Kesepian

Kesepian
Sarapan


__ADS_3

Bayi besar. Itulah yang pertama kali terpikirkan oleh Qaynaya begitu di pagi harinya melihat kearah suaminya yang masih mendekapnya erat.


"Tidak mungkin kita tidak pindah posisi, soalnya badanku tidak sakit, tapi kenapa saat bangun masih pada posisi semula?" Qaynaya bergumam sambil menciumi kepala suaminya. Djani tersenyum mendengar perkataan Qaynaya, karena sebenarnya setiap Qaynaya bergerak untuk merubah posisi tidurnya, Djani pasti selalu mengikuti dan membiarkan istrinya tidur dengan nyaman dan nyenyak. Setelah Qaynaya merubah posisi tidurnya, Djani akan berpindah karena dia hanya bisa tidur nyenyak dalam dekapan Qaynaya.


Setelah melihat jam di dinding, Qaynaya menggerakkan dadanya, supaya Djani terbangun dan melepaskan dekapannya.


"Sayang, ayo bangun. Ini hampir siang. Ayo kita cari sarapan" Qaynaya membelai lembut rambut Djani dan sesekali menciumi kepala sang suami.


"Bolehkah aku sarapan terlebih dahulu?" Djani menggesekkan pipinya pada dada Qaynaya yang entah sejak kapan kancing bajunya terbuka. Djani tersenyum dengan jahil nya, mengingat bahwa sebenarnya dia adalah pelakunya.


"Aku sangat lapar, ayo kita cari makanan" Qaynaya bangkit dan menarik tangan Djani untuk segera mandi sebelum mencari sarapan.


"Iya ayo" Djani menurut. Mereka mandi lalu memakai baju santai untuk mencari sarapan di area pulau yang dikelilingi pantai indah.


"Sayang lihatlah, disana banyak sekali ikan. Bisakah kita membeli beberapa untuk di goreng nanti siang dan dibakar untuk makan malam?" Qaynaya begitu antusiasnya melihat kolam dengan banyak ikan disebuah restoran dekat resort mereka. Di resort memang ada juga restorannya, tapi mereka memilih mencari keluar, sekalian jalan-jalan.


"Itu kan hanya untuk dijual dan di masak ditempat ini sayang, lagipula nanti siapa yang akan memasaknya?, nanti siang kita bisa kesini untuk makan siang, begitu juga dengan makan malam" Djani lalu ikut memperhatikan banyaknya ikan yang sedang dilihat oleh istrinya.


"Tapi aku mau kamu yang membakar ikan untukku" Qaynaya menoleh ke arah Djani dengan senyuman manis yang penuh dengan permohonan.

__ADS_1


"Lucunya,, baiklah sayang,, akan aku berikan apapun yang kamu inginkan. Sekarang kita harus sarapan dulu, ayo" Djani menggandeng tangan istrinya dan segera mencari tempat duduk. Mereka memesan makanan lalu menunggu beberapa saat sampai pesanan makanan mereka selesai dibuat.


"Apa tidak lebih baik kita menelepon mama Rini?"


"Tidak sayang, aku sudah mengatakan bahwa tidak ada komunikasi apapun selama kita berada disini" Djani menolak dengan tegas.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu?" Qaynaya sepertinya bisa merasakan, akan adanya sesuatu.


"Apa yang bisa terjadi pada mereka? Sudah sayang,, jangan terlalu banyak berfikir, disini kita sedang bergembira" Djani mencubit dagu Qaynaya, dan memintanya untuk melihat kearah dirinya.


"Apa yang kamu perhatikan? apa pria itu begitu tampan sampai kamu terus menatap nya?" Djani cemburu melihat istrinya yang melihat kearah luar restoran, dimana ada seorang pria sedang duduk memangku seorang bayi.


"Lalu kenapa kamu terus menatapnya?" Djani masih cemburu dan sekarang semakin cemberut.


"Aku melihat bayinya" Qaynaya terlihat sedih saat mengucapkan nya. Djani yang menyadari kalau Qaynaya sedang bersedih, langsung mendekat dan menggeser kan kursi yang sedang dia duduki.


"Ada apa? jangan tunjukkan kesedihan mu,, saat kamu sedih, aku merasa sakit" Djani membelai lembut rambut Qaynaya.


"Djani, ini tempat umum, apa yang kamu lakukan? Cepat menjauh kembali" Qaynaya panik dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, apalagi restoran dalam kondisi yang ramai.

__ADS_1


"Hhmmpp" Qaynaya membelalakkan matanya, karena bukannya menjauh, Djani telah melahap bibirnya.


"Jangan memintaku untuk menjauh, atau berani menjauh dariku. Bahkan walaupun itu hanya sebuah candaan, aku tidak perduli dengan pandangan semua orang, yang aku perduli kan hanya dirimu" Djani memegangi pipi Qaynaya, setelah dia melepaskan ciumannya.


Qaynaya mengangguk mengerti. Makanan pesanan mereka sudah datang, dengan lahap mereka langsung makan, karena perut mereka sudah sangat keroncongan dari tadi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Apa kamu yakin akan muncul saat ini juga" ucap seseorang dari kejauhan.


"Jangan dulu, kita cari waktu yang tepat, jangan terlalu terburu-buru"


"Aku sudah tidak sabar"


"Tahanlah sebentar lagi, kita akan segera mendapatkan mereka.


Dua orang sedari tadi terlihat terus mengamati Djani dan Qaynaya dari kejauhan. Saat melihat Djani yang begitu perhatian terhadap Qaynaya, dan saat Qaynaya merespon dengan sangat menggemaskan. Dua orang itu terlihat geram dan menunjukkan kemarahan mereka.


"Perhatian itu akan segera milikku selamanya" ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Senyuman manis Qay, seharusnya hanya ditujukan untukku. Lihatlah Djani, aku akan segera merebut Qaynaya darimu"


__ADS_2