut Qaynaya yang berantakan.
"Tidak,, aku masih ingin tinggal disini"
"Apa kamu mau menelantarkan aku lagi?"
"Bukan seperti itu, tetapi disana pasti ada,," Qaynaya tidak melanjutkan ucapannya karena takut salah bicara.
"Mamaku ingin bertemu dengan mu, mama menyesal karena malam itu menyakitimu, seperti hal nya aku yang awalnya membencimu, itu juga yang dirasakan mama, maafkan kami sayang"
"Dari awal aku memahami mu, aku sadar aku pantas mendapatkan nya karena memang aku bersalah, dan apa yang dikatakan oleh mamamu padaku juga tidak salah, kalau aku mempunyai anak kelak juga aku akan selalu membela anakku seperti itu, hanya saja untuk wanita lain, aku tidak bisa menerimanya" Qaynaya berbicara dengan nada bicara yang semakin pelan.
"Kamu mau punya anak secepatnya?" tanya Djani.
"Bukan itu inti dari yang tadi aku ucapkan, kenapa bisa itu yang kamu tangkap?" Qaynaya kesal lalu sedikit memundurkan badannya, tetapi Djani menjadi sedikit terdorong dan hampir terjatuh dari sofa.
"Ahh,,,, Qayyy,, jangan menjauh dariku, atau aku bisa celaka, seperti selama ini" ucap Djani yang kaget karena hampir saja jatuh.
"Kamu celaka kenapa selama ini?" Qaynaya terperanjat mendengar ucapan suaminya.
"Aku celaka karena selalu kedinginan dan kesepian, bagaimana kalau aku mati membeku?"
"Dasar gombal" Qaynaya lega, dia pikir telah terjadi sesuatu pada Djani selama dia pergi.
__ADS_1
Djani memeluk Qaynaya erat sebelum mereka bangun dan memakai pakaian mereka kembali, Qaynaya sedikit meringis kesakitan.
"Kenapa sayang,, apa sakit?" tanya Djani yang langsung menyalakan lampu.
"Sedikit sakit saat berjalan" jawab Qaynaya sambil berjalan pelan, Djani lalu menggandeng tangan istrinya supaya Qaynaya berjalan dengan bertumpu pada tubuh nya.
Mereka lalu pergi dari ruangan itu, diluar ruangan sudah sangat sepi karena hari sudah menjelang malam, lagi pula memang tadi semua karyawan diminta pulang lebih cepat oleh Djani.
"Bagaimana dengan mobilku?" tanya Qaynaya saat Djani membawanya masuk kedalam mobil suaminya itu.
"Biarkan saja, disini aman karena ada CCTV" Djani membawa Qaynaya ke rumah kecil tempat tinggal istrinya selama ini, seperti biasanya, akan ada anak kecil anak tetangga nya yang menyapa kedatangan Qaynaya.
"Siapa ini kak?"
"Ini pacar kakak" jawab Qaynaya tersenyum, Djani berniat protes karena dianggap pacar oleh Qaynaya, tapi tidak melanjutkan protes nya karena Qaynaya berjalan memasuki rumahnya, Djani dengan cepat langsung mengikuti.
"Lebih baik kamu pulang saja terlebih dahulu, tempat ini tidak akan cocok untukmu" Qaynaya mengambil dua botol minuman dingin dari kulkas mininya, dan memberikan salah satunya pada Djani.
"Aku menyukai tempat ini, karena disini tidak banyak ruang, sehingga aku hanya terfokus pada dirimu" Djani lalu mengambil botol minum yang dipegang oleh Qaynaya dan menarik wajah Qaynaya lalu melahap habis bibir istrinya sebelum istrinya sempat minum, Qaynaya mendorong tubuh Djani, dia merasa kegerahan jadi ingin mandi terlebih dahulu.
"Sekali dulu, baru kita mandi" ucapan Djani tidak mungkin dibantah oleh Qaynaya karena tubuhnya telah terdorong pada sandaran sofa, Djani kembali membuka baju Qaynaya dan melahap bergantian buah kenyal yang terlihat selalu menantang itu.
"Sudah Djani, nanti lagi,,, lebih baik kita mandi dulu, aku sangat berkeringat tadi" Qaynaya mendorong wajah suaminya tetapi melihat pandangan wajah Djani, Qaynaya sadar kalau kali ini juga dia tidak akan mungkin bisa menolak keinginan suaminya itu.
Djani benar-benar menghabisi Qaynaya, mereka bahkan tidak mandi sama sekali sore itu, malam harinya juga tidak ada perbedaan, Djani terus saja mengganggu istrinya.
"Apa yang kamu lakukan??,, aaahhhhhh" saat membuka matanya di pagi harinya, Qaynaya dikagetkan dengan ulah suaminya yang menurutnya sudah semakin aneh, Qaynaya yang merasa tubuhnya sangat remuk, tidak bisa banyak bergerak karena merasa sangat lemas.
Suaminya saat ini tengah memainkan lubang sempitnya, Qaynaya yang belum tau kalau hal seperti ini bisa dilakukan, dengan tangan lemahnya dia mendorong kepala Djani untuk menjauhi asetnya itu, selain karena terasa sedikit perih walau tetap ada sensasi enak saat lidah suaminya bermain disana, tapi Qaynaya merasa ini tidak boleh dilakukan.
"Jangan lakukan hal ini,, kenapa kamu begitu aneh,, apa kamu tidak merasa jijik?" tanya Qaynaya yang di balas tertawa pelan oleh Djani saat mendengarnya, lalu Djani memegangi tangan Qaynaya supaya tidak bisa lagi mengganggu kegiatannya.
Bibir Djani bermain dengan aset pribadi milik istrinya, tidak ada rasa jijik sedikitpun, Qaynaya semakin menggeliat dan terus menggelengkan kepalanya saat dia lagi-lagi merasakan rasa yang dia yakin akan membuat nya semakin lemas.
"Djani sudah ya, aku mohon" Qaynaya panik karena melihat suaminya yang kembali menindihnya.
"Tidak akan pernah selesai sayang,, aku akan melakukannya seumur hidupku,, salahkan dirimu sendiri karena berani mengambil hatiku, dan wajahmu yang sangat cantik ini, yang selalu membuat ku ingin didekat mu,, salahkan juga tubuhmu yang sangat nikmat, sehingga aku menjadi ketagihan" setelah menyelesaikan ucapannya, tidak menunggu waktu lama lagi, Djani kembali menghujani tubuh istrinya dengan tusukan kenikmatan.
Qaynaya menjerit dan mengeluarkan air matanya, ini menyakitkan, tubuhnya benar-benar sudah sangat lelah, miliknya juga sakit, Djani berhenti bergerak saat mendengar tangisan Qaynaya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku,,, apa sangat menyakitkan?" Djani membelai lembut rambut istrinya, Qaynaya semakin menangis, Djani tiduran di samping Qaynaya dan membawa kepala istrinya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku sungguh minta maaf sayang" Djani menyadari dirinya yang terlalu berlebihan, dia memang sangat merindukan istrinya, tetapi seharusnya dia juga memikirkan kondisi istrinya.
Setelah Qaynaya tenang dan tidak menangis lagi, Djani membelai lembut wajah Qaynaya lalu menciuminya.
"Apa sangat sakit?" tanya Djani yang dijawab anggukan kepala oleh Qaynaya.
"Sayang,, apa tidak ada kenikmatan sedikitpun saat aku melakukannya?" tanya Djani pelan, Qaynaya malu dan tidak menjawab apapun, wajahnya terlihat sangat merah, lalu dengan cepat memasukkan wajahnya kedalam pelukan suaminya. Djani tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
"Terimakasih sayang,, hari ini kamu istirahat,, aku akan menjelaskan semua pada rekan kerjamu tentang hubungan kita, kamu tidak aku izinkan untuk bekerja lagi, atau lebih tepatnya aku memecat mu"
"Dasar semena-mena" jawab Qaynaya kesal.
"Untuk apa kamu bekerja disana? kamu merupakan nyonya dari pemiliknya, mereka yang nantinya akan canggung menghadapi mu, aku yakin saat ini semua karyawan sudah mengetahui kenyataan bahwa kamu adalah istriku" jawab Djani sambil menerawang mengingat semalam dia menelepon seseorang untuk membawa foto pernikahan nya yang berukuran besar, Djani meminta foto itu dipajang di kantor direktur utama, yang merupakan ruangan nya.
"Carikan dan sewa juga sebuah restoran mewah di sekitar tempat ini, berikan undangan makan malam pada seluruh karyawan di perusahaan itu tanpa terkecuali, baik itu OB atau security" perintah Djani pada orang suruhannya, sambil tersenyum melihat wajah istrinya yang tertidur lelap.
"Sayang,, kamu mau mandi?" tanya Djani lalu bangun, tetapi istrinya hanya menggeleng lemah, sepertinya jangankan untuk mandi, untuk bergerak pun dia merasakan sakit.
"Kamu sangat imut, aku sangat bahagia sayang,, terimakasih untuk semuanya, penantian panjang ku, kesepiannya diriku karena mengharap tubuhmu sejak awal kita berpacaran,, rasa frustasi ku karena mencari mu selama ini, bahkan pernah ada rasa dendam ku padamu,, tapi aku menyadari semuanya,, perasaan apapun yang aku rasakan,, semuanya tetap saja membuatku terus tertuju dan mengingat dirimu, hanya dirimu" ujar Djani memandangi wajah sendu istrinya yang sepertinya masih mengantuk dan juga kelelahan.
Qaynaya memandang wajah suaminya, mereka saling tersenyum, Djani lalu membenarkan selimut Qaynaya dan mencium keningnya.
"Aku akan mandi terlebih dahulu, kamu istirahat saja dulu, setelah aku selesai mandi, nanti kita sarapan bersama" Djani lalu menuju kamar mandi mungil Qaynaya, benar-benar mungil dan tidak akan mungkin muat untuk dua orang, Djani saja seolah kesusahan untuk bergerak, tapi dia tersenyum begitu mengingat malam panasnya tadi malam.
Djani selesai mandi, dan melihat istrinya yang kembali tidur, Djani tidak membangunkan nya, setelah merapikan bajunya, Djani lalu keluar dari rumah mungil itu, dia dikagetkan dengan tetangga Qaynaya yang ada didepan pintu rumah istrinya.
"Kenapa kamu menginap di rumah seorang gadis? kamu ini siapa dan dimana Qay?"
__ADS_1
Djani lalu menceritakan tentang siapa dirinya dengan menunjukkan foto pernikahan nya, tetangganya lalu meminta maaf dan segera masuk kembali ke rumahnya sendiri yang terletak berhadapan dengan rumah Qaynaya, Djani melihat ke sekeliling rumah itu, dia tersenyum merasakan sejuknya udara segar di pagi hari, hingga tidak menyadari ada yang sedang memperhatikannya dari jauh.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka aku harus menghancurkan mu, lalu aku juga akan menghabisi siapapun yang bersamamu" gumam orang itu sambil memandangi Djani yang berdiri di depan pintu rumah Qaynaya.