
"Jangan berani mengganggu ketentraman keluarga ku. Dan anggap kita tidak pernah saling mengenal!" Djani mengingat kan pada Reina untuk tidak pernah berbuat macam-macam lagi.
"Kamu terlalu berlebihan di awal pertemuan kita lagi setelah sekian lama. Lihatlah jariku ini, aku sudah tidak pernah mempunyai perasaan apapun padamu" Reina melenggang pergi setelah mengatakannya.
Djani terdiam, tapi dia bisa merasakan akan suatu hal buruk yang akan terjadi.
"Apa kalian saling mengenal" tanya Darius.
"Tidak" Djani menjawab singkat karena tidak mau menjelaskan panjang lebar mengenai Reina.
Djani kembali ke rumah dan tidak mendapati istrinya ada di rumah, sudah tentu Djani menjadi kalang kabut dan panik, apalagi kedua orang tuanya juga tengah kembali dahulu ke negara asal mereka untuk menyelesaikan sesuatu, dan setelahnya baru akan kembali lagi.
Semua ruangan sudah Djani periksa, dan tidak terlihat anak dan istrinya berada di dalam rumah. Djani lalu berlari keluar rumah untuk mencari ke sekitar, dan karena dia tidak terlalu memperhatikan jalan, dia hampir saja menubruk Qaynaya yang baru kembali dari rumah sebelah, yang merupakan rumah Serli.
"Djani ada apa? aku hampir terjatuh. Kenapa kamu begitu panik? apa yang terjadi?" Qaynaya memegangi lengan Djani.
"Kalau mau keluar dari dalam rumah, katakan padaku!" Djani yang panik sedikit berteriak pada Qaynaya, hingga Andjani yang berada dalam gendongan istrinya itu menjadi terbangun, padahal baru saja tertidur.
"Aa, yyaahhh" Andjani memanggil ayahnya begitu membuka mata dan melihat ke arah Djani. Dengan hati yang penuh kelegaan, Djani mengambil Andjani dari gendongan Qaynaya, sembari memberikan kecupan manis pada bibir sang istri.
"Maafkan aku, aku pikir kalian pergi kemana" Djani sepertinya terlalu parno karena baru bertemu dengan Reina, dia takut kalau mantan rekan kerja yang pernah menyukainya itu akan berbuat jahat pada anak dan istrinya.
Djani menggandeng tangan Qaynaya, lalu membawanya masuk kedalam rumah, dimana Andjani dengan manjanya nemplok pada gendongan ayahnya.
"Dia baru saja tidur, aku tadi ke rumah Serli, karena merasa sangat bosan dirumah. Sekarang ajaklah main dia, aku akan memasak untuk makan siang, sepertinya Neli tadi kembali banyak berbelanja setelah kembali lagi ke rumah" Qaynaya lalu segera bergegas menuju ke dapur.
"Apa Neli berangkat sendirian?" tanya Djani yang mengikuti langkah kaki istrinya.
"Tidak, aku tidak tau dengan siapa. Katanya kenalan Neli yang ada di negara ini, hanya sebentar disini untuk menjemput Neli. Kalian ini benar-benar bukan orang biasa ya, dimanapun ada saja yang mengenal siapa kalian. Sepertinya akan susah bagi kita untuk terus bersembunyi. Karena aku sangat yakin kalau orang-orang akan segera tau siapa dirimu" Qaynaya mengeluarkan beberapa sayuran dari dalam kulkas.
"Sayang, aku mau dibuatkan sayur bayam dan goreng tempe. Seperti dulu kamu pernah membuatkan bekal untuk ku saat kita masih berpacaran" Djani mengambil sebuah kursi duduk bayi, karena dia merasa pegal.
"Kamu baru menggendong sebentar saja sudah merasa pegal. Dasar bapak-bapak" Qaynaya terlihat lucu dengan bibirnya yang manyun. Djani geregetan dan segera melahapnya habis, setelah memastikan bahwa Andjani aman di kursinya.
"Heemmpptt" Qaynaya berusaha untuk mendorong tubuh Djani dan memukuli dadanya.
__ADS_1
"Sayang jangan seperti ini. Biarkan aku memasak" Qaynaya merengek, karena biasanya Djani akan meminta lebih setelah melakukan ciuman.
"Kamu terlalu kotor pikirannya, mana mungkin aku berfikiran seperti itu, aku punya rasa malu pada Anna. Kalau kamu mau, tunggulah sampai Anna tidur" Djani tersenyum lebar setelah berhasil membuat wajah istrinya merah merona karena malu.
"Makanya jadi orang jangan menggemaskan, cukup Anna saja yang menggemaskan. Tapi kamu masih serakah saja dengan berwajah menggemaskan dan cantik ini" Djani terus saja menggoda Qaynaya.
"Dasar buaya" Qaynaya lalu memalingkan wajahnya dan segera focus pada apa yang akan dia lakukan. Qaynaya membersihkan daun bayam dan segera memotong bumbu untuk segera membuat sayur bayam di bening, seperti yang di inginkan Djani.
Saat melihat kedalam kulkas, Qaynaya juga melihat ada ikan dan cabai. Sudah tentu sangat nikmat sekali, ikan goreng dengan sambal dan ditambah sayur bayam bening.
"Sayang, tidak ada tempe, bagaimana ini? apakah aku harus membelinya dahulu, atau sudah ini saja dulu ada ikan" tanya Qaynaya memperlihatkan ikan yang berada di dalam sebuah baskom.
"Iya sudah itu saja dulu. Nanti kita belanja yuk. Sepertinya aku tidak pernah melihat mu belanja" ujar Djani lalu memberikan sebuah mainan pada Andjani yang mulai bosan duduk di kursinya.
"Untuk apa lagi aku belanja, dan apa yang harus aku beli? lihatlah saja isi dalam kulkas dan juga lemari bahan makanan. Semua sudah terisi penuh" jawab Qaynaya lalu memberikan bumbu pada ikan sebelum nanti bisa digoreng.
"Tidak harus belanja sayuran, belanja apa saja yang kamu inginkan" Djani lalu menggendong Andjani karena anaknya itu terlihat rewel.
"Dia pasti masih mengantuk, jadi rewel. Tapi ini sangat nanggung sekali. Sayang, bolehkah tolong ambilkan gendongan di kamar Andjani, gendongan berwarna merah muda" Qaynaya mencuci tangan nya, lalu segera mengambil Andjani dari gendongan Djani setelah dia mengeringkan tangan nya.
"Ini sayang" Djani menyerahkan gendongan bayi yang baru diambilnya. Qaynaya lalu menggendong Andjani dan menina bobokan anaknya dengan penuh kasih sayang.
Senyuman terlihat diwajah Djani, melihat istrinya yang sangat pintar mengurus anak.
"Sayang sudah, jangan teruskan memasak nya. Biarkan aku saja" Djani melarang Qaynaya yang terlihat kembali memegang sebuah panci untuk menggoreng.
"Tidak apa-apa, ini sudah lumrah dilakukan oleh seorang wanita. Dan aku bisa kok. Sekarang kamu tunggulah dahulu, ini tidak akan lama" Qaynaya tersenyum lalu mendorong tubuh Djani yang hendak mendekat ke arah depan kompor.
"Qay, sayangku, kamu itu istriku, kamu bukan pembantuku. Kamu sedang sibuk mengasuh anakku, masa iya aku hanya berdiam diri melihatmu, apalagi kamu hendak mengasuh sambil memasak. Aku bukan suami kejam sayang. Sekarang kelonin saja dahulu Andjani. Maafkan aku karena tadi membangunkannya. Nanti setelah dia tidur lagi, baru kamu bantu aku memasak. Aku juga pintar memasak, kamu juga tau sendiri" Djani lalu mengambil alih panci yang sedang di pegang oleh Qaynaya.
Dengan perasaan yang teramat sangat senang, Qaynaya mencium Djani sebelum dia masuk kedalam kamar untuk menidurkan Andjani. Wanita mana yang tidak merasakan kebahagiaan, saat mendapatkan seorang suami yang begitu pengertian seperti Djani.
Setelah beberapa saat, Andjani yang memang sangat mengantuk lalu segera tertidur pulas. Qaynaya dengan perlahan lalu keluar dari dalam kamar untuk melihat dan membantu suaminya yang sedang memasak.
Dari kejauhan Qaynaya bisa melihat Djani yang begitu luwes sedang membalik ikan di atas panci supaya tidak gosong. Dengan gerakan pelan, Qaynaya mendekati tubuh Djani, lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Diam sebentar, aku ingin seperti ini" Qaynaya berbisik saat Djani hendak berbalik badan. Dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya, Djani memegangi tangan Qaynaya yang melingkar di perutnya.
"Ada apa sayang? tumben sekali kamu begitu manja" Djani menggoyangkan badannya, dan tidak sanggup lagi untuk segera berbalik badan, agar bisa melihat wajah istrinya.
"Terimakasih untuk semuanya" Qaynaya semakin terlihat cantik dengan senyuman manis di wajahnya. Walau dengan tampilan sederhana, tapi kecantikan dan pesona Qaynaya tidak bisa terbantahkan.
"Untuk apa?" tanya Djani heran.
"Ya semuanya, kan sudah aku katakan tadi" Qaynaya lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
"Aku wanita yang sangat beruntung memiliki seorang suami seperti dirimu. Suamiku ini tidak ada kurangnya sedikitpun. Tidak akan aku biarkan wanita manapun mengambil mu dariku" Qaynaya berjinjit lalu menggigit pipi Djani.
"Apa kamu yakin dengan ucapan mu? bukankah kamu malah selalu pergi saat ada wanita yang mendekati ku?" tanya Djani menggoda istrinya. Qaynaya tersenyum malu mendengarnya.
"Itu dulu, karena aku masih selalu saja merasa kalau aku tidak sepadan dengan wanita yang mendekati mu. Tapi setelah aku pikirkan kembali, sepertinya aku sangat salah. Bagaimana bisa aku berfikiran seperti itu, sementara kamu begitu mencintai ku, dan terus membuktikan cintamu. Jadi mulai sekarang aku juga akan membuktikan cintaku padamu, dengan tidak akan aku biarkan wanita lain mendekati mu" Qaynaya lalu melepaskan tangannya, karena takut ikan yang sedang di goreng Djani akan gosong.
Untung saja ikan itu matang sempurna tanpa gosong, Qaynaya lalu membantu membuat sambal dan sayur. Setelah semua selesai, mereka lalu makan siang bersama dengan saling menyuapi dan mengobrol ringan di sela-sela makan siang yang terlihat sangat damai bagi orang yang melihatnya, dan pastinya membuat iri.
"Sayang, apa yang terjadi dengan rencana dirimu untuk bekerja? aku pikir kamu akan lama, ternyata kamu cepat pulang. Apa kamu akan bekerja bersama dengan Darius?" tanya Qaynaya, sepertinya Djani belum menceritakan pada Qaynaya mengenai rencana nya untuk membangun sebuah perusahaan di negara ini.
"Apa pendapatmu kalau aku membuka sebuah perusahaan di negara ini?" tanya Djani, sebenarnya dia sudah merasa kalau pasti istrinya itu akan menolaknya. Itulah sebabnya dia tidak menceritakan rencananya pada Qaynaya.
"Kenapa harus seperti itu? tidak bisakah kamu bekerja dengan normal seperti orang lain?" Qaynaya meletakkan sendok makan yang sedang dipegangnya.
"Sayang, bukankah itu sama saja. Aku sama saja bekerja juga itu sayang, bukankah itu lebih baik, dari pada aku bekerja pada perusahaan milik orang lain. Bisa saja aku tidak cocok sama bosnya"
"Aku sangat paham tuan Djani Sudrajat yang terhormat, kamu ini kan seorang bos besar, bagaimana bisa menjadi bawahan seseorang. Atau bagaimana kalau kita membuka sebuah cafe lagi saja, itu tidak sebesar perusahaan, tapi percayalah padaku, itu sangat menyenangkan. Dan yang lebih pasti, itu tidak terlalu mencolok. Apa segitu susahnya bagimu untuk hidup sebagai orang biasa?" Qaynaya terlihat kecewa.
"Bukan seperti itu sayang, aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan Anna" Djani merasa bersalah, lalu mendekat ke arah Qaynaya.
"Baiklah, baiklah sayangku. Aku tidak akan mendirikan perusahaan di negara ini, aku akan mencari pekerjaan lain, yang sesuai dengan keinginanmu" Djani lalu membelai lembut rambut Qaynaya, dan meminta istrinya itu untuk menyelesaikan makannya, karena takut keburu Andjani terbangun.
Djani lalu membereskan meja dan mencuci piring, karena saat Qaynaya ingin melakukannya, tiba-tiba terdengar suara Andjani yang terbangun dari tidurnya dan menangis. Sambil mencuci piring, Djani terus berfikir akan pekerjaan apa yang cocok untuknya.
"Biasanya seorang istri akan sangat bangga, dan selalu memamerkan suaminya, ada yang polisi, dokter, ataupun pengusaha. Tapi istriku sangat aneh, karena dia tidak mau kalau sampai orang-orang tau siapa aku dinegara asal ku. Sebenarnya aku merasa kalau aku juga tetap orang biasa, hanya saja aku tidak kalah dengan pria lain. Kenapa istriku tidak mau melakukan hal itu? dan malah seperti ingin menyembunyikan diriku dari khalayak umum" Djani terus berbicara sendiri, sambil terus mencuci piring dan mengelapnya.
__ADS_1
"Wanita gila lainnya juga telah muncul lagi. Aku ini sebenarnya raja dimasa lalu atau bagaimana sebenarnya, kenapa banyak wanita yang ingin mendekatiku" Djani terus berbicara dengan dirinya sendiri, sembari menyelesaikan pekerjaannya dan berniat menyusul istrinya kedalam kamar. Tapi dia dikagetkan dengan kehadiran seseorang di belakangnya.