
"Sudah aku katakan, seharusnya masalah ini tidak melebar. Sudahlah ayah, sudahi saja" Arion merasa kalau ayahnya pasti akan mendapatkan masalah besar kali ini, karena memang ayah Axel sangat berpengaruh di negara ini dan juga sangatlah kaya raya.
"Tidak Arion, apa yang sudah ayah putuskan, itu yang akan terjadi. Bagaimana mungkin ayah mundur melihat anak ayah dilukai oleh orang lain didepan mata ayah sendiri. Ini hanya yang ayah lihat, bagaimana yang tidak ayah lihat?. Kalau ayah menyerah, itu berarti ayah tidak berguna sebagai orang tua mu. Kamu tenang saja, tapi sepertinya karena masalah ini, perpindahan sekolah mu harus diundur terlebih dahulu" Djani hendak bergegas pergi karena pihak Axel sudah pergi semua.
"Tuan, mari bicarakan masalah ini terlebih dahulu. Tidak perlu memperpanjang urusan lagi" guru yang sudah diberikan uang oleh ayahnya Axel lalu membuka sebuah koper dan terlihat bertumpuk-tumpuk uang di dalamnya.
__ADS_1
Guru itu meminta pada Djani untuk menyudahi saja masalah ini, lagi pula ini hanya masalah anak-anak pada umumnya saja. Hal seperti ini sudah biasa bagi anak seumuran Arion, begitulah perkataan dari seorang guru, yang membuat Djani semakin tersulut emosi.
"Hal umum? jadi menurut bapak guru masalah sebesar ini dikatakan biasa? Aku ragu ini sekolah untuk menuntut ilmu pada umumnya atau sekolah untuk para anak penjahat. Keputusan saya sudah bulat, silahkan pihak lain kalau ingin melaporkan atas tindakan saya pemukulan yang tadi saya lakukan, tapi untuk perbuatan Axel pada Arion, itu juga hak saya untuk terus melanjutkan melaporkannya" Djani tidak tertarik sedikitpun dengan uang yang disodorkan kepada dirinya.
"Jangan terlalu keras kepala, kalau masalah ini semakin membesar, Arion sendiri yang nantinya akan mengalami kerugian. Nasibnya yang jadi taruhannya, saya mengatakan hal ini karena peduli pada Arion yang selalu berprestasi dan menjadi kebanggaan sekolah. Lagipula anak orang kaya itu hanya iri saja pada Arion, dan kita bisa mendapatkan banyak keuntungan dengan rasa iri itu. Coba saja terima uang ini, kalau benar yang dikatakan oleh Axel, bahwa tuan adalah pelayan cafe, maka dengan uang ini tuan bisa membuka cafe sendiri, jadi tidak perlu lagi bekerja pada orang lain" guru itu memaksa Djani untuk menerima pemberian uang dari ayahnya Axel.
__ADS_1
Untuk menolaknya secara kasar, tentu Djani tidak akan melakukannya, karena bagaimanapun juga, yang dihadapannya adalah seorang guru. Walau dia tidak terlalu mengenal para guru Arion, karena selama ini Qaynaya yang aktif pergi ke sekolah, semisal ada rapat orang tua, atau ada keperluan lain mengenai Arion di sekolah.
Tidak lama kemudian, ada seorang pria dengan perut yang sedikit membuncit, mendatangi Djani dan langsung berdiri di hadapannya.
"Terima saja uangnya, sekolah ini tidak akan memfasilitasi apapun dengan kasus seperti ini, karena hal ini bisa mencoreng nama baik sekolah besar ini. Sekolah ini termasuk masuk dalam jajaran sekolah elit di negara ini. Dan asalkan kamu tau saja, hal ini bisa terjadi karena sokongan dana dari para donatur, yang salah satunya ayah dari anak yang membully anakmu. Terima saja uangnya, lagipula anakmu juga terlihat baik-baik saja" sepertinya pria itu adalah kepala sekolah di sekolahan itu.
__ADS_1
Djani menggelengkan kepalanya, merasakan kekecewaan yang mendalam, karena ternyata sekolah ini benar-benar sangat bobrok.