
"Apa kamu ingin terus menguji kesabaran ku?!"
"Memang suamiku" Qaynaya sudah menyadari perubahan wajah suaminya, dia ingin tau, apakah suaminya bisa menahan amarahnya sebentar saja.
"Tunjukkan dimana dia sekarang juga" Djani semakin mencengkeram erat tangan Qaynaya.
"Baik, lepaskan dulu" Qaynaya meringis kesakitan, karena Djani begitu keras memegangi tangannya.
Saat Qaynaya mulai berjalan secara perlahan, Djani memeluknya dari belakang, terdengar isakan dari suara pria yang dicintainya itu. Hati Qaynaya sakit mendengarnya, Djani adalah lelaki kuat, tapi dirinya yang selalu membuatnya menangis.
"Jangan tunjukkan, biarkan saja aku tidak tau, yang terpenting adalah aku masih bisa bersamamu, aku bisa menghabisinya saat melihatnya nanti, aku tidak mau mengecewakanmu" Djani mempererat pelukannya. Qaynaya tersenyum dan membelai punggung tangan suaminya, yang melingkar di perutnya.
"Kenapa Djani yang sangat perkasa, Djani yang tidak takut pada apapun ini takut hanya untuk melihat siapa suamiku sekarang?" tanya Qaynaya, lalu berusaha berbalik badan, tapi Djani tidak membiarkan Qaynaya melihat dirinya untuk saat ini.
"Karena kamu adalah kelemahanku, wanita jahat, bagaimana bisa kamu menyakitiku sebanyak ini. Aku tau kalau kesalahan ku juga sangat besar, tapi aku selalu setia padamu. Apa itu salahku karena aku begitu mencintaimu? hingga aku tidak bisa mencintai yang lain, tapi kenapa kamu,,,," Djani melepaskan pelukannya, dan berniat untuk keluar dari dalam kamar. Tapi Qaynaya menahan tangannya, dan menarik tangan Djani menuju ke arah cermin di meja riasnya.
"Bukankah kamu ingin melihat suamiku, kenapa kamu pergi begitu saja?" Qaynaya menghadap ke arah Djani lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
Djani heran dengan maksud dari istrinya, tapi dia memeluk pinggang Qaynaya. Djani memberanikan diri menoleh ke kiri dan kanan.
"Dimana suamimu?" Tanya Djani pelan, lalu semakin mempererat pelukannya, seolah mengatakan, kalau dia yang lebih berhak atas diri Qaynaya.
"Tepat didepan mu" jawab Qaynaya tersenyum bahagia, lalu memasukkan wajahnya dalam pelukan hangat suaminya.
"Pria yang sangat tampan sekali, dia membuatku selalu memikirkannya. Mungkin pernah ada rasa benci dan kecewa, tapi bukankah rasa apapun itu, yang paling utamanya adalah aku selalu mengingatnya. Lelaki yang sangat jahat, karena tidak pernah mau menceritakan masalah, dan menanggungnya sendiri" Qaynaya terus berbicara, tapi Djani masih tidak mengerti, dan semakin sedih mendengarnya, karena suami Qaynaya membuat wanita yang sangat dicintainya itu bersedih.
"Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Qaynaya mendongakkan kepalanya untuk melihat suaminya.
"Tidak ada orang lain disini, lagipula kalau suamimu ada disini, kenapa dia tidak marah padaku, tapi memang apa hak nya marah padaku? aku yang lebih berhak padamu" Djani tanpa sadar melihat kearah depannya, pantulan dirinya yang tengah memeluk erat tubuh Qaynaya terlihat.
"Itulah suamiku, satu-satunya dan untuk selamanya, bukankah dia tampan? apa kamu merasa tersaingi?". Qaynaya tersenyum karena berhasil menjahili Djani.
"Masih tidak ada orang yang bisa aku lihat, apa suamimu sudah meninggal, lalu menjadi hantu, dan hanya kamu yang bisa melihatnya?" Djani kembali celingukan mencari keberadaan seseorang yang dimaksudkan oleh Qaynaya.
Qaynaya geregetan karena Djani tidak mengerti juga. Dengan kedua tangannya, Qaynaya memegangi pipi Djani lalu mengarahkannya ke cermin.
"Lihatlah baik-baik, itulah suamiku, dia sangat tampan, dan pasti akan berumur panjang, sehingga bisa terus melindungi ku dan mencurahkan semua cintanya padaku dan Andjani" Qaynaya lalu berjinjit dan mencium bibir suaminya sekilas.
"Aku tidak melihat siapapun Qay" Djani terlihat kebingungan, hingga membuat Qaynaya ikut bingung karena Djani tidak juga mengerti.
"Itu suamiku, yang berdiri didepan ku" Qaynaya lalu menunjuk pada pantulan Djani di cermin, Qaynaya juga mencubit pipi suaminya dengan geregetan.
"Aku pikir ini akan menyenangkan tapi membuatku kesal" Qaynaya cemberut lalu mendorong tubuh Djani.
"Ahahahaha" Djani tertawa melihat tingkah istrinya yang menggemaskan. Sebenarnya Djani sudah menyadarinya saat dia melihat pantulan dirinya di cermin, tapi dia hanya ingin menjahili balik istrinya.
"Menyebalkan, kamu menjahili ku?!" Qaynaya berjalan dengan kesusahan ke arah pintu. Djani menangkap tubuhnya.
"Kamu yang duluan menjahili ku dan membuatku hampir mati ketakutan, sepertinya aku harus menghukummu terlebih dahulu" Djani tidak memberikan waktu pada Qaynaya untuk menjawab dan membantah, dengan gerakan cepat, Djani sudah memutarkan tubuhnya, dan menciumnya.
"Djani jangan, aku harus,,, uhhmmm" Qaynaya kembali diam dan hanya bisa memejamkan matanya, karena Djani tidak mau melepaskannya.
"Aku sangat penasaran, kenapa kamu menamai anak kita dengan namaku, apa karena kamu sangat mencintaiku 😘😘" ciuman tidak hentinya Djani layangkan di wajah cantik istrinya.
"Hanya kebetulan mirip" jawab Qaynaya pelan, mereka lalu dikagetkan dengan suara ketukan pintu yang sangat keras. Serli berteriak kesal, karena Qaynaya tidak juga kunjung keluar dari dalam kamar.
"Qayyy, Qaayyyy, mau aku dobrak ini pintunya? jangan mentang-mentang ada mertua dan suamimu, lalu kamu bisa seenaknya ya!"
__ADS_1
"Ada apa Ser? ini aku baru mau keluar" Qaynaya berjalan perlahan dan di ikuti oleh Djani. Rini melihat kearah Serli yang begitu perhatian pada Qaynaya dan Andjani. Hatinya dipenuhi ketenangan dan kebahagiaan, karena selama ini menantu dan cucunya dikelilingi oleh orang baik. Tapi pikiran itu tiba-tiba melayang saat melihat Doni memasuki rumah, sepulang dari cafe.
"Kenapa kamu berada disini?!" Rini berteriak marah, dia tentu saja masih sangat mengingat wajah orang yang dulu merebut Qaynaya dari anaknya.
"Siapa ya?" tanya Doni dengan polosnya, entah dia melupakan Rini, atau memang dia tidak mengenali ibu mertua Qaynaya.
Doni lalu berjalan mendekati Rini dan menyapa Andjani yang berada dalam gendongan Rini.
"Tante, perkenalkan ini suami saya" Serli mendekati Doni dan mencium punggung tangannya.
"Suamimu?" tanya Rini tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Qaynaya mendekat dan mengambil Andjani dari gendongan Rini, sambil menjelaskan semuanya.
"Iya ma, mereka adalah suami istri yang selama ini selalu menjaga dan membantuku, mereka adalah sahabatku"
"Bagaimana bisa kamu bersahabat dengan mantan suamimu sendiri, dan bahkan tinggal bersama, apa kamu tidak waras, mama sangat percaya padamu, tapi mama tidak bisa berbohong kalau mama kecewa" Rini keluar dari dalam rumah, semua terdiam karena reaksi yang ditunjukkan oleh Rini, tapi sebenarnya itu adalah reaksi normal. Semua orang pasti akan berfikir kalau keputusan Qaynaya pasti salah, dengan membiarkan mantan suaminya tinggal bersama satu rumah dengan dirinya. Walau Doni sudah menikah lagi, tapi pandangan buruk orang lain yang mengetahui hubungan masa lalu mereka, pasti akan berfikiran buruk.
Djani memegangi lengan Qaynaya, dan menahan tangan istrinya supaya jangan dulu menyusul Rini.
"Biarkan dulu, aku yang akan berbicara dengan mama" Djani mencium kening istrinya lalu menyusul mamanya.
"Apa ini mantan suamiku Qay?" tanya Neli.
"Iya nek, perkenalkan,, ini adalah Doni, mantan suamiku, yang sekarang menjadi sahabatku, dan saat ini sudah menikah dengan sahabat baikku juga, Serli. Pasti tadi nenek sudah berkenalan dengan Serli kan?" Qaynaya juga bisa melihat raut wajah kecewa dari Neli, tapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk hal itu.
"Aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya dari dulu, pasti nenek juga tau kalau aku menikah dengan nya karena keterpaksaan, terdengar aku sangat kejam, tapi bukankah cinta tidak bisa dipaksakan?,, tapi sahabatku Serli mau mengobati rasa sakit yang aku berikan pada Doni. Maafkan atas banyaknya salah dan kekurangan ku nenek" Qaynaya menundukkan kepalanya, tapi tidak ada yang bisa dirubah.
"Kenapa harus satu rumah?" tanya Neli penasaran, tapi sepertinya Neli sudah mulai bisa menerima alasan Qaynaya.
"Kami pergi ke negara ini tidak membawa apapun apapun, untungnya ada sahabat kami yang satu lagi, dia memberikan uang untuk kami bertahan hidup di negara ini"
"Kamu sangat beruntung karena dikelilingi oleh para sahabat yang selalu mendukung dan melindungi mu, tapi apa kalian yakin kalau kalian tidak akan melakukan kesalahan, apalagi kalian tinggal satu rumah"
"Perasaanku tidak akan bisa dihilangkan Qay" Doni ikut berbicara dan menggenggam tangan Serli, tapi perkataannya membuat semua orang terdiam.
"Apa maksudmu!!" Djani tiba-tiba datang lalu memukul Doni, Qaynaya mendekat lalu menyerahkan Andjani pada Serli, supaya bisa melerai suami dan mantan suaminya.
"Djani tenang, dengarkan dulu penjelasannya" Qaynaya menarik tangan Djani yang kembali ingin memukuli Doni.
"Perasaanku pada Qay tidak mungkin hilang, karena aku terus saja menyayanginya, hanya aku rubah saja. Perasaanku untuk bisa memiliki nya kayaknya pasangan, aku tau sampai kapanpun tidak akan pernah mendapatkan balasan dari Qay. Lalu aku bertemu dengan wanita yang mau menerima ku walau aku jadikan sebagai pelampiasan dan pelarian. Tapi dalam masa pelarian perasaan ku pada Qay, wanita itu mampu membuat ku jatuh cinta padanya. Dia adalah istriku saat ini. Tapi perasaan sayangku pada Qay tetap utuh, hanya berubah menjadi rasa sayang terhadap adik" Doni menyelesaikan penjelasannya, lalu memukul Djani.
"Apa yang kamu lakukan?!!" Qaynaya menjerit memarahi Doni.
"Itu karena dia menyakiti adikku. Kita impas sekarang Djani, tapi ingatlah baik-baik, kalau kamu berani menyakitinya lagi, maka bukan pukulan yang akan aku berikan, tapi nyawamu pasti akan melayang!" Doni mengibaskan telapak tangannya yang sakit setelah memukul Djani.
Qaynaya mengambil alat P3K, lalu mengobati bibir Djani yang berdarah akibat pukulan dari Doni.
Rini datang dan meminta maaf pada Qaynaya dan juga Doni, karena telah salah paham, Rini melihat semua kejadian tadi, karena Djani tadi menyusulnya dan meminta untuk mendengarkan penjelasan Qaynaya bersama-sama, tapi begitu di pintu masuk, mereka mendengarkan perkataan Doni yang membuat semua orang kaget. Djani tentu tidak bisa menahan dirinya hingga memukul Doni, tapi setelah mendengar penjelasannya, hatinya sangat tenang, walaupun harus mendapatkan bogem mentah dari mantan suami dari istrinya.
"Tidak apa-apa mama, apa yang mama pikirkan sangat normal. Tapi kalau harus kembali ke masa lalu, aku tetap memilih jalan ini" Qaynaya tersenyum pada Rini.
"Apa maksudmu memilih jalan ini? apa kamu mau meninggalkan diriku lagi!?" Djani marah dengan jawaban yang diucapkan oleh Qaynaya.
"Bukan poin itu yang sedang aku bicarakan, tapi tentang masalah kami tinggal bersama. Aku memilih tinggal bersama dengan mereka, selain karena kami tidak memiliki banyak uang, tapi karena selama ini kami terbiasa bersama. Kami tinggal disini juga belum terlalu lama, kamu bisa lihat sendiri, masih banyak barang yang belum dirapikan"
"Kalian dulu tinggal dimana?" tanya Djani pelan, dia sudah bisa menguasai amarahnya.
"Kami tinggal di penginapan"
__ADS_1
"Kasihan sekali cintaku ini, pasti hidupmu sangatlah berat"
"Tidak, aku bahagia karena ada mereka yang selalu menghiburku, lagipula ada Andjani yang selalu menemani dan menguatkan diriku"
"Kamu punya Anna, tapi aku melewati kesendirian ku selama ini tanpa mu dengan merasakan kesepian yang teramat sangat" Djani dalam mode manjanya, membuat semua orang yang melihatnya menjadi mual. Qaynaya tersenyum lalu mencium kening Djani, membuat semua orang melengos.
"Mulai sekarang, tidak akan ada kata kesepian lagi dalam hidup kita" jawab Qaynaya, mereka saling berpandangan dan tersenyum.
"Apa ini sangat menyakitkan?" tanya Qaynaya lagi, lalu memberikan plester luka pada bibir Djani, setelah menyelesaikan membersihkan lukanya.
"Iya, sakit sekali, coba tiup, nanti pasti sembuh" jawab Djani manja, tapi belum sempat Qaynaya melakukan apa yang di inginkan oleh suaminya. Semua orang menggerutu dan menyuruh mereka untuk menyudahi acting film romantis mereka.
Terdengar bunyi pintu diketuk, ada seseorang yang datang dan menyerahkan sebuah surat dari rumah sakit.
Qaynaya dan Serli heran, karena tidak ada yang sakit dirumah ini. Djani mengingat sesuatu, lalu hendak menahan tangan Qaynaya yang berniat membuka surat tersebut. Tapi gagal karena Qaynaya telah membukanya.
"Aku tidak berniat apapun, aku melakukannya karena kamu terus menyangkalnya, tolong jangan marah" Djani merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Disini tertera dan dijelaskan kalau Andjani bukan anakmu" ujar Qaynaya lalu mendorong Djani dari hadapannya.
Surat itu adalah surat keterangan dari dokter, hasil dari test DNA yang dilakukan oleh Djani. Saat itu dia benar-benar menggunting sedikit rambut Andjani.
"Aappp, aaapppaaa?!" Djani kaget dan tergagap.
Semua orang juga kaget mendengar perkataan Qaynaya, Djani lalu merebut surat keterangan dari dokter yang dipegang oleh Djani dan membuka nya.
"Disini tertera 99,99% akurat kalau aku adalah ayah biologis dari Anna!!? apa kamu tidak bisa baca?!" Djani marah karena di jahili oleh Qaynaya.
Qaynaya tertawa melihat ketegangan dari semua orang, Djani menerjangnya dan mendekap nya erat.
"Aku pikir kamu akan marah karena aku melakukan ini, aku sudah sangat yakin kalau Anna adalah anakku, aku melakukannya hanya supaya kamu tidak terus membantahnya"
"Tidak apa-apa, apapun itu alasannya, aku tidak marah, kita berpisah cukup lama jadi pasti,,"
"Tidak sayang, aku percaya padamu sepenuhnya, lagipula aku bisa mengetahuinya dari gerak gerik tubuhmu dalam menerima sentuhanku" ujar Djani menghentikan ucapan Qaynaya.
"Aaawwhhh" Djani berteriak karena mendapatkan sebuah cubitan di perutnya dari Qaynaya.
"Tidak ada malunya mengatakan hal itu didepan banyak orang" Qaynaya mendorong tubuh Djani, lalu segera mengambil Andjani dari Serli.
"Sekali lagi maafkan mama ya Qay" Rini hendak menggendong Andjani.
"Ma, bukannya tidak boleh. Tapi bisakah aku menyusuinya terlebih dahulu?, sudah dari tadi Andjani tidak minum ASI"
"Oh iya, tentu saja. Berikan dia banyak ASI, mama akan memasakkan sesuatu untukmu, duduklah yang nyaman saat menyusui" Rini lalu mengelus lengan Qaynaya sebelum berjalan ke arah dapur.
Semua orang dilanda perasaan bahagia yang begitu besar, apalagi saat Rega juga telah sampai. Rega tidak datang berbarengan dengan Rini, karena ada pekerjaan yang menundanya.
"Aku dengar ada cucu yang sedang menanti kehadiran kakeknya!" Rega begitu antusias lalu berjalan mendekati Qaynaya dan Djani yang sedang bercanda bersama dengan Andjani.
"Jangan bermimpi, aku saja tidak di izinkan oleh anak nakal itu" ujar Neli kesal, karena tidak di izinkan oleh Djani untuk memangku atau menggendong Andjani.
"Dia harus lebih sering bersama dengan ayah dan mamanya, bagaimana bisa kalian tidak tau hal itu" Djani membela diri lalu menghalangi dengan posesif pada anak dan istrinya.
"Ayah, apa kabar?" tanya Qaynaya yang menyembulkan kepalanya dari balik badan Djani.
"Tidak pernah lebih baik dari hari ini Qay,, coba biarkan ayah melihat cucu ayah. Tidak puas kalau hanya melihat foto dan videonya" jawab Rega, membuat Qaynaya keheranan.
__ADS_1
Ternyata selama ini Djani sering memotret atau memvideokan Andjani, lalu mengirimkannya pada Rega dan Rini. Qaynaya tersenyum, dia tidak keberatan sama sekali, selama semua foto dan video Andjani tidak dipublikasikan secara umum.