Kesepian

Kesepian
Djani Sudrajat


__ADS_3

Rupanya Arion mengirimkan pesan pada Rini, dan menceritakan apa yang tengah terjadi di sekolah. Qaynaya tentu saja tidak langsung menceritakan hal itu pada Andjani, dan hanya segera bergegas untuk menyusul Arion dan Djani, setelah sebelumnya meminta tolong pada Rini, untuk menemani Andjani.


Andjani bertanya pada neneknya, tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena pasti terjadi sesuatu yang buruk, kalau dilihat dari betapa terkejut dan khawatirnya Qaynaya setelah membaca pesan tadi.


Rini tidak menjawab apapun, dan meminta pada cucunya untuk tidak banyak berfikir, dan membantu Andjani untuk kembali rebahan, supaya bisa beristirahat.


"Percaya saja pada mama dan ayahmu, mereka pasti akan segera menyelesaikan masalah. Dan segera kembali pulang, kamu tidurlah dahulu, nanti setelah waktu makan siang, nenek akan membangunkan dirimu, karena kamu harus makan siang, dan juga minum obat" Rini juga tidak lupa menyelimuti tubuh cucunya, supaya lebih nyaman beristirahat.


Sebenarnya Rini juga merasakan kekhawatiran yang begitu besar, apalagi dia juga sempat membaca pesan yang dikirimkan oleh Arion. Tadi sepertinya Arion menghubungi ponsel Qaynaya, akan tetapi, karena Qaynaya sedang berbicara serius dengan Andjani, dan meninggalkan ponselnya di luar kamar, jadi Qaynaya tidak mengetahui ada pesan masuk.


Setelah memastikan kalau Andjani sudah tidur, Rini lalu dengan perlahan keluar dari dalam kamar, untuk segera mencari tau, apa yang sebenarnya terjadi pada Djani dan Arion.


Sementara itu, Qaynaya juga telah sampai ke sekolah dimana selama ini Arion menimba ilmu. Dengan sedikit berlari, Qaynaya mencari keberadaan suami dan anaknya. Qaynaya terlihat semakin panik, saat sekelebat sosok yang tidak dia harapkan keberadaannya ada juga ditempat itu.


Qaynaya merasa kalau masalah ini tentunya sangatlah besar, karena sosok yang tadi dia lihat adalah seorang penegak hukum. Qaynaya tidak habis pikir, karena Djani bersama dengan Arion, bagaimana bisa Arion mendapatkan masalah, dan bahkan sampai harus melibatkan polisi.


"Untuk apa kamu datang kemari?!" Djani kaget melihat kedatangan Qaynaya, dan segera menyongsong kedatangan istri tercintanya itu.


"Apa yang terjadi?!" Qaynaya memegangi lengan Djani, dan segera meminta penjelasan. Ruangan itu sudah seperti ruangan persidangan saja, dengan Djani dan Arion seperti terdakwanya saja.


Tidak hanya sekolah yang ternyata tunduk pada keluarga Axel, ternyata polisi yang datang karena ditelepon oleh Djani juga sama saja. Para polisi itu tidak mau memperpanjang urusan, dan terus membujuk Djani untuk tidak melanjutkan rencananya untuk membuat laporan tentang penganiayaan yang dilakukan oleh Axel pada Arion.


Polisi yang datang ke sekolah, awalnya tidak tau kalau masalahnya melibatkan keluarga Axel yang sangat terhormat di negara ini, mereka datang dan ingin segera membawa pelaku bullying yang sangat dikecam di negara ini, tapi begitu tau kalau pelakunya adalah Axel, mereka langsung melempem dan tidak berani melakukan apapun.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Djani semakin geram dibuatnya, Arion yang melihat kalau ayahnya semakin terpojok, lalu mengirimkan pesan, karena Arion pikir, hanya mamanya yang bisa membujuk ayahnya.


Dari awal Arion tidak ingin memperpanjang urusan dengan Axel, bahkan selama ini juga dia tidak pernah membalas setiap hinaan dan cemoohan yang ditujukan Axel padanya. Itu semua dia lakukan karena dia tidak mau membuat masalah. Hanya saja Arion tidak menyangka kalau hari ini Axel begitu berlebihan, bahkan sampai memukul dirinya, dan lebih naasnya lagi, hal itu terjadi di hadapan Djani.


Axel yang tidak mengerti situasi, masih saja bercanda di sudut ruangan bersantai dan sesekali tertawa bersama dengan teman-temannya, tidak terlihat sedikitpun rasa takut atau menyesal karena baru saja melakukan tindakan yang bisa saja menyeretnya ke ranah hukum.


Qaynaya menatap tajam kearah Axel, dan runtuh sudah harapan Arion yang berharap kalau mamanya bisa membujuk ayahnya, supaya hal ini segera selesai, karena saat ini, Qaynaya dengan geram mendekati Axel.


Djani menahan Qaynaya, dia tidak mau kalau sampai istrinya itu mendapatkan masalah. Sudah cukup dirinya yang akan menghadapi masalah ini, Djani tidak mau istrinya juga harus berurusan dengan hukum.


"Bagaimana bisa ini terjadi? kenapa masalah ini datang secara bersamaan?" Qaynaya menangis karena merasa frustasi. Belum juga selesai masalah Andjani, sekarang ternyata Arion juga menyimpan masalahnya.


Qaynaya begitu terpukul karena merasa kecolongan, dia merasa menjadi ibu yang gagal melindungi anak-anaknya.


Arion tidak menyangka kalau ternyata dia salah, karena dia pikir dengan kedatangan mamanya, maka semuanya akan segera selesai. Ternyata masalah semakin melebar, karena mamanya juga tidak akan membiarkan masalah ini selesai begitu saja. Arion tidak akan paham bahwa apapun yang terjadi, anak-anak pastinya selalu yang paling utama bagi orang tuanya.


Ada rombongan beberapa orang yang datang, dan mereka langsung memberikan salam pada Djani dan Qaynaya. Mereka juga membawa beberapa berkas yang sepertinya sebelumnya diminta oleh Djani.


"Tuan, ini berkas yang tuan inginkan. Semuanya sudah lengkap, beliau yang bersama dengan saya ini adalah beberapa pengacara handal di negara ini, kalau tuan juga ingin mengundang pengacara pribadi yang berasal dari negara kita, mungkin nanti malam baru beliau bisa sampai, karena perjalanan cukup jauh"


"Baik, terimakasih" jawab Djani singkat, kali ini dia tidak akan segan lagi untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.


Ayahnya Axel tidak lama datang lagi, karena dihubungi lagi oleh pihak sekolah. Saat masuk kedalam ruangan, ayahnya Axel begitu terkejut, karena melihat jajaran pengacara kondang di negara ini sudah berkumpul.

__ADS_1


"Bapak kepala sekolah, lihatlah berkas ini" Djani mendekati kepala sekolah, begitu ayahnya Axel telah datang.


"Apakah ini benar? ini pasti tidak benar!" kepala sekolah begitu terkejut setelah membaca berkas yang diberikan oleh Djani.


"Iya itu benar, dan ada pengacara yang bisa memastikannya" jawab Djani dengan sangat percaya diri.


Selama ini Djani tetap membangun perusahaan nya dinegara ini, walau dia lakukan secara diam-diam, karena istrinya tidak mengizinkannya. Jadi walaupun tidak terlihat, dia tetaplah Djani yang seorang pengusaha sukses. Selama ini dia percayakan semua pada orang kepercayaannya untuk urusan pekerjaan di perusahaan, Djani hanya sesekali memantaunya.


Ini semua dia lakukan sebagai tameng kalau terjadi sesuatu, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menunjukkannya.


"Beliau ini adalah tuan Djani Sudrajat yang mempunyai perusahaan tersebar di seluruh dunia. Untuk dinegara ini sendiri, perusahaan itu cukup besar, hanya saja pemiliknya selalu memakai nama anonim" orang kepercayaan Djani mulai berbicara.


"Tidak perlu mengatakan hal yang tidak semestinya, masalah itu tidak perlu dibicarakan di tempat ini. Focus saja pada masalah utama" Djani menginterupsi ucapan bawahannya.


"Baiklah tuan, maafkan saya"


Djani meminta pada Qaynaya untuk membawa keluar Arion, tapi Qaynaya tidak mau, karena dia ingin melihat semuanya sampai selesai. Qaynaya hanya mendekati Arion yang terlihat kebingungan dengan apa yang dia lihat.


"Benar tidak ada yang sakit?" Qaynaya memeriksa Arion.


"Tidak ma, aku baik-baik saja. Sebenarnya ini ada apa ma? siapa sebenarnya ayah?" Arion meminta penjelasan dari mamanya.


"Kita duduk dahulu ya, nanti juga kamu akan mengerti, tapi mama harap, kamu rahasiakan hal ini dahulu dari kakakmu, mama mohon dengan sangat, apa kamu mengerti?" Qaynaya duduk di sebuah kursi dan terus memegang lengan Arion.

__ADS_1


__ADS_2