
"Wanita itu yang mengatakan bahwa bos tempat mu bekerja, menyukai dirimu bukan?" Djani sedikit mencengkeram erat lengan Qaynaya begitu mereka memasuki kamar.
Tidak tau jawaban apa yang tepat untuk menjelaskan, Qaynaya hanya diam dan mencoba mencari cara supaya suaminya tidak marah. Tapi semua sudah terlambat, Djani yang sangat posesif dan begitu takut kehilangan Qaynaya, langsung mendekap erat tubuh istrinya dan segera membawa Qaynaya kearah ranjang.
"Tenang dulu, jangan seperti ini" Qaynaya menahan tangan suaminya yang hendak membuka kancing bajunya. Djani terlihat menahan amarahnya, sehingga seluruh badannya bergetar.
"Tenang sayang, bukankah kamu juga tau, kalau itu tidak benar. Aku ada disini, dan aku berjanji akan selalu berada di sisimu. Tolong tahan emosimu" Qaynaya menggenggam tangan suaminya dan menciumnya. Djani meraih kepala Qaynaya dan mendekap erat.
"Maaf, kamu pasti takut padaku ketika melihat diriku seperti ini" Djani menciumi kepala istrinya dan membelai lembut rambutnya.
"Tidak sayang, aku tidak takut padamu" Qaynaya menggelengkan kepalanya hingga wajahnya tanpa sengaja, terus menggesek dada Djani.
"Aaahhh, aku tidak sanggup lagi!" Djani berteriak dan mendorong tubuh Qaynaya ke ranjang, tapi kali ini Qaynaya tidak menolak nya, karena dia tau kalau suaminya sudah bisa menahan amarahnya, hanya saja belum bisa menahan hasratnya.
"Aku mencintaimu" ucap Qaynaya begitu Djani hendak menyatukan tubuh mereka, setelah sebelumnya Qaynaya dibuat kejang oleh permainan lidah sang suami.
Djani tersenyum mendengarnya, dan tanpa menunggu lebih banyak waktu lagi, Djani langsung menerobos gua istrinya yang dari semalam sudah dia tahan untuk bermain didalamnya.
"Uugghhhh, Djani"
"Qay, aahhhh"
Rintihan dan lenguhan mereka terus terdengar, kata cinta terus keluar dari mulut keduanya, saling memberikan kepuasan dan saling mengekspresikan hasrat mereka yang menggebu-gebu.
Setelah pertempuran panjang mereka, tidak terasa hari sudah memasuki senja, Qaynaya yang sudah sangat lemas meminta pada Djani untuk segera mengakhiri, karena dia sangat lapar.
"Baiklah, katakan dulu kamu menginginkan diriku" Djani menahan gerakan nya dan membelai rambut istrinya yang sudah berantakan dan acak-acakan tidak karuan. Qaynaya menggelengkan kepalanya, merasa sudah tidak kuat lagi.
"Aku sangat menginginkanmu, aku mencintaimu, aahhh Djani sudah" Qaynaya mencengkeram erat bahu Djani, karena merasakan semburan hangat yang diberikan oleh suaminya.
"Mau mandi dulu, lalu kita mencari makan diluar, atau kita pesan saja?" Djani turun dari tubuh istrinya lalu menyelimuti tubuh polos Qaynaya, dia tidak mau ada sedikitpun udara yang bisa saja menciumi tubuh istri tercintanya.
__ADS_1
"Aku sangat lemas, bisa tolong pesankan makanan saja untuk kali ini. Aku ingin makan di balkon itu, kelihatannya sangat nyaman, dengan pemandangan indah langsung ke pantai" Qaynaya menunjuk pada jendela kamar mereka, yang sedari tertutup walau siang hari, karena tidak mau pertempuran mereka di intip orang lain.
"Baiklah sayangku, istirahat dulu sebentar. Nanti akan aku pesankan makanan spesial untukmu. Nanti kita dinner di sana, tapi sebelumnya kita harus mandi supaya segar" Djani memeluk erat tubuh istrinya lalu menciumi keningnya.
"Jangan pernah berfikir untuk pergi dariku" Djani menusuk pelan pipi Qaynaya menggunakan telunjuknya. Qaynaya tersenyum walau matanya masih terpejam.
"Jangan pernah juga kamu tergoda wanita lain, sepertinya Sezkia menyukaimu" Qaynaya membuka matanya lalu menatap kearah suaminya. Djani tertawa pelan melihat ekspresi wajah istrinya.
"Ahaha,, apa kamu sedang berakting cemburu saat ini?" Djani menggigit pipi Qaynaya, lalu segera mengusapnya karena takut istrinya itu merasa sakit di pipinya.
"Aku tidak berakting, aku memang sedang cemburu. Aku bisa merasakannya, Sezkia membuatku waspada. Awas saja kalau kamu berani meliriknya sedikit saja, aku akan menghabisi mu" Qaynaya tiba-tiba kesal lalu menggigit dagu Djani.
"Sangat lucu sekali, tapi aku sangat ingin dihabisi olehmu, lalu apakah aku harus melirik ke wanita lain, supaya aku bisa mendapatkan keinginanku?" Djani dalam mode jahil, dengan senyuman lebar yang membuat Qaynaya semakin kesal dan geregetan.
"Awas saja kalau berani, tidak aku kasih jatah seumur hidup!" Qaynaya mendekatkan tubuhnya dan masuk kedalam pelukan suaminya.
"Jangan,,, jangan pernah melirik wanita lain, karena setelah lirikan itu, sesuatu yang lain pasti akan terjadi. Aku bahkan tidak berani membayangkannya" Qaynaya membenamkan wajahnya di dada suaminya. Djani semakin senang saja karena berhasil menjahili istrinya.
"Bisa saja tuan Djani yang terhormat ini kalau sedang berbicara, sepertinya beliau lupa pada seorang pria yang selalu tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya" Qaynaya menciumi dada Djani, membuat sang empunya dada kembali kepanasan.
"Kamu yang memancingku sayang" Djani membalik tubuh istrinya hingga kembali terlentang.
"Aaaa,, aaaa,, aku tidak berniat seperti itu. Ayo sekarang kita mandi, aku sangat lapar sekali" Qaynaya menahan tubuh Djani yang hendak menindihnya. Karena mendengar bunyi perut Qaynaya yang menandakan bahwa istrinya itu memang kelaparan, Djani lalu menggendong istrinya menuju kamar mandi.
"Pesan makan dulu sayang" Qaynaya meminta pada Djani untuk menurunkannya, dan meminta suaminya untuk segera memesan makanan. Djani menuju telepon dan melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Aku memesan makanan yang akan diantarkan sebentar lagi, kita bisa mandi dulu sebelum makanan pesanan kita datang" ujar Djani lalu kembali menggendong Qaynaya menuju kamar mandi.
"Aku mau mandi sendiri" Qaynaya sudah paham dengan akal bulus dari suaminya, pasti saat mandi, nantinya Djani akan kembali melakukan kebiasaannya.
"Kenapa? kita bisa menghemat waktu, dari pada harus gantian. Apa kamu berfikiran kotor ya?? awas saja, jangan ambil kesempatan untuk menyentuhku" Djani tersenyum setelah mengucapkannya lalu menurunkan tubuh Qaynaya setelah mereka sampai dibawah shower air.
__ADS_1
"Aku bilang jangan ambil kesempatan, kenapa kamu terus memegangi dadaku?" Djani sangat senang sekali menggoda Qaynaya.
"Aku bukan memegangnya, tapi menahannya. Disana masih sangat luas, kenapa juga kamu terus mendorongku ke tembok, ih dasar" Qaynaya sedikit mendorong tubuh Djani dan berniat untuk mengambil sabun. Djani tertawa melihat istrinya yang sedang kesal.
Mereka mandi bersama, dengan Djani yang tentu saja terus menjahili istrinya. Qaynaya hanya bisa pasrah, karena semakin suaminya itu dibantah, maka akan semakin membuat Djani terus mengganggunya.
"Kenapa aku bisa sangat tergila-gila padamu, juga begitu sangat mencintaimu, hingga hanya dirimu yang aku izinkan untuk menyentuhku. Tapi sekarang kamu malah terus mengganggu ku" Qaynaya ngedumel karena mandi yang seharusnya singkat menjadi sangat lama, disebabkan oleh kelakuan Djani.
"Terdengar seperti makian, tapi kenapa aku sangat senang mendengarnya" Djani yang telah memakai jubah mandinya, kembali membukanya dan hendak menarik paksa tali jubah mandi istrinya. Qaynaya merengek dan terus mempertahankan jubah mandinya, supaya Djani tidak membukanya.
"Sudah, aku sangat lapar, bagaimana kalau aku pingsan?" Qaynaya ngambek lalu menggigit tangan Djani untuk menghentikan kelakuan suaminya itu.
"Aku benar-benar akan memakanmu, kalau kamu tidak memberiku kesempatan untuk makan!" Qaynaya berjalan perlahan menuju pintu, untuk segera keluar dari dalam kamar mandi, kalau dia tidak segera keluar, pasti akan butuh waktu lama lagi, untuk bisa lepas dari suaminya.
"Berani kabur dariku?!!" Djani membenarkan kembali tali jubah mandinya, lalu segera bergegas menyusul istrinya. Djani menangkap tubuh Qaynaya, lalu menggendongnya.
Mereka memakai baju dan bersiap untuk makan, Qaynaya merasa kalau dia semakin tidak teratur makan akhir-akhir ini, karena Djani yang sering kali lupa waktu, saat melakukan kegiatan yang sepertinya menjadi hobi baru setelah menikah dengannya.
Makanan mereka ternyata sudah dari tadi datang, tapi saat petugas resort mengantarkan makanan, Djani dan Qaynaya yang masih mandi, tidak mendengarkan saat pintu diketuk.
"Sebelumnya kami meminta maaf, tapi makanan yang sebelumnya sudah sangat dingin, karena tuan dan nona yang sedari tadi tidak membukakan pintu. Makanan yang sekarang ini kami antarkan, ini adalah makanan baru, karena tuan yang meminta pada kami untuk menyajikan hidangan yang fresh. Jadi kami mohon pengertiannya" petugas resort itu terlihat kesal, tapi harus tetap ramah pada para tamu.
Djani menyadarinya dan paham dengan apa yang diinginkan oleh petugas resort yang mengantarkan makanan untuknya. Djani membuka kopernya dan membuka sebuah amplop coklat besar, Djani mengambil satu gepok uang pecahan lima puluh ribuan.
"Apa ini cukup?" tanya Djani sambil menyodorkan uang pada petugas resort tersebut.
Dengan sedikit gemetaran, karena tidak menyangka, bahwa tamu yang sedang menginap di resort tempat kerjanya, adalah seorang konglomerat. Petugas resort itu menerima uang yang disodorkan oleh Djani padanya.
"Tidak tuan, ini bahkan sangat banyak lebihnya. Tuan hanya harus membayar sebanyak harga pesanan yang tuan pesan, dikalikan dua"
"Tidak perlu, sudah ambil saja semua, dan terimakasih untuk semuanya. Lalu lain kali, cobalah untuk ramah pada semua tamu yang datang ketempat ini, entah apapun kondisinya" Djani sebenarnya tidak menyukai petugas resort itu yang terlihat tidak ramah, tapi karena dia juga sedang senang, dia akhirnya hanya sedikit menegur petugas resort itu.
__ADS_1
"Baik tuan, maafkan saya" petugas resort itu langsung pergi dengan membawa satu gepok uang.