Kesepian

Kesepian
Milikku


__ADS_3

"Untuk apa kamu datang kemari?"


"Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untuk Qaynaya, aku pikir dia sakit karena tidak bekerja, sejak kapan kamu berada di sini?"


"Bukankah aku bebas berada disini kapan saja, aku suaminya" Djani menekankan kata suami, sepertinya dia cemburu melihat Doni datang ke rumah Qaynaya, dari dalam rumah, Qaynaya mengucapkan terima kasih, Doni terlihat sedih dan kecewa karena ternyata Djani sudah menemukan Qaynaya, sepertinya kesempatan untuk Doni mendekati kembali Qaynaya, sudah pasti hilang.


Doni lalu pergi, karena bahkan Qaynaya tidak mengundangnya untuk masuk ke dalam rumah, dengan langkah gontai, Doni segera bergegas pergi dari sana, Djani meletakkan makanan yang dibawa oleh Doni ke atas meja dengan kasar.


"Apa dia sering datang ke sini?" tanya Djani yang sebenarnya sangat marah dan cemburu, tapi dia mencoba untuk menahannya.


"Tidak, ini pertama kalinya dia datang, aku bertemu dengannya kemarin lusa, aku tidak tau dia bisa tau rumah ini dari mana" jawab Qaynaya jujur, Qaynaya berniat membuka bungkus plastik yang dibawa oleh Doni, tetapi dengan cepat Djani melemparkan bungkusan plastik itu, hingga membuat Qaynaya terkejut.


"Jangan terima pemberian apapun dari pria lain, aku akan membelikan untuk mu apapun yang kamu inginkan!" Djani menatap tajam kearah Qaynaya, sangat terlihat sorot kemarahan di wajahnya.


"Kamu sendiri yang menerimanya" gumam Qaynaya, Djani yang sudah dipenuhi oleh kemarahan, lalu menggendong istrinya dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Djani,, kamu kenapa?" Qaynaya berniat untuk bangkit kembali, tapi Djani langsung menindih tubuhnya, dengan tatapan mengintimidasi, Djani terus menatap wajah Qaynaya, sepertinya Djani mencoba melihat kejujuran di mata istrinya.


"Apa kamu curiga padaku?" tanya Qaynaya yang sekarang menyadari kecemburuan suaminya, Djani tidak menjawab dan hanya langsung menyerang bibir Qaynaya.


"Bahkan saat dulu aku masih berstatus sebagai istrinya, aku tidak pernah mau disentuh oleh nya, aku benar-benar hanya menganggap bahwa Doni adalah temanku, dari dulu, apalagi saat ini" Qaynaya memeganginya kedua pipi suaminya untuk memberikan penjelasan.


"Tapi dia mencintaimu, kamu pasti tau itu" Djani masih saja cemburu.


"Kalau memang benar memang nya kenapa?? yang aku cintai hanya kamu, siapapun yang mempunyai perasaan terhadap diriku, mereka tidak bisa apa-apa, karena itu tidak akan bisa mengalahkan rasa cintaku padamu" Qaynaya mengecup kening suaminya, Djani tersenyum malu tetapi sangat senang.


"Kamu mencintaiku?" tanya Djani seperti seorang remaja yang membutuhkan pengakuan.


"Tentu saja, dari dulu hanya kamu yang aku cintai, sekarang bisakah turun dari tubuhku, kamu sangat berat" Qaynaya menggoyangkan badannya, supaya Djani turun dari tubuhnya, tetapi bukan nya turun, Djani malah membuka bajunya.


"Djaanniii, kamu mau appaaa?" Qaynaya panik karena lagi-lagi suaminya meminta jatah, tetapi apa daya, tidak ada yang bisa Qaynaya lakukan, dia hanya bisa mengikuti dan menerima setiap sentuhan dari suaminya, lagipula benar kata Djani, semakin lama, rasa sakitnya menghilang dan berganti dengan rasa nikmat.


"Istriku sayang,, cepat panggil aku suamimu" bisik Djani sesaat setelah melihat Qaynaya mengejang karena ulahnya, Qaynaya yang matanya masih sendu karena suaminya tidak juga melepaskan diri dari nya, sehingga mereka masih bersatu dalam artian sesungguhnya


"Suamiku" terdengar lirih suara Qaynaya, karena dia masih menikmati perasaan sesak dan nikmat di bagian bawahnya, Djani tersenyum senang dan kembali melanjutkan kegiatannya.


"Aku pikir kamu sudah mengandung setelah hubungan pertama kali kita waktu itu, sekarang selama seminggu ini, atau paling cepat tiga hari kedepan, aku tidak akan membiarkan dirimu keluar dari rumah ini, aku ingin ada yang segera bertumbuh di sini" ujar Djani sambil membelai lembut perut Qaynaya, mereka sudah selesai bertarung, atau lebih tepatnya, Djani sudah selesai mengerjai tubuh istrinya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Qaynaya merasakan kekhawatiran yang tidak bisa dia jelaskan, sebenarnya dia belum siap untuk mempunyai anak, karena untuk kelangsungan pernikahan mereka saja, dihati kecilnya masih merasakan sedikit keraguan.


"Kamu mau punya anak berapa?" tanya Djani mengagetkan lamunan Qaynaya.


Dengan refleks Qaynaya menggeleng, dan hal itu membuat Djani marah, tanpa bertanya dan berkata apapun lagi, Djani kembali menggagahi istrinya, dia tidak menyangka kalau Qaynaya tidak mau mempunyai anak, tapi bagi Djani, ini bukan mau atau tidak, karena Qaynaya harus menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Aaaahhhh" Qaynaya mencengkeram erat bantal yang dipakai nya, Djani tersenyum puas melihatnya, entah kenapa Qaynaya terlihat semakin cantik saat berada dalam kungkungannya.

__ADS_1


"Aku tidak perduli kamu mau atau tidak sayang ku,, karena kamu harus mengandung anakku" bisik Djani saat dia memeluk erat tubuh Qaynaya setelah pelepasannya.


Qaynaya terdiam mendengarnya, tetapi dia juga tidak tau harus bagaimana lagi untuk menjelaskannya, karena dia tidak mau kalau sampai suaminya kembali marah padanya.


Qaynaya bukan nya tidak mau mempunyai anak selama nya, tetapi untuk saat ini, hanya belum siap saja, Qaynaya bahkan belum tau reaksi mertuanya terhadap dirinya.


"Kenapa kamu terus melamun, apa kamu menyesal?" tanya Djani menggigit pipi Qaynaya, karena istrinya itu hanya terdiam saat dia bertanya sesuatu.


"Tidak ada waktu untuk sekedar menyesali semua yang sudah terjadi" Djani terlihat sedih karena Qaynaya tidak juga merespon dirinya.


Qaynaya akhirnya tersadar lalu memiringkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya, Qaynaya memeluk tubuh Djani dan menciumi dada suaminya, Djani tentu senang lalu membalas pelukan istrinya.


"Menikah dengan mu adalah impianku, mempunyai anak darimu juga adalah harapan ku, tetapi bukankah kita harus memikirkan nya secara perlahan, lagi pula kita baru bertemu, aku masih sangat merindukan dirimu, kenapa kamu harus langsung membicarakan tentang anak?" Qaynaya bermanja-manja dengan meletakkan kepalanya di dada suaminya lalu menggerakkan nya ke kanan dan kiri.


Djani kegelian tapi dia sangat suka dengan tingkah imut istrinya, dengan membelai lembut rambut istrinya, Djani lalu bercerita kalau dia ingin mempunyai banyak anak, dulu dia merasa kesepian karena menjadi anak tunggal, jadi dia tidak mau anaknya mengalami atau merasakan apa yang dia dulu rasakan.


"Zaman sekarang, orang banyak meninggal karena kesepian, bukan lagi karena kelaparan, aku kesepian karena tidak mempunyai saudara, aku juga kesepian karena mempunyai kekasih yang dingin selama lima tahun, bahkan setelahnya aku masih harus kesepian karena harus ditinggal menikah oleh kekasihku, dan setelah setahun lamanya aku hidup dalam kebencian karena memendam perasaan dendam pada kekasih ku itu, aku akhirnya bisa bertemu dengan nya lagi, kesepian itu akhirnya berubah menjadi kehangatan, tapi itu hanya untuk satu hari, setelah nya aku bahkan harus merasakan kesepian lagi karena istriku meninggalkan diriku, jadi saat ini, untuk istriku, aku mohon dengan sangat untuk tidak membuat aku kesepian lagi,, bisakah kamu katakan pada istriku untuk tidak membuat ku kembali kesepian??"


Qaynaya terdiam membeku mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, dia dari dulu merasa kalau dia yang paling menderita dan merasa menjadi orang yang paling kesepian, ternyata kesepian Djani lebih besar dari dirinya, Qaynaya semakin mempererat pelukannya tanpa membalas perkataan suaminya.


"Teruslah seperti ini sayang, jangan pernah mencoba untuk meninggalkan diriku lagi, apapun yang terjadi nantinya, tolong untuk melaluinya bersama dengan ku" Djani juga mempererat pelukannya, mereka yang masih sama-sama polos merasakan terjangan hasrat lagi.


Tanpa diminta oleh suaminya, Qaynaya sendiri yang langsung menindih tubuh Djani, sepertinya dia sudah sepenuhnya menerima apapun yang nantinya akan terjadi, dia sudah membulatkan tekad dan memantapkan hatinya, untuk tidak ragu lagi dengan pernikahannya.


Qaynaya yang awalnya ingin berinisiatif melakukan terlebih dahulu, menjadi malu saat mereka berpandangan, Qaynaya menjatuhkan tubuhnya keatas tubuh suaminya bahkan dia belum melakukan apapun.


"Tidak mau, diiaammm" Qaynaya menahan tubuh dan kepalanya lalu terus menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


"Aaahhhh,, gemeesss banget" Djani mendekap erat tubuh istrinya, mereka diliputi kebahagiaan dengan senyuman manis terus merekah di bibir.


"Kamu mau?" tanya Djani membelai lembut punggung istrinya yang masih betah terus berada diatas tubuhnya, Qaynaya malu dan tidak menjawab.


"Nanti malam aku mengadakan acara makan malam di sebuah restoran, aku mengundang semua karyawan di perusahaan tempat mu bekerja selama ini, kita harus hadir, aku mau memperkenalkan pada semua orang siapa dirimu" Djani ingat untuk memesan sebuah gaun dan setelah jas untuk dipakai nanti malam.


"Aku tidak suka datang ke acara-acara seperti itu, bisakah aku tidak datang?" Qaynaya sudah turun dari tubuh suaminya dan sekarang mereka sedang berhadapan saling memiringkan tubuh.


"Ini acara penting, tidakkah kamu akan berpamitan kepada semua rekan kerjamu selama ini, besok kita harus kembali ke kota, rumah kita sudah menunggu untuk segera kita tinggali, mama sudah harus segera kembali ke luar negeri, kasian ayah yang selama ini tinggal sendiri di sana, mama ingin bertemu dahulu denganmu dan meminta maaf atas kesalahannya, sebelum kembali ke rumah yang berada di luar negeri, kita juga akan sering berkunjung kesana nantinya"


"Aku belum siap untuk semua itu, kenapa itu terdengar sangat menakutkan" Qaynaya mengingat saat Rini memarahinya malam itu, saat mertuanya itu meminta supaya dia berpisah dengan Djani.


Qaynaya merasa bahwa sampai kapanpun mertuanya tidaklah mungkin mau menerima dirinya, Qaynaya sangat sadar dengan apa yang sudah dia lakukan, Qaynaya paham kalau dia sangat salah karena pernah menikah dengan orang lain, walau itu karena paksaan.


Status Qaynaya tetaplah seorang janda saat menikah dengan Djani, hal itu bisa saja dikorek oleh media suatu saat nanti, karena Djani adalah orang yang berpengaruh, pasti kehidupan pribadinya menjadi perhatian umum, Qaynaya lalu bertanya pada suaminya, bagaimana bisa selama ini menyembunyikan identitasnya yang merupakan seorang anak konglomerat.


"Aku ingin memulai segalanya sendiri tanpa bantuan orang tuaku, jadi aku mencoba untuk hidup mandiri tanpa mereka, tapi saat aku terpuruk karena pernikahanmu, pada akhirnya aku menerima segalanya, aku bekerja di kantor ayah, aku juga terus bekerja keras supaya bisa membalas dendam pada mu, karena aku pikir kamu memilih Doni karena dia kaya raya, ternyata yang materialistis adalah mamamu, maafkan aku karena berfikir buruk tentangmu" Djani membelai lembut wajah Qaynaya.

__ADS_1


"Aku adalah anak yang tidak di inginkan oleh mama, setidaknya itu yang selalu aku pikirkan, karena mama selalu pilih kasih terhadap diriku, aku harus bekerja keras sedari kecil, bahkan aku harus menghidupi keluarga, tetapi mama tetap tidak menganggap diriku, kadang aku berfikir kalau aku bukan anak kandung mereka, tetapi kecurigaan ku tidak terbukti, karena aku memang adalah anak kandung mereka"


"Mulai sekarang, aku akan menjaga dan melindungi mu, aku tidak akan membiarkan apapun dan siapapun melukai atau menyakiti mu, walau itu mamamu sendiri" Djani mencium kening istrinya, mereka lalu berpelukan dan tidur siang, hingga tanpa terasa, waktu sudah memasuki sore hari, mereka dikagetkan oleh suara ketukan pintu.


Djani menyelimuti tubuh istrinya dan menyuruhnya untuk diam, lalu Djani membuka pintu, yang ternyata adalah orang suruhannya yang datang membawakan pakaian untuk mereka datang ke acara nanti malam.


"Apa perlu aku panggilkan seseorang untuk membantu mu bersiap, bukankah biasanya wanita akan pergi kesalon sebelum mendatangi sebuah acara?" tanya Djani sambil membawa masuk dua buah kotak besar yang berisi bajunya dan gaun Qaynaya.


Qaynaya menggelengkan kepalanya dan berkata bahwa hal seperti itu tidak dia perlukan.


"Tentu saja istri cantik ku ini tidak memerlukan hal seperti itu, bahkan saat ini, saat kamu baru bangun dengan rambut yang acak-acakan, tetapi tetap saja kamu terlihat sangat cantik, apalagi kalau kamu berdandan" Djani membantu istrinya yang ingin turun dari ranjang karena penasaran ingin melihat baju yang nanti malam akan dia pakai.


"Jangan terlalu berlebihan, aku tidak secantik itu, lagipula apa ini tidak berlebihan?" tanya Qaynaya saat melihat gaun yang berada di dalam kotak yang dibawakan oleh orang suruhan Djani.


"Apa kamu tidak menyukainya? masih ada waktu untuk meminta yang lain, aku akan segera memberi tahu pada karyawan ku" Djani mengambil ponsel nya yang berada di atas meja.


"Bukan seperti itu Djani, ini terlihat begitu mewah, sepertinya ini berlebihan, ini tidak akan cocok untuk ku yang biasa ini" Qaynaya merasa rendah diri setelah mengetahui identitas sebenarnya dari suaminya, dia merasa kecil, apalagi dia pernah bertemu dengan Kaela, wanita yang dijodohkan dengan Djani waktu itu, Kaela sangat cantik seperti seorang model, di sekeliling Djani pasti nya adalah wanita-wanita cantik mengingat identitas nya.


"Kenapa kamu berubah begitu banyak, Qaynaya yang aku kenal adalah wanita penuh percaya diri, lagipula memang kamu pantas seperti itu, karena kamu wanita tercantik yang pernah aku temui" Djani meletakkan kembali ponselnya karena tidak jadi menghubungi karyawannya.


"Aku hanya sadar diri saja, kamu ternyata anak konglomerat, pengusaha sukses yang pasti mempunyai banyak kolega bisnis yang sangat cantik-cantik, Kaela juga begitu cantik, makanya kamu menyembunyikan nya di apartemen mu dan mengatakan kalau dia adalah sepupu mu" Qaynaya tidak mengerti kenapa tiba-tiba kecemburuan menyeruak di hati nya.


Djani tersenyum penuh arti, dia suka dengan kecemburuan istrinya, Djani menarik Qaynaya kedalam pangkuannya, dengan lembut Djani menciumi wajah istrinya.


"Tidak ada yang lebih cantik dari dirimu di dunia ini, itu menurut pandangan mata ku, aku sangat ingin selalu merayu mu dengan mengatakan hal-hal seperti ini, tetapi dahulu kamu begitu dingin, dan selalu serius,, mulai sekarang kamu harus menguatkan dirimu oleh cintaku padamu yang begitu besar, karena aku akan menunjukkan nya setiap saat" Djani merebahkan tubuh Qaynaya, mereka adalah pasangan suami istri yang lebih seperti pasangan kekasih baru, cinta mereka begitu menggebu-gebu setelah kesepian yang terus mereka rasakan dari dulu.


"Maafkan atas sikapku dulu yang terlalu dingin padamu, dan terimakasih telah bertahan untukku" Qaynaya membelai lembut dada suaminya yang sudah tanpa sehelai benangpun.


Mereka kembali mereguk manisnya cinta, dan saling memberikan kenikmatan, hingga malam mulai menjelang mereka baru menyelesaikan nya, setelah mandi dan bersiap mereka segera berangkat ke restoran.


"Kamu terlalu cantik, bisakah hapus saja riasan wajah mu" Djani memandangi wajah istrinya saat mereka akan keluar dari rumah, Qaynaya terlihat sangat cantik dengan gaun pilihan nya, terlihat sangat elegan dalam kesederhanaan nya, Qaynaya bahkan sebenarnya hanya memakai riasan tipis.


"Didalam acara seperti itu, semua wanita pasti akan berlomba-lomba untuk menjadi wanita tercantik dengan penampilan mereka, karena ingin mencari perhatian, itulah yang aku tidak suka untuk datang ke acara seperti ini, tetapi saat ini aku tidak mau mengecewakanmu dan mau datang, jadi biarkan aku memakai riasan ini" Qaynaya tersenyum yang membuat Djani kembali memojokkan tubuh nya ke tembok.


"Hapus dan jangan pernah tersenyum seperti itu nantinya, hanya aku yang boleh melihatnya, kamu mau menggoda siapa? lalu siapa pria yang coba kamu tarik perhatian nya?" Djani langsung melahap bibir Qaynaya, dan menciumi wajah istrinya itu, berharap riasan wajah nya akan luntur.


"Apa kamu tidak malu kalau nantinya aku terlihat jelek? dan lagipula bukan kah kamu yang memaksaku untuk datang ke acara ini" Qaynaya mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Aku meminta mu datang, supaya kamu bisa berpamitan pada mereka, bukan untuk mengambil perhatian mereka" Djani ketus lalu kembali menciumi wajah istrinya, Qaynaya mengingatkan bahwa mereka bisa terlambat.


"Sudah sayang, kita bisa terlambat, jangan khawatir dengan apa yang kamu pikirkan, lagipula untuk apa aku mencari perhatian mereka? pusat dari acara itu adalah dirimu, aku hanya harus menarik perhatian mu saja, ini semua hanya untuk dirimu sayang" Qaynaya merapikan dasi suaminya yang sedikit miring karena barusan tersangkut dengan pita yang ada di gaunnya.


"Aku ingin tampil secantik mungkin, hingga tidak ada wanita lain yang berani berfikir untuk mengambil dirimu dariku, karena kamu selama nya hanya milikku" ucap Qaynaya lagi, lalu dia kembali tersenyum manis sebelum mengecup bibir suaminya.


Mereka lalu segera bergegas pergi, Qaynaya merapikan riasan wajah dan rambutnya di dalam mobil, Djani sepertinya masih sedikit tidak rela kalau istrinya tampil secantik itu dihadapan banyak orang, tetapi dia kembali tersenyum saat mengingat bahwa Qaynaya melakukan hal itu, hanya untuk dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu sayang, kamu hanya milikku selamanya" ucap Djani dihatinya sambil sesekali melihat kearah istrinya yang tengah sibuk merapikan penampilannya.


__ADS_2