
"Qay, bos memanggil mu" ujar Zahra siang itu saat hampir mendekati waktu istirahat makan siang, Qaynaya dengan lesu datang ke ruangan Arka, dia sangat lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan.
"Apa bapak memanggil saya? ada yang bisa dibantu?"
"Ada meeting penting siang ini di restoran ZX, bisakah kamu menemaniku? kebetulan sekertaris pribadi ku sedang cuti, dan tidak ada yang bisa menggantikan, aku yakin kamu pasti bisa"
"Tapi pak, saya tidak tau tentang,,"
"Kamu cukup diam saja membawa map berisi file ini, dan tidak perlu melakukan hal yang lain" Arka menyela apa yang akan diucapkan oleh Qaynaya, karena tidak bisa menolaknya, akhirnya Qaynaya menyetujui permintaan bos nya.
Mereka segera bergegas menuju restoran tempat meeting, sampai disana Qaynaya sedikit bingung karena makanan sudah tersedia semua, dan restoran itu terlihat sepi, Arka menyadari keheranan Qaynaya lalu menjelaskan.
"Aku sengaja menyewa tempat ini supaya rapat nanti lebih nyaman,, oh iya aku tau kalau kamu belum makan siang, silahkan makan dulu sebelum klien penting itu datang"
"Apa tidak apa-apa aku memakannya? apa ini akan dipotong dari gaji ku?" tanya Qaynaya sambil melihat hidangan yang disajikan, terlihat sangat mewah, jadi sudah pasti harganya mahal,mendengar ucapan Qaynaya, Arka lalu tertawa.
"Hahaha,, kamu memang berbeda, kebanyakan orang hanya akan mengucapkan terima kasih disaat seperti ini, cepat makanlah sepuas mu, ini tidak akan dipotong dari gajimu"
Qaynaya mengucapkan terima kasih lalu mulai makan, dia seperti tidak menyadari kalau sedari tadi Arka terus mencuri pandang padanya, Qaynaya tetap lah Qaynaya saat kelaparan, bibirnya yang mungil terlihat penuh mengunyah makanan, hingga pipi nya terlihat semakin imut.
Arka terpesona melihatnya, teman kencan yang biasanya di carikan oleh keluarganya, semua anak konglomerat, jadi tidak ada yang natural seperti Qaynaya, kebanyakan dari mereka lebih mementingkan penampilan dan gaya.
"Pelan-pelan saja, tidak ada yang akan merebutnya darimu" ucap Arka, Qaynaya tersenyum tipis hingga membuatnya terlihat semakin manis, Arka menelan ludah nya saat terus memandangi bibir Qaynaya.
"Maaf kan aku, aku tadi tidak sempat sarapan karena kesiangan, jadi aku sangat kelaparan"
Arka makan dengan perlahan karena sepertinya dia lebih focus memandangi Qaynaya yang hampir menyelesaikan makannya.
"Apa bapak tidak lapar? kenapa makannya pelan sekali?" pertanyaan Qaynaya membuat Arka yang sedang melamun menjadi kaget.
"Ah iya, aku tidak terlalu lapar, karena tadi aku sempat memakan camilan, apa kamu sudah selesai?" tanya Arka sambil meletakkan sendok yang dia pegang, saat Qaynaya mengangguk mengiyakan, Arka lalu mengajaknya untuk pindah tempat, karena klien yang dikatakan oleh Arka akan datang ketempat itu, ternyata merubah tempat pertemuan.
"Sayang sekali, padahal tempat ini sudah di sewa" gumam Qaynaya, Arka tidak menjawabnya dan mengajak Qaynaya untuk segera pergi, tempat yang mereka tuju adalah sebuah perusahaan besar.
"Kenapa kita kesini?" tanya Qaynaya heran.
"Klien penting kita ternyata ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi pihaknya meminta kita untuk datang langsung ke kantornya" Arka menjelaskan lalu hendak membantu Qaynaya turun dari mobil, tapi ditolak secara halus oleh Qaynaya.
"Aku bisa sendiri" jawab Qaynaya dengan senyum manisnya.
"Jangan tersenyum!"
"Kenapa?" tanya Qaynaya heran.
"Karena kamu jelek"
"Maaf" jawab Qaynaya singkat sambil melihat suasana perusahaan yang mereka tuju itu, Qaynaya sepertinya tidak terlalu memperdulikan ucapan Arka, perusahaan itu sangat besar, dan tertulis nama perusahaan itu adalah PT Djani Karya TBK.
Qaynaya merasa ada yang salah, tetapi dia tida tau apa, dia juga merasa kalau nama Djani tidak terlalu pasaran, tetapi kenapa nama perusahaan ini sama dengan nama suaminya.
"Mungkin hanya kebetulan namanya sama, perusahaan Djani kan kantor tempat kerjaku dulu, jadi ini tidak mungkin miliknya " batin Qaynaya lalu terus berjalan mengikuti Arka.
Mereka masuk kedalam ruangan rapat, dari awal rapat itu, ada seseorang yang kaget melihat Qaynaya ada disana, dan secara diam-diam memotret Qaynaya.
Rapat selesai dengan lancar, Qaynaya da Arka lalu berniat untuk segera kembali ke perusahaan mereka, tetapi ada seseorang yang mendekati mereka dan mengajak berbasa-basi, tetapi karena Arka masih ada pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan, tidak lama lalu Arka dan Qaynaya berpamitan.
"Aku akan mengantarkan mu sampai ke rumah, biar kamu tidak perlu bolak-balik lagi, jam sudah menunjukkan waktu untuk segera pulang dari kantor" Arka menawarkan untuk mengantarkan Qaynaya dan mencoba mencari tahu alamat nya.
"Tidak pak,, aku tidak bisa langsung pulang, mobilku masih dikantor, terimakasih atas tawarannya"
Qaynaya sedikit bisa bernafas lega, karena dia memiliki sebuah alasan untuk menolak secara halus, maksud dari atasannya itu.
__ADS_1
"Aku akan meminta seseorang untuk mengantarkan mobil mu kerumah" Arka masih saja berusaha.
"Sekali lagi terimakasih atas niat baiknya, tetapi itu tidak bisa, karena kunci mobilnya sekarang ada padaku"
Arka menutupi kekecewaan nya, dia harus ingat untuk tidak terlalu terang-terangan dalam mendekati bawahannya itu, dia harus bisa mengambil hatinya secara perlahan.
Setelah sampai dikantornya, Qaynaya langsung menuju mejanya, Zahra dengan kedua tangannya yang terlipat di dadanya sepertinya sedang menunggu kedatangan Qaynaya.
"Kamu diam-diam colong start duluan ya?" ujar Zahra seolah marah, tapi Qaynaya tau kalau itu hanya bercanda.
"Jangan berfikir yang tidak-tidak, kami baru saja rapat disebuah perusahaan" Qaynaya menjelaskan sembari menyelesaikan pekerjaan nya sebelum pulang ke rumah, dia tidak mau menumpuk pekerjaan walau sebenarnya pekerjaan itu bisa diselesaikan besok.
"Qay,, apa kamu tidak mempunyai perasaan pada bos muda kita itu, dia sangat tampan, seluruh pegawai wanita disini mengidolakan nya semenjak kedatangannya bulan lalu, sepertinya hanya kamu yang bersikap biasa saja, apa jangan-jangan kalian sebenarnya sudah mempunyai hubungan, hanya saja kalian menyembunyikannya?" Zahra terus menginterogasi Qaynaya.
"Jangan sok jadi detektif, lagipula siapa yang mau denganku yang kusut ini, wanita lain dikantor ini semuanya bening-bening, termasuk kamu,, apalagi di divisi sebelah, bahkan pria di divisi kita saja matanya hampir copot saat melihat para wanita itu lewat"
"Mereka hanya kagum pada penampilan,, untuk urusan hati itu sangat berbeda, kamu terlihat sangat cantik dan menawan lewat kesederhanaan mu, aku saja yang juga wanita, sangat suka melihatmu, apalagi seorang pria"
"Jangan terlalu berlebihan, apa kamu melakukan suatu kesalahan yang membuat mu harus meminta bantuanku?" Qaynaya melihat kearah Zahra dengan pura-pura curiga, mereka lalu tertawa pelan.
Qaynaya dan Zahra terus berbicara sambil mengerjakan pekerjaan yang masih belum selesai, lalu datang Gea yang datang dan langsung menghampiri mereka.
"Hai Qay, apa kamu melihat Arka?"
"Sepertinya ada didalam ruangan nya?" jawab Qaynaya ramah sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Malam ini kamu ada acara tidak? aku mau meminta bantuanmu"
"Bantuan apa?" Qaynaya tidak terlalu suka bepergian malam kecuali untuk lembur bekerja.
"Aku harus mencari sebuah gaun untuk acara formal yang harus aku hadiri besok, aku tidak punya gaun baru lagi, temani aku ke mall untuk berbelanja"
Qaynaya sebenarnya ingin menolak, tetapi Gea terus saja memaksanya, Qaynaya akhirnya hanya bisa menyetujui dengan syarat hanya sebentar, karena besok paginya dia harus bekerja.
"Aku dengar hari ini kalian pergi bersama, lalu apa yang terjadi, aku langsung datang kesini begitu tau kabar tentang itu, aku tidak sabar tuan playboy seperti dirimu akhirnya berpacaran juga, dan tidak hanya pergi ke karaoke setiap butuh belaian,, itu tidak baik asalkan kamu tau, bisa saja kamu tertular suatu penyakit"
"Dari pada aku merusak seorang gadis hanya untuk memenuhi hasrat ku, lebih baik aku cari wanita yang memang bersedia menemani ku"
Siapa yang akan menduga, pria tampan yang terlihat dingin dan cuek terhadap wanita seperti Arka, ternyata sering membeli jajan enak-enak di tempat karaoke atau pelayanan jasa lainnya.
Sepertinya Arka belum siap untuk mempunyai hubungan yang serius, namun Arka juga lelaki normal biasa yang butuh menyalurkan hasrat nya, tetapi dia salah dalam menyalurkan hasrat nya itu, karena dia melakukan nya dengan wanita malam atau wanita panggilan.
Tetapi saat melihat Qaynaya, entah kenapa Arka tertarik dengan wanita manis yang terlihat sangat mandiri dan tidak terlalu memikirkan penampilan.
"Kenapa tidak kamu pacari saja salah satu dari para wanita konglomerat yang dikenalkan padamu, kamu bisa saja memakai mereka, kenapa malah memilih jalan kotor?"
"Aku tidak suka dengan mereka, karena sangat terlihat kalau mereka banyak tingkah,, gaya mereka yang selangit bisa-bisa membuatku bangkrut, lagipula aku tidak tertarik pada mereka, jadi untuk apa aku memacari mereka kalau hanya untuk itu, aku bisa mendapatkan nya ditempat lain dengan harga murah"
"Dasar kamu ini,, kalau Qay tau kamu pria brengsek,, mana mungkin dia mau sama kamu"
"Aku akan berubah kalau bersamanya, kamu tau sendiri, aku melakukan itu semua saat aku tinggal dikota tempat kelahiran ku, setelah bulan lalu aku pindah kesini, dan aku tertarik pada Qay, aku tidak pernah mencari tempat kotor seperti itu lagi"
"Qay wanita yang sangat manis,, aku harus membantu mu mendapatkan nya, supaya sepupuku ini tidak lagi salah jalan"
"Tidak perlu terburu-buru, aku sangat suka dengannya, aku ingin bermain pelan-pelan saja, aku pernah memakai dirimu untuk memancing rasa penasarannya akan dirimu yang sering datang ke ruangan ku, tapi nyatanya dia tidak perduli, akulah yang harus bergerak sendiri"
"Mantap kali, akhirnya kamu bertindak" ucap Gea lalu berniat untuk segera pergi lagi.
"Mau kemana, tumben sekali kamu cuma sebentar, apa suamimu ada dirumah?"
"Tidak ada, dia sudah kembali lagi ke luar negeri seperti biasanya setelah minta celup padaku"
__ADS_1
"Dasar wanita ini, kamu juga tidak ada bedanya denganku"
"Maaf saja ya, aku sama suamiku nikah secara resmi, ya walaupun aku sering kesepian, setidaknya sekali-kali dia masih datang untuk mengairi sawah ku, lagipula uang bulanan dari dia sangat besar"
"Kamu mau aku celup?"
"Dasar gila,, tapi kita juga pernah melakukannya dan rasanya terlalu besar buatku, aku tidak mau kesakitan dan tidak bisa berjalan lagi selama dua hari seperti waktu itu, lebih baik aku menunggu suamiku sendiri yang melakukan nya, walau kecil tapi durasinya lama"
"Dasar wanita, selalu saja ada kurangnya, yang besar salah, yang kecil juga tidak puas, sebenarnya apa mau kalian?"
"Aku tidak tau kalau Qay sukanya yang seperti apa, tapi aku tidak suka punyamu,,, sudah ah,, aku harus segera pergi bersiap, aku mau pergi shoping bersama Qay,, bye-bye"
"Apa?? dimana?!" tanya Arka, tetapi Gea menjahili nya dan langsung pergi keluar dari ruangan Arka.
"Qay, kamu sudah siap?" tanya Gea yang langsung memegang bahu Qaynaya yang masih bekerja.
"Sedikit lagi, apa mau menungguku? atau nanti saja aku menyusul kesana?" tanya Qaynaya.
"Aku mau menunggumu saja" Gea lalu mengambil sebuah kursi untuk duduk didekat Qaynaya, saat melihat Zahra, Gea lalu menyapanya juga, Zahra sepertinya lebih mudah untuk dekat dengan orang, karena saat ini dia sedang mengobrol dengan Gea, beda dengan Qaynaya yang tidak bersuara kalau tidak ditanya dulu tau diajak berbicara dulu sama orang lain.
"Apa menurutmu Arka itu tampan?" tanya Gea pada Zahra dan Qaynaya, sudah tentu Zahra langsung antusias dan memuji-muji Arka, berbeda dengan Qaynaya yang hanya diam tidak bereaksi apapun dan hanya terus focus pada pekerjaannya.
"Qayy,, Gea bertanya padamu?" Zahra lalu mencolek bahu Qaynaya karena rekan kerjanya itu tidak mengatakan apapun.
"Apa?" tanya Qaynaya.
"Gea tanya, kalau bos kita itu tampan atau tidak"
"Ketampanan, kecantikan,,, semua tergantung yang melihatnya,, bagi sebagian orang bisa saja berbeda pendapat" jawab Qaynaya lalu menjawab, tetapi matanya kembali focus pada layar laptopnya.
"Dia memang benar-benar bikin penasaran, pantas saja Arka begitu penasaran padanya" batin Gea sambil tersenyum melihat kearah Qaynaya.
Setelah pekerjaan Qaynaya selesai, mereka langsung menuju ke mall terbesar di kota itu, Gea berbelanja gaun dan alat makeup yang sangat banyak, Qaynaya sampai geleng-geleng kepala melihatnya, karena walaupun sesama wanita, Qaynaya tidak pernah bisa seperti itu, selama ini dia harus bekerja keras untuk bisa menyekolahkan adik-adiknya, jadi dia sangat hemat dan hanya membeli barang yang benar-benar dia butuhkan.
"Kamu mau beli apa Qay?" tanya Gea menyadarkan lamunan Qaynaya.
"Tidak, aku tidak butuh apapun, dan apakah sudah selesai, kamu banyak sekali berbelanja,, apakah sudah semua?" tanya Qaynaya yang sepertinya sudah berharap agar bisa segera pulang.
"Sudah,, tapi ayo kita makan malam dulu, disini ada resto yang sangat enak sekali, ayo temani aku makan dulu, kamu juga belum makan malam kan?" Gea tidak menunggu jawaban dari Qaynaya, tetapi dia langsung berjalan ke arah resto yang dia maksud.
Karena tidak mungkin pergi begitu saja, Qaynaya lalu mengikuti Gea, sebenarnya dia juga memang sangat lapar, Gea mencari sebuah meja lalu meminta Qaynaya untuk duduk menunggunya memesan makanan.
"Qay,, kamu ada disini?" tanya sebuah suara yang sudah pasti dikenal oleh Qaynaya.
"Iya pak, tadi Gea meminta ku untuk menemaninya berbelanja"
"Panggil saja Arka kalau tidak sedang bekerja atau dikantor"
Qaynaya hanya mengangguk karena tidak tau harus menjawab apa.
"Qay,, Qayyy,, maafkan aku, ada sesuatu yang penting datang tiba-tiba, aku harus segera pergi, tapi makanan sudah aku pesan dan bayar, sangat sayang sekali, tolong makan ya,, eehhh kapan kamu datang Arka?,,, kamu ada acara disini juga?" Gea terlihat heboh berbicara sambil merapikan dan mengambil barang-barang belanjaannya tadi.
"Maaf ya Qay, aku duluan,, untuk mu Arka,, awas ya jangan mengganggu teman baruku" Gea langsung berjalan cepat sedikit berlari.
Qaynaya hendak pergi juga tapi makanan pesanan Gea sebagian sudah datang, dan Arka menahan kepergian nya.
"Makanan ini sangat malang sekali kalau kamu pergi, sayang kalau terbuang percuma,, aku tidak akan bisa memakannya semua, aku heran kenapa Gea memesan begitu banyak, aku jadi tidak perlu memesan lagi, aku makan saja pesanannya,,, duduklah Qay,, makan dulu sebelum pulang, lagipula ini tidak akan dipotong dari gaji mu,, kamu tidak takut padaku kan?"
"Ahaha" Qaynaya tertawa canggung, dia lalu kembali duduk, karena tidak enak pada bosnya.
Dari kejauhan Gea tersenyum puas melihatnya, rencananya berhasil, dia tadi memang sengaja mengirim pesan pada Arka dan memberi tahu keberadaannya.
__ADS_1
"Semoga kamu semakin dekat dengan Qay,, aku menyayangimu Arka,, aku tidak mau kamu terus bergantung pada wanita malam untuk memenuhi kebutuhan mu" batin Gea lalu segera bergegas pergi.