Kesepian

Kesepian
Luka Lama


__ADS_3

"Aku merasa kalau kamu masih belum rela untuk meninggalkan tempat ini, apa disini begitu nyaman bagimu?" tanya Djani yang tidak sengaja melihat istrinya melamun sembari memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Tumben kamu cepat sekali mandinya?" Qaynaya kaget dengan kedatangan tiba-tiba suaminya yang sudah tepat berada di belakangnya, Qaynaya tidak menyadari bahwa suaminya sudah selesai mandi, dia bahkan tidak mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Djani sangat yakin kalau Qaynaya sebenarnya tidak mau untuk segera kembali, tetapi tidak ada pilihan lain, karena sudah cukup lama Djani absen dari pekerjaan nya, selama ini dia lebih focus dalam mencari keberadaan Qaynaya, walau dia masih tetap mengerjakan pekerjaan penting.


"Menjadi istriku, kamu harus juga siap menjadi menantu mamaku, kamu harus secepatnya mengenal mama, mungkin membutuhkan waktu untuk mama bisa menerima dirimu sepenuhnya, tetapi percayalah padaku, mamaku pasti akan sangat menyayangimu kalau sudah lebih mengenal kepribadian dirimu" Djani memberi semangat kepada istrinya, walau dia sendiri sebenarnya merasa kalau tidak akan mudah untuk bisa membuat mamanya menerima Qaynaya.


Djani sangat paham siapa dan seperti apa mamanya, Rini memang terlihat khawatir dengan kepergian Qaynaya, dan ingin segera bertemu dengan Qaynaya untuk meminta maaf, tetapi Djani sangat yakin, kalau setelah itu, Rini tidak akan mudah untuk melupakan apa yang telah terjadi.


Rini hanya akan meminta maaf untuk apa yang telah dia lakukan, tetapi memaafkan kesalahan orang lain padanya, itu sangat sulit untuk dilakukan.


Rini adalah putri konglomerat, sementara Rega, ayahnya Djani hanya dari kalangan biasa. Djani tau bahkan sampai sekarang, ayahnya kadang kala nya masih merasa belum diterima oleh Rini atau keluarga besar.


Pernikahan Rini dan Rega terjadi karena sebuah perjodohan, Rega yang sangat rajin dan pandai dalam berbisnis, membuat orang tua Rini menyukai nya, dan disaat masa sulit perusahaan mereka, karena ayah Rini sakit parah, saat itu Rega diminta maju untuk menggantikan tanggung jawab di perusahaan, setelah Rega sanggup memulihkan kembali perusahaan, dan bahkan membuatnya semakin berkembang, saat itu kedua orang tua Rini dengan mantap, menikahkan putri mereka dengan Rega.


Rini awalnya sudah pasti menolak, karena selain dia masih ingin bebas, dia juga tidak menyukai Rega yang dia anggap hanya mengambil keuntungan saja.


"Djani,, Djaanniii!!" Qaynaya mengguncangkan bahu suaminya, karena dari tadi Djani dipanggil tetapi terus diam melamun.


"Iya sayang,, maafkan aku,, sepertinya aku kekurangan asupan bergizi sehingga aku melamun" Djani menutupi rasa terkejutnya dengan candaan, dia lalu mendekati istrinya dan tanpa malu atau minta izin terlebih dahulu, Djani membuka tali pita baju istrinya.


"Djaanniii,, aaahhhhh" Qaynaya mendorong kepala Djani, bibir suaminya itu dengan rakusnya telah minum susu dari sumbernya.


"Aku bertanya padamu, apa yang disukai oleh mamamu? mungkin diperjalanan kita bisa mencarinya,, tetapi kenapa setelah melamun panjang, malah ini yang kamu lakukan?" Qaynaya memandang heran dengan tingkah suaminya yang semakin tidak bisa dia duga.


"Aku tidak terlalu tau apa yang disukai oleh mama, sejak kecil aku terus digembleng untuk menjadi seorang pengusaha, waktu kecilku habis untuk belajar dan belajar, aku bahkan tidak terlalu mengenal kedua orang tuaku. Saat aku kuliah, aku mencari kesempatan dengan meminta untuk kuliah jauh dari mereka, aku beralasan supaya bisa lebih mandiri, padahal aku hanya merasa sesak karena harus selalu belajar tentang bisnis" Djani berhenti sejenak, dia sedikit kaget dengan dirinya sendiri, yang akhirnya menceritakan tentang masa lalunya, dia sepertinya keceplosan mengatakan hal itu.


"Sayang, kamu jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu, kamu jangan takut" Djani tiba-tiba memegangi kedua pipi Qaynaya dengan sedikit panik, dia khawatir kalau istrinya itu menjadi tidak mau kembali, setelah mengetahui hubungan nya dengan kedua orang tuanya yang tidak terlalu dekat.


"Maaf,, seharusnya aku tidak terlalu terbawa perasaan,, oh iya,, yang aku tau, mama menyukai makanan barat" Djani tidak bisa menyembunyikan kepanikannya. Suasana menjadi sedikit tegang dan canggung.


"Kamu sudah bekerja keras,, bagaimana kalau nanti kita sama-sama berusaha untuk mengenal mamamu dengan lebih baik? kalau bersama-sama, sepertinya kita akan mudah untuk mengetahui apapun yang disukai dan tidak disukai oleh mamamu" Qaynaya sebenarnya tidak tau harus berkata apa, dia hanya reflek mengucapkan apa yang terlintas di pikirannya.


Qaynaya sendiri sudah pasti sangat takut untuk menghadapi mertuanya, dia sudah berfikir yang bukan-bukan.


"Bagaimana kalau selama nya aku tidak akan pernah diterima?, lalu bagaimana kalau seperti di dalam film-film, aku terus dipaksa untuk berpisah dengan Djani, atau bagaimana kalau aku dijadikan pelayan di rumah mereka nantinya" Qaynaya bergidik ngeri dengan pikirannya sendiri.


"Nasi sudah menjadi bubur, kemarin Djani terus menenangkan diri ku mengenai kedua orang tuanya, tetapi dengan orang tuanya sendiri saja dia tidak akrab,, hhaaahhhh,, sekarang aku harus bagaimana?? eh,, ehh,,, hello Qay,, kamu sendiri selalu bertengkar dengan mamamu, kenapa kamu membicarakan hubungan Djani dengan kedua orang tuanya, hubungan mu dengan kedua orang tuamu juga tidak mulus" Qaynaya terus berbicara dalam hatinya, hingga tanpa sadar kali ini Qaynaya yang melamun.


"Sayang,,!!!" kali ini Djani yang menyadarkan lamunan Qaynaya.


Dengan tergagap, Qaynaya lalu mengucapkan maaf, sambil membenarkan tali pita baju nya yang tadi dibuka oleh Djani.


"Biarkan saja, aku mau lagi" Djani langsung menyergap Qaynaya dan mendorongnya hingga terlentang, tanpa banyak berkata lagi, adegan panas kembali terjadi, Djani ingin terus menaburkan benih nya, supaya cepat ada hasilnya, dengan begitu, dia bisa mengikat Qaynaya selamanya.


"Maafkan atas keegoisan ku sayang, aku hanya tidak mau kalau sampai kamu pergi lagi, aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi, dan seberapa besar masalah yang akan datang, tapi aku akan semakin kuat kalau kamu selalu berada disisi ku" Djani kembali berbicara dalam hatinya, sambil terus menatap wajah Qaynaya yang selalu terpejam saat dia mulai menyentuh nya.


Waktu sudah lewat tengah hari, tetapi mereka belum selesai dengan urusannya, barang-barang Qaynaya juga belum semuanya siap, setelah suaminya menyelesaikan kegiatannya, Qaynaya dengan langkah berat karena kelelahan, berniat masuk kedalam kamar mandi. Djani tersenyum melihatnya dan langsung menyusul, dengan gerakan cepat, dia menggendong istrinya.

__ADS_1


"Aaahhhh, Djani, apa yang kamu lakukan?, cepat turunkan aku, kita semakin terlambat"


"Jangan paksakan dirimu sayang, istirahat dulu sebentar lagi, aku tau kamu lelah, kita bisa pulang besok, atau nanti sore" Djani membawa kembali tubuh istrinya keatas ranjang, setelah menyelimuti tubuh mereka berdua dalam satu selimut, Djani lalu mendekap tubuh istrinya.


"Ayo kita tidur siang dulu, aku akan membawamu berkeliling tempat ini setelah kita bangun nanti, aku ingin tau seindah apa tempat ini, sampai kamu seperti berat untuk pergi dari sini" ucap Djani sambil mencubit gemas pipi Qaynaya.


"Aku malahan tidak pernah jalan-jalan di tempat ini, aku hanya keluar rumah untuk bekerja, atau membeli kebutuhan sehari-hari saja, aku bukan tidak mau meninggalkan tempat ini, aku hanya masih ragu atau bisa dikatakan kalau aku takut mengahadapi mamamu, karena aku sadar kalau diriku sudah dianggap buruk" Qaynaya memegangi tangan Djani yang masih berada di pipinya.


"Mama sudah tau semuanya, dia tidak menganggap bahwa dirimu buruk, mama sudah tau tentang dirimu yang menikah karena keterpaksaan"


"Walau bagaimanapun, tetap saja akan ada pandangan buruk tentang diriku, lagipula aku ini kan seorang janda, stigma masyarakat tentang janda,, ahhh sudahlah,, aku tidak berani untuk membicarakan tentang hal ini" Qaynaya terlihat murung, Djani kembali mencubit pipi istrinya, kali ini sedikit keras, sehingga Qaynaya menjerit.


"Janda tapi masih segel" Djani tersenyum lebar, dan kembali mengingat penyatuan pertama mereka, Qaynaya juga tersenyum malu.


"Orang lain tidak mungkin percaya" ucap Qaynaya lalu menggenggam tangan suaminya dan meletakkannya kedalam pelukannya, Qaynaya memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, dia memang merasa sangat lelah, kalau Djani sudah beraksi, Qaynaya selalu kewalahan.


"Jangan perduli dengan pandangan orang lain,,," Djani hendak mencium kening istrinya, tetapi karena Qaynaya tiba-tiba membuka kembali matanya, Djani menjadi kaget.


"Kalau aku sudah tidak bersih lagi saat itu, apa kamu akan menyiksa diriku selamanya?" pertanyaan Qaynaya membuat sakit hati Djani.


Tanpa terasa air mata Djani mengalir, dia mengingat betapa kejamnya dirinya pada Qaynaya, saat dulu dia berniat untuk membalas dendam, setiap hari ketika mereka bertemu di kantor, Djani selalu mencari cara supaya bisa menyakiti hati Qaynaya.



🖤 Flashback 🖤




"Maaf" Qaynaya hanya bisa tertunduk pasrah dengan menahan air matanya.



Sebenarnya saat itu Qaynaya tidak bersalah, hanya saja dengan sengaja Djani mengerjai nya, karena setelah setiap hari di bully oleh Djani, Qaynaya menjadi semakin berhati-hati dalam bekerja, supaya tidak ada celah bagi Djani untuk memarahinya.



Saat tidak ada orang lain didekat mereka, Djani selalu melakukan pelecehan terhadap Qaynaya, dengan terus menciumi bibirnya.



"Jangan sok malu-malu, seolah kamu tidak pernah melakukannya saja, bukankah kamu adalah wanita rendahan dan murahan yang bisa berhubungan dengan lelaki manapun?" ucapan Djani sungguh sangat menyakitkan.



Hal itu terus terulang lagi setiap hari, selama mereka menunggu akta perceraian Qaynaya dengan Doni, setelah bisa membuat Qaynaya dan Doni bercerai, Djani tidak serta merta langsung menikahi Qaynaya, karena dia tidak mau kalau pernikahan nya tidak sah secara hukum, karena akta perceraian Qaynaya yang harus menjadi salah satu syarat pernikahan mereka.


__ADS_1


"Aku tidak mau hanya sekedar menikahi wanita murahan seperti dirimu, aku ingin menyiksa dirimu setiap hari, tetapi kamu tidak akan pernah bisa untuk melawannya, karena pernikahan kita nantinya, sah dimata hukum" ujar Djani pada Qaynaya setelah dia kembali dengan rakusnya melahap bibir Qaynaya.



Setelah akta perceraian Qaynaya keluar, dengan tidak menunggu waktu lama, Djani langsung menyiapkan pernikahan, hanya saja dia tidak memberi tahu pada kedua orang tuanya, karena dia pikir, pernikahannya hanya sebuah ajang untuk balas dendam.



🖤 Flashback End 🖤



"Maaf, maafkan aku, aku tidak berani mengingat kembali tentang hal itu, aku sadar kalau aku sangat pengecut" Djani tanpa malu menangis di hadapan istrinya, Qaynaya menjadi bersalah karena kembali mengungkit tentang masalah yang sudah selesai.


"Aku hanya ingin tau saja, kalau aku sudah tidak bersih saat itu, apa benar kalau selama nya kamu akan menyiksa diriku, seperti apa yang sering kamu katakan dulu. Tapi sudahlah sayang, bukankah semuanya sudah berlalu, maafkan aku karena menanyakan hal itu, pertanyaan yang mengingatkan kita pada luka lama,, untuk apa juga menduga-duga suatu hal yang sudah terlewati, aku benar-benar minta maaf, dan aku berjanji untuk tidak akan mengungkitnya kembali" Qaynaya menghapus air mata suaminya, dengan pelan Qaynaya lalu mencium lembut bibir Djani saat suaminya itu masih saja terisak.


"Maafkan aku" Djani kembali meminta maaf dan menciumi wajah istrinya. Qaynaya tersenyum lalu menangkap wajah Djani yang tidak bisa diam karena terus menciuminya.


"Aku sudah memaafkan dirimu, bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku sangat paham dengan apa yang kamu lakukan terhadap diriku, aku sadar dengan rasa sakit hatimu, itulah kenapa kamu melakukannya, aku yang seharusnya meminta maaf, karena tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang aneh-aneh" Qaynaya lalu membawa kepala suaminya, masuk kedalam pelukannya.


Djani menggerakkan kepalanya di dada sang istri, hingga membuat Qaynaya mendekap erat, supaya suaminya tidak bisa bergerak lagi.


"Diam sayang" ucap Qaynaya, Djani sudah tidak menangis lagi, dia tersenyum senang dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, mereka lalu mencoba untuk tidur, dengan saling mendekap, Djani bahkan tidak mau menjauhkan kepalanya dari dekapan hangat istrinya.


"Ini sepertinya akan menjadi kebiasaan baruku, aku hanya akan tidur dalam dekapanmu sayang, terimakasih atas segalanya, dan maafkan aku untuk semua kesalahanku, aku bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi, kalau dirimu sudah tidak bersih lagi saat itu, entahlah sayangku,, aku tidak tau apa yang sekarang kita lalui, tapi aku yakin, walau mungkin butuh waktu lama, aku akan tetap selalu terjatuh dalam dekapan dan cintamu, entah dalam kondisi apapun dirimu saat itu" Djani kembali berbicara di dalam hatinya. Terdengar dari suara nafasnya, Qaynaya telah terbang ke alam mimpi, sementara Djani belum bisa tidur.


"Kesalahanku padamu, akan aku tebus selama sisa hidupku. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada dirimu sayang" Djani lalu kembali mencoba untuk tidur dan semakin mempererat pelukannya pada Qaynaya.


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


"Apa mereka belum juga pergi?" tanya Arka pada seseorang yang sedang mengintai rumah Qaynaya.


"Belum terlihat ada pergerakan"


"Terus pantau, dan jangan sampai kecolongan apapun, ikuti mereka, aku harus tau dimana mereka tinggal dikota nantinya" Arka mematikan panggilan di ponselnya setelah memberikan perintah.


"Arka, apa yang sebenarnya kamu rencanakan?, aku tidak bisa hanya diam menunggu, aku juga harus melakukan sesuatu, aku tidak sabar untuk menjadi istri seorang konglomerat seperti impian ku selama ini"


"Sezkia,, bukankah kamu juga merupakan istri dari seorang konglomerat, walaupun sudah tua, bukankah pemilik sebelumnya dari perusahaan ini sudah merawat dirimu sejak lama? aku tau kalau pria itu sudah tua, sehingga pasti tidak bisa memuaskan dirimu, tapi apa kamu yakin akan melanjutkan ini semua bersama ku?"


"Bukankah kamu yang meminta bantuan dariku, supaya kamu bisa dengan cepat mendapatkan Qaynaya? lalu kenapa kamu sekarang berbicara seperti ini? lagipula kamu tau dari mana tentang diriku?, sepertinya kamu itu seorang penguntit" Sezkia tidak habis pikir dengan Arka, kenapa disaat seperti ini, Arka malah mencari tau tentang dirinya.


"Jangan menghina diriku terlalu banyak, bukankah kamu juga pernah mencoba ku?,, dan aku memang menjadi peliharaan pria tua itu, setidaknya aku tidak akan kelaparan karenanya, tetapi saat ini kita sudah sama-sama tau kebusukan kita masing-masing, jadi tidak perlu malu lagi" ujar Sezkia lalu mendekati Arka dan mencoba untuk merayunya.


"Aku tidak bermain dengan mainan yang sama, lebih dari satu kali" Arka menepis tangan Sezkia, dan sedikit mendorong tubuh wanita itu, supaya menjauh darinya.


"Aku hanya menghormati pemilik perusahaan yang lama, kasihan kalau sampai mainan nya pergi darinya, lagipula setelah aku pikirkan lagi, aku pasti bisa melakukan rencanaku tanpa bantuan darimu" ucap Arka sambil melihat kearah Sezkia yang terlihat marah karena penolakan yang dia terima.


Arka mencari tau tentang Sezkia, karena dia harus mempunyai kartu, untuk bisa mengancam Sezkia, jika suatu saat wanita itu berniat menggagalkan rencananya.

__ADS_1


__ADS_2