
"Diamlah!!" Adam emosi dan memukul manajer resort itu, Qaynaya kaget melihatnya, tapi tidak dengan Djani yang tetap focus pada ponselnya.
Djani menghubungi nomor ponsel kedua orang tuanya, tapi tidak juga tersambung. Djani menggandeng tangan Qaynaya lalu dengan sedikit menarik tangan Qaynaya, Djani berjalan cepat menuju kamar.
Adam tidak kalah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dia sudah tau dengan pasti kalau tuan mudanya pasti akan segera bergegas kembali ke rumah.
"Maaf telah memukulmu, tapi itu cara cepat untuk menutup mulutmu yang terlalu banyak berbicara. Ini ada uang ganti rugi, tutuplah mulutmu mulai sekarang, dan jangan pernah untuk mencampuri urusan orang lain lagi" Adam mendekati manajer resort dan menyerahkan beberapa gepok uang.
Selesai dengan manager resort, Adam lalu bergegas untuk membayar biaya sewa kamar resort yang ditempati oleh Dhani dan Qaynaya.
Didalam kamar sebuah resort, Djani dan Qaynaya merapikan semua barang-barang mereka, tidak ada perkataan yang terucap dari mulut mereka. Pikiran mereka penuh dengan rasa khawatir dengan kondisi Rini dan Rega.
__ADS_1
Djani tidak membiarkan Qaynaya membawa kopernya, dengan kedua tangannya Djani membawa koper dan juga tas ransel miliknya, Qaynaya tidak berani berkata apa-apa karena tidak mau menambah masalah dan hanya menurut dengan apa yang di inginkan dan dilakukan oleh suaminya.
Adam telah menunggu mereka tidak jauh dari pintu kamar, dengan sigap langsung membantu tuannya. Djani menggandeng tangan istrinya, begitu kedua tangannya telah kosong tanpa memegangi koper lagi.
"Aku belum melupakan masalah mantan bos mu, tapi aku rasa saat ini kita harus lebih dulu kembali" Djani berbicara tanpa melihat kearah Qaynaya, dan terus berjalan cepat.
"Kami tidak ada hubungan apapun, jangan memikirkan tentang hal itu. Kita harus focus pada mama Rini dan ayah Rega untuk saat ini" Qaynaya juga tidak kalah paniknya begitu mengetahui apa yang terjadi pada kedua mertuanya.
Tapi sepertinya rencana itu harus dikubur dalam-dalam di dalam hatinya. Sebuah rencana indah, dimana dia akan tinggal dipinggiran pantai itu bersama dengan Qaynaya dan anak-anak mereka kelak. Dengan tumpuan hidup dengan satu perusahaan saja, Djani merasa nantinya hal itu sudah sangat cukup untuk membiayai hidupnya dan keluarga kecilnya.
Djani tidak mau serakah dengan harta kedua orang tuanya yang tidak akan pernah sanggup dia hitung. Rasa bahagia karena kedua orang tuanya telah menerima Qaynaya, membuat Djani berfikir kalau kedua orang tuanya pasti mengizinkan dirinya untuk mengambil jalan kehidupan yang dipilihnya.
__ADS_1
Rencana indah itu tidak mungkin terlaksana dalam waktu dekat, karena saat ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan kedua orang tuanya.
Setelah mengetahui asal muasal bagaimana Arka bisa membeli perusahaannya, Djani geram dan memukul jok mobil, sudah bisa dipastikan kalau Arka menggunakan cara licik untuk mendapatkannya.
"Kurang ajar!!" Djani kembali bersuara dengan geram begitu mengetahui kelakuan dan perbuatan Arka.
Qaynaya mendekat dan menggenggam tangan suaminya, Djani menoleh dan mencium kening istrinya.
"Maafkan aku karena mendiamkan mu dari tadi, aku sedang berusaha mencari tau apa yang sedang terjadi. Karena perjalanan kita cukup jauh, banyak hal yang bisa aku kerjakan. Sekarang tidurlah terlebih dahulu"
Qaynaya menurut dan hanya bisa memandangi wajah suaminya yang terlihat masih serius melihat kearah laptopnya.
__ADS_1