Kesepian

Kesepian
Bulan Madu


__ADS_3

"Jangan pergi hari ini, aku baru sadar kalau aku masih mempunyai pekerjaan yang harus aku selesaikan" Djani juga melarang Qaynaya yang masih berniat untuk berkunjung ke rumah Lilis.


"Aku bisa sendiri,, aahh!,,, iya tidak, uuhhmmm" Qaynaya kembali dibuat kaget dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Djani kesal karena Qaynaya membantahnya.


Djani masih melahap bibir Qaynaya saat terdengar suara Rini memanggil mereka. Djani melepaskan ciumannya dan memegangi kedua pipi Qaynaya.


"Jangan pergi kemanapun tanpa diriku!!" terdengar seperti sebuah ancaman, Djani lalu menggandeng tangan istrinya untuk mendekati Rini yang tadi memanggil mereka.


Qaynaya duduk lesehan di sebuah karpet bulu, Djani mengikutinya lalu tiduran dan menjadikan paha istrinya sebagai bantal. Rini geleng-geleng kepala melihat tingkah Djani yang seperti anak kecil, karena tidak melihat kondisi sekitar saat bersama dengan Qaynaya. Dunia Djani hanya terpaku pada Qaynaya, dan tidak memperdulikan yang lain.


"Apa kamu tidak malu, kenapa berkelakuan seperti anak kecil begini? bahkan didepan mama. Sampai tidak terhitung jumlahnya lagi tingkahmu ini. Apa kamu tidak malu bermesraan di depan orang lain?" Rini lalu mengambil remot televisi dan mematikan nya, karena ingin berbicara serius dengan Qaynaya.


"Kenapa aku harus malu, aku bermesraan dengan istriku sendiri" Djani menjawab santai, lalu menggesek kan kepalanya pada paha istrinya dan menciumi paha itu walau terhalang celana yang dipakai oleh Qaynaya.


Djani menjadi seperti anak kecil saat berhadapan dengan Qaynaya, tingkahnya manja dan sangat posesif. Layaknya anak kecil pada umumnya, yang takut ditinggalkan. Begitu juga dengan Djani yang sangat takut ditinggalkan oleh Qaynaya.


"Jangan dulu kerumah Lilis, karena mama ingin mengajakmu datang ke sebuah acara pernikahan anaknya teman mama"


"Tidak ma, jangan bawa Qay dahulu ke acara seperti itu tanpa aku. Aku sudah bilang, kalau aku belum mau mengekspos Qay terlalu banyak. Aku sangat yakin kalau sudah banyak yang mengenalinya lewat video viral yang dulu aku buat, jadi aku tidak mau dia dalam bahaya"


"Djani, kamu tenang saja, mama akan menjaga Qay dengan baik, bagaimanapun juga Qay adalah istrimu, jadi dia harus segera masuk kedalam lingkungan kita. Di acara pernikahan nanti, pasti banyak orang penting, jadi mama bisa mengenalkan Qay secara resmi pada mereka"


"Tidak ma, aku tidak mengizinkan" Djani berkata tegas dan sudah duduk di sebelah Qaynaya yang hanya bisa diam ditengah ketegangan antara suami dan mertuanya.


"Apa kamu tidak mau memperkenalkan istrimu secara resmi karena tidak terlalu yakin padanya?" Rini sengaja memancing kemarahan Djani, dia ingin tau apakah kali ini Djani bisa menahan kekesalannya.


"Karena aku sangat mencintainya, benar apa yang dikatakan mama, aku tidak yakin padanya" Djani lalu menatap sendu ke arah Qaynaya.


"Aku tidak percaya padanya, karena beban itu sangat besar. Beban menjadi istri dari seorang Djani Sudradjat, seandainya saja aku bisa hanya memikirkan diriku sendiri. Menanggalkan nama besar itu dan hanya memakai nama Djani saja, selama sisa hidupku" Djani terlihat melamun membayangkan kehidupan yang dia inginkan.


"Djani, jangan berbicara omong kosong. Kamu mempunyai kewajiban!" Rini tidak menyukai apa yang dikatakan oleh anaknya.


Djani sadar, karena dia sebelumnya juga telah membicarakan tentang masalah ini pada Qaynaya. Dia tidak bisa menghindari tanggung jawabnya.


"Aku tau ma, tapi biarkan aku mencari cara untuk membuat Qay tidak berada dalam bahaya terlebih dahulu, baru kita akan membuat pengumuman resmi mengenai Qay"


"Lebih cepat lebih baik Djani, kita lakukan resepsi pernikahan kalian sesegera mungkin"


"Tidak ma, jangan dulu. Aku masih harus melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu. Apalagi perusahaan pusat baru saja mengalami sedikit masalah, aku tidak mau kalau sampai orang menganggap bahwa resepsi pernikahan ku, dilakukan untuk mengalihkan perhatian"


Saat Djani dan Rini sedang berbicara, Qaynaya mendapatkan telepon dari Serli.


"Maaf, aku akan mengangkat panggilan telepon dulu" Qaynaya hendak bangkit dari duduknya untuk sedikit menjauh, supaya pembicaraannya dengan Serli tidak menggangu Djani dan Rini yang sedang berbicara serius.


"Matikan!!" Djani merebut paksa ponsel Qaynaya dan mematikan panggilan telepon.


"Djani, jangan seperti ini. Bisa saja itu panggilan penting. Qay juga harus mempunyai banyak waktu untuk dirinya sendiri" Rini tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Djani. Qaynaya melihat kearah Rini dan memberi kode menggelengkan kepalanya, supaya Rini tidak melanjutkan ucapannya.


"Djani, aku hanya,, uuhhmmm" Qaynaya reflek mendorong Djani karena tiba-tiba melahap bibirnya. Qaynaya malu karena dilihat oleh Rini.

__ADS_1


"Jangan menolak ku??!!" Djani marah karena Qaynaya tidak menerima ciumannya. Qaynaya kembali menggelengkan kepalanya saat melihat Rini yang hendak mendekatinya.


"Tidak sayang,, bukan seperti itu. Aku hanya kaget saja, lagipula disini ada mama, ini tidak sopan" Qaynaya meraih tangan Djani, mencoba untuk meredam amarah suaminya.


"Djani, kenapa kamu begitu tidak bermoral?! hormatilah istrimu sendiri. Kenapa kamu melecehkannya?!" Rini tidak tahan lagi melihat sikap anaknya.


"Qay adalah istriku, bagaimana mungkin aku melecehkannya?" Djani tidak terima dengan tuduhan dari mamanya.


"Kamu menyentuhnya paksa, itu berarti pelecehan!" Rini hendak menarik tangan Qaynaya supaya bisa menjauhkannya dari Djani.


"Ma, tolong biarkan kami berbicara dulu" Qaynaya meminta pada Rini untuk meninggalkannya dan Djani.


"Sayang tenangkan dirimu, sebenarnya apa yang kamu pikirkan?" Qaynaya memeluk suaminya, berharap supaya suaminya tenang.


"Apa kamu berharap untuk bertemu dengan mantan suamimu?!" Djani tidak membalas pelukan Qaynaya, tetapi tidak menolaknya.


"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu dengan Serli, aku tidak mau kalau sampai mereka melakukan hal yang akan mereka sesali di kemudian hari. Aku takut mereka memulai hubungan baru hanya sebagai pelampiasan saja. Jadi tidak ada yang perlu kamu takutkan"


"Bisa saja kamu berniat untuk pergi lagi bersamanya, aaakkkhh!!" Djani berteriak marah membayangkannya. Qaynaya sedih melihat kondisi suaminya yang menjadi semakin tidak terkendali. Qaynaya mempererat pelukannya.


"Baiklah,, baiklah sayang,, aku tidak akan pergi. Bolehkah kalau aku hanya pergi ke rumah mama Lilis saja?" Qaynaya menengadahkan kepalanya untuk melihat reaksi suaminya.


"Tidak, aku ada pekerjaan. Aku janji akan mengantarkan dirimu suatu hari nanti. Sekarang ayo kita kembali ke kamar" Djani mengangkat tubuh Qaynaya kedalam gendongannya.


"Aahhh, lepaskan Djani. Aku bisa berjalan sendiri"


"Diamlah, nanti kita terjatuh"


"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu, sekarang istirahat dulu sebentar. Setelah selesai aku akan membangunkan mu, nanti aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat" Djani menurunkan istrinya ke atas ranjang.


"Kemana?" tanya Qaynaya penasaran.


"Rahasia, sekarang cepatlah tidur dahulu. Atau kamu mau aku tiduri dulu?" Djani mendekat dan melahap bibir istrinya.


"Iya, aku akan tidur. Cepatlah selesaikan pekerjaan mu" Qaynaya merebahkan tubuhnya dan langsung bersembunyi di balik selimut setelah Djani melepaskan ciumannya. Djani tersenyum lalu mengusap lembut kepala Qaynaya.


"Maafkan aku sayang, aku tau kalau aku terlalu berlebihan. Kamu pasti merasa sangat sesak, mohon maafkan aku sayang. Aku berjanji akan segera mengobati traumaku" Djani berkata pelan sambil mencium kening istrinya.


Qaynaya terdiam tidak menjawab lalu mengangguk. Kebahagiaan menyelimuti hatinya, karena suaminya mau melakukan pengobatan untuk traumanya.


Djani dengan serius menyelesaikan pekerjaan nya. Qaynaya sampai ketiduran saat menunggu.


Rini duduk di kursi pojok kamarnya, menelepon Rega untuk menceritakan tentang kondisi Djani yang terlihat semakin parah, karena menunjukkan kemarahannya di depan orang lain. Karena kebetulan sedang ada waktu senggang, Rega dengan santai mengobrol dan meladeni curhatan dari istrinya.


"Kita tidak bisa melakukan apapun mengenai hal ini, tunggu keputusan dari Djani. Lagipula kita belum membicarakan hal ini dengannya secara langsung" Rega menenangkan hati istrinya yang sangat gundah karena kondisi Djani.


"Kasihan Qay, dia pasti sangat sedih dengan kondisi Djani" mereka terus berbicara dalam sambungan telepon sampai terdengar bunyi ketukan pintu. Rini mematikan panggilan telepon lalu bangkit dari duduknya untuk segera membukakan pintu.


"Ma, bolehkah aku masuk?" tanya Djani. Rini sedikit kaget melihat anaknya yang mendatangi kamarnya. Tapi dengan segera Rini mempersilahkan Djani untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Aku akan berbulan madu dengan Qay disebuah pulau selama satu minggu ini. Setelahnya aku berjanji akan memeriksakan kondisiku. Maafkan aku atas segala kesalahanku selama ini ma, aku sangat sadar kalau yang aku lakukan salah" Djani duduk di kursi begitu juga dengan Rini, mereka lalu berbicara dari hati ke hati.


"Mama minta maaf, ini semua juga karena mama yang tidak becus mengurus dirimu saat kecil" Rini tidak bisa menahan air matanya. Djani menggenggam erat tangan mamanya.


"Tidak ma, ini bukan salah siapa pun. Semuanya sudah terjadi, mungkin karena aku yang sangat lemah sebagai seorang pria"


"Jangan berkata seperti itu" Rini semakin keras menangis, Djani memeluk mamanya.


"Jangan menangis ma, kenapa seolah-olah aku mempunyai penyakit keras yang akan membuat diriku meninggal secepatnya. Tolong jangan kasihani aku, kalau mama seperti ini, aku menjadi merasa seperti pesakitan"


"Baiklah,, sekarang cepatlah berkemas. Kalian memang belum sempat pergi berbulan madu. Semoga tanpa kamu perlu berobat, kamu bisa merubah hati dan perasaan mu. Sakit yang kamu derita bukan penyakit yang terlalu membutuhkan perawatan khusus, walau itu bisa saja nantinya diperlukan. Saat ini nikmatilah waktu kalian, dan jangan memikirkan tentang pekerjaan atau masalah lain. Semoga saat kepulangan kalian, nantinya kalian sudah bertiga dengan bayi diperut istrimu"


"Tentu saja ma,, aku akan berusaha lebih keras lagi" Djani melepaskan pelukannya lalu berniat untuk segera keluar dari kamar mamanya, dia takut kalau Qaynaya terbangun dan bingung mencarinya.


"Cobalah untuk menahan diri, apa lagi kalau hal itu bisa menyakiti atau melukai Qay" Rini mengingatkan anaknya. Karena dia menyadari kalau tidak akan bisa memantau lagi perkembangan kondisi Djani saat mereka berjauhan.


"Tenang ma, tidak ada yang bisa membuat ku berbuat kasar padanya. Aku tidak akan membawa alat komunikasi apapun, jadi jangan menghubungiku, karena itu percuma"


"Jangan terlalu berlebihan, bagaimana kalau ada sesuatu hal yang sangat penting? bagaimana cara kami menghubungi kalian?"


"Aku sudah mengerjakan semua pekerjaanku, jadi tidak ada hal penting lainnya lagi"


Rini tidak bisa menjawab lagi, dia tidak mau membuat anaknya kesal. Rini sangat paham dengan kondisi yang sedang dialami oleh Djani. Rini berharap dengan kepergian Qaynaya dan Djani berlibur untuk berbulan madu, bisa membuat hati Djani kembali sembuh seperti sedia kala.


"Semoga setelah ini, semuanya membaik dengan sendirinya" Rini bergumam begitu pintu kamarnya tertutup kembali.


Djani masuk kedalam kamar dan melihat istrinya yang masih lelap tertidur. Secara perlahan, Djani mengambil sebuah koper dan berkemas untuk mereka berbulan madu.


"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" Qaynaya terbangun karena tidak sengaja, Djani menjatuhkan sesuatu dari dalam lemari.


"Sudah bangun? sekarang mandi dulu. Kita akan pergi berbulan madu di sebuah pulau, kamu pasti akan sangat menyukainya. Sebelumnya nanti kita bisa mampir ke sebuah taman bermain, seperti yang kamu inginkan"


"Benarkah??!!" Qaynaya langsung bangun dan berlari mendekati suaminya.


"Apa ini bukan prank untukku?" Qaynaya menubruk suaminya dan memeluknya dari belakang. Djani tersenyum lebar karena kejutan nya berhasil.


"Kenapa aku harus berbohong, itu tidak mungkin. Sekarang cepatlah berkemas, nanti kesorean keburu taman bermainnya tutup"


"Baiklah sayangku, aku akan cepat" Qaynaya menciumi punggung suaminya sebelum berlari ke dalam kamar mandi.


"Semoga kepergian kita kali ini, bisa menyembuhkan hatiku" Djani berkata pelan sambil menutup kopernya karena dia sudah selesai berkemas.




"Qay tidak bisa dihubungi, dia juga menolak panggilan telepon dariku. Aku takut terjadi sesuatu padanya" Serli khawatir, begitu juga dengan Rani yang sedang menggendong bayinya.


__ADS_1


"Djani sangat kejam, dia sepertinya melarang Qay untuk menemui kita" Rani geram lalu tanpa terasa menggenggam erat mainan milik bayinya.


__ADS_2