
"Geby,, maafkan atas kesalahan ku. Tapi sudah bisa dipastikan kalau pernikahan kalian tidak akan bisa dilaksanakan. Dari awal Djani menolaknya"
"Itu urusan Tante, aku sudah membicarakan mengenai masalah ini kepada kedua orang tuaku, jadi tidak ada lagi alasan untuk bisa menghindari tanggung jawab. Keluarga ku akan segera datang, Tante harus berterima kasih pada ku karena aku belum mengatakan tentang pembatalan pernikahan ini"
"Jangan keras kepala, Djani sudah memiliki istri yang sangat dia cintai, jadi tidak ada kesempatan sedikitpun untukmu"
"Apa dari awal aku perduli akan cinta? pria lemah seperti Djani tidak pantas menjadi suamiku, aku hanya menginginkan kedudukannya, supaya menguntungkan bagi perusahaan dan lingkup pertemananku"
"Apa kamu memandang begitu rendah pada kesakralan pernikahan??!" Rini marah mendengar ucapan Geby.
"Tante sendiri apa bedanya dengan diriku?,, Tante bahkan berniat menikahkan Djani yang sudah menikah, lalu menurut Tante, apa tindakan itu ada perbedaan dengan diriku?"
__ADS_1
"Itu berbeda!!" Rini marah lalu bangkit dari duduknya dan berniat untuk mengusir Geby keluar dari rumah.
"Aku tidak akan pergi kemanapun, sebelum Djani datang dan menikahi diriku!!" Geby tidak mengenal rasa takut, dia bahkan langsung mencari kamar dan membawa koper yang dari tadi berada di depan pintu masuk rumah.
"Apa kamu gila?!! cepat keluarlah dari rumah ini!" Rini menghalangi jalan Geby.
"Bi Iyem!!" Geby berteriak memanggil salah satu pelayan yang ada di dalam rumah itu. Rini tentu saja kaget, karena tidak menyangka kalau Geby mengenal salah satu pelayannya.
Tanpa rasa ragu dan malu, Geby langsung masuk kedalam kamar, bahkan mendorong tubuh Rini yang menghalangi pintu.
"Aku bisa saja memanggil polisi!!" Rini mengancam Geby, tetapi wanita itu memandang Rini dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
"Aku mempunyai rekaman percakapan antara kita. Rekaman percakapan saat Tante meminta ku untuk menikahi Djani, jadi kalaupun aku ditangkap polisi, aku bisa juga mempermalukan Tante didepan umum. Tante pasti tidak mau kalau sampai hal itu terjadi kan??" Geby mendekati Rini dan memandangnya tajam seolah sedang mengancam.
"Jangan berani main-main dengan diriku" Geby kembali melangkahkan kakinya memasuki kamar Djani setelah sempat terhalang oleh Rini.
Kamar itu memang tidak dikunci, karena sebelumnya baru saja dirapikan dan dibersihkan. Geby bersorak gembira lalu langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang biasanya digunakan Djani untuk berolahraga malam bersama dengan Qaynaya.
"Aku akhirnya bisa tidur ditempat ini" Geby berbicara dengan lantang dan tanpa sengaja melihat foto pernikahan Djani dan Qaynaya yang tergantung di dinding atas ranjang. Geby bangkit lalu mengambil foto itu dan melemparkannya.
"Ini bukan tempatmu lagi, hanya aku yang berhak berada di tempat ini" Geby berteriak keras setelah melakukannya. Rini masuk kedalam kamar lalu mengambil foto pernikahan anaknya dan memeluknya erat.
"Singkirkan itu, atau aku akan membongkar rencana kejam mu yang ingin memisahkan rumah tangga anakmu sendiri. Aku yakin itu akan menjadi berita heboh, lalu perusahaan kalian bisa segera mengalami masalah serius. Nyonya terhormat mereka, orang berwibawa yang mereka hormati, ternyata bersikap begitu jahat kepada menantunya sendiri" Geby kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang begitu selesai mengatakan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Rini tidak bisa menahan air matanya, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun, karena semua ini adalah kesalahannya.