Kesepian

Kesepian
Semakin Kuat


__ADS_3

"Ayo berkemas" Djani langsung mencari keberadaan istrinya begitu sampai kedalam rumah. Qaynaya yang tengah membuat sesuatu bersama Neli di dapur menjadi kaget, karena Djani menarik tangan Qaynaya untuk segera masuk kedalam kamar.


"Ada apa Djani?!" Neli berteriak karena panik. Dia berfikir kalau sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Sementara Qaynaya belum bertanya apapun dan hanya mengikuti langkah kaki suaminya.


"Cepat kemas semua bajumu, aku akan merapikan bajuku juga" Djani mengambil sebuah koper di atas lemari. Qaynaya memegang tangan Djani lalu mulai bertanya.


"Ada apa? bukankah kamu ingin sekali kita tinggal di rumah ini?" Qaynaya menarik tangan Djani dan membawa suaminya untuk berbicara terlebih dahulu. Mereka duduk di sofa, Qaynaya kembali bertanya karena Djani masih saja diam.


Djani lalu bercerita kalau Rini masih terus memintanya untuk menikah lagi. Djani tidak mungkin mau melakukan hal itu, jadi lebih memilih pergi.


"Jangan seperti ini, bagaimanapun juga kamu tidak boleh menyakiti mama Rini. Aku tidak mau kalau sampai kamu menyesal suatu hari nanti. Aku sudah mengalaminya, aku sedih karena jauh dari keluarga ku saat kemarin aku pergi?, aku tidak mau kalau sampai kamu merasakan hal yang sama" Qaynaya menggenggam tangan suaminya.


Qaynaya berusaha untuk menenangkan suaminya, walau sebenarnya hatinya sendiri menangis. Tidak mungkin Qaynaya rela kalau sampai Djani menikah lagi.


"Aku takut kalau mama akan menyakitimu lagi. Aku tidak mau kamu pergi lagi dariku" Djani lalu memeluk tubuh Qaynaya.


Djani tidak mau kalau sampai kejadian Kaela kembali terulang kembali. Qaynaya mengusap punggung suaminya, walau sebenarnya dia merasa tidak akan bisa menahan air matanya lagi, tetapi Qaynaya mencoba tersenyum, supaya Djani tidak terlalu cemas.


"Aku tidak akan pergi lagi. Kalau kamu memang harus menikah lagi, maka,, hheeemmmpppp" Qaynaya tidak bisa menahan lagi air matanya. Dia tidak menyelesaikan ucapannya karena Djani telah membungkam mulutnya dengan ciuman.


Djani tidak melepaskan ciumannya, tetapi dia bisa merasakan kalau istrinya tengah menangis. Mata mereka terpejam menikmati ciuman panas yang semakin menjadi-jadi, apalagi Djani terus menuntut Qaynaya untuk terus membuka mulutnya.


Djani menghapus air mata Qaynaya, walau matanya masih terpejam. Qaynaya menggelengkan kepalanya berharap supaya Djani melepaskan ciumannya. Mereka saling pandang, Djani mendekatkan keningnya pada kening sang istri.


"Ayo pergi dari sini, dan hidup bahagia bersama anak-anak kita" Djani kembali menuju koper nya dan mulai memasukkan baju-bajunya. Qaynaya memeluk tubuh Djani dari belakang, dan menciumi punggung suaminya.


"Mari cari cara lain terlebih dahulu" Qaynaya semakin mempererat pelukannya saat Djani berniat untuk berbalik badan.


"Diamlah sebentar lagi, aku ingin mengisi tenaga ku terlebih dahulu" Qaynaya menggesekkan pipinya pada punggung Djani. Tentu saja hal itu sama saja dengan membangunkan singa yang sedang tidur.


Tetapi saat singa itu hendak menerkam mangsanya, terdengar bunyi pintu diketuk dari luar. Terdengar suara Neli memanggil Djani dan Qaynaya.


"Iya nek?" tanya Qaynaya begitu membuka pintu. Neli celingukan mencari keberadaan Djani, Qaynaya lalu mempersilahkan Neli untuk masuk ke dalam kamar.


"Neli kenapa mengganggu" Djani memanyunkan bibirnya saat Neli mendekatinya. Saat melihat sebuah koper yang berada di depan pintu lemari yang terbuka, Neli tersenyum dan memegangi tangan Djani.


"Pergilah kalau itu adalah jalan yang terbaik. Neli merestui kalian" Neli lalu memeluk Djani dan menangis dalam pelukan sang cucu. Djani memeluk Neli dan melihat ke arah Qaynaya yang menutup pintu lemari.


"Qay tidak mau nek, entah apa yang dia pikirkan" Djani mengadu pada neneknya. Neli yang berada dalam pelukan Djani lalu melepaskan diri untuk meminta penjelasan dari Qaynaya. Seharusnya disaat seperti ini, Qaynaya merasa takut sehingga pasti memilih untuk pergi untuk mengamankan suaminya dari wanita lain.


"Apa kamu tidak mencintai Djani?" pertanyaan Neli mengagetkan Qaynaya. Tetapi setelah beberapa detik, Qaynaya tersenyum lalu mendekati Neli.


"Karena aku sangat mencintainya, jadi aku tidak mau mengambil jalan itu. Aku tidak mau kami hidup dalam pelarian tanpa dikelilingi oleh keluarga. Kebahagiaan itu hanya kebahagiaan semu saja, karena aku sangat yakin kalau Djani akan merindukan keluarganya, terutama pasti akan merindukan nenek" Qaynaya menggenggam tangan Neli dan meletakkan tangan Neli ke dahinya.


"Sayang, kenapa bisa ada wanita spesial seperti dirimu. Kalau Djani sedikit saja menyakitimu, katakan padaku maka aku akan menghabisinya" Neli sangat bangga dengan apa yang dijelaskan oleh Qaynaya.

__ADS_1


"Jangan nek, kalau nenek menghabisinya, maka aku juga pasti habis. Karena kami telah menjadi satu" Qaynaya tersenyum lucu. Djani yang mendengarnya tidak bisa menahan rasa gemasnya pada Qaynaya.


"Aaaahhhhh!!" Qaynaya menjerit kaget saat Djani menarik tangannya dan langsung memeluknya erat. Neli paham kalau dia harus segera keluar dari kamar. Setelah mengedipkan matanya pada cucunya yang tengah mendekap erat tubuh istrinya. Neli lalu dengan cepat mengambil langkah seribu.


"Apa yang barusan kamu katakan? kalau tidak salah dengar, aku mendengar perkataanmu yang mengatakan kalau kamu ingin menyatukan tubuh kita saat ini juga" Djani membawa tubuh istrinya mendekat ke arah ranjang. Qaynaya menolak dan sedikit mendorong tubuh Djani.


"Jangan bercanda, kamu belum menceritakan apa yang terjadi pada mama Rini dan ayah Rega" Qaynaya menahan tangan Djani yang berniat membuka tali pita yang berada di pinggangnya. Qaynaya memakai sebuah gaun dengan tali pita di pinggangnya sehingga terlihat tubuh rampingnya yang sangat menggoda Djani.


"Berikan aku makan terlebih dahulu, aku kelaparan" nafas Djani terdengar sangat berat, wajahnya juga sangat memerah.


"Bukankah kamu harus rapat sore ini?" Qaynaya mengingatkan. Djani mengingatnya lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.


"Ayah sekarang dimana?"


"Ayah menuju rumah, ada apa?" tanya Rega dalam sambungan teleponnya.


"Ada rapat penting dengan perusahaan RX, bisakah ayah menanganinya untuk ku? aku memiliki pekerjaan yang lebih penting" Djani mengedipkan matanya pada Qaynaya. Karena sedikit lengah, Qaynaya tidak sempat menahan tangan suaminya yang tiba-tiba langsung membuka tali pita gaunnya.


"Aaahhhh!" Qaynaya tanpa sadar menjerit, karena setelah melepaskan pita gaunnya, Djani dengan cepat menarik gaunnya hingga gunung kembarnya menyembul walau masih terlindungi tank top.


"Ayah dengar sendiri kan? istriku sudah tidak sabar lagi. Aku serahkan pada ayah urusan kantor selama ayah ada di sini" Djani langsung mematikan panggilan teleponnya, lalu melemparkan ponselnya ke atas ranjang.


"Ayo kita lanjutkan, aku tidak akan mengecewakan dirimu yang ingin segera menyatukan tubuh kita" Djani tersenyum lebar lalu langsung menerkam Qaynaya yang masih menutupi mulutnya, karena tadi dia kaget sendiri dengan teriakannya.


Djani tidak langsung menjawab, tetapi lebih memilih untuk mengerjai tubuh istrinya. Qaynaya terpejam merasakan sakit saat Djani kembali menyatukan tubuh mereka.


"Maaf,," Djani menghentikan kegiatannya saat melihat Qaynaya terlihat kesakitan. Qaynaya membuka matanya dan menahan Djani yang hendak turun dari atas tubuhnya.


"Sudah aku katakan untuk tidak berubah" Qaynaya menarik tubuh Djani supaya dia bisa memeluk tubuh suaminya. Djani yang lupa akan kondisi istrinya, masih terus membisikkan kata maaf. Qaynaya lalu meminta pada Djani untuk melanjutkan.


"Maaf, kita lakukan nanti lagi ya sayang. Aku tidak mau kamu semakin kesakitan" Djani yang hendak melepaskan pelukan istrinya terhenti saat mendengar isakan istrinya.


"Tenang sayang, aku tidak berubah. Aku hanya tidak mau kamu semakin sakit, kita tunggu sampai kamu membaik" Djani tidak bisa melepaskan dekapan erat Qaynaya.


"Baiklah aku lakukan, tapi katakan kalau kamu tidak kuat lagi" secara perlahan, Djani kembali berusaha memasuki bagian terdalam dari tubuh istrinya. Qaynaya terdengar merintih dan meremas rambut Djani. Cukup lama kegiatan yang dilakukan oleh dua insan yang terlihat sudah bermandikan keringat tersebut. Djani melakukannya secara perlahan, sehingga dia tidak kunjung mendekati ambang batasnya.


"Aku mau di atas" bisik Qaynaya disela-sela rintihannya. Djani menurutinya dan langsung berguling hingga sekarang tubuh indah Qaynaya berada di atasnya. Qaynaya mengangkat tubuhnya sehingga Djani dengan leluasa bisa menatap indahnya tubuh Qaynaya.


Qaynaya merintih dan terus merintih, dia meraih tangan suaminya untuk dia gunakan sebagai penopang rasa nikmat yang dia rasakan. Djani sedikit mengangkat tubuhnya supaya bisa melahap gunung kembar Qaynaya.


Dengan menahan rasa sakit, walau rasa nikmatnya juga tidak kalah memabukkan. Qaynaya bergoyang dengan cepat supaya suaminya cepat mendapatkan puncaknya. Qaynaya sebenarnya sangat lemas, karena dia sudah berkali-kali kejang.


"Aku harus membuktikan bahwa aku kuat, supaya Djani tidak berubah. Aku tidak mau kehilangannya, maafkan kalau aku terlalu serakah dan tidak tau malu. Tapi aku tidak mau berbagi suami dengan siapapun. Aku akan berusaha keras semampuku untuk mempertahankan dirimu" Qaynaya berbicara dalam hatinya, hingga akhirnya dia menjerit saat merasakan semburan hangat dari suaminya.


Qaynaya terkulai lemah diatas tubuh Djani, dan masih terus mengatur nafasnya. Djani membelai punggung istrinya, lalu mengatakan maaf dan terimakasih.

__ADS_1


"Sudah aku katakan kalau aku kuat, jadi tolong jangan berubah" Qaynaya lalu menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh suaminya.


"Jangan memaksakan diri lagi sayang,, terimakasih karena kamu berusaha untuk menyenangkan diriku, tanpa kamu melakukan apapun, aku sudah sangat mencintaimu. Jangan takut aku akan berubah, karena itu tidak akan pernah terjadi" Djani memeluk erat tubuh lemas istrinya.


"Apa ayah Rega dan mama Rini sudah baikan?" Qaynaya bertanya walau matanya masih terpejam, dan masih betah berada dalam pelukan suaminya.


"Sudah, jadi kamu jangan khawatir lagi"


"Apa kamu masih dijodohkan dengan wanita lain?"


"Aku tidak akan pernah menikah lagi, kamu adalah istriku satu-satunya. Apakah sekarang kamu akan tidur siang terlebih dahulu? atau mau mandi dan makan siang?" Djani menoel pipi Qaynaya.


"Aku lapar, tadi aku sedang memasak bersama dengan nenek, sepertinya nenek sudah menyelesaikannya. Apa tidak memalukan kalau aku langsung makan tanpa membantu nenek memasak?"


"Sayang ku,, memasak itu bukan tugasmu ataupun nenek. Tapi kalau mau memasak, aku tidak akan melarang nya. Asalkan kamu harus berhati-hati dan jangan memaksakan diri. Dirumah ini sudah ada pelayan yang mempunyai tugas masing-masing, kamu tidak perlu sungkan untuk meminta pada mereka, jika kamu memerlukan sesuatu" Djani mencium kening istrinya lalu bangun dan membopong tubuh Qaynaya menuju ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi dan berpakaian, Djani menuntun Qaynaya keluar dari kamar untuk makan siang walau sudah terlambat. Qaynaya tidak mau saat disuruh diam didalam kamar.


"Sudah aku katakan, seharusnya kamu istirahat saja didalam kamar, aku akan mengambilkan makanan untuk mu" ucap Djani saat keluar dari dalam kamar, mereka ditatap oleh Rini yang sedang duduk di kursi ruang makan.


"Dasar tidak berguna, yang bisa kamu lakukan hanya menggoda menggunakan tubuhmu. Tetapi memang hanya itu yang kamu bisa, karena kamu tidak mempunyai kelebihan lain selain memanfaatkan tubuhmu" perkataan Rini terdengar sangat kejam. Djani bahkan tampak berniat mengeluarkan kemarahannya, untuk membela istrinya.


"Yang tante katakan memang sangat benar" Qaynaya menjawab sambil tersenyum palsu dan memegang erat tangan Djani. Qaynaya tidak mau kalau sampai Djani kembali bertengkar dengan mamanya.


Neli yang baru keluar dari kamar tamu, langsung berjalan mendekati Qaynaya dan menuntunnya perlahan menuju meja makan.


"Sayangku,, makanlah yang banyak" Neli dengan telaten mengambilkan berbagai macam makanan untuk Qaynaya.


"Kalau mama masih pada keinginan yang tidak masuk akal itu, maka aku akan memilih pergi. Akan aku buktikan bahwa kehidupan ini tidak melulu harus uang yang paling penting. Aku tidak memungkiri bahwa kita semua butuh uang, tetapi tidak harus sampai mengorbankan kebahagiaan untuk mendapatkan uang itu" Djani melihat ke arah Rini yang masih terus saja menatap tajam kearah Qaynaya.


"Dan tolong mama ingat,, saat mama menyakiti hati istriku. Mama sama saja menyakiti diriku" Djani lalu melihat ke arah istrinya yang terlihat tidak nyaman dengan perlakuan Neli padanya. Qaynaya terlihat canggung karena tidak biasa dilayani oleh siapapun, bahkan oleh mamanya sendiri.


"Jangan merasa tidak nyaman sayang, nenek memang harus merawat mu. Harus ada seseorang yang merawat mu setelah kamu disakiti oleh suami mu, seharusnya ini menjadi kewajiban seseorang yang bergelar sebagai seorang ibu mertua, karena anaknya telah menyakiti menantunya. Tetapi kamu tenang saja, karena nenek yang akan menggantikannya" Neli melirik sebentar kearah Rini.


"Dan Djani, bisakah kamu untuk tidak menyiksa istri mu?! malam ini Qay harus tidur bersama dengan Neli. Dia tidak akan bisa istirahat kalau bersama mu" Neli bercanda sambil mengambilkan sepotong ayam goreng untuk Djani. Neli melarang Qaynaya yang dari tadi berniat untuk melayani suaminya.


"Sudah sayang, kamu makan saja. Djani masih kuat kalau hanya sekedar untuk mengambil makanan. Lagipula dia sendiri yang salah karena membuat mu sakit" Neli lalu duduk di kursi sebelah Rini.


"Kalau kamu berani mengganggu kedua cucuku, maka kamu harus melangkahi mayatku terlebih dahulu" Neli mengancam Rini.


"Jangan merasa menang karena ada yang berpihak padamu, karena aku tidak akan menyerah sampai di sini. Wanita yang akan aku jodohkan dengan Djani, sedang dalam perjalanan menuju ke sini" Rini bangkit dan pergi setelah mengucapkan sesuatu yang membuat Qaynaya tidak lagi bisa makan.


Rini tersenyum puas, lalu segera keluar dari rumah dan memasuki mobil nya. Sepertinya ada rencana besar yang sedang dia lakukan.


"Lakukanlah lebih cepat, pelaminan itu harus selesai besok siang. Aku tidak mau mendengarkan alasan apapun. Semua persiapan harus selesai paling lambat besok pagi" Rini memberikan perintah pada seseorang lewat sambungan telepon. Setelah sambungan telepon terputus, Rini langsung melajukan mobilnya untuk segera bergegas pergi.

__ADS_1


__ADS_2