Kesepian

Kesepian
Djani Kecewa


__ADS_3

💙 Flashback 💙


"Apa yang kamu lakukan ditempat ini?" Rini melihat kedatangan seseorang yang sangat tidak dia harapkan kedatangannya.


"Aku mendapatkan undangan dari perusahaan" Rega tidak terlalu memperdulikan Rini dan langsung menjauh dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tersebut. Rega memang mengagumi Rini, bagaimanapun Rega hanya lelaki biasa, dia juga mengagumi tampilan cantik dan menawan dari seorang Rini.


Tetapi Rega cukup tau diri, dia hanyalah seorang karyawan rendahan di perusahaan milik orang tuanya Rini. Rega bahkan tidak pernah berharap dia akan mendapatkan kesempatan besar menjadi seorang menantu dari keluarga terpandang atau bahkan keluarga konglomerat seperti keluarga Rini.


"Siapa dia?" tanya seorang pria yang bersama dengan Rini. Rega tau kalau pria tersebut adalah kekasih dari Rini, karena Rini pernah menunjukkan fotonya, karena berharap kalau Rega bisa menolak perjodohan mereka, alih-alih menerimanya tanpa penolakan. Tapi tidak seperti dugaan Rini, karena walaupun tau kalau Rini sudah memiliki kekasih, tetap saja Rega tidak mundur dari perjodohan itu.


"Hanya karyawan rendahan yang bekerja di perusahaan ayah" jawab Rini tanpa memikirkan perasaan Rega, padahal Rini tau kalau Rega pasti bisa mendengarkan ucapannya, karena Rega belum terlalu jauh berjalan.


Tidak ada reaksi apapun dari Rega, dia terus berjalan menjauhi Rini, untuk segera mendekati kenalan nya yang juga datang di acara tersebut. Rega lalu berbincang-bincang dengan seseorang, hingga acara yang awalnya berjalan cukup lancar itu, harus berhenti sejenak karena sebuah teriakan.


Rega menyadari siapa yang sedang berteriak, lalu segera datang ke arah sumber suara.


"Sudah aku katakan kalau Riko adalah kekasihku, kenapa kamu terus gatal untuk merebutnya dariku? apa kamu wanita yang tidak laku sehingga kamu melakukan semua ini?!" seorang wanita tiba-tiba datang dan membuat keributan dengan mengaku sebagai kekasih dari pria yang sedang bersama dengan Rini.


"Jangan kurang ajar ya kamu!!, aku dan Riko sudah lebih dulu berpacaran sebelum kamu datang ke kota ini!!" Rini marah dan menghempaskan tangan wanita yang sedang memegangi Riko.


Wanita itu sedikit terdorong ke belakang, untung saja Riko menolongnya tepat waktu, sehingga wanita tersebut tidak terpelanting ke lantai. Rini semakin marah melihatnya.


"Apa yang kamu lakukan?! kenapa kamu menyentuh wanita tidak tau diri ini?!" Rini yang sudah dikuasai dengan amarah, tidak bisa lagi menahan perasaannya, saat itu dia lalu berjalan ke sebuah meja yang terdapat banyak minuman. Rini mengambil satu gelas berisi air minum, lalu menyiramkan nya ke arah wanita yang mengaku sebagai kekasih dari Riko.


Bbyyuuurrrrr


Rini menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang, matanya memandang tidak percaya dengan apa yang ada didepannya. Rega berdiri dan membiarkan dirinya yang tersiram.


"Sudahi ini semua, tahan amarahmu, apa kamu tidak menyadari kalau saat ini kamu sedang menjadi pusat perhatian? ayo segera pergi dari sini sekarang" bisik Rega yang telah mendekati Rini.


"Apa yang sudah kamu lakukan? untuk apa aku pergi dari tempat ini? aku tidak melakukan kesalahan apapun, wanita itu yang seharusnya pergi dari sini, lagipula kamu itu siapa? beraninya kamu memerintahkan sesuatu padaku?!" Rini mendorong tubuh Rega yang menghalangi pandangannya dari Riko.


"Kenapa kamu terus berdiri disamping wanita tidak tau malu tersebut?!" Rini dengan gusar mendekati Riko dan hendak menarik tangan dari kekasihnya tersebut.


"Aku sedang mengandung anak Riko, dia mendekati mu hanya karena harta kekayaan keluargamu. Selama ini kamu terlalu berbangga hati hanya karena harta kekayaan keluargamu, sekarang lihatlah baik-baik, tidak selalu harta kekayaan bisa berpihak padamu!" wanita itu menantang Rini dan menghalangi Riko yang berniat untuk menenangkan Rini.


"Sudahi rencanamu, aku tidak memerlukan lagi hartanya, aku hanya mau kita selalu bersama, aku tidak mau lagi harus menahan diri, dan terus menahan perasaan ku karena kamu lebih mementingkan dirinya" wanita itu lalu menarik tangan Riko untuk segera pergi.


Rini tentu tidak membiarkannya, dengan gerakan cepat dia menahan tangan Riko. Rini belum paham apa yang sedang terjadi, dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Rini menahan Riko, dan bertanya tentang semuanya.


"Ini tidak seperti yang kamu duga sayang, tolong dengarkan penjelasanku setelah aku mengantarkan nya terlebih dahulu" Riko melepaskan tangan wanita yang menariknya dan memegangi kedua pipi Rini.

__ADS_1


Bbbuuuuggggghhhhh


Sebuah pukulan melayang di wajah Riko, semua orang menjadi lebih heboh dengan situasi yang sedang terjadi. Rega geram melihat tingkah Riko yang tidak berani mengambil keputusan.


"Apa yang kamu lakukan?!!" Rini berteriak, dia tidak terima kalau kekasihnya dipukul oleh Rega.


🖤 Flashback End 🖤


Neli berhenti bercerita dan melihat ke arah seseorang yang datang dan langsung memeluk Qaynaya.


"Apa kabar Neli, aku langsung berlari pulang, begitu mendengar kabar tentang kedatangan Neli, rapat bahkan aku undur" ucap Djani, tetapi pandangan matanya terus menatap wajah Qaynaya yang sekarang berada dalam dekapannya.


Qaynaya malu, wajahnya bersemu merah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Neli juga hanya bisa menahan senyumnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? nenekmu ada disini? apakah nenekmu berubah menjadi wanita cantik?" Neli pura-pura kesal dengan cucunya. Djani tersenyum setelah mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya.


"Maaf Neli, aku tidak bisa menahan pesona dari wanita jahat ini, wanita yang membuatku tidak bisa konsentrasi lagi dalam bekerja. Neli kapan datang? kenapa tidak memberiku kabar?" Djani melepaskan pelukannya pada sang istri, lalu menghadap ke arah neneknya.


"Tidak bisakah kamu bersikap normal didepan nenek? kasihanilah nenek yang sedang jauh dari kakek mu" Neli tersenyum melihat cucu kesayangannya. Mata Neli berkaca-kaca melihat cucunya yang terlihat sangat bahagia.


Neli tidak pernah menyangka, kalau cucunya bisa terlihat begitu sangat bahagia. Saat Djani mengalami keterpurukan karena ditinggal menikah oleh Qaynaya, Neli yang juga mengetahui kejadian tersebut, lalu mencari tau kebenarannya.


Neli dari awal tau tentang Qaynaya, karena sebelum Djani berniat untuk balas dendam terhadap Qaynaya, ternyata Neli telah lebih dahulu berniat untuk melakukannya. Neli meminta pada orang suruhannya untuk mencari tau tentang Qaynaya, dan memberikan perintah untuk membalas dendam kalau memang Qaynaya telah menyakiti cucunya.


Neli yang harus focus pada kesembuhan, menjadi seperti dipenjara karena tidak diperbolehkan berhubungan dengan dunia luar, dan hanya diperbolehkan untuk menerima tamu, bahkan tamu yang datang menjenguk juga tidak di perbolehkan untuk membicarakan masalah serius. Sehingga tidak ada kesempatan bagi Neli untuk mengatakan kebenaran tentang Qaynaya pada Djani.


Saat ini Neli melihat kearah cucunya dengan tatapan penuh kebahagiaan dan bahkan tidak sanggup menahan rasa harunya. Neli sangat lega, karena ternyata Djani sudah mengetahui segalanya.


"Aku mendengar kabar bahwa kamu sempat menyiksa istri cantikmu?" Neli mendengarkan kabar itu dari suruhannya saat dalam perjalanan tadi. Orang suruhannya tidak berani mengatakan kebenaran tentang Qaynaya yang telah diketahuinya pada Djani, karena merasa tidak mendapatkan perintah untuk melakukan hal itu. Orang suruhan itu, takut melakukan kesalahan kalau melakukan hal yang tidak diperintahkan.


"Tidak perlu dibicarakan lagi nek, semua sudah berlalu, lagipula aku pantas mendapatkan nya, karena disengaja atau pun tidak, tetap saja aku telah menyakiti hati Djani. Sekarang kita sudah impas nek, jadi aku yang akan menyiksanya seumur hidupku, apakah boleh nek?" Qaynaya mencoba mencairkan suasana, dia tidak mau kalau suaminya kembali mengingat tentang kejadian itu.


"Kamu berani menyiksaku?" tanya Djani yang langsung melihat kearah Qaynaya, begitu mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut.


"Kenapa tidak? apa kamu takut?" Qaynaya memajukan badannya dan semakin menempel pada suaminya. Djani tidak memperdulikan keberadaan Neli, dan langsung menyergap bibir Qaynaya. Djani begitu gemas dibuat oleh istrinya. Qaynaya kelabakan, karena dia tidak berfikir kalau Djani akan melakukan hal ini didepan Neli.


"Aku semakin pikun, semalam saja dia tidak malu dilihat oleh mama Rini, jadi mana mungkin kalau dia malu dilihat oleh Neli,, mau ditaruh di mana mukaku" Qaynaya berbicara dalam hatinya, sembari berusaha untuk melepaskan ciuman suaminya.


Dengan wajah memerah dan nafas yang tidak beraturan, Qaynaya berpaling dari wajah suaminya untuk kembali menghadap ke arah Neli. Wanita yang sudah memasuki usia senja tersebut, tersenyum melihat Qaynaya.


"Jangan malu sayang, Djani memang seperti itu, nenek sangat tau kalau Djani adalah orang yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Tolong jangan merasa terbebani dengan sifat dan sikap Djani. Nenek mohon padamu Qay, jagalah Djani untuk nenek" Neli menjelaskan dan bersiap untuk bangkit, karena dia sadar dengan situasinya.

__ADS_1


"Nenek sangat lelah setelah perjalanan jauh, jadi sekarang nenek akan beristirahat. Kalian silahkan lanjutkan saja kegiatan kalian, nenek juga pernah muda, tidak perlu sungkan ataupun malu di depan nenek" Neli dengan senyuman menggodanya, lalu mengedipkan mata kanannya pada Djani.


Djani kegirangan dan langsung membopong tubuh Qaynaya menuju ke dalam kamar mereka. Qaynaya mencoba berontak, dia malu karena ada beberapa pelayan yang melihat kearah mereka. Bahkan dengan sudut matanya, Qaynaya bisa melihat pelayan yang tidak menyukainya tengah memberikan tatapan tajam. Tidak seperti pelayan lain yang menundukkan kepala, satu pelayan itu terlihat tidak takut untuk menunjukkan rasa tidak sukanya pada Qaynaya.


"Sepertinya dia bukan pelayan biasa" batin Qaynaya, sesaat sebelum pintu kamarnya telah kembali tertutup. Djani melupakan rasa sakit yang tadi pagi dirasakan oleh Qaynaya, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Qaynaya, tetapi ternyata, ada hal lain yang dilakukan oleh suaminya, saat dirinya sudah tidak memakai sehelai benangpun pada bagian bawahnya.


"Sayang,, bukankah kamu harus rapat?" Qaynaya sedikit merintih, karena suaminya tengah membelai lembut aset pribadi miliknya.


"Tidak ada yang lebih penting dari dirimu" jawab Djani, lalu memeriksa sebuah gundukan bukit dengan aroma yang khas. Aroma yang telah membuat Djani selalu mengingatnya, dan selalu ingin memakannya.


Qaynaya kegelian dengan apa yang dilakukan oleh Djani, tetapi ternyata Djani tidak melakukan kegiatan seperti biasanya. Untuk sesaat Qaynaya kebingungan, dia sebenarnya telah menyiapkan kekuatannya untuk menghadapi suaminya, walau terlihat tangannya sedikit gemetar sembari meremas kuat bantal yang dipakainya saat Djani memeriksa aset pribadinya.


"Untung saja tidak lecet, hanya sedikit memerah, aku harap ini segera pulih saat aku kembali nanti" ucap Djani lalu mencium sekilas gunung dengan sedikit bulu halus yang menutupi isi didalamnya.


"Aaakkkhh" terdengar rintihan dari Qaynaya karena ulah Djani.


"Jangan sayang, kalau kamu bersuara seperti itu, aku tidak bisa menahan diri" Djani memakaikan kembali semua yang tadi dia lepaskan dari tubuh bawah istrinya. Saat memakai kan kancing rok istrinya, Djani menghela nafas dan menjatuhkan tubuhnya di sebelah istrinya.


Qaynaya keheranan dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, dengan gerakan perlahan, Qaynaya memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Djani.


"Ada apa? kenapa berhenti? apa aku tidak lagi,, hheeemmmpppp" Qaynaya tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena dengan gerakan cepat, Djani telah menyambar bibirnya, dan mendekap erat tubuhnya. Qaynaya lalu memejamkan matanya, menikmati permainan lidah suaminya.


Qaynaya merasa khawatir, dia kembali merasakan ketakutannya kalau Djani akan menjadi berubah, karena dia yang lemah. Djani lalu menjelaskan bahwa dia tidak konsentrasi bekerja karena mengingat kondisi Qaynaya yang kesakitan karena ulahnya.


"Bukankah kamu pulang karena nenek datang?" tanya Qaynaya yang tengah membelai rambut suaminya. Djani kembali melakukan kebiasaannya setelah menyudahi aksinya menyesap bibir manis Qaynaya.


Kebiasaan yang menjadi candu baginya, yaitu meletakkan kepalanya pada dada sang istri. Qaynaya yang tau hoby baru suaminya, hanya bisa menerima dan mendekap erat kepala Djani dengan erat, karena itu yang diharapkan oleh Djani.


"Aku mengetahui kedatangan Neli saat diperjalanan"


"Kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan Neli? bukankah lebih sopan kalau hanya dipanggil dengan sebutan nenek saja?"


"Aku sudah terbiasa dari kecil dengan panggilan itu, lagipula Neli juga menerima hal itu, dan malah terlihat senang, karena nenek yang sakit-sakitan, berharap bisa kembali lincah seperti dahulu lagi" penjelasan Djani terdengar menyedihkan, tetapi tidak dengan tindakannya yang tidak mau melepaskan diri dari dekapan hangat istrinya.


"Aku harus mengisi tenaga terlebih dahulu, rapat hanya dimundurkan tetapi tidak bisa dibatalkan, jadi aku harus segera kembali. Beristirahatlah didalam kamar, dan ingat untuk tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kalau ada yang berani menyakitimu, bahkan itu mama sekalipun, kamu harus menceritakan nya padaku" Djani lalu melepaskan dekapannya dengan perlahan. Wajah cantik istrinya terlihat sendu dengan rambut yang acak-acakan dan menutupi sebagian wajahnya.


"Kenapa kamu terlihat sedih? apa ada yang menyakitimu sayang?" Djani merapikan rambut Qaynaya, lalu memandang wajah istrinya dengan intens, seolah memeriksa nya, karena takut terjadi sesuatu pada istri tersayangnya. Qaynaya menggeleng lalu tersenyum.


"Siapa yang berani menyakitiku? aku ini adalah istri dari seorang pria hebat, sekarang jawab aku dengan jujur,, kenapa kamu tidak melakukannya? bukankah aku sudah bilang untuk tidak berubah, lakukan saja sesuka hatimu" Qaynaya masih butuh jawaban pasti tentang masalah yang satu ini, apalagi suaminya yang tidak melakukan apapun padanya. Di kantor saja, Djani akan melakukan nya, karena tidak sanggup menahan hasratnya, lalu kenapa sekarang menjadi berubah.


"Apa karena ini masih tentang tangisan ku tadi pagi? bukankah sudah aku katakan untuk tidak berubah karena hal itu" Qaynaya menahan bibir suaminya yang berniat menghentikan ucapannya.

__ADS_1


"Jawab dulu" Qaynaya terus menahan bibir suaminya. Djani cemberut lalu memalingkan wajahnya. Qaynaya semakin sedih dengan tingkah suaminya.


"Apa Djani benar-benar kecewa padaku?" batin Qaynaya dan terus menatap suaminya.


__ADS_2