Kesepian

Kesepian
Sezkia


__ADS_3

"Apa ada yang membebani pikiran mu?" Djani mengagetkan lamunan Qaynaya, tanpa disadari ternyata mereka telah sampai kembali ke rumah, Qaynaya hanya menggelengkan kepalanya lalu dengan cepat keluar dari dalam mobil.


Djani meminta pada Qaynaya untuk tidak membawa semua perabotan yang ada, dan menyarankan supaya barang-barang yang ada, diberikan saja kepada tetangga, bawa yang benar-benar dibutuhkan.


"Dirumah kita, semuanya sudah tersedia, jadi kamu tidak perlu khawatir" ujar Djani sambil membuka kancing jasnya, karena dia akan mengganti bajunya dengan memakai baju rumahan.


"Kenapa berganti baju disini?, pergilah ke kamar mandi" Qaynaya menutupi wajah dengan kedua tangannya karena melihat suaminya yang sedang membuka baju.


"Apa yang harus aku tutupi di depanmu? bukankah kamu sudah melihat semuanya?, apa kamu menjadi menginginkan diriku saat ini?" tanya Djani jahil, dia sengaja berlama-lama dalam mengganti baju, supaya bisa lebih lama menjahili istrinya.


"Djani jangan bercanda, ini sudah malam, bukankah kamu bilang kalau kita akan berangkat besok siang? saat ini aku bahkan belum berkemas sama sekali" Qaynaya merajuk lalu memutarkan tubuhnya untuk membelakangi suaminya.


Bukannya mengerti, Djani malah mendekati istrinya lalu membuka resleting gaun yang dipakai oleh Qaynaya.


"Apa yang kamu lakukan?!" Qaynaya berdebar kencang, dia belum terbiasa dengan suaminya yang sangat agresif, padahal dulu saat masih berpacaran, Djani selalu bisa menahan hasratnya.


Qaynaya menahan gaunnya yang mulai melorot, Djani ternyata belum juga memakai bajunya, dengan gerakan kuat, Djani menyobek kaos dalaman yang dipakai Qaynaya.


"Kenapa kamu merusaknya? tidak bisakah dibuka dengan baik-baik?" Qaynaya kesal, tapi belum sempat dia melakukan apapun, Djani mengangkat tubuhnya, Qaynaya menjerit karena kaget, tetapi dia langsung menutup mulutnya, dia tinggal disebuah rumah kecil yang berdekatan dengan rumah lainnya, Qaynaya takut kalau jeritannya didengar oleh para tetangganya.


Gaun Qaynaya sudah semakin tidak bisa diselamatkan, dengan tatapan penuh rasa sayang dia melihat kearah gaun yang baru dipakai nya sekali itu.


"Gaunnya robek, kamu ini kenapa sangat kasar sekali?" Qaynaya memegangi gaunnya yang teronggok di lantai, setelah dilemparkan oleh Djani, tidak ada penyesalan sedikitpun dari Djani. Bahkan saat ini Djani merebut gaun yang tengah dipegangi oleh Qaynaya, yang sepertinya juga dipakai oleh Qaynaya, untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.

__ADS_1


"Aaaahhhh" Qaynaya kaget lalu memutarkan tubuhnya karena malu, tapi bagian belakangnya yang sudah pasti dalam keadaan yang juga polos, tentu saja tetap terlihat, bahkan dari belakang saja, keindahan tubuh Qaynaya membuat Djani tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi, untuk bisa menjamahnya.


Qaynaya tidak banyak berbicara dan melawan lagi, bagaimanapun itu adalah kewajibannya, setelah tengah malam terlewati, barulah Djani turun dari tubuh istrinya, Djani terus memandangi wajah istrinya yang matanya masih terpejam dan terlihat sedang mengatur nafasnya.


"Kamu sangat cantik, terimakasih sayang" Djani mencium kening istrinya, Qaynaya membuka matanya, mereka saling menatap untuk sementara waktu, hingga tidak lama pipi Qaynaya kembali memerah karena malu.


Qaynaya kembali menutup matanya lalu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, Djani tersenyum melihatnya, istrinya terlihat sangat lucu dan menggemaskan setiap malu-malu, Djani kemudian membelai lembut rambut dan punggung istrinya.


"Kenapa malu padaku? aku ini kan suamimu" ucap Djani lalu meminta pada Qaynaya untuk melihat kearah nya, tetapi tentu saja Qaynaya tidak mau.


Malam itu Qaynaya tidak jadi membereskan barang-barangnya, karena dia kelelahan, apalagi Djani terus memeluknya erat. Sepertinya besok mereka akan terlambat bangun, dan rencana kepulangan mereka harus diundur.





"Dasar gila,, aku pikir kamu bisa dipercaya? aku pikir kamu orang hebat, itulah sebabnya aku rela tidur denganmu, tetapi kamu hanyalah seorang pengecut!" sekertaris Arka marah pada bos nya.



"Sezkia,, apa dengan kamu marah-marah di sini lalu semuanya akan berubah menjadi seperti yang kamu inginkan?,, lagipula bukankah kamu sudah dipecat?? untuk apa kamu datang?,, dan jangan lupa dengan fakta bahwa kamu itu hanya mainan. Kamu yang menyodorkan tubuhmu sendiri, lalu kenapa sekarang kamu marah??,, apa setelah melihat Djani, kamu juga ingin mendapatkan nya?,, dia lebih kaya dibandingkan dengan diriku"

__ADS_1



"Apa maksudmu!!" Sezkia tidak terima dengan perkataan Arka, tetapi Arka hanya tertawa melihat Sezkia yang bertingkah seperti wanita polos.



"Semua orang disini tau siapa dirimu, tidak perlu malu lagi padaku, lagipula untuk apa kamu malu padaku? tubuh polos mu saja aku sudah melihatnya"



"Dasar gila!!" Sezkia berteriak lalu menampar pipi Arka.



Arka tidak membalas dan hanya mengusap pipinya, dengan tatapan matanya yang tajam dan seperti hendak menerkam Sezkia, Arka tertawa keras.



"Apa kamu mau bekerja sama denganku??" tanya Arka tanpa mengedipkan matanya, Sezkia tidak mengerti, dengan kasar Sezkia lalu menarik sebuah kursi, dia lalu duduk karena menyadari ada sesuatu hal besar yang akan dikatakan oleh Arka.



"Aku akan merebut Qaynaya,, dia harus menjadi milikku, kalau kamu mau membantuku, sudah bisa dipastikan kamu berkesempatan untuk mendapatkan Djani" Arka tersenyum menyeringai, Sezkia yang awalnya terkejut, lama-kelamaan juga tersenyum, sepertinya sekarang mereka berada dalam satu pikiran yang sama.

__ADS_1


__ADS_2