Kesepian

Kesepian
Ternyata?? (Arka)


__ADS_3

"Aku antarkan, ini sudah malam"


"Tidak terima kasih, aku membawa mobil sendiri, baiklah pak, maaf,, maksudku Arka,, selamat malam, aku pergi duluan" Qaynaya langsung pamit begitu dia selesai makan, karena waktu sudah semakin malam dan menolak tawaran bos nya untuk mengantar pulang


Karena sudah terlalu malam, Arka secara diam-diam mengikuti Qaynaya, dia takut terjadi hal buruk pada wanita yang telah mencuri hatinya itu, sekalian dia mau mencari tau dimana selama ini Qaynaya tinggal.


"Dia tinggal di rumah mungil ini? apa dia hidup sendirian tanpa orang tuanya ya?" gumam Arka saat melihat dimana Qaynaya turun dari mobilnya.


Arka lalu segera bergegas pergi karena ada seseorang yang terus melihatnya, mungkin karena terlihat seperti penguntit.



"Tuan,, kata pacar saya, istri tuan tinggal di daerah pinggiran kota, waktu itu pacar saya kesana karena sedang ada acara bersama teman-temannya, apa tuan mau ke daerah itu untuk ikut mencari?" salah satu anak punk yang bekerja sama dengan Djani memberikan kabar penting pada Djani.



"Baik,, aku akan segera kesana, kalian bisa mulai lebih dulu"



"Djani,, kenapa kamu terburu-buru sekali? bukan kah kamu ada meeting penting hari ini untuk menggantikan ayahmu" Rini mendekati anaknya yang terlihat sibuk mengambil jaket dan kunci mobil.



"Qaynaya ada di pinggiran kota ini ma, pantas saja dia sulit aku temukan, karena aku terlalu focus mencari di dalam kota"



"Mama ikut kamu ya, biar mama ikut menjelaskan padanya nanti"



"Tidak ma, jangan dulu,, ini juga belum pasti, aku pergi dulu" tidak perlu menunggu lama, Djani langsung berlari ke mobilnya.



"Hati-hati Djani!" teriak Rini



"Anak itu terlalu bucin,, aku sangat penasaran seperti apa Qay sebenarnya, kenapa Djani sampai tergila-gila pada wanita biasa seperti itu,, aku mungkin memang bersalah pada wanita itu, tapi untuk menerimanya jadi menantu, kemungkinannya sangat kecil" gumam Rini saat melihat mobi Djani sudah menjauh.



Ditengah perjalanan, Djani mendapatkan pesan dari seseorang yang nomor nya tidak dia kenal, tapi dia tetap membuka nya, mungkin saja itu berita penting tentang Qaynaya.



"Tuan Djani, bukankah ini istri anda?" terdengar pesan suara dari seseorang yang suaranya tidak dia kenali, selang beberapa detik, foto Qaynaya yang sedang melakukan rapat saat bersama Arka masuk juga ke ponsel Djani.



"Siapa ini?!" Djani langsung menelepon nomor kontak yang menghubunginya.



"Saya adalah salah satu karyawan tuan, di perusahan utama tuan, PT Djani Karya TBK"



"Kapan foto ini diambil?"



"Kemarin tuan"



"Kenapa tidak langsung mengabarkan padaku?!"



"Maaf tuan, saya baru mendapatkan nomor ponsel pribadi tuan baru saja"



"Istriku datang sebagai apa dan bekerja di perusahaan apa?"



"Saya kurang tau tuan, mungkin hanya membantu bosnya, untuk perusahaan nya terletak di pinggiran kota ini, di daerah VB,, nama perusahaannya adalah PT XXX, perusahaan itu masih tergolong baru"



"Cepat akuisisi perusahaan itu sekarang juga, laporkan padaku segera!" setelah memberikan perintah, Djani langsung mematikan panggilan telepon, Djani bahkan tidak tau yang menelpon nya bekerja di bagian apa, tetapi Djani lalu menelepon orang kepercayaannya di perusahaan miliknya, untuk segera mengakuisisi perusahaan tempat Qaynaya sekarang bekerja.


__ADS_1


"Aku akan segera menangkap mu sayang" batin Djani senang, dan langsung menuju ke tempat janjiannya dengan anak-anak punk yang membantunya.



"Apa kalian sudah menemukan nya?" tanya Djani begitu sampai.



"Belum tuan,, di daerah ini tidak ada yang mengenalnya, ternyata pinggiran kota ini lumayan luas juga, mungkin ada di sisi yang lainnya"



"Baiklah,, terimakasih atas bantuan kalian, sudah cukup bantuan kalian sampai disini saja, hadiah yang aku janjikan akan aku berikan segera, cepat kirimkan alamat dimana aku bisa mengirimkan motor untuk kalian"



"Tuan,," salah satu anak punk itu mencoba bernegosiasi dengan Djani, sepertinya dia ingin meminta hal lain.



"Bolehkah pekerjakan aku di perusahaan tuan? aku tidak akan mengambil motornya, aku tidak terlalu membutuhkan motor, tetapi sebentar lagi aku lulus sekolah, jadi aku membutuhkan pekerjaan, tidak masalah pekerjaan apapun"



"Ok, siapa saja yang memilih bekerja dibandingkan dengan motor?" tanya Djani, ada sebagian anak punk itu yang mengangkat tangannya, tetapi tetap ada yang memilih motor.



"Aku akan menghubungi kalian secepatnya untuk masalah pekerjaan, ini ambil dan simpan kartu namaku, datanglah ke perusahaan PT Djani Karya TBK,, katakan kalian datang langsung atas perintah ku, dan tolong berpakaian rapi saat kesana,, untuk yang memilih motor,, segera tulis jumlahnya dan kirimkan alamatnya padaku, aku akan meminta pada orang suruhan ku untuk segera memberikan apa yang sudah aku janjikan"



"Terimakasih tuan" anak-anak punk itu terlihat sangat senang, Djani sengaja membebaskan tugas mereka karena Djani tau kalau sebagian dari mereka masih bersekolah, jadi melakukan hal ini pasti mengganggu sekolah mereka.



"Aku tidak mau menghakimi orang,, dan tidak ada niatan untuk menggurui, tapi cobalah untuk hidup lebih baik, sudah cukup bagi kalian bermain di jalanan, masa depan kalian masih panjang" Djani lalu bergegas pergi setelah melakukan high five pada semua anak-anak punk itu.



"Qay,, tadi malam pulang jam berapa belanja bareng Gea?" tanya Zahra saat mereka sedang istirahat makan siang di kantin kantor.


"Jam sembilan lebih kalau tidak salah, kenapa?"


"Pasti sangat mengasyikkan"


"Qay,,, jangan menoleh,, dibelakang sana ada bos kita,, aneh sekali kelihatannya karena seorang bos datang ke kantin kantor, biasanya mereka makan di restoran"


"Kenapa harus memikirkan urusan orang lain, cepat habiskan makanan mu" Qaynaya yang kalau makan seperti orang kelaparan sangat kesal karena Zahra terus saja mengajaknya berbicara, sehingga susah untuk makan.


"Kamu setiap makan seperti orang kelaparan saja" ujar Zahra.


"Aku tidak terlalu suka membuang-buang waktu"


Saat Qaynaya masih mengunyah makanan nya, Arka duduk di samping nya, sambil membawa nampan berisi makanan.


"Bolehkah aku duduk di sini?"


"Tentu saja pak" Zahra yang menjawab dengan cepat.


Qaynaya merasa risih karena dia menjadi pusat perhatian semua yang sedang berada di sana, tidak ketinggalan geng para wanita dari divisi lain yang sepertinya sangat mengagumi Arka, mereka terlihat berbisik-bisik membicarakan Qaynaya, entah apa yang mereka rencanakan, karena terlihat mereka tersenyum mencurigakan.


"Maaf, saya pamit pergi lebih dulu" Qaynaya bangkit dari duduknya setelah dengan cepat menyelesaikan makannya, dia semakin saja merasa tidak nyaman.


Arka tidak menahannya, dan malah menahan Zahra yang mau mengejar Qaynaya.


"Duduklah,, ada sesuatu yang harus aku tanyakan"


Mendengar apa yang dikatakan oleh bosnya, sudah tentu Zahra menurut dan langsung duduk kembali, tadinya Zahra pikir yang akan dibicarakan adalah masalah wanita, ternyata adalah tentang Qaynaya.


"Apa Qaynaya hidup sebatang kara?"


"Saya tidak tau tuan,, dia juga karyawan baru, lagipula dia selalu tertutup, saat ada acara kantor, dia selalu menghindar, sepertinya dia tidak terlalu suka keramaian"


"Apa dia sudah memiliki kekasih?"


"Saya tidak tau,, kami bahkan belum lama ini akrabnya, jadi belum banyak yang saya ketahui tentang nya,, memang nya ada apa ya pak?, apa Qay melakukan kesalahan?"


"Tidak,, tidak ada apa-apa, tolong rahasiakan pada Qay, tentang pembicaraan ini" Arka lalu pergi setelah merasa urusannya sudah selesai, Zahra sepertinya tahu apa yang sedang terjadi, dia lalu bergegas pergi untuk menemui Qaynaya.


"Apa kamu tau apa yang terjadi baru saja?"saat Zahra akan mengatakan sesuatu, Gea sudah ada dibelakangnya dan memegang bahunya.


"Aaaahhhhh!" Zahra berteriak karena kaget.


"Ada apa ini? kelihatannya sangat seru sekali, aku juga mau ikut mendengarkan" ujar Gea.


"Tii,, tidak ada apa-apa, tadi pak Arka mendatangi kami dan makan bersama kami, aku hanya takut terjadi sesuatu pada Qay kalau seperti ini, karena geng wanita model dari divisi sebelah sepertinya sangat tidak menyukai Qay" ucapan Zahra membuat Qaynaya menoleh, karena dia malah tidak mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


"Apa maksudmu? apa aku punya kesalahan pada mereka?" tanya Qaynaya heran.


"Bagi mereka, menjadi lebih cantik dari pada mereka itu suatu kesalahan, berhati-hatilah mulai saat ini, karena aku takut mereka akan membully mu"


"Tidak masuk akal sekali" jawab Gea


Qaynaya terdiam, dia mencoba untuk tidak terlalu memperdulikan hal ini, dia disini hanya untuk bekerja untuk membiayai hidupnya, jadi dia tidak mau membuat masalah.


"Kamu tenang saja Qay, aku akan menghancurkan mereka, kalau mereka berani macam-macam padamu" ujar Gea mengusap lembut bahu Qaynaya, karena wanita manis itu hanya terdiam tidak menjawab apapun.


"Terimakasih, tapi sepertinya tidak perlu seperti itu, ini kan tempat kerja, jadi aku hanya harus focus pada pekerjaan ku"


"Baiklah Qay, kalau ada apa-apa, cepat katakan padaku dan meminta bantuan, aku akan ke ruangan Arka dulu"


Gea lalu pergi untuk menemui Arka, saat masuk kedalam ruangan sahabatnya itu, tidak terlihat keberadaan Arka, Gea heran karena tidak biasanya Arka pergi tanpa ada kepentingan darurat di jam kerja.


Gea menghubungi nomor ponselnya Arka, saat tersambung, Gea kaget karena suara ponsel sahabatnya itu terdengar berada di ruangan itu, hanya tidak terlalu keras, Gea terus mencari hingga menemukan keberadaan Arga dibalik dinding meja kerja Arka, ternyata disana ada ruangan kecil untuk beristirahat.


Gea berjalan pelan untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Arka, dan betapa kagetnya dia begitu melihat apa yang sedang terjadi di ruangan kecil itu.


"Arka, apa yang sedang kamu lakukan?"


"Keluar lah dulu Gea, aku akan menyelesaikannya segera"


Gea tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya, dia pikir Arka telah benar-benar berubah, tetapi kenapa sekarang kelakuan sahabatnya itu semakin tidak karuan.


"Ada apa Gea? kenapa kamu datang di siang hari begini?" tanya Arka yang terlihat berkeringat dan membenarkan resletingnya.


"Siapa dia? kenapa bisa kamu tidak tau malu seperti ini? kamu bilang tidak pernah lagi memakai wanita malam?"


"Dia bukan wanita malam, dia gratis" bisik Arka pada telinga sahabatnya.


"Apa maksudmu?!"


"Dia terus menggodaku, aku bisa apa lagi?"


"Lalu bagaimana dengan Qay?" tanya Gea pelan.


"Aku menghargai nya, aku tertarik padanya, tetapi aku tidak tau kapan saat dia bisa menyukaiku juga, sebelum aku bisa bersamanya, aku bisa bermain dulu"


"Arka, ini tidak benar, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu? kamu disodorkan dengan begitu banyak wanita cantik, mereka tidak kalah seksi dan pasti bisa dipakai juga, kenapa kamu menolak mereka semua? dan malah bermain seperti ini? apa kamu tidak takut kalau bisa saja kamu ketahuan, apalagi kamu melakukannya di tempat kerjamu sendiri?"


"Perusahaan ini telah diakuisisi oleh sebuah perusahaan besar dalam waktu yang sangat singkat walau berkas-berkasnya belum selesai semua,, aku disini sudah menjabat sebagai CEO, jadi aku tidak perlu khawatir, lagipula sepertinya direktur utama perusahaan yang sekarang tidak terlalu perduli pada hal-hal remeh seperti ini, karena perusahaan itu hanya focus untuk terus menambah perusahaan, supaya perusahaan mereka lebih besar,,, untuk masalah para wanita konglomerat yang dikenalkan padaku,, kamu terus bertanya kenapa aku tidak memilih mereka,, itu karena aku tidak terlalu suka mereka, karena mereka itu sangat manja, sudah pasti aku yang harus selalu berusaha untuk bisa melakukan hal seperti barusan dengan mereka, berbeda dengan para wanita malam, atau wanita murahan seperti yang aku pakai selama ini, mereka selalu menservis diriku dengan sepenuh nya"


"Apa maksud bapak?!" wanita yang baru saja bermain karaoke dengan Arka akhirnya keluar setelah dari tadi menguping pembicaraan.


"Tidak ada maksud apapun" jawab Arka enteng.


"Aku pikir ini semua terjadi karena bapak menyukaiku" wanita itu meneteskan air matanya.


"Aku tidak terlalu menyukainya setelah aku mencoba barusan, dari awal aku datang ke perusahaan ini, kamu selalu saja menggodaku, aku hanya memakan apa yang disodorkan padaku, setelah aku mencicipi nya dan tidak suka, aku tidak akan memakannya lagi, sekarang keluar lah, kalau sampai hal ini bocor, aku bisa memecat mu dan bisa membuat mu tidak diterima bekerja dimanapun"


"Kenapa begitu tega?" wanita itu tidak berhenti menangis, Gea lalu mendekati nya dan mengusap lembut rambutnya.


"Apa kamu kesakitan karena aktifitas fisik barusan?" pertanyaan Gea sungguh sangat diluar dugaan wanita itu.


"Apa maksudnya,, kenapa bertanya seperti itu?" wanita itu merasa heran dengan pertanyaan Gea.


"Dia tidak kesakitan, miliknya sudah longgar" celetuk Arka.


"Baiklah aku mengerti, sekarang berhenti menangis dan keluarlah dari sini dengan tenang, atau apa yang dibilang Arka tadi akan menjadi kenyataan, kamu cantik dan sepertinya sangat terawat, kalau kamu tidak punya pekerjaan, kamu tidak punya dana lagi untuk merawat tubuhmu"


Wanita itu kembali tidak menyangka dengan apa yang terjadi, dia pikir Gea akan membantu dan membelanya, wanita itu lalu keluar dari ruangan dengan menghapus air matanya, entah kenapa cepat sekali perubahan wajah dan perasaannya.


"Dia itu pemain,, dia sering dipakai juga oleh direktur utama perusahaan yang sebelumnya, dia adalah piala bergilir bagi pria disini, kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan hal ini pada wanita baik-baik, direktur utama perusahaan ini juga sudah mengenalku walau lewat ponsel, jadi aku bisa menggunakan kesempatan itu untuk menjadi dekat padanya,, yang jelas hal ini tidak perlu dicemaskan lagi" ujar Arka menjelaskan sambil melihat-lihat berkas yang ada di atas meja kerjanya, dari tadi pekerjaannya belum selesai karena harus bermain dengan sekertaris nya.


"Bagaimana kalau dia bercerita kepada Qaynaya?" Gea terlihat khawatir.


"Tidak mungkin,, karena dia lebih sayang pekerjaannya daripada hal lain, seperti katamu tadi,, dia butuh uang, baiklah Gea sahabat ku sayang yang selalu kepo pada urusan ku, saat ini aku harus segera rapat, apa kamu mau bermain menjadi sekertaris ku? wanita barusan sepertinya tidak bisa melanjutkan pekerjaannya hari ini"


"Jadi wanita barusan adalah sekertaris mu?"


"Iya" jawab Arka singkat lalu membenarkan kemeja dan dasinya, untuk segera bersiap rapat.


Didalam ruangan rapat, Arka tersenyum karena melihat Qaynaya ada disana juga, sebagai perwakilan dari divisinya, setelah rapat selesai, dan semua orang keluar dari ruangan, Gea mendekati Qaynaya dan Zahra yang duduk berdampingan, mereka berdua tengah sibuk merapikan berkas-berkas di atas meja.


"Kalian ini selalu saja berdua, tidak mengajak diriku, ayo kita bersantai dulu sebentar, aku akan memesan pizza untuk cemilan sore kita" ujar Gea yang sedikit mengagetkan Qaynaya dan Zahra.


"Kalian jangan dulu keluar dari ruangan ini, ayo kita ke sofa disebelah sana supaya lebih nyaman mengobrol" ajak Gea.


"Aku akan menyelesaikan ini dulu, duluan saja" jawab Qaynaya.


"Kenapa hanya kita yang diajak, karyawan lain sudah pada keluar" gumam Qaynaya, karena Zahra tepat disampingnya, tentu saja Zahra mendengar apa yang diucapkan oleh Qaynaya.


"Itu karena Arka menyukaimu" batin Zahra.


Mereka lalu duduk bersama disebuah sofa yang ada juga di dalam ruangan rapat itu, pizza juga tidak lama datang, saat mereka sedang asyik mengobrol bersama, tertawa dan bercanda, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan Qaynaya terkejut melihat siapa yang datang, dan belum hilang rasa terkejutnya, Qaynaya bertambah kaget karena tangan nya langsung ditarik.

__ADS_1


__ADS_2