Kesepian

Kesepian
Lagi-lagi Perjodohan


__ADS_3

"Aku akan ke cafe sebentar, tolong jaga Andjani. Bukankah salah satu dari kita harus bekerja" Qaynaya melepaskan pelukan Djani.


"Apa kamu sedang menghinaku karena di negara ini aku adalah pengangguran?"


"Bisa dikatakan seperti itu" Qaynaya sangat suka menjahili suaminya akhir-akhir ini. Djani menarik tangan Qaynaya, hingga tubuh istrinya yang sudah berhasil bangun dari tidurnya itu kembali terjerembab jatuh.


Djani membelai lembut rambut Qaynaya dan melarang nya untuk melakukan apapun lagi, dan mengatakan kalau cafe yang dirintis oleh Qaynaya dan Serli serta Doni, berikan saja pada kedua sahabatnya itu.


Qaynaya menolaknya, karena dia masih ingin bekerja, dia sudah terbiasa dengan hal itu. Bukan karena tidak mau memberikan cafe itu pada kedua sahabatnya, tapi Qaynaya merasa masih membutuhkan nya. Sepertinya dia lupa kalau dia adalah istri dari seorang Djani Sudradjat yang merupakan konglomerat ternama.


"Aku tau tuan Djani Sudrajat, anda bisa memberikan segalanya padaku, dan pasti juga akan memberikan kehidupan yang terbaik untuk Andjani, tapi bukankah aku pernah mengatakan padamu, kalau aku ingin hidup sederhana dan normal seperti orang biasa, aku juga ingin supaya Andjani bisa hidup seperti anak kebanyakan. Ketika sedari kecil dia sudah hidup dengan sendok emas di mulut nya, maka dia akan terbiasa dengan hal itu sampai dia besar nantinya. Jadi biarkan dia hidup tanpa embel-embel kekayaan keluargamu?"


"Bukan kekayaan keluarga ku, tapi ini juga milikmu, karena kamu adalah istriku. Aku tidak mau Anna hidup susah"


"Bukan hidup susah, tapi biarkan dia hidup mandiri sedari kecil, jangan biarkan apapun kamu sediakan tanpa ada usaha sedikitpun darinya, nantinya dia bisa menjadi wanita manja, dan aku tidak mau hal itu terjadi. Aku mau dia tumbuh menjadi anak yang kuat, dan dia akan kuat kalau melihat mamanya juga wanita kuat, jadi biarkan aku bekerja" Qaynaya menggerakkan badannya, meminta supaya Djani segera melepaskan nya.


"Dia pasti akan tumbuh menjadi wanita yang kuat sayang, aku yakin itu" Djani tetap saja tidak mengizinkan Qaynaya untuk bekerja.


"Aku akan memantau sebentar saja, sudah terlalu lama aku tidak ke cafe" Qaynaya menciumi pipi Djani, mencoba untuk merayu suami tercinta nya.


"Kamu berlagak seperti bos saja, segala ingin memantau. Sudah diamlah, oh iya,, kapan Anna mulai diberikan makanan pendamping ASI?,, kamu akan semakin sibuk nantinya untuk mengurus anak kita, jadi tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan lagi. Itu adalah kewajiban ku" Djani bangkit dari tempat tidur dan menarik tangan Qaynaya untuk mengikutinya.


Qaynaya berontak karena dia tadi sudah mandi, tapi Djani memaksa untuk menemaninya mandi.


"Kenapa kamu semakin menggila, sudah Djani, tadi malam kan sudah, sekarang aku harus menyusuri Andjani, dan seperti yang kamu katakan, tidak lama lagi anak kita mulai harus diberikan makanan pendamping ASI, jadi aku harus mulai bersiap. Sekarang lepaskan aku dulu"


"Hanya sebentar saja, kalau pun kamu sudah mandi, itu salahmu sendiri, karena tidak mandi menunggu setelah aku bangun. Sekarang ada tugas tambahan untukmu, yaitu kamu harus selalu menemaniku mandi di pagi hari, kalau tidak, maka olahraga malam akan dilakukan dua kali lipat" Djani sudah melucuti pakaian istrinya dan tidak menerima penolakan.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Qaynaya, selain menuruti keinginan suaminya, yang memang dari dulu seperti ini. Djani selalu penuh kelembutan padanya, hanya sering tidak bisa menahan diri dengan waktu dan durasi.


"Aku akan mengurus kepemilikan cafe itu menjadi milik Serli dan Doni, jadi tidak ada alasan bagimu ketempat itu, selain menjadi pelanggan" ujar Djani, sambil membantu istrinya memakai jubah mandinya.


"Apa kamu sengaja membuatku jadi pengangguran, supaya aku terus bergantung padamu?" tanya Qaynaya lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Apa sangat jelas terlihat, kamu memang istri pintar selain istri nakalku, pokoknya kamu tidak di izinkan bekerja, selain untukku. Jangan khawatirkan masalah pekerjaan, karena bahkan dengan tidurpun, uang yang aku punya terus bertambah"


"Anda begitu sombong tuan Djani Sudrajat"


"Tentu saja aku harus sombong, aku mempunyai istri cantik, dan putri yang sangat lucu. Kehidupan ku sangat sempurna"


"Terimakasih karena selalu bertahan padaku" Qaynaya berjinjit lalu mencium pipi suaminya.


"Jangan pernah meninggalkan diriku lagi, aku pasti akan mati kalau itu terjadi lagi"


"Jangan berlebihan, dan jangan katakan omong kosong seperti itu!" Qaynaya kesal karena Djani membicarakan tentang kematian.


"Bukan seperti itu sayang, maafkan aku" Djani tidak menyangka kalau istrinya akan marah padanya, padahal dia berniat menggombal, walau itu setengah kenyataan. Karena selama Qaynaya pergi darinya, dia tidak bisa menyalurkan hasrat lelaki dewasanya yang sedang menggebu, dan itu selalu menyiksanya.


"Maafkan aku, jangan marah sayang" Djani terus membujuk istrinya yang masih terlihat kesal. Qaynaya masih terdiam sembari memakai bajunya, Djani menggunakan kekuatannya untuk menarik baju Qaynaya, supaya mendapatkan perhatian dari istrinya itu.


"Lihat aku, kenapa kamu mengabaikan ku?!" Djani ikut kesal karena Qaynaya tidak merespon apapun perkataannya.


"Aakkhhh" Qaynaya meringis saat Djani dengan cepat mendorongnya ke ranjang.


"Iya sayang, maafkan aku. Kenapa aku tidak boleh kesal padamu?! setiap aku kesal, lalu kamu ikut kesal dan akhirnya akan seperti ini" Qaynaya menahan tangan suaminya yang sedang menggerayangi tubuhnya.


"Aku takut" Djani menghentikan kegiatannya lalu ambruk di sebelah Qaynaya, dia tidak melanjutkan kegiatannya dengan tubuh istrinya.


"Ada apa" tanya Qaynaya lembut, lalu membelai lembut wajah suaminya.

__ADS_1


"Nantinya kamu bisa meninggalkan diriku kalau kesal" Djani menutupi wajahnya menggunakan lengannya. Qaynaya mendekatimu lalu kali ini Qaynaya yang menindih tubuh suaminya.


"Apa menurutmu aku selemah itu sayang?,, aku tidak mungkin pergi hanya dengan alasan seperti ini. Aku katakan sekarang kalau aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, kalau itu bukan karena ada orang ketiga atau perempuan lain" Qaynaya merebahkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Djani memeluk Qaynaya dan menciumi kepala istrinya tersebut.


"Aku berjanji sayang, tidak akan ada wanita lain dalam hidupku. Tapi bukankah saat ini sudah ada Anna, apakah menurut mu dia bukan perempuan lain?" tanya Djani jahil.


"Sayang, aku masih merasa ini semua hanyalah mimpi. Bagaimana mungkin aku diberikan kehidupan yang begitu sempurna seperti ini. Aku mempunyai suami sempurna seperti dirimu, dan keluarga yang sangat menyayangiku. Apakah aku tidak terlalu serakah?" Qaynaya menciumi dada suaminya.


"Aku lah yang sangat beruntung mempunyai istri sepertimu sayang. Sudah sayang, jangan banyak memikirkan hal lain. Kamu hanya harus focus padaku dan Anna"


"Oh iya, bagaimana kalau kita nanti makan siang bersama dengan Sasha, waktu itu aku hanya bertemu dengannya sebentar" Qaynaya mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah suaminya.


"Baik sayangku, apapun yang kamu inginkan, pasti akan aku kabulkan" Djani meminta lagi kegiatan panas sebelum mereka keluar dari dalam kamar, tapi sebelum Qaynaya menolak, terdengar bunyi pintu kamar yang diketuk dari luar.


"Qay, apa kamu sudah bangun? ini Anna menangis, sepertinya dia lapar ingin minum susu" terdengar suara Rini memanggil Qaynaya. Dengan gerakan cepat dan hanya mengambil sebuah daster supaya gampang memakainya, Qaynaya berteriak menjawab.


"Tunggu sebentar ma!" Qaynaya takut Rini langsung membuka pintu kamar, sementara dia belum memakai baju. Djani tersenyum simpul melihat istrinya yang kalang kabut.


"Serli kemana ma?" tanya Qaynaya begitu sudah keluar dari dalam kamar dan mengambil Andjani dari gendongan mama mertuanya. Tadi Qaynaya menitipkan anaknya pada sang nenek saat dia mau mandi.


"Sepertinya bekerja, mungkin karena tidak perlu lagi mengurus Andjani secara bersamaan, mereka jadi berangkat bekerja bersama" jawab Rini, lalu menanyakan pada Qaynaya menu apa yang ingin dimakan untuk sarapan.


"Tidak perlu repot-repot mama, aku bisa membuatnya sendiri, maafkan aku yang belum membuat sarapan. Seharusnya aku yang bertanya pada mama" Qaynaya merasa bersalah, karena Rini pasti sudah kelaparan, dan belum sarapan.


"Kamu masih sungkan saja Qay pada mama mu ini. Mama yang seharusnya merawatmu. Mama tidak mempunyai kesempatan itu saat kamu hamil dan melahirkan, jadi biarkan mama lakukan saat ini. Jangan lupa untuk secepatnya mengandung lagi"


"Mama ini, Andjani masih sekecil ini masa punya adik, kasihan ma. Dan mama tidak perlu memikirkan hal yang sudah terjadi, aku sudah melaluinya dengan baik. Aku akan menyusui Andjani sebentar ma, setelahnya baru aku membuat sarapan"


"Jangan lakukan apapun selain merawat dirimu dan anakmu, untuk urusan rumah dan dapur, itu menjadi urusan mama" Rini bersikeras.


"Tapi ma,," Qaynaya sebagai menantu merasa tidak berguna kalau tidak bisa membahagiakan dan melayani mertuanya.


"Terimakasih mama" Qaynaya sangat terharu dan begitu bahagia mendapatkan mertua seperti Rini. Walaupun dulu mereka sempat tidak dekat, dan Rini tidak menerima kehadirannya di keluarga mereka, tetapi sekarang Rini begitu perhatian dan menyayanginya.


Qaynaya masuk kedalam rumah dan naik ke atas ranjang, supaya lebih nyaman menyusui. Djani yang baru selesai memakai baju, mendekati anak dan istrinya.


"Apa yang ingin kamu makan untuk sarapan, apakah perlu aku bawakan kedalam kamar?" tanya Djani menoel pipi Andjani yang terlihat sangat serius menyedot ASI. Djani sangat paham kalau Qaynaya yang menyusui harus banyak makan.


"Aku akan keluar nanti setelah Andjani selesai menyusu" Qaynaya membalas ciuman suaminya yang tiba-tiba mendarat di bibirnya.


"Kalau butuh bantuanku, panggil saja sayang. Aku akan keluar terlebih dahulu" Djani melepaskan ciumannya lalu segera turun dari ranjang.


Djani mendekati mamanya yang terlihat sibuk di dapur, sedang membuat nasi goreng. Djani lalu membuatkan susu untuk istrinya.


Rini bertanya pada Djani, apa rencananya di negara ini. Karena tidak akan normal kalau mereka tidak bekerja, tetangga bisa saja mencurigai dan bisa dengan cepat menyadari siapa mereka.


"Nanti aku akan makan siang bersama Sasha, aku bisa minta tolong padanya untuk mencarikan pekerjaan. Tapi sebenarnya aku tidak mau bekerja, aku ingin selalu ada di samping Qay dan Anna" Djani curhat sambil menyelesaikan membuat susu, dan beralih dengan mengolesi beberapa lembar roti tawar menggunakan selai.


"Kita harus hidup normal Djani, itu juga demi anakmu, dia butuh figur seorang ayah yang baik, dan salah satu ciri ayah yang baik itu, ya harus bekerja"


"Tapi ma, aku sudah bekerja terlalu banyak selama ini, lagipula pendapatan kita sangat cukup untuk hidup"


"Djani, apa yang kamu pikirkan ini? orang sukses dimana pun itu, mereka masih terus bekerja, walau mereka sudah mempunyai segalanya"


"Iya ma, baik. Aku akan menjemput cintaku dulu untuk sarapan" ujar Djani tanpa malu, Rega yang baru datang langsung mencibirkan bibirnya melihat tingkah anaknya yang seperti sedang dimabuk cinta.


"Biarkan saja, bukankah kita harus ikut senang melihatnya? karena anak kita hidup dengan rukun dan bahagia. Semoga ini bertahan selamanya, dan tidak ada lagi permasalahan" Rini meletakkan satu mangkok besar nasi goreng keatas meja.


Qaynaya baru selesai menyusui Andjani, dan bayi mungilnya telah tertidur karena kekenyangan. Setelah meletakkan beberapa bantal untuk menghalangi Andjani supaya lebih nyaman tidur, Qaynaya lalu berganti baju yang lebih sopan, karena dia saat ini hanya memakai daster tidur.

__ADS_1


"Kenapa berganti baju, daster itu sangat cocok ditubuhmu" Djani masuk kedalam kamar lalu segera mendekati Qaynaya.


"Apa mama sudah selesai membuat sarapan? aku merasa malu karena seharusnya itu adalah tugasku. Aku jadi tidak enak untuk makan" ucap Qaynaya lalu duduk di depan meja rias.


"Siapa yang bilang itu tugasmu? ayo sekarang makan. Tunggu sebentar, aku akan memindahkan Anna dulu ke boks, supaya lebih aman saat dia terbangun, dan kita tidak mengetahuinya" Djani menggendong tubuh mungil anaknya dan menidurkan nya dengan perlahan ke dalam boks bayi.


Mereka lalu sarapan sekeluarga, sambil mengobrol ringan dan sesekali diselingi canda tawa, sungguh membuat iri siapapun yang melihatnya, karena kehidupan mereka terlihat sangat sempurna.


"Kalau tidak salah suaminya Sasha bekerja sebagai wartawan, yang sekarang tidak terlalu aktif lagi karena sudah menjabat sebagai wakil direktur media penyiaran dimana selama ini dia bekerja. Apa kamu yakin akan bekerja dengannya?" tanya Rini pada Djani disela-sela sarapan mereka.


"Tentu aku tidak bekerja disana ma, aku hanya ingin tau apakah ada perusahaan di bidang yang sama dengan perusahaan kita yang nantinya bisa aku ajak bekerja sama" jawab Djani lalu memperhatikan istrinya yang terlihat bingung mencari seseorang.


"Ada apa sayang? apa yang kamu cari?,, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Djani, Qaynaya menggelengkan kepalanya.


"Dimana nenek?" tanya Qaynaya, ternyata dari tadi dia mencari Neli.


"Neli sedang berbelanja, nenek itu benar-benar sangat pantas disebut Neli, karena walau sempat sakit parah, tapi saat ini tetap saja lincah. Tadi juga ini semua Neli yang berbelanja, dan bagi Neli, sebelum kulkas dan lemari bahan makanan itu penuh, dia tidak mungkin berhenti untuk terus berbelanja" Rini yang menjawab, karena Djani juga sepertinya tidak mengetahui keberadaan Neli.


"Sudah sayang, selesaikan sarapanmu dulu. Neli pasti sudah sarapan di luar" ujar Djani lalu mengambilkan segelas susu yang tadi sudah dia siapkan. Setelah selesai sarapan, lagi-lagi Qaynaya tidak di izinkan melakukan apapun, walau sekedar untuk membereskan meja dan mencuci piring.


"Sudah sana beristirahat saja, biarkan ayah dan mamamu yang merapikan semuanya. Sebentar lagi juga pasti Anna akan bangun, jadi kamu butuh tenaga" kali ini Rega yang melarangnya melakukan apapun, walau bagi Qaynaya ini menjadi terlalu berlebihan. Tidak mau melihat istrinya kembali membantah, Djani langsung menggendong Qaynaya dan membawanya ke ruangan bersantai, yang dekat dengan kamar mereka, jadi kalau Andjani terbangun akan terdengar suaranya.


"Kalau aku bekerja, aku takut kamu kerepotan dalam mengasuh Anna, apakah perlu kita sewa pengasuh?" tanya Djani, lalu merebahkan kepalanya pada pangkuan istrinya.


"Jangan pernah lakukan hal itu, kamu ini sebenarnya menganggap aku ini hanya patung? atau menganggap aku ini lemah? kalau saat ini saja aku tidak boleh mengerjakan apapun, lalu untuk apa harus mencari pengasuh lagi? kamu bilang kalau aku hanya harus focus pada Andjani saja, lalu kalau ada pengasuh, apa yang bisa aku lakukan?"


"Aku tidak bilang hanya focus pada Anna saja, yang paling utama itu aku. Akulah focus utama dirimu sayang" Djani menarik wajah istrinya, hingga mereka menjadi berciuman.


Tidak terasa hari sudah siang, dan Andjani juga sudah bangun. Djani dan Qaynaya lalu bersiap untuk segera berangkat menuju lokasi dimana mereka janjian dengan Sasha.


"Ini adalah cafe dimana aku bertemu dengan Sasha waktu itu, ini juga cafe yang bekerja sama dengan cafe Qayli" ujar Qaynaya begitu mereka sampai.


"Disinilah aku saat itu, hanya saja aku pergi terlebih dahulu karena Sasha terlambat, saat itu aku sedang janjian bertemu dengannya. Kamu bahkan bilang akan menemui Sasha ditempat ini keesokan harinya, tapi kamu tidak datang, padahal aku sudah menyewa cafe ini selama seharian" Djani manyun mengingat saat dia terus menunggu kedatangan Qaynaya, tapi istrinya itu malah mangkir dari janjinya.


"Aku tidak berjanji akan datang, Sasha yang mengajak untuk bertemu kembali, tapi aku tidak meng iyakan nya, karena saat itu aku pikir kamu akan menikah lagi di negara ini, jadi untuk apa aku menemuimu" jawab Qaynaya membela diri.


Tidak lama, Sasha datang bersama anak dan suaminya, mereka saling memperkenalkan diri sebelum memesan makanan.


"Pantas saja Djani begitu terobsesi dan tidak mau wanita lainnya, istrinya memang begitu sangat menawan" ujar suami Sasha.


"Darius,, apa kamu tidak punya malu?! kenapa memuji istri orang lain didepan suaminya?" Sasha sewot, mungkin dia juga tengah cemburu karena suaminya memuji wanita lain.


Qaynaya menjadi tidak nyaman karena situasi yang menjadi canggung. Djani melihat ke arah Darius dengan tatapan tajamnya. Sebenarnya Djani sungguh sangat ingin marah, tapi Qaynaya mengelus telapak tangannya untuk menenangkan.


"Jangan lakukan hal canggung seperti ini lagi, aku tidak menyukai saat orang lain melihat ke arah milikku, dan kamu juga seharusnya menjaga perasaan wanitamu" ujar Djani, Darius yang sebenarnya hanya ingin bercanda menjadi salah tingkah, karena sepertinya candaannya tidak berada dalam waktu yang tepat.


"Maafkan aku kalau apa yang aku lakukan membuat kalian tidak nyaman, aku lupa kalau ini adalah pertemuan pertama kita, seharusnya aku tidak memulai dengan candaan. Tapi walaupun apa yang aku katakan tadi adalah kebenaran, tapi dimataku juga sama sepertimu Djani,, wanita paling cantik bagiku juga adalah Sasha" Darius lalu membelai lembut rambut istrinya, dan mengucapkan permohonan maafnya.


"Tidak apa-apa, sepertinya aku sedikit sensitif karena sedang datang bulan, maafkan atas reaksiku yang berlebihan. Ayo sekarang kita makan dengan tenang" jawab Sasha lalu menggenggam tangan suaminya.


"Baby Andjani begitu cantik, berapa bulan Qay?" tanya Sasha.


"Sebentar lagi enam bulan" jawab Qaynaya yang juga melihat kearah Ardi.


"Anakmu juga sangat tampan, apakah sudah ada satu tahun?" Qaynaya tersenyum dan mengajak berbicara Ardi yang sedari tadi batita itu focus melihat kearah Andjani.


"Anakmu kenapa menatap anakku seperti itu?" tanya Djani heran.


"Itu karena Andjani sangat manis sekali, Ardi pasti terpesona. Ah iya benar, tiba-tiba ini terpikirkan olehku, bagaimana kalau saat mereka besar, nantinya kita jodohkan saja!" Sasha lalu tertawa setelah mengatakannya, sementara Andjani hanya diam, karena seperti yang dikatakan oleh Qaynaya, kalau Andjani tidak terlalu gampang akrab dengan orang lain.

__ADS_1


"Tidak ada kata perjodohan, aku begitu muak mendengarnya!!" jawaban Djani mendapatkan tawa dari semuanya, karena tau kalau sudah dua kali Djani di jodohkan oleh Rini.


__ADS_2