
"Apa kamu yakin?" tanya Serli pada Qaynaya setelah sahabatnya itu menceritakan semuanya.
"Aku melihat dengan jelas wanita itu keluar dari apartemen Djani, dan dengan tegas dia mengatakan kalau dia adalah calon istri Djani, yang membuat ku semakin yakin adalah, saat Djani mencoba menutupinya dan mengatakan kalau wanita itu adalah saudara nya, kalau dia mengatakan yang sebenarnya, mungkin aku tidak akan kecewa seperti saat ini,, tapi dia memang berhak melakukannya,, mungkin dia harus menuntaskan balas dendam nya, dulu aku meninggalkan dia menikah, jadi dia melakukan hal yang sama, jadi sudahlah,, ini semua sudah menjadi takdirku" Qaynaya sudah terlihat kembali tegar seperti Qaynaya yang sebelumnya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Serli.
"Aku belum tau, tapi aku harus secepatnya mencari tempat tinggal, aku tidak mungkin tinggal disini seterusnya, suami Rani akan segera datang dalam beberapa hari ini dari tugas luar kota nya, aku tidak mau mengganggu mereka" jawab Qaynaya.
"Kamu ini kayak sama siapa saja? disini banyak kamar, lebih baik kamu tinggal disini saja" Rani menawarkan rumah nya untuk ditinggali oleh Qaynaya.
"Tidak Rani,, aku bukan nya menolak kebaikan mu, tetapi aku harus menata kembali hidupku, aku harus kembali mulai bekerja, aku tidak mungkin harus terus meratapi nasibku"
__ADS_1
Karena Qaynaya terus menolak, kedua sahabatnya lalu membantu mencarikan tempat tinggal untuk Qaynaya.
"Kenapa kita tidak tinggal berdua saja Qay,, kita bisa berbagi kamar" Serli memberi usul.
"Lalu saat kekasihmu datang, aku harus tidur dimana?, sudahlah,, memang lebih baik bagiku adalah mencari tempat tinggal" jawab Qaynaya lalu meminta izin pada Rani untuk menyetel televisi, setelah di izinkan oleh sahabatnya itu, dengan cepat Qaynaya menyetel televisi yang berada di ruang tamu sahabat, dia harus melihat suatu acara di televisi, dimana Qinanti adiknya mengikuti sebuah kuis.
Qaynaya mencari chanel televisi yang sesuai seperti dengan yang kemarin dikatakan oleh adiknya, tetapi dia terhenti dan diam mematung saat tanpa sengaja, tangannya memencet chanel televisi yang sedang menyiarkan sebuah berita.
Terlihat jelas foto yang terpampang di televisi adalah foto Djani, disandingkan dengan foto wanita yang Qaynaya lihat keluar dari apartemen Djani.
"Qay, bagaimana mungkin Djani adalah putra konglomerat, bukankah dia hidup mandiri di Indonesia sedari kita kuliah dulu" ujar Serli yang juga melihat berita itu.
__ADS_1
"Aku memang tidak pantas untuk nya, aku bahkan tidak mengetahui semua ini, aku harus secepatnya menjauh, lagipula kita sudah impas, tidak ada hutang diantara kami lagi" ujar Qaynaya dengan mencengkeram erat rok yang dipakai nya.
Rani dan Serli menatap penuh iba pada sahabatnya itu, mereka tau kalau Qaynaya pasti sedang merasakan kepedihan yang teramat sangat dalam, mereka lalu dengan cepat mematikan kembali televisi.
"Sudah tidak perlu dilihat lagi, sekarang kita lebih baik mencari rumah untuk mu, lalu untuk pekerjaan, kamu akan bekerja dimana?"
"Aku akan melamar ke beberapa perusahaan terdekat tempat tinggal ku nantinya" jawab Qaynaya, dia terlihat sangat santai, seperti tidak ada masalah yang sedang menimpa nya, kedua sahabatnya sudah sangat paham bagaimana sifat Qaynaya.
Qaynaya sangat susah untuk membicarakan masalahnya kalau bukan karena dia tidak mempunyai pilihan lain, Qaynaya hanya akan menangis dalam kesendirian nya sehingga membuat nya sering kesepian.
Setelah mencari cukup lama, akhirnya mereka sudah menemukan tempat untuk tinggal Qaynaya, besok mereka berencana untuk mengantarkan Qaynaya ketempat tinggal barunya.
__ADS_1
"Aku pasti bisa hidup sendiri, aku akan berusaha untuk melupakan dirimu, aku sangat yakin kalau aku akan bisa hidup tanpamu" batin Qaynaya mantap walau hatinya tetap merasakan kepahitan dan kesakitan, tetapi dia terus menahannya, karena dia yakin kalau dia akan sembuh seiring berjalannya waktu.