Kesepian

Kesepian
Arka Berulah


__ADS_3

"Itu tidak mungkin!!" Djani menghalangi Qaynaya yang berada di depan Arka.


"Apa kamu tidak tau berita apapun? perusahaan milikmu yang satu itu, sudah menjadi milikku, dan sepertinya kamu juga tidak tau akan kondisi kedua orang tuamu yang saat ini berada di balik jeruji besi. Kamu sangat egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Qay tidak pantas bersanding dengan orang sepertimu!"


"Kurang ajar!!" Djani berteriak dan hendak memukul Arka, tapi dengan cepat Qaynaya menahan tangan suaminya.


"Jangan mengatakan lelucon yang tidak masuk akal, saya masih menghormati bapak, karena bapak merupakan mantan bos saya. Tapi jangan keterlaluan" Qaynaya menarik Djani untuk menjauh, karena Qaynaya sangat tau kalau pertumpahan darah bisa saja terjadi, kalau mereka tidak dipisahkan.


Qaynaya tidak habis pikir, bagaimana bisa mantan bosnya itu berkata sesuatu yang sangat sensitif secara blak-blakan dan tidak dipikirkan akibatnya.


"Cepat atau lambat, aku akan merebut mu. Hanya aku yang pantas untuk bersanding denganmu. Tidak pantas bagi seorang pria pengidap Fear Of Abandonment seperti dirinya menjadi pendamping hidupmu. Untuk memahami hatinya saja dia tidak sanggup, apalagi untuk menjagamu" Arka layaknya orang yang tidak kenal dengan rasa malu. Bagaimana mungkin, dia mengatakan sesuatu seperti itu, pada wanita yang mempunyai suami, dan bahkan mengatakannya di depannya langsung.

__ADS_1


Djani kembali marah, tapi Qaynaya dengan mengerahkan seluruh tenaga, memeluk Djani dengan erat dan meminta suaminya itu untuk tenang.


"Tenangkan dirimu, kalau kamu marah dan meladeninya, dia akan menjadi sangat senang. Sekarang ayo kita kembali terlebih dahulu" Qaynaya berbisik di telinga suaminya dan terus memeluknya, tubuh Djani bergetar hebat karena menahan amarahnya.


"Sayang, tolong dengarkan aku. Jangan terpancing emosi, ini bisa jadi jebakan supaya kamu meladeninya. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, aku mohon kita pergi saja dari tempat ini" Qaynaya merasakan Djani yang semakin tidak bisa mengontrol kemarahannya.


"Sayang dengarkan aku, aku mohon" Qaynaya semakin mempererat pelukannya, karena Djani berusaha melepaskan pelukannya.


"Kenapa tidak melaporkan kejadian yang sedang terjadi di rumah?!! bukankah sudah aku katakan untuk melaporkan sesuatu yang sangat penting dan mendesak"


"Maaf tuan muda, tapi saya tidak tega" Adam menundukkan kepalanya karena melihat Djani begitu marah.

__ADS_1


Disaat Djani sedang berusaha untuk menenangkan hatinya, Arka terus saja mengoceh dan membuat Djani semakin tersulut emosi. Dengan sigap Adam menghalanginya arah pandang Djani, begitu juga dengan Qaynaya yang langsung menarik lengan suaminya untuk menjauh dari tempat itu.


Kata-kata ejekan dan cemoohan dari Arka masih dapat didengarkan oleh Djani, hingga tenaga Qaynaya tidak kuat lagi untuk menarik lengan suaminya yang berdiri mematung dan mengepalkan tangannya.


"Djani dengarkan aku, tolong jangan kalah dengan amarahmu. Aku tau dengan pasti siapa dirimu, jadi tidak perlu memikirkan perkataan orang lain. Sekarang kita harus secepatnya pulang atau menghubungi mama Rini, jadi jangan mengurusi hal-hal remeh seperti ini" Qaynaya lega karena tidak lama, Djani berjalan untuk menuju resort.


Adam menyerahkan ponsel Djani dan juga Qaynaya, supaya mereka bisa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


Saat mereka memasuki pintu masuk, manajer resort mendekat dan dengan cepatnya langsung memberikan informasi mengenai Rini dan Rega.


Bukan ucapan terima kasih atau setidaknya senyuman. Djani yang mendengarnya kembali terpancing emosi dan melayangkan tinjunya.

__ADS_1


Buuuggggghhhhh


__ADS_2