Kesepian

Kesepian
Kamu Mencintaiku?


__ADS_3

"Qay benar tidak mengetahuinya?"


"Iya,, Qay sepertinya benar-benar tidak melihat berita selama ini, tapi kita tidak perlu khawatir lagi, sekarang semuanya sudah kembali pada tempatnya"


Serli tidak jadi menemui Qaynaya, karena dia yakin kalau Qaynaya pasti akan sangat sibuk dengan suaminya, Djani tidak mungkin membiarkan istrinya jauh lagi darinya.


"Apa kamu akan kembali ke luar negeri?" tanya Rani sambil memberikan susu pada anaknya.


"Tidak,, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku, aku sekarang harus focus pada pernikahan ku, Dave berjanji akan segera melamar ku secepatnya, tidak ada lagi yang akan aku kejar dalam karirku, aku ingin menjadi ibu rumah tangga seperti dirimu, sekarang hanya aku yang belum menikah, aku harus segera serius dengan hidupku"


Serli bercerita panjang lebar pada Rani, dia sebenarnya ingin juga menemui Qaynaya, dia sangat merindukan sahabat-sahabatnya, tetapi karena mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing, sangat susah untuk bisa berkumpul seperti dahulu, bahkan salah satu sahabat mereka yang menetap di luar negeri juga sudah sangat lama tidak bisa berkumpul.


"Kadang aku merindukan saat-saat kita kuliah dahulu, dimana kita bebas bermain tanpa memikirkan beban kehidupan"


"Serli,, aku merasa kalau ada yang sedang kamu sembunyikan, tidak biasanya kamu seperti ini, biasanya kamu yang paling kuat diantara kita semua" Rani merasa janggal dengan sahabat nya yang satu ini, karena biasanya dia tidak akan berkeluh kesah.


"Tidak ada apa-apa,, kamu terlalu banyak berfikir, aku hanya ingin curhat saja, kalian ini sama saja, kalau aku sedang curhat, pasti saja kalian khawatir untuk banyak hal" memang sangat terlihat kalau Serli sedang menyembunyikan sesuatu, tapi dia tidak mau membuat khawatir Rani yang sedang sibuk mengurus bayinya, awalnya dia ingin curhat pada Qaynaya, tetapi saat ini juga sudah bisa dipastikan kalau Qaynaya juga sedang sibuk mengurus suaminya.


Serli lalu berpamitan pada Rani, setelah kembali dari pinggiran kota, dimana Qaynaya tinggal, Serli langsung kembali lagi tetapi dia sempatkan untuk ke rumah Rani terlebih dahulu, karena Rani juga pasti ingin tahu tentang Qaynaya.


Serli menghapus air matanya saat dia memasuki apartemen nya, dia merasa sendiri, dahulu para sahabatnya akan selalu ada untuknya dikala dia berada dalam masalah, tapi kali ini dia harus sendirian, karena dia sendiri tidak mau membebani pikiran para sahabatnya, apalagi semua sahabat nya telah memiliki kehidupan masing-masing yang sudah tidak sebebas dahulu.


"Aku pikir selama ini Qay hidup bahagia bersama Djani, hanya dia harapan ku untuk bercerita, Rani sudah memiliki bayi, sekarang di pasti sangat sibuk, aku tidak mau membebaninya" gumam Serli lalu melepaskan jaket kulit yang dipakai nya.




"Makan dulu sayang, ini aku belikan bubur, kamu tidur sangat nyenyak sekali, apa masih sakit?" Djani membantu Qaynaya yang mencoba untuk bangun, hari sudah sangat siang, membuat Qaynaya kaget.



"Jam berapa ini? aku harus bersiap untuk bekerja, kenapa tidak membangunkan diriku?"



"Sudah aku katakan kalau kamu dipecat, jadi sudah pasti kamu tidak akan diterima bekerja"



"Jangan lakukan sesukamu" Qaynaya berusaha untuk berjalan ke kamar mandi, walau saat kakinya menginjak lantai, paha dan bagian bawahnya terasa sakit, tapi Qaynaya menahannya, bahkan dia menahan rintihan sakit yang hampir saja keluar dari bibirnya.



"Apa aku tidak ada artinya bagimu?" tanya Djani yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakang Qaynaya.



Mendengar pertanyaan dari Djani, Qaynaya hanya terdiam, Qaynaya tidak mungkin berhenti bekerja, dia harus melakukan nya untuk bisa menyambung kehidupannya, tadi Qaynaya hanya berniat untuk tidur sebentar lagi saja, karena bagian bawahnya terasa sangat sakit, ternyata dia ketiduran lama dan baru bangun saat siang.


__ADS_1


Qaynaya yang dari awal tidak mengetahui identitas sebenarnya dari Djani, saat tau yang sebenarnya, dia merasa hal itu malah menjadi sebuah beban, dia tadinya berfikir bisa hidup normal saja layaknya orang biasa, tetapi dia sadar bahwa ada hal berat yang harus dia tanggung karena menikahi seorang konglomerat.



"Apa kamu tidak pernah menganggap bahwa aku adalah suamimu? mungkin benar bahwa saat kita menikah, tidak ada kebahagiaan di dalamnya, tetapi bukankah itu karena salah paham, dan kita sudah menyelesaikan nya? pernikahan kita sah dimata hukum, jadi kita juga pasangan yang sah,, jadi tolong hargai aku sebagai suamimu" Djani memeluk Qaynaya erat dari belakang, dia ingin supaya istrinya menurut padanya.



"Kamu membohongiku, kalau kamu tidak bohong, mungkin aku tidak akan meninggalkan dirimu, seandainya saja kamu jujur saat itu" Qaynaya mengingat saat Djani berbohong padanya mengenai identitas Kaela.



Seandainya saja saat itu Djani berkata jujur, mereka bisa menghadapi masalah bersama-sama, tetapi Djani memilih berbohong hingga membuat Qaynaya menderita dan berfikir yang bukan-bukan.



"Aku tidak mau kalau sampai kamu terluka dan tersakiti, aku yakin bisa menyelesaikan masalah itu secepatnya tanpa memberi tahu pada mu, ternyata dari awal kamu tahu segalanya, lalu kenapa saat itu kamu tidak marah saja dan meminta penjelasan, kenapa kamu harus langsung pergi?"



"Apa yang bisa aku lakukan, itu hanya selang satu hari dari pernikahan kita, pernikahan yang aku tau kalau kamu melakukannya karena ingin balas dendam padaku, siapa yang bisa berfikir jernih? apalagi kamu juga berbohong"



"Maaf, maafkan aku" Djani menciumi kepala istrinya yang berada dalam dekapannya, Qaynaya tidak menolak nya, bagaimana pun juga, Djani memang benar adalah suaminya.




"Aaahhhh" Qaynaya kaget karena Djani tiba-tiba menggendong nya, dengan terus menggoda istrinya, Djani tidak mau menurunkan tubuh Qaynaya yang sudah terus menggerakkan badannya, minta untuk diturunkan.



"Mau,, aku janji sekali" bisik Djani, dan semakin menguatkan gendongan nya supaya Qaynaya tidak terjatuh, sudah pasti Qaynaya menggeleng mendengar permintaan suaminya.



"Ayo sebentar saja, ini akan semakin membuat mu tidak kesakitan lagi, karena terbiasa,, percayalah padaku"



Di dalam kamar mandi yang sebenarnya sangat sempit karena memang Qaynaya tinggal disebuah rumah kecil, dibawah guyuran air shower, Djani terus mengerjai tubuh istrinya.



Qaynaya hanya bisa pasrah, dia sadar bahwa sebagai seorang istri, dia tidak melakukan tugasnya selama ini, Djani hanya pria dewasa biasa, yang sangat membutuhkan nya untuk melayani hasratnya.



Djani bahkan beberapa kali harus menguatkan hatinya, karena selama Qaynaya pergi, sudah tentu banyak kupu-kupu yang menghampirinya, kupu-kupu yang tentu saja sangat cantik, mereka berniat untuk mengambil kesempatan, dikala sang permaisuri tidak ada ditempat nya, mereka berharap bisa menggantikan kedudukan.

__ADS_1



Tetapi Djani sudah tentu sanggup untuk menahannya, karena yang dia ingat hanyalah malam pertama nya dengan Qaynaya, jadi yang dia inginkan hanya istrinya sendiri.



"Aku suka melihat ekspresi wajahmu saat aku menyentuhmu, ekspresi itu hanya aku yang boleh melihatnya, aku terus kecanduan melakukannya, aku sangat suka dengan rasamu yang begitu nikmat, aku suka semua yang ada pada dirimu, tolong kuatkan hati dan tubuhmu, karena kamu telah menyiksa pria kelaparan seperti diriku selama bertahun-tahun" Djani membantu mengeringkan rambut istrinya, sementara Qaynaya melihat kearah pantulan gambar suaminya, yang berada di kaca depannya.



"Ekspresi apa?" Qaynaya tidak menyadari maksud perkataan suaminya, Djani bukannya menjawab malah tertawa, hingga membuat Qaynaya semakin tidak mengerti.



"Oh iya, bukankah kemarin kamu bersama Serli? lalu dia ada dimana?" tanya Qaynaya yang mengingat kembali, bahwa kemarin saat Djani datang, Qaynaya melihat Serli, tapi dia tidak sempat untuk bertegur sapa, karena Djani memegangi nya erat.



Djani lalu menceritakan semuanya, Djani juga bertanya pada Qaynaya, bagaimana bisa selama ini istrinya itu bisa tanpa alat komunikasi, bahkan tidak melihat dan mengetahui berita apapun.



"Aku tidak mau, kalau saat aku melihat televisi, aku akan melihat berita tentang dirimu dengan wanita lain lagi"



"Yang aku tau, kamu itu wanita kuat" Djani menciumi kepala istrinya, mereka sudah selesai mandi, dan Qaynaya sedang memakai bajunya.



"Aku hanya wanita biasa, sekuat apapun diriku, tentu aku tidak akan sanggup kalau sampai melihat suamiku, orang yang aku cintai, bersama dengan wanita lain"



"Kamu mencintaiku?" Djani lagi-lagi berbicara dan mengambil kesimpulan sesuka hati nya, dari apa yang sedang dikatakan oleh Qaynaya.



Qaynaya yang sudah menyelesaikan memakai baju, lalu memakan makanan yang sudah dibeli oleh suaminya, walau sudah dingin, tapi karena sangat kelaparan, Qaynaya dengan lahap memakannya.



"Apa mau aku pesankan yang baru?" tanya Djani, tapi tentu saja ditolak oleh Qaynaya.



Tok tok tok tok tok tok



Mereka secara refleks menoleh ke arah pintu, saat Djani membuka pintu, dia kaget saat melihat siapa yang datang, begitu juga dengan Qaynaya yang tentu saja tidak kalah terkejutnya.

__ADS_1


__ADS_2