Kesepian

Kesepian
Penghinaan


__ADS_3

Setelah berbicara lewat sambungan ponselnya, ayah Axel dengan bangganya meminta pada Djani untuk meminta maaf, karena ini adalah kesempatan terakhir, setelahnya proses hukum akan berjalan.


Djani dengan tenang lalu meminta pada pihak Axel untuk melanjutkan saja. Bagi dirinya, tidak masalah kalau dia harus berurusan dengan hukum, asalkan anaknya mendapatkan keadilan.


"Aku memang melakukan kesalahan karena memukulmu. Silahkan saja proses, tapi anakmu yang juga melakukan perundungan terhadap anakku, itu juga jelas terlihat di kamera CCTV, bahkan banyak juga yang mengabadikan nya lewat ponsel. Aku melihat teman-teman anakku merekam nya, sepertinya bagi mereka itu adalah suatu kesenangan, jadi pada kesempatan kali ini, aku akan memberikan hukuman untuk semua pelaku bullying di sekolah" Djani dengan tegas mengatakannya, hingga ayahnya Axel sedikit terdiam, tapi kemudian dia tertawa dengan lantangnya.

__ADS_1


"Kamu pikir kamu ini siapa? Aku bisa membuat bukti yang kamu katakan tadi menghilang, hingga hanya ada bukti perbuatan mu saja yang tersisa" ayah Axel masih tetap saja jumawa.


"Tidak heran kalau anakmu bertingkah seperti itu, karena dia mendapatkan contoh yang begitu nyata dari ayahnya. Baiklah akan aku jelaskan bagaimana bahayanya apa yang anakmu lakukan. Melihat dia berani menyakiti Arion ditempat umum, bahkan didepan orang lain, aku tidak berani membayangkan apa yang bisa dia lakukan pada siswa lainnya saat tidak ada orang lain di sekeliling korbannya. Bullying itu sangat berbahaya, karena kita tidak pernah tau, seberapa kuat mental seseorang, yang kuat mungkin dia sanggup melaluinya, tapi yang tidak, dia bisa mengalami kesehatan mental yang terganggu, bisa juga bahkan mengalami trauma. Menimbulkan penyakit, baik fisik maupun batin, bisa juga yang paling mengerikan adalah menyebabkan kematian atau hilangnya nyawa" Djani menatap tajam ke arah Axel.


Djani membuka ponselnya, lalu menelfon pengacara keluarga nya yang selalu siap sedia membantu dirinya dalam menangani masalah. Apalagi ini sudah sangat lama Djani tidak menghubungi nya, jadi pengacara itu pasti sangat senang untuk membantu Djani.

__ADS_1


Tapi bukannya takut, ayah Axel tertawa, karena uang dalam jumlah itu bagi dirinya sangat sedikit. Tapi ternyata aturan itu hanya berlaku di negara asal Djani, di negara tempat mereka tinggal, belum bisa dipastikan apa hukumnya. Tapi bisa saja itu lebih berat. Seperti di negara Perancis, disana diterapkan aturan 10 Tahun penjara bagi tukang bully di sekolah.


"Sudah siapkah kamu melihat anak kesayangan mu mendekam di penjara selama 10 tahun?!" ancam Djani, tapi lagi-lagi ayahnya Axel mencibir perkataan Djani.


"Sudahlah, jangan terlalu memaksakan diri. Karena hanya kehendak ku yang akan terjadi. Kamu bukan siapa-siapa di negara ini, jadi kamu tidak bisa berbuat apapun" ayahnya Axel lalu berjalan pergi setelah seseorang dengan koper ditangannya datang.

__ADS_1


"Berikan pada guru itu lebih banyak dari biasanya. Untuk sekolah separuhnya, dan berikan uang tutup mulut yang banyak untuk orang yang banyak bicara itu. Aku sudah sangat yakin kalau hanya uang yang dia inginkan" ayah Axel menoleh pada Djani, dan melihat ke arah suami dari Qaynaya itu dengan pandangan yang sangat menghina.


__ADS_2