Kesepian

Kesepian
Tidak Ada Yang Gratis


__ADS_3

"Ini terlalu pemborosan, lagipula karena dirimu, uang melayang karena harus bayar pesanan dua kali lipat. Lagipula semahal itu, memang apa yang kamu pesan?" Qaynaya mendekati meja yang berada di balkon kamarnya.


Meja dengan penuh makanan mewah, sudah tersedia dan berjejer rapi. Qaynaya menelan ludahnya saat melihat udang goreng yang terlihat sangat gendut-gendut berada di salah satu piring.


Lupa sudah omelan nya pada sang suami, Qaynaya langsung duduk untuk segera makan, dia memang sangat lapar, karena tadi siang tidak makan. Djani mengacak rambut Qaynaya dengan gemas karena melihat tingkah istrinya.


"Tapi tetap saja, ini sepertinya berlebihan, lagipula kita cuma berdua, tidak mungkin ini semua akan habis" ujar Qaynaya setelah menghabiskan satu piring udang, dan piring selanjutnya yang menjadi incarannya adalah piring yang berisi irisan salmon dengan taburan caviar.


"Ini sangat mahal, aku pernah makan saat,," Qaynaya menyadari kalau apa yang akan dia katakan, pasti akan membuat malam ini penuh dengan peperangan.


"Saat apa?" tanya Djani penasaran dan menghentikan makannya, apalagi ditambah gerak-gerik mencurigakan dari istrinya yang terlihat menjadi gugup.


"Serli,, serli dulu pernah membelikan aku makanan seperti ini. Dia itu kan model papan atas, kami sering bergantian untuk membayar bill saat makan bersama, tapi mereka tau dan mengerti dengan kondisiku, saat giliran aku yang harus membayar, mereka memilih restoran biasa. Tapi saat mereka yang membayar, pasti restoran mewah yang dipilih" Qaynaya yang awalnya hanya ingin mengalihkan rasa gugupnya, karena hampir kelepasan bicara, menjadi sedih karena mengingat sahabatnya.


Awalnya yang diingat oleh Qaynaya, adalah saat makan di mall bersama Arka, karena itu kejadian yang paling baru, sementara dengan para sahabatnya, sudah cukup lama Qaynaya melakukannya. Tapi saat mengingat kembali kenangan nya bersama sahabat-sahabatnya, Qaynaya terlihat sedih dan makan dengan perlahan.


"Apa yang kamu rindukan dari mereka? bukankah aku juga bisa selalu menemani mu?" Djani menyuapi Qaynaya dengan daging lobster yang sudah dia keluarkan dari kulitnya.


"Aku hanya ingat kebersamaan kami" Qaynaya tersenyum dan mencoba untuk kembali ceria, dan makan dengan lahap.


"Pelan-pelan sayang, nanti kamu tersedak" Djani membersihkan saos yang berada di ujung bibir Qaynaya lalu menjilat nya tanpa rasa jijik.


Duuuaaarrrrr ddduuuaaarrrr ddduuuaaarrrr


Tiba-tiba terdengar bunyi kembang api yang berada tidak jauh dari kamar mereka, bahkan mereka dengan leluasa bisa melihatnya. Qaynaya tersenyum senang melihatnya, beraneka macam warna warni yang berada di langit, terlihat begitu indah dan cantik.


"Wwaahhhh, bagus sekali. Biasanya hanya disaat tahun baru bis melihat pesta kembang api seperti ini" Qaynaya yang kagum melihat kembang api, membuat Djani cemburu dan berdehem.


"Kamu pilih aku atau kembang api itu?" Djani menatap Qaynaya dengan pandangan memangsa, karena kalau sampai Qaynaya salah menjawab, tentu saja Qaynaya akan langsung habis.


"Kembang api nya memang sangat indah dan cantik, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan dari suamiku ini" Qaynaya melihat kearah suaminya lalu memberikan ciuman jauhnya, karena mereka duduk berhadapan.


"Sepertinya tidak nyambung, tapi karena kamu sangat cantik, jadi aku memaafkan dirimu kali ini" Djani menangkap ciuman jauh dari istrinya dan menyimpan nya kedalam sakunya. Qaynaya tersenyum malu melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Setelah selesai makan, apa kamu mau berjalan-jalan sebentar di pinggir pantai, sepertinya sangat ramai karena ini malam minggu" Djani bangkit dari kursinya dan ingin duduk di samping Qaynaya.


"Suapi aku,, kenapa kamu tidak pernah peka? aku harus selalu memintanya" Djani merajuk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Qaynaya.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku tadi sangat kelaparan, padahal seharusnya aku juga tau, kalau kamu juga pasti sama kelaparannya seperti diriku" Qaynaya lalu menyuapi suaminya.


"Kembali ke pertanyaan awalku, apa ini tidak berlebihan? dan kamu memberikan banyak sekali uang tadi" Qaynaya melihat kearah meja, dimana hampir setengahnya tinggal sisa piringnya saja.


"Jangan memikirkan tentang hal itu, katakan padaku apapun yang kamu inginkan. Dari dulu kamu tidak pernah meminta apapun padaku, dulu aku tidak bisa memaksa karena kamu begitu keras dan dingin. Tapi sekarang kondisi dan situasinya sudah berbeda, saat ini kamu adalah istriku, jadi jangan ragu lagi untuk mengatakan dan meminta semua kebutuhanmu, atau apapun yang kamu inginkan" Djani menciumi rambut Qaynaya yang beterbangan terbawa angin.


Qaynaya terdiam, sepertinya itu akan sulit dia lakukan, karena sudah sejak lama dia hidup mandiri. Tapi kembali bekerja lagi untuk bisa memenuhi dan mencukupi segala kebutuhannya juga sepertinya saat ini sangat sulit.


"Aku ingin bekerja, bukankah kamu pernah mengizinkan?" Qaynaya bertanya pelan, dan tidak berani melihat kearah suaminya.


"Tentu saja boleh sayangku, sudah aku katakan, apapun yang kamu inginkan, pasti akan aku kabulkan, kecuali keinginan untuk meninggalkan diriku, karena sampai kapanpun tidak akan pernah aku izinkan"


"Apa benar?!!" Qaynaya sangat senang mendengarnya lalu memeluk suaminya, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih dan juga mengatakan kata-kata cinta dan pujian terhadap suaminya.


"Tidak perlu merayuku, hanya karena kamu ingin menyenangkan diriku. Karena dengan kamu selalu berada di sisiku, maka apapun keinginan mu, pasti akan aku penuhi" Djani membalas pelukan istrinya bahkan tidak mau melepaskannya dengan cepat.


"Lepaskan, aku masih ingin makan" Qaynaya menggoyangnya badannya, berharap dilepaskan oleh Djani.


"Baiklah, makan yang banyak sayang. Malam ini dan seterusnya, kamu butuh banyak tenaga untuk menghadapi ku" Djani mencubit gemas pipi Qaynaya.


"Sepertinya makanan ini tidaklah gratis untukku, aku menjadi kehilangan nafsu makan" Qaynaya dengan malas menyuapkan sepotong kue kedalam mulutnya.


Setelah merasa sangat kenyang, Qaynaya menyudahi makan nya lalu segera menggosok gigi setelah beristirahat sebentar sembari menikmati pemandangan dari atas balkon yang terlihat sangat indah.




"Apa tamu itu tidak mau membayar?" manajer resort itu bertanya pada karyawannya yang tadi mengantarkan makanan ke kamar Djani.



"Bukan seperti itu bos, tamu itu bahkan memberikan tips dua kali lipat dari harga pesanan makanannya"



"Appaaa?!"

__ADS_1



"Iya bos, dan aku merasa tidak asing dengan wajahnya, tapi tidak tau pernah melihat dimana. Bos kan baru masuk lagi setelah liburan, mereka datang sudah dari kemarin. Bahkan tadi pagi mereka makan diluar, padahal di resort ini menyediakan sarapan gratis untuk penyewa kamar ruangan VVIP"



"Kalau mereka tamu VVIP, sudah pasti mereka sangat kaya raya" manajer resort itu lalu kembali bekerja, dan tidak terlalu penasaran lagi. Baginya yang terpenting adalah tamu tidak melakukan kerugian yang harus ditanggungnya.



"Sepertinya tidak ada yang perlu aku khawatirkan, tapi boleh dong traktir kita semua minum-minum nanti sepulang bekerja, banyak kan uang tips yang kamu dapatkan, hehe" manajer yang sepertinya sangat dekat dengan karyawan lain itu mencoba mencari peruntungan nya.



"Tentu saja bos, memang itu sudah aku rencanakan tadi"



Mereka tertawa dan bercanda sembari mengerjakan tugas masing-masing. Hingga saat melihat Djani dan Qaynaya yang berjalan kearah luar resort, mereka memperhatikan sepasang suami istri itu yang terlihat sangat serasi.



"Sangat tampan dan cantik, perpaduan yang sangat pas sekali, dan tentunya mereka sangat tajir pastinya, terlihat dari penampilannya" salah satu pekerja di resort itu berbicara dan terus memperhatikan perginya Djani dan Qaynaya sampai tidak terlihat.



Manajer resort sepertinya mengenali Djani, lalu segera bergegas menuju resepsionis untuk melihat nama Djani.



"Djani Sudrajat!" manajer resort itu terkejut dan menutup mulutnya, karena takut teriakannya terdengar oleh Djani yang dipikirnya, bisa saja kedengaran dari luar resort, walau sebenarnya itu sangat mustahil.



"Dia bukan hanya kaya raya dan tajir, dia itu adalah anak dari konglomerat yang sangat terkenal dan sukses, kenapa kalian bisa tidak mengenalnya, tapi bukankah kedua orang tuanya sedang dalam masalah, beritanya sudah menyebar di kota. Apa mereka sengaja bersembunyi ditempat ini karena permasalahan itu, atau mereka tidak mengetahuinya?" manajer resort berbicara sendiri, karena yang lain tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh manajer resort, mereka bekerja di pulau ini, dan jarang pergi ke kota.


__ADS_1


Manajer itu lalu berlari mengejar Djani dan Qaynaya.


__ADS_2