Kesepian

Kesepian
Andjani


__ADS_3

"Aaakkkkkhh!" Qaynaya menjerit keras, Djani tidak memberinya kesempatan untuk pergi dan menolak sentuhannya.


Djani lalu melahap bibir Qaynaya yang masih sah menjadi istrinya tersebut, cukup lama hingga Qaynaya kehabisan nafas. Dengan mengatur nafasnya, Qaynaya mencengkeram erat punggung Djani dan sesekali memukulinya pelan. Karena tenaga nya sudah terkuras habis.


"Pelan-pelan Djani, aakkhhh!!" Qaynaya kembali merintih.


"Aku tidak dengar sayang, kalau tidak salah, kamu ingin lebih cepat?" Djani menjilati telinga Qaynaya dan menambah tempo kecepatan gerakannya.


"Akkhhh!!" Qaynaya menjerit keras saat semburan hangat yang lama tidak dia rasakan, kembali dia nikmati.


"Qayyy, aaagggkkhh sayang!" Djani memeluk erat tubuh Qaynaya saat pelepasannya. Sungguh sangat ringan rasanya, beban hasrat yang dia tahan selama ini, akhirnya bisa keluar dengan bebasnya dan pada tempatnya.


Qaynaya terpejam merasakan sisa rasa nikmat yang baru saja dia rasakan, dia juga masih terus mengatur nafasnya, tapi belum juga dia bisa menguasai perasaan nikmat yang masih tersisa, dan nafasnya juga masih belum normal, Djani sudah ******* kembali bibirnya. Qaynaya kewalahan dan memukuli dada Djani.


"Kamu masih tidak pintar berciuman, dan aku sangat menyukainya, aku tau dengan pasti kalau kamu hanya milikku" Djani memeluk erat tubuh Qaynaya dan menciumi pucuk kepalanya.


Tanpa terasa, air matanya meleleh, dan tidak lama terdengar bunyi suara anak bayi.


"Andjani!" Qaynaya membuka matanya dan mendorong tubuh Djani.


"Siapa Anjhani?" tanya Djani heran, Qaynaya tidak menjawabnya lalu bangun dengan susah payah dan menahan rasa sakit dibagian bawahnya karena ulah Djani.


"Diam disini dan jangan pernah mencoba untuk keluar dari kamar" ujar Qaynaya mengancam Djani, tapi tentu saja hal itu tidak mungkin dituruti oleh Djani. Setelah Qaynaya keluar, Djani memakai bajunya dan melihat-lihat kamar Qaynaya.


Senyuman tidak bisa disembunyikan oleh Djani, begitu melihat foto pernikahan mereka masih di pajang di atas meja rias minimalis yang berada di dalam kamar Qaynaya.


"Tidak mungkin dia sudah menikah lagi, suaminya pasti mengamuk melihat fotoku, dasar istri nakalku, awas saja ya, karena berani membohongiku dan mengatakan sudah menikah lagi, maka seumur hidupmu, aku akan mengurungmu, tidak ada ampun lagi" Djani berbicara pelan lalu beralih melihat foto Qaynaya memangku bayi. Ada yang aneh menurut Djani, lalu dengan cepat dia langsung keluar dari dalam kamar.


Qaynaya kaget melihatnya, karena Djani tidak mau mendengarkan dan mengikuti keinginannya. Djani mendekati Qaynaya, lalu teralihkan oleh tawa seorang bayi. Anjhani melihat ayahnya dengan intens dan sesekali tersenyum, seperti tersihir, Djani langsung mengulurkan tangannya memegangi tangan mungil Anjhani.


Qaynaya tersadar kalau ini tidak boleh berlanjut, Djani bisa menyadari bahwa Andjani adalah anaknya. Qaynaya sudah dengan susah payah menjauhkan dirinya pada Djani, dia tidak bisa kembali lagi, apalagi saat ini keselamatan anaknya menjadi taruhannya. Dia tidak mau kalau sampai anaknya terluka karena merupakan seorang anak dari konglomerat.


Ingatan akan diculiknya bayi konglomerat di negara tetangga, hanya karena ingin mendapatkan tebusan, membuat Qaynaya sebisa mungkin menyembunyikan identitas anaknya.


"Bukan, ini bukan anak mu, cepat lepaskan tanganmu darinya dan segera pergi dari sini!!" Qaynaya menepis tangan Djani, suara teriakannya terdengar oleh Serli dan juga Doni yang setelah pulang tadi, mereka langsung masuk kedalam kamar mereka, karena Anjhani telah digendong oleh mamanya.


"Kenapa pria gila ini ada disini?!!" Serli berteriak dan menunjuk pada Djani yang berdiri tidak jauh dari Qaynaya.


Djani melihat Serli dan Doni yang keluar dari dalam sebuah kamar bersama-sama, tanpa sadar Djani tersenyum lebar karena menyadari bahwa dia telah tertipu oleh sekolompok sahabat itu.


"Jangan bilang kalau dia numpang ke kamar mandi" Serli mencecar pertanyaan, karena Qaynaya masih tidak menjawab apapun.


"Sudah aku katakan kalau Qay terlihat berbeda dan kesusahan berjalan, dan itu tidak mungkin kalau alasannya adalah karena dia kecapean bekerja di depan laptop seperti yang dia katakan, sepertinya seseorang telah numpang ngecas padanya dengan menggunakan kekerasan" ucapan Doni membuat Qaynaya memalingkan wajahnya karena malu. Sementara Serli tertawa mendengarnya.


"Kita semua sudah dewasa, kamu juga sudah tau kebenarannya, selesaikan lah masalah kalian. Ayo sayangku, apa kamu tidak mau ngecas juga? sepertinya baterai ku juga sudah lemah" Serli menarik dasi Doni dan membawanya kembali ke dalam kamar.


"Ada apa ini? apa yang sebenarnya terjadi?!, aku yakin itu anakku, dia mirip denganku dan tersenyum melihatku" Djani menunjuk pada Andjani dan berniat untuk menggendongnya.


"Bukan, ini bukan anakmu, bukankah anakmu sudah menghilang dihari pernikahan mu dengan wanita lain saat itu, jadi jangan berfikir yang bukan-bukan, cepat pergi dan jangan datang lagi!!" Qaynaya bangkit dari duduknya dengan susah payah dan hampir terjatuh, untung saja Djani menahan Andjani sehingga tidak terjatuh.


Djani mengingat ketika Qaynaya berlumuran darah saat tertabrak mobil, dan dokter juga mengatakan bahwa Qaynaya telah keguguran. Tapi hati kecilnya mengatakan bahwa Andjani pastilah anaknya.


"Kenapa kamu mengikuti ku?!" Qaynaya kembali berteriak karena Djani mengekor pada nya masuk kedalam kamar.


"Suka-suka aku, kaki aku sendiri yang jalan" jawab Djani cuek lalu masuk kedalam kamar terlebih dahulu.


Djani duduk ditepi ranjang saat Qaynaya menidurkan Anjhani kedalam boks bayi. Untuk sesaat Qaynaya kebingungan mencari botol susu yang biasanya ada dimeja sebelah boks.


"Diam sebentar disana, aku akan mengambil botol susu" ujar Qaynaya pada Djani, tentu saja Djani sangat senang mendengarnya dan segera mendekat.


"Tidak perlu mendekatinya, diamlah disana!,, hanya dengarkan saja, kalau dia menangis segera panggil aku" perintah Qaynaya, entah kenapa dengan mudahnya Qaynaya bisa menitipkan anaknya pada Djani. Tapi mau bagaimana lagi, bagian bawahnya masih sangat sakit, apalagi harus mengambil susu dan menghangatkannya sambil membopong Andjani, Qaynaya takut kalau nanti anaknya akan terjatuh, karena gendongan bayi miliknya masih belum dia bongkar dari dus sisa pindahan.


Djani melihat sebuah gunting dan tersenyum, dengan cepat dia melakukan niatnya.


Qaynaya yang mendengar anaknya menangis, berlari dengan susah payah dengan menahan rasa sakitnya. Tapi begitu masuk ke dalam kamar, dia terkejut dengan pemandangan yang dia lihat. Djani tengah menggendong Andjani, dan terlihat anak bayi menggemaskan itu tersenyum melihat kearah ayahnya.


"Aku sepertinya tadi mendengar dia menangis" ujar Qaynaya pelan, lalu mengambil Andjani dari tangan Djani.

__ADS_1


"Memang dia menangis, aku melihatnya untuk sekejap, karena dia hanya diam saja, jadi aku memeriksa nya, tapi saat aku pergi dari pandangan matanya, dia langsung menangis, jadi aku menggendongnya, dan dia terlihat nyaman didalam gendonganku"


"Itu hanya kebetulan, karena tidak ada orang lain lagi disini, sudah sekarang kamu cepat pergi" Qaynaya meletakkan Anjhani kedalam boks bayi lalu segera memberikan susu.


"Kenapa namanya mirip dengan namaku?" tanya Djani penasaran.


"Tidak usah merasa terlalu percaya diri, aku menamainya seperti nama dalam tokoh film India, aku sangat menyukai film India yang berjudul Kuch-kuch Hota Hai, di film itu nama tokohnya ada yang namanya Andjani, hanya itu saja, tidak ada alasan lain" alasan konyol yang tiba-tiba terlintas di benak Qaynaya, bahkan dia sendiri harus memalingkan wajahnya supaya tidak terlihat sedang tersenyum geli.


"Jangan membodohi ku, itu namanya Anjali, bukan Andjani" Djani mendekati Qaynaya dan memeluknya erat dari belakang, Qaynaya mencoba berontak, tapi Andjani menangis karenanya, sebab botol susu yang dipegangi Qaynaya menjadi bergoyang.


"Bagaimana kamu bisa tau film itu?" tanya Qaynaya lalu mulai diam tidak lagi memberontak.


"Diamlah sayang, bahkan anak kita ingin supaya kita terus seperti ini. Dulu mama sangat sering menonton film itu, aku sampai ikut hafal" Djani lalu meletakkan dagunya di bahu Qaynaya dan matanya menatap lekat pada Andjani yang tengah dengan lahapnya meminum susu.


"Apa kita buat satu lagi, lalu kalau bayinya laki-laki, bisa kita namakan dengan Rahul" Djani menggigit bahu Qaynaya, membuat Qaynaya menjerit hingga Andjani kaget dan menangis.


"Sayang, anak ayah, jangan menangis" Djani maju dan membelai pipi Andjani. Qaynaya menelan ludahnya, bagaimana bisa Djani langsung mengetahuinya, bukankah ini pertama kalinya Djani bertemu dengan Andjani.


"Ini karena ikatan batin, apa kamu masih ingin menyangkalnya?" Djani berbicara tanpa mengalihkan pandangannya pada anak kecil yang menurutnya sangat mirip dengannya. Sepertinya Djani menyadari apa yang dipikirkan oleh Qaynaya.


"Dia sangat mirip denganku, sepertinya karena aku sangat mencintai mamanya" Djani mencium kening Andjani yang telah tertidur. Qaynaya mundur perlahan saat Djani beralih focus melihat kearah dirinya.


"Ce, cepatlah pergi dari sini" Qaynaya terbata-bata karena merasakan suasana grogi saat Djani terus menatapnya.


"Apa kamu sudah tidak tahan lagi? kenapa mengatakan cepat?" Djani menggoda Qaynaya dan menekannya ke tembok.


"Djani hentikan, Andjani bisa terbangun" Qaynaya berkata lirih saat lidah Djani telah bersarang di lehernya. Djani mengingat sesuatu lalu melepaskan Qaynaya.


Senyuman lega Qaynaya tidak bertahan lama, karena dia pikir Djani akan pergi, ternyata Djani hanya mengunci pintu kamar lalu kembali ke dekatnya.


"Jangan berisik kalau tidak mau Andjani terbangun" ujar Djani lalu menggendong tubuh Qaynaya menuju ke atas ranjang.


"Djani, apa yang kamu inginkan?" Qaynaya berucap lirih, karena tidak mau anaknya terganggu tidurnya.


Djani mengambil kesempatan dengan situasinya, sebenarnya bahkan dia akan terus melakukan keinginannya kalau itu menyangkut dengan tubuh istrinya, apalagi dia sudah berpuasa cukup lama, hampir satu setengah tahun.


"Djani sudah" Qaynaya menahan tubuh Djani yang hendak menindihnya.


"Aku sangat merindukanmu sayang, uugghhhh" ujar Djani, lalu kembali melakukan keinginannya.


"Djani sakit" Qaynaya mencengkeram erat punggung suaminya dan meminta suaminya untuk segera menyudahi aksinya. Qaynaya juga sebenarnya sangat heran, bagaimana bisa Andjani begitu anteng tidak terbangun sama sekali, bahkan ini sudah hampir tiga jam dari saat awal dia tertidur. Padahal biasanya Andjani tidak akan lama untuk tidur siang, paling lama hanya dua jam saja.


"Tahan sebentar sayang, kali ini aku janji cepat" Djani bergerak semakin cepat hingga membuat Qaynaya sedikit kesakitan.


Keduanya tidak bisa menahan lenguhannya begitu Djani kembali menyirami lahan Qaynaya. Tidak lama setelah mereka bisa mengatur nafas, terdengar suara tangisan. Qaynaya sangat lemah bahkan untuk sekedar bangkit dari tidurnya. Djani dengan sigap langsung memakai kembali celana dan bajunya, lalu mencuci tangan sebelum menggendong Andjani.


"Mama sedang kelelahan, sekarang Anna bersama ayah dulu ya cantik" Djani menggendong anaknya dan terlihat sangat luwes, tentu saja karena dia sering menggendong anaknya Sasha.


"Anakmu berumur berapa bulan?" tanya Qaynaya pelan, dia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya dengan foto yang diperlihatkan oleh Sasha tempo hari saat mereka bertemu tanpa sengaja disebuah cafe, saat Qaynaya sedang meeting.


"Anak yang mana? anak kita kan baru satu ini ada di gendonganku, kamu yang lebih tau berapa umurnya, kamu itu selain istri nakal, juga adalah seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya" Djani lalu menciumi Andjani dan mengajaknya bercanda.


"Kenapa kamu mengatakan seperti itu? aku melakukan yang terbaik untuknya" Qaynaya berusaha untuk duduk dan meraih bajunya. Qaynaya mendengus kesal, karena bajunya rusak.


"Nanti aku belikan tokonya" jawab Djani melihat tatapan mata Qaynaya padanya yang terlihat kesal.


"Bagaimana bisa seorang ibu menjauhkan anak dari ayahnya, bahkan kamu meminta pada dokter untuk mengatakan bahwa kamu keguguran, kalau bukan karena kamu itu wanita jahat, lalu sebutannya apa lagi?" ucapan Djani membuat Qaynaya terdiam dan menggigit bibirnya.


"Lalu siapa anak yang kamu gendong?" tanya Qaynaya pelan lalu semakin menaikkan selimut untuk menutupi dadanya.


"Anak yang mana? kamu lihat dimana?" Djani bukannya menjawab, malah bertanya balik, karena memang tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Qaynaya.


"Bayi laki-laki, aku melihat kupluk nya bertuliskan nama Ardi, Sasha yang memperlihatkan Fotonya saat kami bertemu tanpa sengaja disebuah cafe" Qaynaya hendak meraih anaknya, tapi tidak di izinkan oleh Djani.


"Jangan berani mengambilnya, aku masih sangat merindukannya"


"Bagaimana kalau itu bukan anakmu? kamu terlalu sembrono dalam berfikir, dan cepatlah pergi, nanti suamiku keburu pulang" Qaynaya mengusir Djani dan kembali berusaha mengambil Andjani.

__ADS_1


"Waktu kamu bilang sudah menikah lagi dengan Doni, aku hampir menggila, dan untung nya aku tidak memperdulikan hal itu dan menerobos masuk ke sini, lalu aku mengetahui dengan pasti kalau Doni bukan suamimu, lalu suami siapa lagi yang sekarang mau kamu akui?,, akulah suamimu!!"


Mendengar perkataan Djani, Qaynaya tidak bisa berkutik lagi dan tidak sanggup menjawab, karena memang dia sama sekali belum menikah lagi, bagaimana mungkin dia bisa memikirkan untuk menikah lagi, hati dan tubuhnya sudah sepenuhnya milik Djani.


"Pulanglah lebih dahulu, istrimu pasti sedang menunggumu" Qaynaya berkata sambil tersenyum membuat Djani terpana, karena akhirnya bisa melihat senyuman Qaynaya lagi, walau Djani tau, kalau senyuman itu untuk menutupi kesedihan yang mendalam di hati Qaynaya.


"Istriku ada disini, jadi aku sudah berada dirumah"


"Aku melihat berita bahwa kamu sudah menikah lagi setelah tragedi Geby"


"Itu pancingan supaya kamu pulang dan kembali padaku, karena aku mengetahui keberadaan mu di negara ini, tapi aku tidak tau dimana alamat pastinya"


"Bohong" Qaynaya menatap sendu ke arah Djani, sungguh mustahil bagi seorang seperti Djani untuk tidak menikah lagi, setelah ditinggalkan oleh istrinya sekian lama. Dulu memang Qaynaya juga pernah pergi dari Djani, tapi itu hanya sebentar.


"Pulanglah bersamaku, kamu akan tau segalanya" Djani duduk dan meletakkan Andjani diatas pangkuannya dengan bantal sebagai alasnya, supaya anaknya nyaman.


"Aku tidak mau" Qaynaya berkata pelan, tapi sudah seperti mata pisau yang menancap di hati Djani.


"Terserah, karena aku akan membawamu paksa" Djani menarik Qaynaya kedalam pelukannya.


"Jangan pergi lagi, sebelum aku mengetahui keberadaan mu, aku sudah hampir gila. Anak yang bernama Ardi itu adalah anaknya Sasha, mereka kebetulan tinggal dan menetap di negara ini, jadi aku sering menemuinya untuk sekedar bermain bersama Ardi, untuk mengobati rasa rinduku pada anakku yang kamu bilang telah tiada, tapi ternyata dia tumbuh cantik seperti ini"


"Aku masih belum bilang kalau dia anakmu, kenapa kamu begitu percaya diri?" Qaynaya melepaskan pelukan Djani dan mencium kening anaknya yang terlihat sangat anteng dalam pangkuan ayahnya.


"Aku tidak akan bertanya lagi, tapi aku akan mencari tau sendiri, kalau benar Anna adalah anakku, maka aku akan menghukum mu, dan kalau bukan, dia tetap adalah anakku"


"Dasar pemaksaan" Qaynaya memanyunkan bibirnya lalu bergerak perlahan turun dari ranjang. Djani meminta maaf karena tidak bisa memandikan Qaynaya seperti dulu, karena kalau dia melakukannya maka tidak ada yang menjaga Andjani.


"Ayo kita sewa seorang pengasuh, supaya kita punya lebih banyak waktu bersama, aku ingin sekali memandikan dirimu" Djani menahan tangan Qaynaya.


"Kamu tidak pernah berubah, dasar otak kotor!" ucap Qaynaya lalu menggigit pipi Djani. Kebiasaan lama yang kembali dilakukan oleh Qaynaya, membuat hati Djani hampir meledak karena begitu bahagia.


Qaynaya berjalan perlahan dan berpegangan pada tembok untuk sampai ke dalam kamar mandi, rasa linu dan perih sungguh sangat terasa.


Pintu kamar terdengar diketuk dari luar, dan terdengar suara Serli memanggil Andjani dan Qaynaya. Djani lalu membuka pintu, dan kembali sukses membuat Serli terkaget. Serli pikir Djani telah pergi.


Tanpa bertanya lagi, dan dari kejauhan sudah terlihat ranjang yang berantakan, Serli tentu sudah sangat paham apa yang baru saja terjadi.


"Dimana Qay, dan berikan Andjani padaku, aku merindukannya" ujar Serli, tapi tentu saja Djani tidak mau memberikannya.


"Aku ayahnya yang baru bertemu dengan dirinya, sudah tentu rasa rinduku lebih besar, lagipula bukankah tadi siang kamu sudah mengajak nya bermain?"


"Aku adalah tantenya, aku yang menemaninya selama masih didalam kandungan, dan aku juga yang menemani dia saat terlahir ke dunia ini, jadi aku yang lebih berhak. Bukan seseorang yang mengaku sebagai ayahnya, bahkan saat baru bertemu" Serli lalu merebut paksa Andjani dan membawanya berlari kedalam kamarnya.


Djani tidak lagi melarang dan menghalangi Serli, setelah apa yang dikatakan oleh Serli tadi. Djani menitikkan air matanya, menyadari begitu berat perjuangan Qaynaya yang harus mengandung dan melahirkan tanpa dampingan nya.


Djani berjalan pelan menuju ke kamar mandi, Qaynaya yang sedang menyabuni tubuhnya kaget dan menjerit dengan kedatangan Djani yang tiba-tiba. Djani lalu membuka pakaiannya dan ikut mandi bersama dengan Qaynaya.


"Tunggu aku selesai dahulu, ini tidak akan lama lagi" Qaynaya menahan tubuh Djani yang mendekatinya. Tapi Djani tidak memperdulikannya dan langsung mendekap erat tubuh Qaynaya.


"Dimana Andjani? nanti tidak terdengar saat dia menangis" Qaynaya malu dengan situasi mereka yang seperti pasangan pengantin baru dan sedang mandi bersama.


"Bersama dengan Serli, sepertinya aku berhutang kepada Serli begitu banyak, karena dia yang menjaga dan merawat mu dan anak kita selama ini" Djani menyelesaikan mandinya dan membopong tubuh Qaynaya setelah mereka selesai dengan ritual mandi yang sedikit lama, karena Djani begitu takjub dengan perubahan bentuk tubuh istrinya yang dadanya semakin terlihat berisi, tetapi badannya tetap singset.


Bagaimana bisa seorang wanita langsung bisa mengembalikan bentuk tubuhnya setelah hamil dan melahirkan, yang terlihat berbeda hanya dada istrinya yang semakin berisi karena sedang memproduksi banyak ASI.


"Kamu semakin seksi" ucap Djani saat memperhatikan istrinya yang sedang memakai baju.


"Jangan gombal, ayo cepat keluar. Aku sangat lapar" ujar Qaynaya setelah menyisir rambutnya dan memakai lipstik untuk menutupi wajahnya yang terlihat pucat dan kelelahan.


"Diam saja didalam kamar, aku akan mencarikan makanan untuk mu, lagipula bukankah kamu masih kesakitan?" Djani memeluk erat tubuh Qaynaya dari belakang.


"Aku sangat yakin kalau Anna adalah anakku, tapi bagaimana kalau keyakinanku salah? karena aku juga pernah sangat yakin kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan diriku, tapi buktinya kamu terus meninggalkan diriku" Djani mempererat pelukannya dan mereka saling memandang di cermin.


"Dia bukan anakmu" Qaynaya berkata pelan, tapi terlihat sangat serius. Djani terkecoh dan mundur mendengarnya, lalu segera mengambil langkah seribu meninggalkan Qaynaya.


Tangisan bercampur senyuman, terlihat di wajah Qaynaya setelah Djani pergi. Qaynaya mengambil langkah ini, karena dia pikir ini yang terbaik untuk semuanya.

__ADS_1


Andjani bisa hidup normal seperti anak biasa, itulah yang di inginkan oleh Qaynaya. Karena sebagai keturunan dari konglomerat, pasti akan berat bagi hidup Anjhani kelak.


__ADS_2