Kesepian

Kesepian
Qaynaya Sudah Menikah Lagi


__ADS_3

"Mulai sekarang jangan banyak bergerak, apalagi melakukan sesuatu, yang harus kamu lakukan hanya diam saja.


"Aku akan bosan nantinya, biarkan aku melakukan sesuatu, lagipula bayiku sangat kuat, buktinya dia terus menemaniku sampai sejauh ini"


"Dia memang sangat kuat, maka dari itu, kamu juga harus kuat, dan jaga kesehatan serta kondisi mu, demi bayimu sendiri"


💙💙 9 Bulan Kemudian 💙💙


"Serllliii, perutku sangat sakit" Qaynaya memegangi perutnya lalu mengetuk pintu kamar yang ditempati Serli.


"Apa ini sudah waktunya?" tanya Serli panik, lalu segera mengambil tas bayi yang sudah terisi penuh dengan barang-barang untuk keperluan melahirkan.


Doni yang pagi itu mendapatkan tugas berjaga di cafe, tidak mengetahui bahwa Qaynaya akan melahirkan. Serli memapah Qaynaya lalu segera membawanya masuk kedalam sebuah taksi yang sudah dipesannya.


"Tahan Qay" Serli mengelus lembut punggung Qaynaya supaya meringankan rasa sakitnya, karena sudah tau apa yang harus dilakukan, Qaynaya tidak manja dan terus mengatur nafasnya seperti anjuran dokter saat terakhir kali kontrol kehamilan.


"Jangan panik saat merasakan kontraksi, cukup tarik nafas lalu hembuskan, dan lakukan berulang"


Ucapan dokter masih terngiang di telinga Qaynaya, dia mencoba untuk menerapkannya. Setelah beberapa jam perjuangan Qaynaya akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Tapi wajahnya mengingatkan nya pada Djani, karena begitu sangat mirip.


Walau ada kebencian dihatinya, karena mengira Djani menikah lagi, tapi di lubuk hati nya juga menyimpan rasa rindu yang begitu besar pada lelaki yang merupakan ayah biologis dari anaknya.


Qaynaya menangis haru saat melihat anaknya yang begitu lahir langsung di tengkurap kan di atas dadanya, sungguh kesepiannya selama ini langsung menghilang, begitu melihat bayi mungil nan lucu tersebut.


Tangisan bahagia juga tidak lepas dari bibir Serli, dia terus memanggil dirinya sendiri sebagai aunty.


"Bayi, bayi, bayi, sini lihat aunty sayang" Serli begitu antusias bahkan berniat menggendong bayi yang masih bergerak-gerak diatas dada Qaynaya.


"Jangan dulu nona, biarkan bayinya bersama mamanya terlebih dahulu" salah satu suster melarang apa yang akan dilakukan oleh Serli.


Setelah semua prosedur telah selesai, Qaynaya diperbolehkan pulang setelah dua hari di rumah sakit bersalin. Qaynaya masih menolak untuk berpindah kesebuah rumah, karena menurutnya, cafenya baru saja berkembang, jadi masih harus lebih banyak bersabar, supaya kondisinya stabil.


Untuk menyewa sebuah rumah, mungkin ada uangnya, tapi Qaynaya berfikir untuk sementara mereka bertahan dahulu di penginapan yang selama ini mereka tinggali.


Dulunya hanya akan sebentar tinggal di penginapan tersebut, tetapi ternyata pemilik penginapan mengizinkan untuk tinggal semau mereka, lagipula pembayaran yang dilakukan Qaynaya selalu tepat waktu.


Dari pada sepi tidak ada yang menempati, lebih baik terus disewakan saja, Qaynaya dan Serli juga selalu menjaga kebersihan, membuat pemilik penginapan sangat menyukai mereka.


"Bayinya sangat lucu, tapi apakah tidak apa-apa kalau terus tinggal disini? bukannya aku melarang, karena aku berfikir kalau pasti akan sangat sepi kalau kalian pergi, penginapan ini tidak terlalu bagus, jadi jarang yang mau menginap disini, tapi kalian tetap bertahan, aku sangat senang karena bisa meneruskan usaha ini. Hanya saja saat ini, sepertinya kasihan anakmu kalau tinggal ditempat sempit seperti ini" pemilik penginapan memperhatikan bayi Qaynaya yang tidur dengan pulas nya dalam gendongan mamanya.


"Untuk sementara kami masih akan disini kakak, apa tidak apa-apa dan menjadi masalah? karena pasti akan menjadi sedikit berisik dengan suara bayi" Qaynaya merasa sedikit sungkan, tapi mau bagaimana lagi, mereka harus lebih mengirit, apalagi dirinya baru saja membayar biaya bersalin yang tidak sedikit.


"Tentu saja boleh, jangan menghawatirkan hal itu, lagipula ditempat ini tidak banyak kamar yang ditempati, sudah sekarang sana beristirahat"


"Baik kakak, terimakasih" Qaynaya lalu masuk kedalam kamarnya, Serli membantu membukakan jendela lalu berniat untuk menggendong bayi.


"Kamu itu masih sangat lemah, mana ada orang yang sehabis melahirkan menggendong bayinya sendiri, sekarang beristirahatlah, biar aku yang menjaga bayinya"


"Terimakasih Serli, aku mungkin tidak akan bisa bertahan tanpamu" Qaynaya memegangi lengan Serli, lalu menggesekkan pipinya ke lengan Serli, membuat sang empunya lengan merasa kegelian.


"Kamu seperti kucing saja, sudahlah jangan terlalu mellow, mungkin memang kita ditakdirkan untuk saling melengkapi, karena aku juga merasakan hal yang sama, kalau bukan karena mu, aku tidak mungkin sanggup bertahan sejauh ini. Bahkan aku melupakan masalahku karena focus menjagamu dan usaha kita. Bisa dikatakan, aku sembuh karena dirimu. Kalau tidak seperti ini, aku akan terpuruk dalam kesedihan karena merasa tidak berguna. Aku juga harus mengucapkan banyak terima kasih padamu" Serli mencium kepala Qaynaya dengan sayang, layaknya ke adiknya sendiri.


"Kamu sangat kuat dan juga hebat, sekarang tidurlah. Jangan khawatirkan bayimu, aku akan menjaganya dengan baik" Serli mengambil bayi dalam gendongan Qaynaya, lalu membawanya ke dalam kamarnya.


Setelah sendirian lagi, Qaynaya kembali mengingat Djani, apalagi buah hati mereka telah lahir ke dunia ini.


"Apa kamu bodoh Qay, istri barunya juga pasti sudah melahirkan, dan mana mungkin dia masih mengingat akan dirimu. Kamu harus sadar, dan hanya fokuslah pada anakmu" gumam Qaynaya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.



"Apa sudah ada kabar baik?" tanya Rega pada Djani.



"Belum ayah, disini tidak ada jejaknya sama sekali, sepertinya dia pergi ke negara TF, aku akan segera kesana, entah kenapa selama dua hari ini aku merasakan ketegangan dan kebahagiaan yang tiba-tiba menyeruak masuk kedalam hatiku, aku tidak mengerti apa sebabnya. Mungkin karena kerja sama kita dengan beberapa perusahaan di negara ini berjalan dengan lancar dan sukses besar"



"Ayah tidak terlalu senang mendengarnya, bukan karena ayah tidak tidak menghargai kerja kerasmu, tapi ayah hanya berharap, kamu segera menemukan Qay. Mama mu terus saja menanyakan Qay setiap saat. Dan ada kabar bagus Djani, masa tahanan mamamu dipangkas, karena mamamu berkelakuan baik, dan sepertinya pengadilan juga terpengaruh oleh media, yang meminta kepolisian untuk segera membebaskan mamamu, karena kekerasan yang mamamu lakukan, tidak sebanding dengan perbuatan wanita sundel bolong itu"



"Jadi kapan tepatnya mama akan dibebaskan? apa aku sebaiknya pulang terlebih dahulu saat mama keluar dari penjara?" Djani begitu bahagia, semoga setelah ini, dia cepat menemukan keberadaan Qaynaya.



"Tidak perlu, sebaiknya kamu terus focus pada pencarian Qaynaya, dan segera bawa pulang"



"Baiklah ayah" Djani menutup sambungan telepon, lalu segera memesan sebuah tiket pesawat untuknya berangkat ke negara TF.



Djani langsung terbang ke negara TF setelah mendapatkan tiket, dinegara itu kebetulan Sasha dan suaminya tinggal dan menetap. Tapi Djani menolak untuk di ajak tinggal dirumah Sasha, karena Djani tentu saja tidak mau mengganggu sahabatnya itu.



Mereka hanya berencana untuk sesekali bertemu disaat ada waktu luang, seperti siang ini, mereka bertemu disebuah cafe.



"Kamu semakin kurus saja, apa Qay sama sekali belum diketahui keberadaannya?" tanya Sasha setelah duduk dihadapan Djani yang sudah menunggunya.



"Belum, tapi aku sangat yakin kalau dia ada di negara ini" Djani menjawab sambil focus melihat kearah mahluk kecil yang berada dalam pangkuan Sasha.



"Siapa dia?" tanya Djani.



"Anakku, kamu ini adalah seorang paman yang tidak sopan, bukannya datang menjenguknya tapi bahkan tidak mengenalinya"



"Maafkan aku, aku terlalu sibuk, sepertinya Neli pernah mengatakan kalau kamu sudah mendekati masa persalinan saat kami melakukan panggilan telepon"



"Sepertinya dia ingin kamu memangku atau menggendongnya, lihatlah dia terus memperhatikan mu, lagipula aku sangat lapar, tolong asuh sebentar, aku ingin makan" Sasha lalu menyerahkan anaknya pada Djani.



Karena baru pertama kali memangku bayi, Djani tidak tau harus bagaimana, tapi untuknya ada sebuah mainan yang disodorkan pada bayi itu, hingga tidak menangis saat dalam pangkuan Djani.



Mereka terus berbincang-bincang hingga telepon Sasha berbunyi, panggilan dari suaminya yang memintanya untuk pulang.



"Suamiku mengatakan untuk membawamu kerumah, dia minta maaf karena hari ini belum sempat menyapamu" Sasha bersiap untuk segera pulang.



"Besok lagi saja kapan-kapan, aku harus focus mencari istriku" Djani juga bangkit dari duduknya, lalu mereka keluar dari cafe bersama-sama.



Djani hendak memasuki kamar hotel yang sudah dia pesan, dan saat itu datanglah Sezkia yang berpura-pura kaget melihat keberadaan Djani.



"Bagaimana bisa kita bertemu juga ditempat ini, sepertinya kita benar-benar berjodoh" Sezkia mendekati Djani dan berniat memegang lengannya, tapi Djani tanpa merasa bersalah sedikitpun walaupun yang dia hadapi adalah wanita, dengan kekuatannya Djani mendorong Sezkia, hingga wanita itu sedikit terpental.



"Kebetulan itu tidak terjadi seperti ini, aku tau kalau kamu mengikuti ku, tapi sekali lagi tolong camkanlah dengan baik. Aku tidak sudi walau hanya melihatmu, jadi enyahlah, dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" Djani dengan cepat lalu masuk kedalam kamarnya, lalu menguncinya. Dia merasa sangat geram karena Sezkia terus muncul di sekitarnya.



"Dari pada aku kesal karena ulah wanita itu, lebih baik aku memikirkan cara untuk mencari tau dimana Qay tinggal di negara ini" gumam Djani, lalu membuka laptopnya.



Djani memasukkan video saat dia menghukum Geby di acara pernikahan, dia berharap Qaynaya bisa melihatnya kalau berita itu ada di berita dalam negeri ini, walau kemungkinannya sangat kecil, karena dari dulu Qaynaya tidak suka melihat berita saat masa pelariannya.



💞💞 5 Bulan Kemudian 💞💞


__ADS_1


Tidak terasa Djani sudah berada di negara TF selama lima bulan, tapi masih tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya, seperti biasanya, seminggu sekali, Djani akan bertemu dengan Sasha dan anaknya.



"Sabar bro, yakinlah pada hatimu. Apa yang bisa aku bantu?" suami Sasha yang kali ini ikut datang menawarkan bantuannya.



"Suamiku bekerja di bidang penyiaran, dia bisa membantumu untuk mencarinya di media, apa kamu berminat?" Sasha kembali menyerahkan anaknya untuk dipangku oleh Djani, karena dia akan makan.



"Apa aku terlihat seperti pengasuh?!" tanya Djani kesal saat melihat Sasha sedang asyik menyuapi suaminya makan.



"Tapi kamu sangat pantas, lihat saja itu, baby Ardi begitu anteng dalam pangkuan mu" Sasha tertawa geli, sesekali dia makan diselingi dengan menyuapi suaminya.



Tidak adanya keluarga disamping Djani, itu sudah biasa baginya, tapi keberadaan Sasha dan keluarganya, sanggup membuatnya menjadi sedikit hiburan ditengah kesepian dan kekalutannya dalam pencarian sang istri yang sudah setahun lebih tapi tidak juga membuahkan hasil yang diperoleh.



Saat Djani tengah tersenyum bersama dengan Ardi yang juga tersenyum dalam pangkuannya, Sasha memotretnya diam-diam. Mereka lalu kembali berpisah setelah waktu semakin sore.



Serli datang dengan hebohnya dan memperlihatkan video tragedi pernikahan Djani dengan Geby.


Qaynaya menangis melihatnya karena dia telah kembali salah paham, Serli menyuruhnya untuk kembali dan pulang, tapi Qaynaya tidak mungkin egois, kalau dia pergi, bagaimana nanti dengan Serli, selama ini mereka saling menguatkan, jadi Qaynaya sangat yakin kalau Serli tidak akan baik-baik saja tanpanya.


Tapi belum juga kebahagiaan itu bertahan lama, tiba-tiba di televisi yang berada di ruangan resepsionis dimana saat ini Qaynaya dan Serli tengah berdiri, disiarkan berita pernikahan Djani di negara ini.


"Seorang putra konglomerat di negara yang cukup jauh dari negara ini, saat ini tengah viral karena videonya yang baru-baru ini tersebar luas dan membuat semua orang penasaran. Putra konglomerat tersebut sepertinya sudah move on dari istrinya yang sudah setahun lebih meninggalkan nya karena salah paham. Jadi saat ini putra konglomerat itu berencana untuk menikah lagi dengan pujaan hatinya yang baru di sebuah hotel terbesar di negeri ini" ucapan seorang pembawa berita begitu lantang terdengar oleh telinga Qaynaya dan Serli, berita itu juga disertai dengan video Djani yang baru saja dilihat oleh Qaynaya dan Serli.


"Dasar lelaki, setahun saja tidak kuat!" teriak Serli lalu dengan marah langsung menarik tangan Qaynaya menjauhi televisi.


"Sudahlah, dia itu pria normal, mana mungkin sanggup bertahan lebih dari setahun, tidak apa-apa. Karena aku sudah tau kebenaran tentang pernikahan nya dengan Geby. Kalau saat ini dia menikah lagi, itu bukan lagi kesalahan nya, karena aku yang meninggalkan dirinya, jadi sudah tidak perlu lagi membicarakannya lagi. Semuanya sudah terjadi, kita hanya perlu melanjutkan hidup" Qaynaya berjalan pelan masuk kedalam kamar yang selama ini ditempatinya.


Qaynaya sebenarnya sangat bersedih dan ingin menangis, tapi begitu melihat anaknya, kesedihan itu berangsur menghilang, setelah melihat ke sekitar ruangan kamar yang ditempatinya, akhirnya saat ini Qaynaya memutuskan untuk pindah, karena sepertinya sudah tidak memadai lagi tempatnya.


Barang-barang milik anaknya semakin banyak, apalagi saat nanti semakin besar, Qaynaya lalu mengatakan apa yang di pikirkan nya pada Serli, yang tentu saja langsung disetujui, karena selama ini sebenarnya Serli sudah sangat ingin pindah dari tempat yang menurutnya sangat sempit.


Mereka lalu berpamitan, dan memberikan uang sewa senilai tiga bulan sebagai tanda terima kasih karena diizinkan tinggal di penginapan itu selama ini.


"Ini tidak perlu Qay, setiap bulan juga kamu sudah memberikan lebih" pemilik penginapan merasa sungkan untuk menerimanya. Tapi Qaynaya meyakinkannya dan memaksa pemilik penginapan untuk menerimanya.


"Terimalah kakak, ini bahkan sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan kebaikan kakak selama ini, tapi hanya ini yang sanggup kami berikan. Dan kami juga tidak akan langsung pergi sekarang juga, karena kami masih harus berkemas dan mencari-cari rumah untuk kami tinggal nantinya, tolong izinkan kami sampai kami mendapatkan rumah ya kak"


"Tentu saja, kalian lakukan saja dengan santai dan perlahan, memilih rumah jangan asal-asalan, karena nantinya kalian akan rugi, ini kakak terima uangnya, terimakasih banyak ya Qay"


"Sama-sama kakak" Qaynaya lalu kembali masuk kedalam kamarnya lalu bersiap untuk keluar setelah menitipkan anaknya pada Serli.


"Aku akan mencari rumah yang dekat dengan cafe kita, jadi kita tidak perlu jauh berjalan saat akan bekerja" Qaynaya lalu pergi setelah memastikan anaknya tidak rewel saat ditinggal.


Hari itu Qaynaya tidak mendapatkan rumah yang bisa disewakan perbulan, karena kebanyakan rumah di daerah itu disewakan pertahun. Qaynaya tidak mau mengambil resiko mengambil sewa pertahun, karena dia takut tidak cocok di tengah jalan, atau bisa saja terjadi apapun yang mengharuskannya untuk berpindah tempat lagi.


Qaynaya pulang dan belum berhasil mendapatkan rumah untuk disewa, Serli juga sadar kalau mencari sebuah rumah itu tidak mudah, tidak mungkin satu hari langsung dapat. Saat mereka mencari lahan untuk cafe mereka, bisa dikatakan kalau mereka sangat beruntung, karena bisa dengan cepat mendapatkan nya.


Setelah hampir seminggu, akhirnya Qaynaya dan Serli baru bisa mendapatkan rumah dengan sewa bulanan. Mereka segera berpamitan kepada pemilik penginapan.


"Akhirnya, kita benar-benar bisa dikatakan hidup!" Serli berteriak begitu senang saat memasuki rumah baru mereka, walau itu hanya rumah sewa, tapi tentu saja itu sangat berbeda dengan penginapan.


Mereka menentukan kamar, dan karena dirumah itu hanya ada dua kamar. Serli meminta Qaynaya untuk menempati kamar yang lebih luas, karena nantinya akan ada boks bayi di dalamnya, jadi supaya Qaynaya dan anaknya lebih nyaman.


"Apa kalian tidak keberatan?" tanya Qaynaya pada Serli dan Doni.


"Tentu tidak, kenapa kami harus keberatan?" tanya Serli balik.


"Karena kemungkinan kalian juga akan segera memiliki momongan, lalu bagaimana kalau kita melakukan resepsi pernikahan kalian setelah ini. Bagaimana bisa kalian hanya menikah secara agama saja?" ujar Qaynaya lalu duduk di sebuah sofa.


"Untuk apa Qay? resepsi itu hanya ditujukan supaya para kolega, saudara atau keluarga bisa datang dan mengetahui suatu pernikahan, lalu menurutmu untuk apa kami melakukan resepsi? seperti ini juga sudah cukup. Dan untuk momongan, kami sudah berusaha keras, hanya mungkin kami belum beruntung" Serli lalu memberikan susu pada anak Qaynaya yang terdengar menangis.


"Baiklah kalau itu mau kalian, tapi jangan lupa undang aku saat kalau kalian melakukan resepsi pernikahan"


"Itu mungkin terjadi kalau kita pulang ke negara asal kita, yang entah kapan. Karena aku merasa semakin nyaman tinggal di negara ini" Serli menuju dapur dan memeriksa semua ruangan. Mereka sangat puas dengan rumah yang mereka sewa.


"Qay, cafe kita semakin ramai, sepertinya kita butuh untuk bekerja sama dengan cafe atau perusahaan lain, supaya cafe kita lebih kuat, kebetulan beberapa hari ini ada yang mengajak kita untuk bekerja sama, apa kamu mau menerimanya?" Doni yang baru datang ikut berbicara, sekarang mereka bisa lebih bersantai, karena sudah memiliki pegawai, mereka hanya harus bergantian untuk memantau dan ikut membantu melayani pelanggan, karena pegawai mereka sebenarnya belum mencukupi, hanya saja untuk mengambil karyawan tambahan, mereka belum berani, karena mereka khawatir tidak sanggup menggajinya.


"Jangan dulu Doni, aku takut mereka hanya mencari keuntungan saja dari kita. Kita harus berhati-hati, apalagi disini kita hanya pendatang, dan tidak tau apapun, entah mereka rival atau teman" jawab Qaynaya, lalu memasuki kamar yang akan dia tempati bersama dengan anaknya.


"Aku merasa menemukan jalan buntu, karena Qay tidak juga diketahui keberadaannya, tapi aku juga bingung harus mencari kemana lagi" Djani menelepon ayahnya, Rega lalu memberikan semangat.


Djani berjalan dengan lesu masuk kedalam sebuah cafe yang biasa digunakan untuk bertemu dengan Sasha, ruangan yang bersekat, membuat nya tidak bisa melihat, bahwa dibalik ruangan yang sedang dia duduki untuk menunggu kedatangan Sasha, tengah duduk seorang wanita yang begitu dia rindukan.


Qaynaya sedang meeting dengan pemilik cafe itu, mereka membicarakan tentang kerja sama. Setelah berfikir panjang, dan mengetahui ada salah satu cafe yang bisa dipercaya dan juga sangat besar, mengajaknya bekerja sama, Qaynaya akhirnya menerima tawaran tersebut.


"Kami hanya ingin mengambil dua menu yang ada di cafe nona, untuk dijual juga di cafe ini, begitu juga sebaliknya. Nona bisa memilih dua menu yang bisa nona jual di cafe nona, kita bisa saling menguntungkan, karena pengunjung kami sering menanyakan menu yang ada di cafe nona"


"Baiklah saya terima kerja sama ini, supaya menu di cafe kita menjadi lebih beragam, tapi jangan lupa untuk menuliskan bahwa menu tersebut adalah milik saya di buku menu nyonya, begitu juga sebaliknya, dua menu yang nantinya akan saya pilih dan saya jual di cafe saya, maka akan saya sertakan pemilik resepnya yang asli, jadi kita bisa saling melakukan promosi" Qaynaya tersenyum lalu berjabat tangan dengan pemilik cafe itu, mereka lalu menyudahi pertemuan, karena dirasa pembicaraan mereka sudah cukup memuaskan.


Djani kesal karena menunggu Sasha cukup lama, dia lalu pergi, hanya berbeda beberapa saat dari Qaynaya keluar dari ruangan, dimana baru saja dia meeting.


Bbbrruuukkkk


Ada seseorang yang menubruk Qaynaya hingga membuatnya mundur, dan saat mereka saling berpandangan, mereka tersenyum karena saling mengenali.


"Qayyy!"


"Sasha"


Mereka lalu berpelukan dan duduk, Sasha celingukan mencari keberadaan Djani, tapi tidak dia temukan di tempat biasanya. Sasha memang terlambat datang bertemu dengan Djani, karena tadi anaknya rewel, bahkan saat ini dia sendiri tanpa anaknya, karena anaknya tidak mau dibawa pergi, karena mengantuk dan tertidur di rumah.


"Kenapa aku baru bertemu denganmu di negara ini? kamu tinggal di daerah mana? apa kamu sudah bertemu dengan Djani? oh iya sepertinya kamu ingin melihat foto Djani saat ini" Sasha terus berbicara tanpa titik dan koma, serta langsung menunjukkan foto Djani yang sedang memangku Ardi.


Berbarengan dengan Qaynaya melihat foto Djani yang tengah tersenyum dengan seorang anak kecil, ponsel Sasha menunjukkan ada seseorang yang menelepon.


"Iya, ada apa sayang?" Sasha berbicara dalam sambungan telepon, sepertinya suaminya telah menelepon nya.


"Appaaa??!!" Sasha bangkit dari duduknya.


"Qay, aku harus pergi saat ini juga, ada urusan yang sangat genting. Besok kita bertemu disini lagi bersama dengan Djani, aku tunggu!!" Sasha berlari dan meninggalkan Qaynaya yang termenung setelah melihat foto Djani tadi.




"Apa kamu yakin?!" Djani berlarian kembali masuk ke dalam cafe, begitu mendapatkan kabar dari Sasha, tapi saat tau disana tidak ada Qaynaya, Djani frustasi lalu meninju sebuah kursi.



"Seandainya tadi aku tidak cepat pergi, pasti aku sudah menemukannya, bodohnya aku!" Djani marah pada dirinya sendiri, dan karena ulahnya, dia ditegur pemilik cafe.



"Maafkan saya, oh iya, untuk besok saya akan memboking tempat ini seharian, berapa yang harus saya bayar?" tanya Djani sangat tidak sabar, dia ingat saat tadi Sasha mengatakan, akan bertemu lagi dengan Qaynaya besok.



Pemilik Cafe memberikan harga lalu menu apa saja yang harus dihidangkan.



"Apapun yang paling enak, aku akan membayar ekstra" jawab Djani, lalu mengeluarkan black card nya.



"Maaf tuan, disini tidak bisa menggunakan kartu itu, kami belum punya alatnya, bisakah tuan menggunakan transfer antar bank saja?"



"Baiklah" jawab Djani lalu memasukkan kembali kartunya dan mengeluarkan ponselnya.



Djani begitu tidak sabar untuk bertemu dengan Qaynaya, bahkan kalau bisa dia tidak akan kembali ke hotel dimana selama ini dia menginap, tapi pemilik cafe tidak mengizinkan nya, dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu.



Pagi harinya, Djani menerobos masuk kedalam cafe, bahkan cafe belum siap dan sedang dibersihkan, tapi Djani mengatakan kalau dia tidak akan mengganggu dan hanya akan duduk diam. Menjelang siang, barulah Sasha datang dan heran dengan Djani yang terus tersenyum tidak seperti biasanya.



"Sangat menakutkan melihatmu seperti ini" ujar Sasha lalu duduk di depan kursi yang diduduki oleh Djani.

__ADS_1



"Apa dia masih seperti dulu? ataukah dia semakin cantik?" tanya Djani pada Sasha.



"Dia semakin gendut, aku bahkan hampir tidak mengenalinya" jawab Sasha yang membuat Djani kesal karena sahabatnya itu bercanda.



"Memang kenapa kalau dia semakin gendut? karena setiap wanita yang pernah hamil dan melahirkan, pasti bentuk tubuhnya berbeda dari saat dia masih gadis, lihat saja diriku" ujar Sasha dengan santainya lalu memakan donat yang ada di hadapannya.



"Tapi dia keguguran" jawab Djani dengan sedih, membuat Sasha merasa tidak enak.



"Maaf, aku tidak berniat seperti itu. Qay semakin cantik, dia bahkan memancarkan aura wajah yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata" ujar Sasha mengingat tentang pertemuan singkat nya dengan Qaynaya. Kemarin dia buru-buru pergi lagi, karena mendapatkan kabar bahwa anaknya bangun dari tidurnya dan mengamuk.



Djani tersenyum mendengarnya lalu melihat potret Qaynaya didalam ponselnya.



"Bagaimanapun rupa wajah dan bentuk tubuhnya saat ini, aku sangat yakin, kalau aku tetap akan selalu mencintai nya"



"Tapi dia kembali meninggalkan dirimu tanpa minta penjelasan, apa kamu tidak marah atau kesal?" tanya Sasha pelan, karena tidak mau menyinggung perasaan sahabatnya.



"Bagaimana bisa aku tidak marah atau kesal? tentu saja aku sangat membencinya. Karena dia kembali meninggalkan diriku, itu adalah hal yang paling aku benci di dunia ini. Itulah sebabnya aku terus mencarinya, karena rasa benciku terus bertumbuh menjadi kerinduan yang semakin tidak sanggup lagi untuk ku tahan" Djani membelai lembut wajah Qaynaya di dalam ponselnya. Sasha hanya terdiam, tidak bertanya apapun lagi, karena dia sudah sangat paham, akan besarnya cinta Djani pada Qaynaya.



Hari sudah menunjukkan senja, tapi Qaynaya tidak juga datang, Djani terlihat begitu sedih. Sasha tidak bisa berbuat banyak, karena tidak tau apa lagi yang bisa dia lakukan.



Seandainya saja kemarin dia sempat meminta alamat Qaynaya sebelum pergi, pasti itu akan memudahkan Djani mencari istrinya.



"Sudahlah, lebih baik kamu pulang, kasihan anakmu" ujar Djani lalu bangkit dari duduknya untuk menuju ke kamar kecil.



Djani menangis didalam kamar kecil di area cafe itu, hatinya tidak kuat menanggung kesedihan. Dia sudah sangat berharap bisa bertemu dengan Qaynaya. Sementara itu Qaynaya sengaja tidak datang, karena dia merasa hanya akan sakit hati jika bertemu dengan Djani.



Qaynaya mengingat berita yang sempat dia dengar, berita yang menyatakan bahwa Djani akan melangsungkan pernikahan di negara ini, jadi untuk apa lagi dia menemui Djani.



👀👀 2 Bulan Kemudian 👀👀



Djani setiap hari datang ke cafe dimana Qaynaya bertemu dengan Sasha, berharap dia bisa menemukannya ditempat itu, tidak lupa dia juga mengerahkan beberapa orang untuk mencari Qaynaya di seluruh negara TF.



"Tuan, ada menu baru, mungkin tuan mau mencobanya, ini menu baru, hasil kerja sama dengan sebuah cafe dari daerah yang lumayan jauh dari sini, tapi didaerahnya, menu ini sangat viral" pelayan yang sudah hafal dengan Djani karena seringnya Djani datang ketempat itu, menawarkan menu baru yang sudah lulus seleksi pemilihan, dari kerja sama cafe tersebut dengan cafe Qaynaya.



"Apa nama menunya" jawab Djani singkat karena sebenarnya dia malas untuk makan, dia datang ke cafe itu hanya untuk menunggu kedatangan Qaynaya.



"JasukeQay, ini jajanan manis dengan bahan dasar jagung, jadi sangat sehat dan mengenyangkan"



"Apa nama menunya!?" tanya Djani kaget, dan bertanya lagi untuk memastikan pendengaran nya, karena nama ujung dari menu baru tersebut sangat dia kenali, dan nama itu tidaklah pasaran di negara ini.



"JasukeQay" ucap pelayan itu mengulangi.



Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Djani merebut buku menu yang ada di tangan sang pelayan cafe tersebut, Djani mencari menu yang baru saja dia dengar.



"Dimana letaknya cafe Qayli ini?" tanya Djani menunjukkan nama cafe milik Qaynaya yang tercantum di bawah nama menu milik Qaynaya.



Qayli adalah singkatan dari Qaynaya dan Serli, nama itu dipilih oleh Qaynaya sebagai nama cafenya. Setelah mendapatkan alamat cafe Qaynaya, Djani memberikan beberapa uang pada pelayan cafe itu lalu langsung meluncur pergi ke alamat yang dia dapatkan.



Djani membutuhkan waktu lama untuk bisa sampai ketempat dimana cafe milik Qaynaya berada, dan begitu sampai, dia sangat marah karena melihat Qaynaya sedang tertawa bersama dengan Doni, kebetulan mereka sedang bergantian shift.



Djani marah dan mendekati mereka, Qaynaya membelalakkan matanya begitu melihat Djani, lalu dengan gerakan cepat, dia menggandeng tangan Doni.



"Lepaskan tanganmu darinya!!" teriak Djani, tapi Qaynaya tidak menggubrisnya dan membalas dengan perkataan yang membuat Djani terdiam.



"Kenapa aku tidak boleh menggandeng lengan suamiku sendiri, jangan ganggu kami lagi. Sekarang pergilah dari tempat ini, kedatangan mu tidak diharapkan di tempat ini!" jawab Qaynaya. Djani diam lalu segera kembali ke mobilnya dan melaju kencang pergi dari tempat itu.



"Kenapa kamu seperti ini? kasihanilah dia. Bukankah kita sudah tau yang sebenarnya. Mungkin dia hanya ingin menjelaskan secara langsung sebelum dia memasuki kehidupan barunya" ujar Doni begitu Qaynaya melepaskan tangannya.



"Tidak, biarkan kami seperti ini. Maafkan apa yang tadi aku lakukan padamu. Aku tidak sanggup menghadapinya" ujar Qaynaya yang terlihat tengah menahan tangisannya.



"Aku akan bekerja kembali, sudah pulang saja sana" Doni sebenarnya yang harus pulang, sementara Qaynaya baru datang, tapi melihat kondisi Qaynaya, tidak mungkin wanita yang pernah menjadi istrinya itu bisa bekerja dengan benar. Qaynaya menurut lalu segera pulang setelah mengucapkan terima kasih.



Malam itu, baik Djani maupun Qaynaya menangis di atas ranjang mereka masing-masing. Pagi harinya Djani datang kembali ke cafe milik Qaynaya, tetapi disana tidak ada siapapun yang dia kenal, Djani lalu meminta alamat Qaynaya, dan tanpa curiga, pegawai Qaynaya langsung memberikannya.



Hari ini sepertinya Qaynaya dan Serli serta Doni, tidak berniat untuk bekerja, karena mulai kemarin, mereka memutuskan untuk mengambil pegawai part time, yang dipekerjakan dihari minggu saja, jadi dihari minggu, Qaynaya dan para sahabatnya bisa bersantai.



Doni dan Serli pergi mengajak anak Qaynaya untuk jalan-jalan, karena tau Qaynaya tengah bersedih setelah pertemuannya dengan Djani. Setelah beberapa saat kepergian Doni dan Serli, Djani datang kerumah dimana Qaynaya tinggal.



"Aku tidak perduli dengan apapun" gumam Djani lalu keluar dari dalam mobilnya.



Karena pintu yang tidak tertutup rapat, membuat Djani dengan mudahnya masuk kedalam rumah Qaynaya.



Mendengar sebuah suara, Djani mendekat ke arah sumbernya, dan dari celah pintu yang lagi-lagi tidak tertutup rapat, Djani bisa melihat Qaynaya sedang merapikan kamarnya.



Djani langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya.



"Aa,, aapppa yang kamu lakukan, bagaimana bisa kamu ada disini!!" Qaynaya menoleh kaget begitu mendengar bunyi pintu kamarnya dikunci, dan jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, saat mengetahui siapa yang sedang berulah.

__ADS_1



"Menjauh dariku!!" Qaynaya berteriak saat Djani semakin mendekatinya.


__ADS_2