
Qaynaya membeku, bahkan tidak bergerak sama sekali untuk beberapa saat, sampai Rini mendekati dan memegangi bahunya. Qaynaya tersadar lalu menoleh ke arah mama mertuanya, mencoba mencari dukungan untuk memberikan penjelasan yang tidak menyakiti hati Djani.
"Mama yang mengajaknya, jangan menyalahkan Qay" Rini berkata pelan sambil melihat kearah Djani yang masih terus memandangi wajah Qaynaya.
"Apa aku menyalahkannya?!,, aku hanya,, sudahlah,," Djani berjalan cepat masuk kedalam rumah dan langsung menuju ke dalam kamar. Qaynaya panik dan berjalan cepat menyusul suaminya.
"Djani maafkan aku"
"Apa aku sangat menyedihkan?"
"Bukan,, tidak seperti itu Djani,,"
"Apa aku tidak pantas lagi untukmu?, apa aku yang lemah ini tidak lagi pantas untukmu?!,, cepat jawab!!" Djani berteriak marah, dia tidak menyangka kalau Qaynaya akan berkonsultasi pada psikolog tanpa persetujuan darinya. Bukankah Qaynaya sendiri yang sebelumnya berkata bahwa tidak perlu untuk memeriksakan kondisinya. Tapi kenapa sekarang Qaynaya melakukannya secara diam-diam.
"Djani tenang,, aku tidak pernah berfikir seperti itu,, Aakkkkhhhhhh!" Qaynaya kaget karena Djani mendorongnya dengan cepat ke arah ranjang. Tidak perlu menunggu lama sampai tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Djani lalu dengan membabi buta menggagahi istrinya.
Qaynaya menjerit dan meminta maaf, tapi Djani seperti tuli dan terus saja melakukan apa yang dia inginkan.
"Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku!!" Djani menghujamkan kuat miliknya saat kembali mendapatkan pelepasannya. Qaynaya terus menggelengkan kepalanya menahan rasa sakit dan perih di bagian bawahnya.
"Sayang tenang,, dengarkan aku dulu, aakkhhh!!" Qaynaya kaget saat tidak butuh waktu lama, Djani kembali aktif lagi dan mulai lagi menggoyangnya.
Qaynaya yang kelelahan dan kesakitan akhirnya memejamkan matanya setelah Djani kembali menyemburnya. Entah dia tertidur atau pingsan.
Tok tok tok tok tok
Rini dari tadi berusaha keras untuk menolong Qaynaya, tapi sudah berjam-jam, tidak ada yang keluar dari dalam kamar. Rini tidak mungkin mendobraknya, karena Djani bisa saja sangat marah nantinya.
"Qay, sayang,, Qayyyy!!" Djani panik dan mengguncangkan bahu Qaynaya. Setelah beberapa saat, Qaynaya membuka matanya dan berucap lirih.
"Sayang,, biarkan aku tidur,, ini sangat sakit,, aku juga sangat lelah,, maafkan aku" Qaynaya menangis dan memegangi tangan suaminya. Djani akhirnya sadar dan menangis.
"Sepertinya aku memang sudah gila, maafkan aku sayang, ayo kita kerumah sakit bersama-sama" Djani hendak memakaikan baju di tubuh Qaynaya, tapi Qaynaya menahannya dan menarik tangan Djani.
"Peluk aku, aku sangat lelah, aku mau tidur dalam dekapanmu" Qaynaya kembali memejamkan matanya saat Djani mendekap tubuhnya.
"Aku takut Qay,," Djani meneteskan air matanya dan semakin mempererat dekapannya. Rini menyerah dan mendekati Rega yang baru pulang bekerja.
"Ada apa?" Rega melihat air mata Rini yang tidak berhenti mengalir. Rini lalu menceritakan semuanya pada Rega.
"Kita harus segera membawanya untuk berobat, kasian mereka berdua. Djani pasti kesakitan dengan pikirannya, Qay juga pasti sangat tersiksa karena sikap Djani"
"Aku juga ikut andil dalam membuat Djani seperti ini,, ini semua adalah kesalahan ku!" Rini menangis histeris, dia ketakutan dengan apa yang bisa saja dilakukan oleh Djani pada Qaynaya.
"Djani mengalami depresi saat Qay menikah dengan Doni, dan ternyata dulu dia tidak sepenuhnya pulih, dia hanya memendamnya. Saat kecil dia merasa aku tinggalkan, dia menjadi kesepian karena tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang semestinya. Djani menjadi kesulitan untuk mengontrol perasaannya. Lalu saat dia kembali ditinggalkan oleh Qaynaya, bahkan Djani melihat kepergian Qay yang bersama dengan Doni, itu seperti membuat luka lamanya terbuka dan menjadi lebih sakit dari sebelumnya. Djani sekarang menjadi tidak percaya lagi pada Qaynaya" Rini terus menangis sembari mengatakan apa yang rasakan oleh Djani.
"Tenang sayang, anak kita baik-baik saja, apalagi ada Qay disamping nya" Rega membelai lembut rambut istrinya. Rini langsung kembali berlari ke arah kamar Djani dan masih terus berusaha untuk memanggil Djani.
"Djani sadarlah,, jangan sakiti Qay,, kamu bisa menyesal nantinya!" Rini terus menggedor pintu kamar, tetapi hanya keheningan dan tanpa jawaban apapun.
Didalam kamar, Djani terus menatap wajah Qaynaya dan tersenyum melihat wajah damai istrinya yang berada dalam dekapannya.
"Kamu semakin cantik saja, aku tidak akan membiarkan dirimu pergi lagi ke salon, bisa semakin gila aku kalau kamu terus saja semakin cantik seperti ini" Djani membelai lembut pipi istrinya, lalu mencoba untuk memejamkan matanya.
"Maaf ma, aku sedang tidak ingin banyak berbicara. Aku hanya ingin terus meyakinkan bahwa Qay ada di sisiku" Djani bergumam sebelum jatuh kedalam alam mimpi.
"Biarkan dahulu mereka menyelesaikan masalah ini berdua, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mengingatkan. Jangan terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Aku sangat yakin kalau Djani kuat, begitu juga dengan Qay, sekarang ayo kita beristirahat. Aku sangat lelah dan lapar" Rega menenangkan istrinya dan menuntunnya menuju ruang makan.
"Aku mau makan dulu sebelum mandi" ujar Rega. Rini kembali melihat kearah pintu kamar Djani.
"Mereka juga sepertinya belum makan, kasihan Qay. Semoga Djani mau segera menemui psikolog untuk berkonsultasi mengenai kondisinya. Ini tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, tapi juga Qay. Kalau seperti ini terus, Qay bisa tidak tahan lagi. Dan saat Qay menyerah, Djani akan semakin hancur" Rini memegangi piring lalu bertanya pada pelayan.
"Apa Djani tadi sudah makan?"
"Belum nyonya, dari kepergian nyonya dan nona, tuan Djani terus berada di dalam kamar, dan keluar saat menunggu kedatangan nyonya"
"Baiklah, terimakasih"
__ADS_1
"Bagaimana kalau Djani tidak mau memeriksa kondisi nya?" Rini yang sudah mengambil nasi kedalam piring, menjadi tidak bernafsu untuk makan.
"Pasti dia mau, ini untuk kebaikannya,, yang paling penting adalah demi kebaikan Qay yang sangat dicintainya, sudah jangan terlalu banyak berfikir. Semangatlah dan makan dahulu, kita semua butuh kamu, terutama aku,, hehehehe"
"Dasar aki-aki genit" Rini menjadi lebih rileks karena candaan dari suaminya.
"Tapi kamu suka kan?"
"Iya,, aku suka banget" Rini menutupi matanya karena malu menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dia pakai untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku sangat lapar sekali, tadi aku dan Qay berniat untuk makan di sebuah restoran, tapi Djani keburu meminta Qay untuk segera pulang, sudah lama sekali aku tidak makan diluar"
"Apa kamu mau malam ini kita kencan?" Rega memainkan matanya untuk menggoda Rini.
"Bagaimana mungkin kita berkencan saat anak-anak kita sedang tidak baik-baik saja, sudahlah lupakan saja untuk saat ini. Kita harus focus pada kesembuhan Djani" Rini kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan malas, tapi karena dia sangat lapar jadi terus makan walau rasa makanan yang biasanya lezat, menjadi terasa tidak enak.
Setelah selesai makan, mereka masuk kedalam kamar, karena setelah ditunggu lagi beberapa saat, tetap saja tidak ada tanda-tanda Djani atau Qaynaya akan keluar dari dalam kamar.
Didalam kamar, Rega langsung mandi dan tidak lama setelahnya, langsung meminta dilayani oleh istrinya yang sekarang menjadi sangat ganas dan garang di atas ranjang.
"Sebenarnya kita ini sudah tua, tapi kenapa begitu menyukai hal ini?" tanya Rini sambil menggoyangkan pinggulnya di atas sang suami yang tengah memainkan gunung kembarnya.
"Ini karena kamu begitu hot, aku begitu beruntung sekali memiliki istri seperti dirimu,, ayo sayang bergerak cepat" Rega meraih buah kembar istrinya lalu mengulumnya.
Rintihan terdengar dari mulut Rini, untuk sejenak mereka menikmati perasaan nikmat yang begitu dahsyat sehingga melupakan masalah Djani.
Sementara itu didalam kamar yang lainnya, yang masih berada di dalam rumah itu. Djani tersenyum melihat Qaynaya yang menggeliat dan membuka matanya.
"Selamat malam sayang" Djani mencium kening istrinya dan berlama-lama mengecup bibirnya.
"Uuhhmmm,," Qaynaya menggeliat merasakan sentuhan tangan Djani yang telah menjelajahi tubuhnya. Reflek Qaynaya mendekap erat kepala Djani, karena gunung kenyalnya telah disambangi oleh lidah Djani.
"Sayang, aku sangat lapar" Qaynaya menciumi kepala suaminya yang berada dalam dekapannya. Djani menyudahi aksinya dan bangun.
"Diamlah sebentar, tunggu aku mengambil makanan"
"Sayang, bisakah kita mandi lalu kita makan diluar?, aku ingin dinner di luar denganmu. Sekalian kita mengunjungi Rani sebentar, aku belum pernah menjenguk anaknya"
"Aapppaa??!,, aku pikir baru memasuki waktu malam,, berarti aku tidur berjam-jam lamanya, mama Rini pasti khawatir karena aku tidak keluar dari kamar sejak pulang dari salon" Qaynaya mencari bajunya untuk ikut Djani keluar dari dalam kamar.
"Sayang, mama pasti sudah tidur, atau mungkin sedang berperang dengan ayah"
"Berperang?" tanya Qaynaya dengan polosnya, sepertinya dia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Kamu mau perang sama aku? kita lihat kamu bisa menahan serangan ku atau tidak"
"Aaahhh, ternyata kalian sama"
"Tapi kamu suka kan?"
"Iya" Qaynaya menjawab singkat dan menutupi wajahnya dengan selimut karena malu. Djani gemas lalu kembali mendekati Qaynaya.
"Makanya jangan terlalu menggemaskan, aku jadi ingin terus memakan mu. Terlepas dari kondisiku yang tidak normal karena aku tidak bisa menahan diri, tapi ini juga karena aku begitu mencintaimu, begitu tergila-gila pada tubuhmu" Djani mengacak rambut istrinya.
"Tunggu sebentar sayang, aku akan mengambilkan makanan. Kamu bisa berjalan untuk mencuci wajahmu?"
"Tentu saja" jawab Qaynaya sambil mengangguk, tapi dia masih bersembunyi di balik selimut.
Qaynaya tidak memungkiri rasa nikmat yang diberikan oleh Djani begitu luar biasa. Hanya saja Djani sering berlebihan. Semoga Djani mau segera menemui psikolog supaya bisa memahami hatinya sendiri dan bisa menahan diri.
Qaynaya berjalan perlahan menuju ke kamar mandi, masih terasa sedikit sakit, tapi tidak sesakit biasanya. Mungkin karena dia tidur cukup lama, sehingga tubuhnya cukup istirahat.
"Djani membiarkanku tidur begitu lama dan selalu disisiku, itu berarti sebenarnya dia bisa menahan diri. Ini semua karena kesalahanku yang meminta bantuan Doni saat aku berniat kabur, sehingga trauma Djani kembali dia rasakan. Eh iya ya,, sekarang Doni dimana dan bagaimana kondisinya setelah kecelakaan itu?, tapi aku tidak berani bertanya atau mencari tau tentang itu, Djani bisa kembali tidak terkendali" Qaynaya terus berbicara dalam hatinya sambil menyikat gigi dan mencuci muka serta berganti baju.
Saat keluar dari dalam kamar mandi, Djani sudah duduk di sofa, dengan banyak makanan diatas meja. Qaynaya tersenyum dan duduk di sebelah Djani.
"Apa mama Rini benar sudah tidur?" tanya Qaynaya sambil mengambil sebuah apel merah. Djani mengambil apel itu setelah Qaynaya memakan satu gigitan.
__ADS_1
"Makan nasi dulu, mau aku suapi? ini sudah pukul setengah satu malam, tentu saja mama sudah tidur" Djani menggigit apel dimana bekas gigitan Qaynaya berada. Qaynaya menggeleng dan mengambil sendiri makanan yang ingin dia makan.
"Sayang, nantinya aku boleh bekerja kan?, aku bisa bosan kalau hanya terus dirumah. Lalu bolehkah aku datang ke rumah mama Lilis?"
"Tentu boleh sayang, kapan kamu mau mulai bekerja? aku akan mengantarkan mu setiap hari, dan menjemput mu juga setiap kamu selesai bekerja, seperti dulu saat kita pacaran. Untuk kerumah mama Lilis, besok siang kita kesana ya" Djani membelai lembut rambut Qaynaya.
Nngggiiikkk nggiiikkkk nngggiiikkk
Qaynaya tiba-tiba cegukan karena sangat kaget dengan reaksi dan jawaban suaminya. Qaynaya pikir Djani akan marah dan melarangnya melakukan apapun. Djani tertawa melihat istrinya lalu mengambilkan minum.
"Sepertinya kamu benar-benar berfikir kalau aku adalah suami yang sangat kejam ya?" Djani menyuapi Qaynaya makan. Karena sangat terkejutnya, Qaynaya menghentikan aktifitas makannya.
"Aku memang sempat berfikir untuk melarangmu bekerja, karena aku bisa memberikan segalanya untuk mu. Tapi kalau alasan mu adalah bosan di rumah, aku tidak bisa mencari alasan. Aku akan mencarikan perusahaan yang cocok untuk mu, habiskan makanan mu lalu kita kembali istirahat"
"Kita baru saja bangun, masa mau tidur lagi?!" Qaynaya cemberut lalu mengambil sendok di tangan Djani.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sayang?" Djani merapatkan tubuhnya lalu menciumi leher istrinya.
"Djani,, kenapa kamu tidak makan? ayo makan dulu, nanti kamu sakit" Qaynaya menghalangi bibir Djani yang berniat untuk meminta minum padanya.
"Aku menunggumu untuk menyuapiku, tapi kamu tidak peka juga, jadi lebih baik aku meminta minum pada mu, minuman yang sangat murni dan menyehatkan" Djani mencoba untuk membuka kancing baju istrinya.
"Makan dulu sayang, sini aku suapi,, cintaku ini sangat manja sekali. Awas saja kalau berani bersikap manja pada wanita lain" Qaynaya lalu menyuapi suaminya, mereka makan bersama sambil mengobrol.
"Apa menurutmu aku perlu untuk pergi ke psikolog?" tanya Djani sambil menyusupkan tangannya pada baju Qaynaya.
"Sayang, kan janji mau makan dulu" Qaynaya merinding ketika Djani meremas lembut perut nya, dan tidak lama menyusup masuk ke sela-sela pahanya.
"Iya,, ini juga aku sambil makan, lagipula yang mengunyah makanan kan mulutku, bukan tanganku"
"Sayang sakit, jangan pakai jari dulu, selesaikan makan baru kita lakukan apa yang kita inginkan"
"Kamu bilang apa?" Djani kaget mendengar ucapan Qaynaya.
"Yang mana?" Qaynaya kebingungan dengan pertanyaan suaminya.
"Kamu bilang lakukan apa yang kita inginkan,, bukan menunjuk pada ku tapi kita?"
"Tentu saja sayang, aku wanita normal, aku juga menginginkan hal itu, apalagi aku mempunyai suami perkasa seperti dirimu. Mungkin kamu tidak tau karena aku belum pernah mengatakannya, tapi aku juga ketagihan dengan apa yang kamu lakukan" Qaynaya berbisik ditelinga Djani dan sedikit menggigit telinga suaminya itu.
"Apa ini karena kamu mengasihani kondisiku?" Djani terlihat sedih dan tidak mau makan lagi. Qaynaya merasakan sakit di hatinya, karena Djani begitu sangat tidak mempercayai ucapan nya.
"Aku tidak mau kalau sampai kamu melakukan konsultasi dengan psikolog karena diriku. Lakukanlah untuk dirimu sendiri sayangku, aku tau perasaan tidak percayamu padaku, itu pasti menyiksa hatimu" Qaynaya meletakkan sendok yang dia pegang lalu menggenggam tangan suaminya.
"Kamu pasti sangat kecewa dan menganggap bahwa aku adalah pria yang sangat lemah?" Djani menatap sendu ke arah Qaynaya.
"Tidak sayang,, bagaimana mungkin aku berfikiran seperti itu? kalau aku yang mengalaminya, pasti aku sudah mati. Dengan kamu sanggup bertahan, itu berarti kamu sangat kuat" Qaynaya mencium kedua telapak tangan Djani.
"Jangan tinggalkan aku, aku berjanji akan berubah" Djani lalu mendekatkan wajahnya, dan gantian dia yang menciumi tangan Qaynaya.
"Apa kalian sudah menemukan tempat tinggal Djani atau Rini?"
"Tentu saja,, ini alamat dan foto rumah yang saat ini ditempati oleh mereka"
"Apa istrinya Djani juga tinggal di rumah itu?"
"Tentu saja"
__ADS_1
"Sepertinya Rini telah menerima menantunya, dan itu lah sebabnya aku dicampakkan begitu saja. Lihatlah kalian semua. Aku akan segera datang dan menghancurkan kebahagiaan kalian"