Kesepian

Kesepian
Menghilang


__ADS_3

"Tuan, apa yang terjadi pada istri pertama tuan? lalu apakah pernikahan kedua tuan akan tetap di laksanakan setelah melihat kondisi istri pertama tuan?" para reporter telah menunggu Djani didepan hotel, sebelumnya mereka tengah bersiap di dalam gedung tempat dimana pernikahan Djani dan Geby akan segera dilaksanakan, sehingga mereka kehilangan momen saat kedatangan Qaynaya dan bahkan saat Qaynaya mengalami kecelakaan.


"Tentu saja pernikahan akan tetap dilakukan, sekarang masuklah dan bersiap, tulislah berita yang bagus mengenai acara ini" jawab Djani santai, walau hatinya dipenuhi kekhawatiran dengan kondisi Qaynaya yang masih belum sadarkan diri saat dia pergi.


Djani harus melanjutkan rencananya, supaya samua segera selesai, jadi dia bisa kembali bersama dengan Qaynaya tanpa ada gangguan dari wanita gila itu.


"Djani, mama mendengar kalau Qay datang kemari, apa yang sekarang terjadi?" bisik Rini pada Djani yang baru datang dan berniat untuk berjalan kearah podium.


"Bagi reporter senior, atau yang pernah meliput acara pernikahan ku dengan seseorang yang akhirnya menjadi pengumuman pencarian istriku, sepertinya ini tidak asing lagi bukan?" Djani membuka dasinya dan mengeluarkan sebuah alat perekam dari dalam sakunya.


Terdengar jelas percakapan Rega dan Geby didalam kamar, yang diduga sebagai tempat kejadian dimana Geby mendapatkan pelecehan dari Rega. Bahkan terdengar bunyi tidak senonoh dari kejadian Alek dan Geby yang tengah indehoy di hadapan Rega, didalam ruangan pemeriksaan di kantor polisi.


Mendengar semua itu, tentu saja terjadi kehebohan dan keributan. Dan tidak berhenti sampai disitu saja, seorang wanita yang berada di atas kursi roda masuk kedalam ruangan pernikahan.


Geby gemetaran saat melihat kearah Djani, kakinya terasa lemah dan tidak bisa digerakkan, padahal dia sudah setengah jalan untuk menghentikan Djani, kedua orang tua Geby mendekati anaknya dan memberikan bantuan untuk bangun kembali, pandangan matanya terlihat sangat marah melihat kearah Djani.


"Apa ada sebagian dari kalian yang merasa aku sangatlah kejam pada seorang wanita?" Djani bertanya pada semua hadirin, dan ada sebagian yang mengangkat tangannya.


Djani tersenyum dan bertepuk tangan, dia sangat berterima kasih karena masih ada orang jujur walau dalam kondisi apapun.


"Wanita ini yang lebih dahulu mengusik ketenangan keluarga saya, dia memberikan tuduhan palsu pada ayah saya, itulah yang membuat mama saya murka padanya"


"Tapi tetap saja tidak diperbolehkan melakukan hukuman dengan main hakim sendiri" salah satu reporter bangkit dari duduknya dan memberikan penjelasan yang masuk akal.


"Tentu saja, sayapun mengerti akan hal itu, tapi saya bertanya pada semua hadirin semua, saat kalian dihadapkan pada wanita yang memfitnah pasangan kalian, dan bahkan memprovokasi nya, apa yang akan kalian lakukan?" Djani kembali bertanya pada hadirin, dan ada seorang ibu berteriak dengan lantang.


"Aku akan menghabisinya"


Mendengar teriakan itu, Djani tersenyum lebar karena tanpa menyiapkan talent untuk membantunya, ternyata ada yang benar-benar membela Rini.


"Ayah saya difitnah dan beritanya disiarkan di seluruh negeri ini, bahkan viral sampai ke berbagai negara, apa menurut hadirin semua itu sangat adil? bahkan beberapa berita menceritakan hal yang sangat melenceng dan dipenuhi bumbu-bumbu kebencian, saham keluarga kami anjlok karena masalah ini. Sehingga kami mengalami banyak kerugian, jadi saat ini saya hanya ingin melakukan hal yang sama, yaitu menyiarkan ini secara publik, sehingga kalian yang bisa menilainya sendiri. Dan satu lagi yang paling utama, wanita tidak tau malu itu, setelah memfitnah ayah saya dengan tuduhan pelecehan. Dengan tidak tau malunya dia juga memfitnah lagi dengan mengatakan ayah saya yang menembak nyonya Lina" Djani berjalan mendekati Lina.


"Ini adalah nyonya Lina yang telah diberitakan meninggal tertembak oleh ayah saya, beliau sebenarnya selamat dan berobat diluar negeri"


Geby syok dan gemetaran melihatnya, sepertinya dia sudah di akhir kehidupannya. Tapi ternyata ada seorang reporter yang masih belum puas dengan berita heboh tersebut.


"Nona Geby dikabarkan sedang mengandung, kalau itu bukan karena pelecehan yang diterimanya, lalu apakah itu bayi tuan Djani?, lalu kenapa tuan melakukan hal ini? bukankah ini sangat keterlaluan?"


Djani tertawa mendengarnya, lalu menjentikkan jarinya dan terlihatlah di layar foto-foto Geby dengan berbagai pria, keluar masuk hotel. Djani memberikan narasinya dan menjelaskan semuanya.


Kejadian pelecehan yang dituduhkan pada Rega belum ada dua minggu ini, bahkan baru semingguan yang lalu, tapi kehamilan Geby sudah memasuki bulan ke tiga. Dan Djani berani melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa itu bukan anaknya.


"Kalau semua masih curiga, saya berani tes DNA, silahkan pilih dokter manapun. Saya bertemu dengannya saja baru kemarin, karena saya baru pulang dari bulan madu bersama istri tercinta saya yang bernama Qaynaya" Djani kemudian menjentikkan jarinya dan gambar dilayar berubah.


Pertama foto pernikahannya dengan Qaynaya dan di lanjutkan dengan foto-foto mereka saat kemarin berbulan madu.


"Terlihat jelas waktu dan tempat serta tanggal nya dalam foto itu kapan diambilnya, itulah kenapa saya tidak ada di sini saat tragedi kedua orang tua saya masuk dalam jebakan wanita gila ini" Djani menunjuk kepada Geby dengan penuh amarah.


"Berarti anda sudah menemukan istri anda tersebut, dan setelah bertemu, anda dan istri langsung berbulan madu?" tanya salah satu reporter.


"Kenapa tuan tidak mengumumkan kepada publik saat menemukan keberadaan istri tuan? itu dijadikan asumsi publik bahwa tuan tidak mencarinya atau tuan melupakannya, sehingga banyak wanita lain yang mendekati tuan" reporter lain bertanya, disaat bahkan pertanyaan reporter sebelumnya belum mendapatkan jawaban.


"Apa tuan malu dengan tidak mengumumkannya di publik?" reporter terus mencecar pertanyaan pada Djani yang masih diam. Hingga semua menjadi terdiam saat Djani mengangkat tangannya, berbarengan dengan foto-foto Qaynaya terputar di layar, dan berhenti di foto pernikahan mereka yang di zoom.


"Ini adalah foto istri sah saya, dan saya pastikan bahwa dia adalah satu-satunya dan selamanya, awalnya saya pikir dengan tidak memperkenalkan nya kembali setelah kepergiannya, itu yang terbaik, karena saya tidak mau dia menjadi sasaran konsumsi publik dari semua apa yang dia lakukan, saya hanya berniat untuk melindunginya. Tapi ternyata itu salah, jadi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Setelah kejadian ini selesai, saya kembali mengundang hadirin semua, karena saya akan mengadakan resepsi pernikahan besar, dengan istri sah saya yang bernama Qaynaya lah yang berada disamping saya"


Djani menyudahi penjelasannya yang di iringi oleh tepuk tangan hadirin. Rega dan Rini mendekatinya dan mereka tersenyum penuh kebahagiaan. Mereka berpelukan lega karena semua telah selesai, tidak lupa mereka mengucapkan terimakasih, terkhusus pada Lina yang mempunyai waktu untuk hadir.


"Tentu saja saya harus hadir, bukan hanya untuk membantu tuan, tapi untuk diri saya sendiri. Wanita ular ini telah menjadi selingkuhan suami saya sejak lama, dan bahkan berani menembak saya. Dan lebih ironisnya lagi, suami saya melindunginya alih-alih membela saya" Lina tidak dapat menahan air matanya, dan tidak lama datang para polisi yang siap menangkap Geby.


"Kurang ajar, jangan berani menyentuh ku, kalian semua akan aku habisi, haahhh!!" Geby berteriak histeris saat tangannya akan diborgol.


Ada salah satu polisi yang mendekati Rini dan mengatakan Rini juga harus ditangkap untuk melanjutkan hukumannya.


"Bukankah laporannya sudah dicabut?" tanya Djani mulai terlihat panik. Lalu Geby tertawa cekikikan seperti hantu, dandanannya juga sudah acak-acakan, jadi tampilannya benar-benar seperti setan gentayangan.


"Apapun bisa aku lakukan, jadi kalian bersiaplah,, hahahaha. Tidak mudah mengalahkan diriku, bahkan polisi bisa aku beli dan taklukkan!!" Geby seperti kesetanan dan terus berteriak


Para reporter dan hadirin memojokkan polisi dengan suara penuh pembelaan untuk Rini, saat salah satu polisi hendak membawa Rini. Mereka tidak terima karena kelakuan Geby memang pantas dihajar.


"Tenang semuanya, bagaimanapun saya memang bersalah, tapi saya tidak menyesalinya. Tidak apa-apa saya dihukum untuk bertanggung jawab atas segala yang saya lakukan, negara kita adalah negara hukum, jadi sudah tentu yang bersalah harus dihukum. Terimakasih atas semua dukungannya" Rini berbicara untuk menenangkan keributan.


"Ma, maafkan aku!" Djani tidak bisa menahan air matanya, karena tidak bisa menyelamatkan mamanya dari hukuman.


"Djani sayang, ini bukan salahmu, dan masalah hukum itu jauh dari jangkauan mu, lagipula memang mama bersalah. Kalau kamu melakukan segala cara untuk mengeluarkan mama, padahal sudah jelas mama bersalah, lalu apa bedanya kita dengan wanita gila itu? wanita yang tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan terus melakukan kejahatan dan fitnah keji" Rini menggenggam tangan Djani untuk menguatkan anaknya.


"Tapi ma,," Djani tidak bisa meneruskan ucapannya lalu jatuh bersimpuh di hadapan mamanya, dia merasa tidak berguna karena tidak bisa membuat mamanya terbebas dari hukuman.


"Djani tenang" Rega mengelus bahu anaknya, Rini lalu ikut bersimpuh di depan Djani dan memeluk erat anaknya.


"Biarkan mama menjalani hukuman mama,, ini tidak akan lama. Nama baik keluarga kita bisa tercoreng karena perbuatan mama ini kalau mama tidak mau bertanggung jawab, jadi mama harap kamu tidak melakukan apapun untuk mengeluarkan mama dari penjara, dan biarkan mama menjalaninya sesuai prosedur yang berlaku. Mama tidak menyesal sedikitpun, karena mama melakukan itu untuk membela suami mama. Sekarang kamu kembali pada Qay secepatnya, dia pasti sudah menunggumu" Rini melepaskan pelukannya lalu menarik lengan anaknya, supaya mereka berdiri bersama.

__ADS_1


Rini dibawa polisi dengan iringan tangisan dari banyak hadirin, semuanya merasa terharu melihatnya.


#Istri yang sangat tabah


#Istri konglomerat teladan


#Istri pengusaha nomor satu di negara ini di penjara


#Berita menyayat hati


#Tragedi pernikahan yang kembali gagal dari putra konglomerat


Banyak tagar berita yang berseliweran di media.



Qaynaya berjalan perlahan keluar dari ruangan, kepala dan perutnya terasa sangat sakit. Dokter datang dan meminta Qaynaya untuk kembali ke atas ranjang, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.



"Tidak dokter, seperti yang sudah diduga, saya tau kalau bayi saya tidak bisa bertahan, karena sebelum pingsan, saya melihat begitu banyak darah" Qaynaya lalu menangis tidak bisa menahan kesedihannya.



"Belum bisa kita pastikan, sebaiknya kita periksa dahulu" dokter kembali membujuk Qaynaya.



"Dokter,, apa dokter mendengar berita pernikahan dari seorang konglomerat bernama Djani?" Qaynaya memegangi tangan dokter yang ada dihadapannya, dokter wanita yang sepertinya adalah dokter kandungan.



"Tentu saja, beritanya sangat heboh dan membuat macet daerah sekitar ini, karena gedung tempat pernikahan nya tidak jauh dari sini, kenapa nona menanyakan hal itu?" dokter merasa heran, dia baru datang, jadi tidak melihat Djani lah yang tadi membawa Qaynaya ke rumah sakit ini.



"Dokter, apa sudah dilakukan pemeriksaan lanjutan, dan apakah sudah diketahui hasilnya? kenapa nona malah berdiri di sin!" dokter yang merawat dan memberikan pertolongan pertama pada Qaynaya juga datang.



"Nona ini sepertinya linglung" dokter kandungan itu lalu berusaha untuk memapah Qaynaya menuju ranjang nya kembali, tapi Qaynaya bersikeras tidak mau.




"Aappaaa?!" dokter kandungan itu terkejut.



Mereka lalu berbicara sebentar dan dokter yang juga seorang wanita bisa memahami perasaan Qaynaya.



"Tapi tuan Djani tadi terlihat begitu panik saat mengantarkan nona kemari" dokter yang memberikan pertolongan pertama pada Qaynaya merasa ini tidak benar.



"Itu karena banyak mata yang melihat" Qaynaya sepertinya sangat kecewa pada Djani yang dia pikir lebih memilih Geby dibandingkan dengan dirinya, Qaynaya juga mengingat saat Djani menghalangi Lilis yang hendak menyerang Geby.



"Buktinya dia kembali ke pernikahannya, alih-alih menemaniku. Baiklah sudahi ini semua, kenapa aku harus menjual kesedihan dan cerita piluku, aku mengatakan dan menceritakan siapa diriku, karena aku percaya pada semua dokter disini yang pastinya akan merahasiakan identitasku, dan tolong bantuannya untuk mengatakan bahwa aku keguguran pada Djani, saat nanti dia datang. Biarkan dia hidup bahagia dengan istri barunya, tanpa memikirkan diriku lagi. Dan aku bisa tenang untuk segera pergi. Aku mohon bantuannya" Qaynaya menundukkan setengah badannya walau dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.



Para dokter terenyuh dan membiarkan Qaynaya pergi, dan saat mereka masih mengobrol tentang masalah Qaynaya, Lilis yang dari tadi menyusul dan mengejar Djani telah kembali dan menanyakan dimana anaknya.



Dokter saling berpandangan dan mengatakan bahwa Qaynaya telah pergi, Lilis langsung berlari untuk mencari anaknya. Begitu Lilis tidak nampak lagi, dokter lalu kembali untuk melakukan tugasnya masing-masing.



Saat hampir siang, dan Rini sudah dibawa polisi, dan belum diperbolehkan siapapun untuk melihatnya, Rega memilih ikut dengan Djani untuk melihat kondisi Qaynaya. Saat itu berbarengan di televisi disiarkan berita batalnya pernikahan Djani dan Geby, serta segala macam drama di dalamnya.



Dokter kandungan tidak sengaja melihat berita itu saat melewati sebuah ruang tunggu yang terdapat televisi supaya para pasien yang mengantri tidak bosan. Dokter terdiam membeku menyadari kesalahannya dan langsung berlari ke arah ruangan yang sebelumnya Qaynaya tempati.


__ADS_1


Dokter bimbang akan apa yang harus dia ceritakan, tapi dia sudah berjanji pada Qaynaya sebelumnya. Jadi dokter tersebut tetap melakukan seperti yang diminta oleh Qaynaya, itu bisa meminimalkan resiko yang akan dia terima di kemudian hari.



"Appaa??!!" Djani terduduk lemah di ranjang begitu mengetahui berita tentang keguguran nya Qaynaya. Dia memukuli dan menampar wajahnya sendiri, karena membuat Qaynaya menjadi seperti ini.



Djani bisa melihat tatapan penuh kekecewaan dari sorot mata Qaynaya saat dirinya memegangi Lilis yang hendak menyerang Geby, tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan dan Qaynaya sudah berlari, hingga mengalami kecelakaan. Dan karena kecelakaan itu, Qaynaya harus kehilangan janinnya yang bahkan baru dia ketahui kehadirannya.



Qaynaya pasti sangat frustasi dan terpuruk, apalagi dia baru ditinggalkan oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Dan semua kesedihan itu harus dilaluinya sendiri tanpa Djani di sisinya.



"Djani tenang, bukankah dari awal sudah ayah katakan kalau rencana yang tadi kamu lakukan itu sangat beresiko, dan inilah resiko yang harus kamu tanggung, tapi mau dikata apa lagi?!,, semua sudah terjadi, sekarang kita harus cepat mencari keberadaan Qaynaya!!" Rega berteriak melihat anaknya yang seperti itu, ada rasa kecewa di hati Rega, tapi tetap saja Djani adalah anaknya, dan niat Djani juga baik saat melakukan rencananya.



Kesalahan Djani hanya satu, yaitu dia tidak menceritakan rencana itu pada Qaynaya, hingga akhirnya hal ini harus terjadi.



"Apa kamu yakin Qay?" tanya Serli dan Doni. Qaynaya lalu mengangguk mantap.


"Baiklah, aku akan menemanimu" Serli lalu berjalan memasuki sebuah bandara, dan di ikuti oleh Doni.


"Kenapa kamu ikut-ikutan?" tanya Serli pada Doni.


"Suka-suka aku lah" jawab Doni santai lalu menyusul Qaynaya, Rani juga datang bersama dengan anaknya dan memberikan tas selempang pada Qaynaya.


"Ini bawa" ucap Rani lalu menangis, dia tidak bisa mengikuti sahabatnya karena dia sudah mempunyai suami.


"Ini tidak perlu, aku baik-baik saja Rani" Qaynaya hendak mengembalikannya, karena dia sadar apa yang diberikan oleh Rani untuknya.


"Jangan tolak dan segera pergi, kamu bisa kembali lagi dan mengembalikan nya padaku, ini aku lakukan supaya kamu selalu mengingat diriku, aku ini jahat asalkan kamu tau" Rani mencoba untuk bercanda dan menghapus air mata Qaynaya.


"Cepatlah pergi, sebelum pria gila itu menemukanmu" ujar Rani lalu sedikit mendorong tubuh Qaynaya, mereka saling melambaikan tangan saat berpisah, Qaynaya ingin pergi jauh dari negara ini dan memulai hidup yang baru.


Setelah Qaynaya tidak terlihat, barulah Rani sadar kalau dia tidak mengetahui tujuan mereka, sementara ponsel ketika manusia yang telah masuk dan tidak terlihat itu, telah dipegang oleh Rani. Mereka sengaja meninggalkan semuanya, dan ingin benar-benar memulai hidup baru tanpa membawa kehidupan lama mereka.


"Bodohnya aku!" rutuk Rani pada dirinya sendiri, sekarang dia hanya harus menunggu kepulangan sahabatnya tanpa bisa berkabar sebelum mereka kembali.


Rani baru sampai kerumahnya saat Djani mendatanginya untuk menanyakan keberadaan Qaynaya. Rani yang belum melihat berita begitu marah saat melihat Djani dan menamparnya.


"Apa lagi yang coba kamu lakukan padanya?!! tidak cukupkah kamu menyakitinya?!!, kalau kamu ingin menjadi selebriti, maka jadilah artis yang berguna, tidak seperti ini. Kamu menjadikan acara pernikahan sebagai ajang eksistensi mu, mana ada wanita yang kuat melihat suaminya hendak melihat lagi, apapun yang terjadi di dalam pernikahan itu" Rani mengingat pernikahan Djani dengan Kaela yang sebenarnya dijadikan ajang pencarian oleh Djani.


Saat ini Rani merasakan hal sama, karena melihat begitu paniknya Djani. Tapi ini tidak bisa dibenarkan atau dibela, karena Djani tidak seharusnya melakukan rencana pernikahan, walau untuk apapun alasannya, kecuali atas dasar cinta, karena acara pernikahan, bukan ajang permainan.


"Aku tidak tau apalagi yang kamu rencanakan dengan pernikahanmu kali ini, tapi itu tidaklah benar, seharusnya kalau mau menyelesaikan masalah, bukan dengan melakukan pernikahan walau hal itu tidak dilanjutkan dengan pernikahan sungguhan" Rani begitu marah hingga membuat anak dalam gendongannya menjadi ketakutan dan menangis.


Rani lalu memberikan anaknya pada pengasuh karena dia masih belum puas mengeluarkan unek-unek nya pada Djani.


"Jangan bertanya lagi dimana Qay berada padaku, karena aku juga tidak tau dimana perginya, yang aku tau dia pergi sangat jauh dengan mantan suaminya!!" Rani sengaja memanas-manasi Djani dan memberikan ketiga ponsel yang ada di dalam tasnya.


"Mereka semua sudah pergi entah kemana, dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun, jadi sekarang juga enyahlah kamu dari hadapanku!!" teriak Rani puas lalu hendak mengambil kembali ponsel-ponsel yang tadi dia berikan pada Djani.


"Kenapa ini ada tiga? dengan siapa lagi Qay pergi?!!" bisa-bisanya Djani marah dan cemburu saat ini, tapi Rani sangat puas melihatnya, dan merebut kembali ponsel ditangan Djani dan hanya menyisakan ponsel milik Qaynaya.


"Ambil punya Qay, aku masih sedikit punya hati. Ambillah sebagai kenang-kenangan yang akan membuatmu menyesal seumur hidup karena berani menyakiti sahabatku, dasar lelaki posesif dan cemburuan, tapi berani-beraninya membuat sahabatku terluka. Itu hukum untukmu, lagipula kamu tidak mengizinkan Qay menemui kami saat itu, jadi ini adalah dendamku" Rani langsung ngibrit masuk kedalam rumah, dia sebenarnya takut melihat Djani yang terlihat sangat marah, saat dia mengatakan Qaynaya pergi dengan Doni.


Djani kembali ke mobilnya dengan langkah gontai, didalam mobil, Rega tengah mencari informasi dimana keberadaan Qaynaya. Dan Qaynaya terlihat di sebuah bandara, bersama Serli dan Doni. Untuk sesaat Djani marah melihatnya karena Qaynaya benar-benar pergi bersama dengan Doni.


"Kenapa kamu marah?!!, Qay pasti sangat frustasi dan lebih marah padamu, jadi sadarkan dirimu!" Rega menjadi emosi melihat anaknya. Djani terdiam dimarahi oleh ayahnya lalu meminta pada Adam untuk segera ke bandara, untuk mencari tahu kemana perginya Qaynaya.


Setelah sampai di bandara, Djani langsung mencari tau kemana perginya Qaynaya, dan diketahui bahwa dua pesawat sebelumnya yang sudah terbang, diwaktu yang ditanyakan oleh Djani, adalah menuju negara FF dan negara TF.


Djani lunglai karena kedua negara itu sangatlah jauh, darimana Qaynaya mempunyai uang, selama ini Qaynaya tidak pernah mengambil sedikitpun uang yang diberikan oleh Djani.


"Dia itu wanita mandiri, dia tidak pernah takut masalah uang" jawab Rega mendengar ucapan pelan Djani, sepertinya Rega sangat kesal pada Djani, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.


Djani dan Rega kembali ke hotel untuk menyelesaikan permasalahan dan administrasi, sekaligus untuk menginap disana beberapa hari sambil mencari rumah baru, karena mereka sudah pasti tidak mau kembali ke rumah yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Geby.


"Apa yang ingin kamu lakukan sekarang? untuk perusahaan jangan khawatir lagi, karena setelah berita tragedi pernikahan mu dengan wanita sundel bolong itu, saham kita naik drastis" ujar Rega lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, merasa sangat lelah dengan semua kejadian yang tiba-tiba.


"Jangan pikirkan lagi dengan uang perusahaan yang pernah kamu pakai untuk membeli beberapa perusahaan kecil saat berniat balas dendam pada Qay, karena pada kenyataannya, saat ini semua perusahaan itu malah sangat berkembang, jadi jangan merasa terbebani lagi dengan itu. Dan jangan takut dengan keuangan, untuk siapa lagi semua harta kami kalau bukan untukmu dan keluarga mu. Jadi kedepannya kamu bisa mengambil jalanmu sendiri, kamu mau meneruskan semua perusahaan kita, atau kita bisa menyerahkan nya pada orang kepercayaan kita selama ini" Rega melihat langit-langit kamar saat mengatakannya, dan tidak melihat kearah Djani yang sangat terharu mendengarnya.


"Aku selalu tahu kalau ayah adalah pahlawanku, tapi aku tidak menyangka kalau ayah juga seorang malaikat,, apa aneh kalau sekarang aku ingin memeluk ayah?" ujar Djani lalu berjalan mendekati ayahnya yang masih tiduran terlentang.


"Ini akan sangat aneh, dua pria berpelukan di dalam sebuah kamar hotel" Rega lalu bangun dan menarik Djani dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tidak mungkin ini aneh, aku kan ayahmu sendiri. Cepat bersihkan tubuhmu dan lakukan rencana selanjutnya dengan cepat. Aku ingin kita bisa segera berkumpul bersama kembali, saat kamu bisa menemukan istrimu, ayah juga berharap istri ayah sudah kembali lagi"


Dua pria dewasa dan yang satu malah sudah memasuki usia senja itu lalu duduk berdampingan dengan pikiran mereka masing-masing, dua pria yang sama-sama sedang ditinggalkan oleh istri mereka.


__ADS_2