Kesepian

Kesepian
Arka


__ADS_3

"Apa kamu sudah mendengar berita?" tanya Serli pada Rani.


"Tentu saja, beritanya begitu heboh dimana-mana hingga menjadi viral, mana mungkin tidak ada yang tau dikota ini"


"Kamu yakin Qay sudah tau? aku tidak bisa memberi tahu pada nya, karena hari ini aku berangkat ke luar negeri"


"Aku juga sudah dilarang bepergian jauh oleh dokter, karena sudah mendekati waktu melahirkan"


"Ya sudah, dia juga pasti sudah mengetahuinya, aku berangkat dulu ya, maaf tidak bisa menemanimu melahirkan, ini adalah job besar,,, aku" Serli tidak melanjutkan ucapannya karena merasa tidak enak hati pada Rani.


"Aku sangat paham Serli,, pergilah dengan tenang, pekerjaan kali ini akan membuatmu menjadi lebih terkenal lagi, Qay juga sudah baik-baik saja, jadi kita bisa tenang"


Hebohnya berita tentang Djani yang menggagalkan rencana pernikahannya sendiri, begitu gempar dikota setempat, banyak tagar berita yang tiba-tiba muncul.


Mulai dari banyaknya yang penasaran dengan istri dari Djani, mereka penasaran secantik apa dia, sampai bisa membuat Djani rela kehilangan segalanya.


Sementara itu, Qaynaya sendiri malah belum tau berita itu, karena dia sengaja membatasi informasi apapun mengenai Djani.


Qaynaya telah dapat pekerjaan, disebuah perusahaan kecil, mungkin gajinya tidak sebanyak dulu, tetapi setidaknya bisa untuknya menyambung hidup, lagipula kedua adiknya sudah lulus sekolah, jadi dia tidak terlalu terbebani dengan biaya adik-adiknya.


"Qay, makin cantik aja ni, malam ini kamu ikut jamuan makan malam yang diadakan di perusahaan kan?" tanya Zahra, rekan kerjanya ditempat kerjanya saat ini.


"Sepertinya tidak, aku tidak menyukai acara kumpul-kumpul seperti itu, aku lebih baik pulang saja setelah jam kerja selesai" jawab Qaynaya sambil serius mengetik sesuatu di komputer yang berada di depannya.


" Sayang sekali,,, bos muda kita pasti akan kecewa, aku lihat sepertinya dia menyukaimu"


"Jangan sembarangan kalau berbicara, dia kan sudah memiliki kekasih"


"Kata siapa? dia itu single"


"Lalu wanita yang sering datang ke dalam ruangannya itu siapa?"


"Itu sahabatnya,, dan wanita itu sudah menikah juga, tapi aku juga bingung, kenapa seorang wanita yang sudah mempunyai seorang suami, bisa sering datang mengunjungi sahabat prianya, memang sangat aneh"


"Sudah,, lanjutkan pekerjaan mu, kita tidak perlu memikirkan urusan orang lain"


Qaynaya bekerja dengan giat, seperti ditempat kerjanya dulu, dia sering mengambil lembur, dari pada di rumah sendirian hingga rasa kesepian terus mendatanginya, jadi lebih baik dia bekerja untuk sedikit mengalihkan pikirannya.


"Semua harus ikut dalam acara makan malam ini, tidak terlalu kecuali siapapun dan dengan alasan apapun juga, atau akan diberikan sanksi" pengumuman dari seseorang dari divisi lain memberi tau seluruh karyawan ditempat itu.


Qaynaya sangat malas mendengarnya, tetapi dia tidak punya pilihan lain, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Qaynaya hendak meminta izin secara langsung kepada pemimpin perusahaan itu.


Tok tok tok tok


Setelah dipersilahkan untuk masuk, Qaynaya langsung mengatakan maksudnya, wanita yang tadi dibicarakan Zahra ternyata ada disana juga, wanita itu bahkan tidak ragu untuk langsung mendekati nya.


"Kamu Qay kan namanya?" tanya wanita itu yang langsung dibenarkan oleh Qaynaya.


"Kamu sangat manis walaupun tanpa polesan apapun, kenapa kamu tidak mau datang ke acara makan malam nanti? biasanya pada karyawan menyukai acara ini, supaya mereka bisa lebih dekat satu sama lain, dan asal kamu tau, biasanya ajang ini digunakan untuk saling PDKT, ini kesempatan bagus bagi gadis manis seperti dirimu untuk mencari pasangan" wanita itu tetapi sepertinya adalah seorang yang supel, karena sangat mudah mengajak berbicara pada orang yang belum dikenal nya.


Melihat Qaynaya yang hanya diam , wanita itu lalu mendekati Qaynaya dan memegang kedua bahu Qaynaya.

__ADS_1


"Qay,, kalau dilihat semakin dekat, kamu terlihat semakin manis, coba katakan padaku, apa yang kamu pakai untuk merawat wajahmu?"


"Jangan membuatnya tidak nyaman, sepertinya dia ketakutan padamu" ujar bos Qaynaya yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan Qaynaya yang sepertinya tidak nyaman dengan tingkah laku sahabat nya itu.


"Diam saja kamu, lelaki tidak akan tau hal semacam ini,, jangan dengarkan apa yang Arka katakan, bolehkah aku meminta nomor ponsel mu?" wanita sahabat bos Qaynaya terus saja berusaha mendekati Qaynaya.


"Aku tidak punya ponsel" jawab Qaynaya yang membuat tidak percaya bagi siapa saja yang mendengar nya, bagaimana bisa di zaman sekarang ini,ada orang yang tidak mempunyai ponsel.


"Kamu jangan bercanda dan berbohong keterlaluan, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau memberikan nomor ponsel mu" wanita itu tertawa canggung.


"Aku memang tidak memiliki ponsel" ucap Qaynaya meyakinkan.


"Gea,, sudahlah menjauh darinya, dia semakin tidak nyaman, oh iya Qay, kenapa kamu tidak mau mengikuti acara makan malam nanti? apa kamu memiliki acara lain?" tanya Arka.


"Tidak ada pak, hanya saja saya tidak terlalu suka berada ditengah keramaian, maaf kan saya, tapi kalau tidak di izinkan, baiklah saya akan mengikuti acara nanti malam, saya permisi, mohon maaf telah mengganggu waktu nya" Qaynaya membungkukkan badannya untuk pamit, tetapi Arka memanggil nya kembali.


"Qay,, kamu boleh tidak datang ke acara nanti malam"


"Terimakasih" Qaynaya terlihat sangat senang lalu kembali pamit untuk segera bersiap pulang karena pekerjaannya sudah selesai.


"Arka,, Arka,, ini kesempatan bagus untuk mu mendekati nya, kenapa kamu malah seperti ini?, tetapi kamu sudah berubah ya sekarang?? biasanya kamu akan memaksakan kehendak mu,, Qay benar-benar hebat, dia bisa merubah sahabat sekaligus kakak sepupu ku ini, aku jadi semakin penasaran padanya, biarkan aku lebih dekat padanya, kenapa kamu selalu menyuruhku datang tetapi aku tidak boleh mendekati nya, kalau kamu cuma mau memancing rasa kecemburuan nya, itu sangat salah, bagaimana Qay bisa cemburu, dia suka sama kamu saja tidak"


Mendengar ucapan Gea, sepertinya Arka memikirkan sesuatu,


"Bantu aku mendapatkan nya,, aku tidak pernah tertarik pada wanita, apalagi wanita yang mendekati ku, tapi Qay berbeda, dari awal kedatangannya, dia tidak pernah sedikitpun melihat kearah ku,, aku sangat penasaran padanya"


"Jadi kamu hanya penasaran?" tanya Gea.


"Untuk saat ini sepertinya begitu, aku tidak tau kedepannya"


"Kenapa kamu menjadi terlalu sensitif,, kamu juga pasti tau aku seperti apa,, aku memang suka bermain,, tapi hanya mainan yang aku mainkan,, apa kamu paham maksud ku?"


Gea tidak menjawab lagi, dia memilih segera pamit karena merasa sudah terlalu lama disana, Gea melihat Qaynaya dari kejauhan saat dia berjalan ke luar dari perusahaan itu, Gea hanya tersenyum melihat Qaynaya yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya dan tidak ada niatan untuk mendekati, setelah sejenak memperhatikan Qaynaya, Gea langsung bergegas pergi.


"Apa kamu yakin kalau kamu diizinkan untuk tidak datang nanti malam?" tanya Zahra pada Qaynaya karena melihat rekan kerja nya itu sedang merapikan mejanya setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Iya" Qaynaya sibuk membereskan meja kerjanya karena dia akan segera pulang, hari ini dia tidak bisa mengambil lembur karena kantor mengadakan acara.


"Kamu akan menyesal Qay,, acara nanti malam pasti akan sangat seru, kenapa tidak coba dulu untuk datang sebentar saja, kalau kamu merasa suka,, baru kamu bisa pulang" Zahra mencoba membujuk Qaynaya supaya dia mempunyai teman satu divisi, tetapi Qaynaya tetap saja terus menolak.


"Membayangkan nya saja aku sudah tidak suka,, kamu bersenang-senang lah nanti malam, aku pergi dulu ya,, bye-bye" Qaynaya berjalan pergi sambil melambaikan tangannya pada Zahra.


Qaynaya lalu pulang kerumah dimana dia tinggal selama ini, sudah hampir dua bulan dia tinggal disana, disebuah pinggiran kota.


"Kak Qay,,, baru pulang bekerja?" sapa seorang anak kecil pada Qaynaya.


"Iya sayang, kamu sedang apa disini? mana mamamu?"


"Mama sedang mengangkat jemuran diatas"


"Kamu sudah pulang Qay? tumben tidak lembur?" mama dari anak itu berjalan menuruni tangga sambil menyapa Qaynaya.

__ADS_1


"Tidak kak, dikantor akan diadakan acara makan malam, aku pulang terlebih dahulu karena aku tidak menyukai hal seperti itu, lebih baik aku tidur dirumah,, sudah dulu ya kak, aku masuk dulu" Qaynaya berpamitan pada tetangga yang belum lama ini dikenalnya.


Memasuki rumah mungil yang dia sewa perbulan itu membuat hati Qaynaya kembali merasakan kesepian yang mendalam, apalagi ditambah dengan sengaja dia membatasi informasi sosial media, semenjak tinggal disana, Qaynaya tidak pernah sekalipun menonton televisi, dia seperti merasa trauma karena terakhir kali melihat berita adalah berita tentang pernikahan suaminya.


Ponsel juga dia sengaja tidak membeli, saat menghubungi adik-adiknya Qaynaya akan meminjam pada seseorang yang acak yang dia temui dan memberikan imbalan pada sang pemilik ponsel tersebut.


Qaynaya benar-benar pintar dalam bersembunyi, dia sudah


biasa dalam kesendirian dan kesepian, saat menikah dengan Doni juga dia selalu sendirian didalam kamarnya sepulang bekerja, jadi saat ini juga tidak terlalu berat untuk nya.


Qaynaya sangat yakin kalau Djani sudah hidup berbahagia, jadi sedikit demi sedikit, Qaynaya berusaha untuk menyimpan rapat perasaan dan juga identitas nya, di tempat nya yang baru, tidak ada satupun yang mengetahui bahwa dia sudah menikah, untung saja kartu tanda penduduk nya belum diganti status, karena hari kedua pernikahan dia sudah pergi meninggalkan suaminya.


Qaynaya menghapus semua jejak Djani yang ada pada dirinya, tetapi itu tidaklah mudah, apalagi bayangan saat hubungan pertama mereka, seolah rasa sakit itu masih dirasakan oleh Qaynaya, tubuhnya bergejolak mengingat nya, bagaimanapun juga dia wanita normal, tetapi untuk meredam perasaan itu dia memilih mandi lalu tidur lebih awal, supaya rasa kesepiannya bisa sesaat dia lupakan.


Tidak berbeda dengan Qaynaya, saat ini Djani juga tengah memikirkan istrinya itu, sudah berbagai macam cara dia lakukan untuk mencari keberadaan istrinya, tetapi sampai sekarang masih saja istrinya itu tidak diketahui keberadaannya.


"Dimana kamu sayang?" ujar Djani dan terus melihat foto pernikahan nya dengan Qaynaya.


"Apa belum ada kabar?" tanya Rini keluar dari dalam kamar.


"Belum ma, nomor ponsel yang dipakai Qay untuk menelfon Qinanti juga ternyata nomor ponsel orang lain lagi"


"Kamu bersabar sedikit lagi, mama yakin istrimu akan segera ditemukan"


Setelah acara pernikahan nya dengan Kaela batal, Djani langsung berniat pergi, tetapi kedua orang tuanya mencegah dan meminta maaf, serta berjanji akan membantu Djani mencari Qaynaya.


"Mama mempunyai hutang maaf padanya, malam itu mama mendatanginya dan mama menghinanya, maafkan mama" Rini menangis mengingat apa yang dia lakukan, Djani bergetar hatinya, dia ingin marah tapi tidak mungkin, dia juga pernah melakukan hal itu, bahkan sangat sering dia lakukan waktu itu, saat dia belum tau kenyataan yang sebenarnya.


"Kita harus segera menemukan nya" ujar Djani lalu beranjak dari duduknya.


Rini berniat untuk ikut, tetapi dilarang oleh Djani, karena dia merasa lebih leluasa kalau sendiri, kalau bersama mamanya, dia harus memikirkan keselamatan mamanya juga, sementara Djani akan pergi kemana saat ini untuk mencari keberadaan istrinya.


Djani mendapatkan telepon dari nomor ponsel yang kemarin dipakai Qaynaya untuk menelepon adiknya, sang penelepon mengatakan mengetahui keberadaan Qaynaya, tentu saja tanpa pikir panjang Djani langsung menuju ke arah yang kirimkan oleh penelpon tersebut.


Djani merasa ada yang tidak beres, karena tempat pertemuannya dengan sang penelepon ada disebuah gang sempit, tetapi karena tekadnya mencari istrinya begitu besar, dia tidak memperdulikan perasaannya.


Ternyata benar firasat yang tadi dirasakan oleh Djani, karena saat ini tengah di kelilingi oleh para anak punk, sepertinya mereka ingin merampoknya.


"Serahkan semua barang berharga mu, atau kami akan mengambilnya secara paksa!!"


"Baiklah, ambil saja semua nya, ini tidak ada artinya bagiku, tetapi aku mempunyai penawaran terbaik untuk kalian, kalau kalian bisa membantuku, yang akan kalian dapatkan akan lebih banyak" ujar Djani tidak sedikitpun merasa takut.


"Jangan konyol, kamu pikir kami percaya?? lagipula siapa dirimu yang berani berbicara seperti itu, seolah kamu adalah penguasa"


"Aku bukan penguasa, tetapi aku sanggup memberikan kalian masing-masing satu motor sport baru kalau kalian mau membantuku"


Para anak punk itu tertawa mendengarnya, tetapi salah satu dari mereka mengatakan seperti pernah melihat Djani disuatu tempat, tetapi dia lupa.


"Mungkin di televisi atau sosial media,, coba buka saja, putra seorang konglomerat mencari istrinya"


"Iya benar, itu dia,, beritanya saat itu sangat viral, lalu apa yang kamu cari adalah istri mu itu?" tanya anak punk yang terlihat masih sangat muda, mungkin kalau bersekolah, masih sekolah menengah atas.

__ADS_1


"Tentu saja, siapa lagi yang akan aku cari,, kalau kalian membantuku, kalian juga bisa diwawancarai oleh media, karena berhasil membantu putra konglomerat menemukan keberadaan istrinya,, dan jangan lupakan motornya, karena aku berjanji untuk memberikannya saat kalian berhasil"


Para anak punk itu kemudian berdiskusi, dan mereka menyetujui tawaran dari Djani, pemilik ponsel yang dipinjam oleh Qaynaya adalah milik kekasih salah satu anak punk tersebut, jadi dari sana dimulai pencarian.


__ADS_2