
"Aaaakkkhhhh!!" Qaynaya berteriak karena mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Untungnya dia bisa menyeimbangkan tubuhnya hingga tidak terbentur.
"Ada apa?!" Qaynaya yang duduk di jok belakang lalu melihat situasi di depannya. Terlihat seorang pria menaiki sebuah motor lengkap dengan helm yang menutupi kepalanya.
"Jangan keluar dari dalam mobil, aku akan menabraknya!"
"Apa kamu gila, jangan pernah lakukan hal itu, kita bisa mundur dan cari jalan lain!!" Qaynaya menarik lengan baju Doni, berharap lelaki itu tidak melakukan hal nekat.
Doni tidak mendengarkan dan langsung tancap gas, Qaynaya yang panik dengan kuat menarik tangan Doni untuk menghentikan laju mobil, atau setidaknya supaya mobil bisa berbelok.
"Aaahhhh!!" Qaynaya terpental ke belakang dan membentur kaca mobil. Mobil terhenti karena menabrak pembatas jalan. Sebelum pingsan Qaynaya melihat bahwa pengendara motor itu masih baik-baik saja dan tengah berlari mendekat ke arahnya.
"Apa dia sudah sadar?" Neli berjalan tergesa-gesa setelah mendapatkan kabar bahwa Qaynaya kecelakaan.
"Belum"
"Apa yang dia pikirkan, kenapa melakukan hal berbahaya seperti ini,, bangunlah sayang" Neli menggenggam tangan Qaynaya, dan berusaha untuk membuatnya segera bangun dengan mengajaknya berbicara.
Rini juga datang bersama dengan Rega dan Sasha. Mereka juga terlihat panik dan segera memasuki ruangan dimana Qaynaya dirawat. Tapi saat Rini mencoba untuk semakin mendekati Qaynaya, Djani langsung menghalangi jalan.
"Jangan mendekat, ini semua karena mama. Kalau mama tidak melanjutkan rencana tidak masuk akal itu, Qay tidak mungkin berniat pergi. Kalau saja aku lengah sedikit saja, dan tidak menyadari keadaan tadi malam. Aku pasti sudah kembali kehilangan dirinya. Sekarang jangan mengganggu kami lagi, setelah Qay sadar, aku akan membawanya pergi jauh. Jadi mama tidak perlu lagi khawatir mengenai kondisi finansial apapun yang akan aku alami, karena mama tidak bisa melihatnya"
"Djani, maafkan mama, sebenarnya,," Rini tidak melanjutkan ucapannya karena Djani berbalik badan tidak mau mendengarkan penjelasan apapun.
"Djani, dengarkan penjelasan mamamu dulu" Rega memegang bahu Djani untuk menenangkan anaknya yang terlihat sangat terpukul dengan kondisi istrinya.
"Tidak ayah, sudah cukup. Sekarang pergilah dari sini. Maafkan aku" Djani mendekati Qaynaya lalu mengambil tangan Qaynaya yang berada dalam genggaman tangan Neli.
"Neli juga pergi saja bersama mereka, aku hanya mau bersama istriku"
"Djani, ini bukan yang diinginkan oleh Qay. Bukankah dia pergi karena tidak mau membuat dirimu jauh dari keluargamu?, dia tidak serakah seperti seseorang" Neli melihat kearah Rini dengan ujung matanya. Rini hanya bisa menatap penuh penyesalan.
"Pernikahan itu untukmu dan Qay, mama berniat memberikan kejutan. Mungkin cara mama salah, tapi mama hanya ingin tau apa reaksinya. Ternyata saat mama hina dengan kata-kata tajam, dia tidak pernah membalas mama. Dan dengan kepergiannya, mama semakin yakin kalau dia tulus mencintaimu. Mama hanya takut kalau dia cuma memanfaatkan dirimu, mama awalnya sangat yakin kalau dia pasti punya niat jahat padamu. Itu karena salah paham yang mama simpan rapat dihati mama terhadap ayahmu, tetapi setelah mama tau kebenarannya, hati mama sudah terbuka"
"Tapi kenapa mama masih saja menyakiti hatinya dan membuatnya takut? dia pasti takut dengan ancaman mama padanya kemarin" Djani menoleh ke arah Rini, setelah mendengar penjelasan dari mamanya itu.
"Mama hanya ingin melihat reaksinya" Rini hanya ingin tau, apakah Qaynaya akan melawannya atau tidak.
"Cara mama terlalu berlebihan"
"Maaf,," Rini mendekat dan ikut duduk di samping ranjang untuk melihat kondisi Qaynaya dari dekat. Wajah yang pucat tetapi terlihat sangat cantik dan bersih.
Qaynaya cantik dalam kesederhanaan nya, dia bahkan tidak terlalu memperdulikan penampilannya. Wanita seperti Qaynaya, tidak mungkin berniat jahat dengan keuangan, karena dia tidak memerlukan itu semua.
__ADS_1
Qaynaya tidak butuh uang hanya untuk bergengsi ataupun bergaya, karena hidupnya sesuai dengan apa yang dia miliki dan yang sanggup dia lakukan. Saat wanita lain sibuk berbelanja dan pergi kesalon kecantikan, Qaynaya memilih menggunakan uangnya untuk membiayai sekolah adik-adiknya.
Qaynaya juga sebenarnya tidak merasa terpaksa menjadi tulang punggung keluarganya selama ini, karena dia dengan senang hati melakukannya, walaupun sering tidak diterima dengan baik oleh Lilis.
"Maafkan mama, cepatlah bangun untuk duduk di pelaminan bersama dengan Djani, karena mama ingin seluruh negara ini atau bahkan seluruh dunia, harus tau kalau kamu adalah menantuku" Rini menatap sendu ke arah Qaynaya yang masih terpejam, sepertinya Qaynaya sangat shock dengan kecelakaan yang dialami nya.
"Apa ini tipuan mama yang lainnya supaya aku kembali pulang?" Djani masih curiga pada Rini. Dia tidak mau saat kembali tetapi istrinya kembali mendapatkan perlakuan buruk dari mamanya.
"Tidak, mama tidak berbohong. Mungkin awalnya mama memang tidak menyukainya, tetapi sekarang mama sudah sangat berubah. Karena mama sudah disadarkan oleh ayahmu"
💞 Flashback 💞
Setelah Djani pulang terlebih dahulu, setelah mengejar ayahnya di kantor pengadilan agama. Rega meminta pada Rini untuk sadar dan membuka hatinya untuk Qaynaya.
"Bagaimanapun juga, dia adalah wanita yang dicintai oleh anak kita. Alasanmu tidak menyukainya juga tidak masuk akal, dia bahkan tidak pernah menyinggung dirimu. Kalau kamu tidak menyukainya karena dia miskin, sepertinya itu terlalu tidak adil bagi Qaynaya. Bukankah kemiskinan tidak menjadi tolak ukur seseorang? aku juga berasal dari keluarga miskin. Tapi apakah aku pernah berlaku curang?"
Rini diam dan memikirkan segalanya. Tanpa sadar air matanya meleleh, lalu memegangi tangan Rega. Rini meminta maaf atas sikapnya selama ini, karena terlalu takut akan dikhianati oleh Rega, membuat Rini bersikap dingin dan kasar.
"Saat kamu memukul Riko, aku sangat membencimu. Seandainya saja saat itu kamu tidak berulah, aku bisa memperbaiki hubunganku dengannya"
"Kenapa kamu masih memikirkan penghianat itu?!" Rega melepaskan genggaman tangan Rini karena istrinya masih saja mengingat tentang mantan kekasihnya.
"Seandainya saja saat itu kamu tidak ikut campur, aku bisa membalas dendam terlebih dahulu padanya. Tapi aku tidak mendapatkan kesempatan karena setelahnya Riko seperti hilang ditelan bumi"
"Apa itu penting?" Rega tidak mengerti dengan jalan pikiran Rini, bukankah itu sudah sangat lama berlalu, kenapa sampai sekarang Rini masih mengingatnya.
"Bagaimana bisa aku melupakan kejadian malam itu? saat itu aku dipermalukan, jadi sudah seharusnya aku membalas dendam. Tapi karena kamu mengacaukannya, aku tidak bisa melakukan apapun. Apa kamu tau kalau sampai sekarang aku masih trauma dan merasa malu saat bertemu dengan teman-teman ku yang mengetahui kejadian itu. Selama beberapa tahun, kejadian itu masih terus diungkit dan aku yang selalu dicemooh karena tidak bisa menjaga kekasihku sendiri"
"Apakah benar?!,, tapi memang nya aku bisa bercerita apa padamu?,, saat aku mulai menyukai dirimu, aku mendengar apa yang tadi aku ceritakan, jadi aku pikir kamu tidak bisa dipercaya lagi"
"Apa dihatimu sama sekali tidak ada perasaan sedikitpun terhadap diriku?" Rega memberanikan diri untuk bertanya. Rini terdiam sejenak, tapi dia sudah tidak mau lagi menyembunyikan sesuatu. Rini tidak mau lagi ada masalah hanya karena prasangka nya saja.
"Awalnya aku membencimu, karena setelah aku mulai menyukaimu ternyata aku dibuat kecewa, walau sekarang baru aku sadari kalau semua itu hanya salah paham. Saat malam pertama kita, bukankah itu terjadi karena kita sama-sama mabuk, jadi aku tentu tidak mengingatnya dengan jelas. Malam-malam selanjutnya aku merasa sangat jijik hingga harus mabuk untuk melupakan nya. Tapi aku tidak tau sejak kapan, aku mulai marah pada diriku sendiri karena menikmati sentuhan mu, pada akhirnya alasanku masih terus mabuk-mabukan setelah kita berhubungan adalah karena aku kecewa pada diriku yang mencintai mu"
"Apa kamu masih mencintai ku?" tanya Rega penuh harap
"Kita sudah tua, sekarang sudah tidak perlu lagi perkataan semacam cinta"
"Tidak benar sayang, sampai kapanpun juga, cinta itu sangat penting. Ayo kita pulang" Rega bangkit dari duduknya dan menarik tangan sang istri untuk lebih mendekat padanya.
"Jangan seperti anak remaja, malu dilihat oleh orang lain" Rini tersipu malu dan mencoba menjauh. Tapi Rega tidak perduli dan semakin berjalan dengan cepat menuju mobil, sambil terus menarik tangan Rini, mereka bahkan tidak bertanya berapa jumlah makanan pesanan mereka, tetapi langsung membayar dengan meletakkan uang yang sepertinya sangat melebihi dari jumlah yang harus mereka bayar.
"Apa lebih baik kita menuju sebuah hotel di dekat sini?" tanpa malu Rega bertanya sambil memakaikan sabuk pengaman Rini.
"Kamu ini apa-apaan, jangan berlebihan" Rini mendorong suaminya supaya cepat melajukan mobilnya. Tetapi saat diperjalanan, Djani menelepon dan meminta Rega untuk menggantikannya rapat.
"Anak ini tidak sopan sekali" Rega sebenarnya kesal, tapi dia yang lebih tua harus mengalah. Rini hanya tersenyum melihatnya.
"Mereka pengantin baru, apalagi baru bertemu kembali, sudah sangat sewajarnya kalau mereka ingin terus bersama,, jangan khawatir. Nanti malam aku akan menunggumu" Rini berbicara tetapi tidak berani melihat kearah suaminya.
Rega sangat bahagia mendengarnya, di umur yang sudah tidak lagi muda, akhirnya penantian panjang akan perasaan cintanya pada Rini terbalaskan sudah. Rega menggenggam tangan Rini dengan menggunakan sebelah tangannya saat mobil berhenti di lampu merah.
💞 Flashback End 💞
Qaynaya membuka matanya lalu menoleh ke sampingnya, dimana Djani dan Rini berada.
"Qay sudah sadar, cepat panggil dokter" Rini sangat bahagia melihat menantunya telah sadar kembali setelah beberapa jam pingsan. Qaynaya kebingungan dengan kondisinya, lalu dengan menahan rasa sakit di kepalanya, dia mulai mengingat kembali tentang kejadian yang membuatnya terbaring di tempat ini.
__ADS_1
"Djani, apa kamu terluka?" tanya Qaynaya lemah, dia ingat saat Doni hendak menabrak Djani, tetapi sepertinya Qaynaya lupa kalau dia sempat melihat Djani yang baik-baik saja sebelum dia tidak sadarkan diri. Djani menggenggam erat tangan istrinya saat dokter datang untuk memeriksa.
Setelah dokter menjelaskan kondisi Qaynaya, mereka lega karena tidak ada luka serius. Sepertinya Qaynaya hanya shock berat. Neli lalu mengambilkan air minum untuk Qaynaya.
"Minum dulu sayang, pasti tenggorakan mu kering" Neli hendak membantu Qaynaya untuk sedikit mengangkat tubuhnya, supaya mudah untuk minum. Tetapi Djani lebih dulu melakukannya.
"Apa kamu terluka?" Qaynaya kembali bertanya karena tadi Djani tidak menjawab pertanyaannya. Setelah menunggu beberapa saat, kali ini juga, Djani tidak menjawab apapun. Karena suasana canggung, Neli lalu mengajak semua untuk segera keluar dari ruangan, untuk memberikan waktu pada Djani dan Qaynaya berbicara.
"Djani,," Qaynaya yang kembali ingin bertanya, tidak melanjutkan ucapannya karena Djani memalingkan wajahnya dan mengambil ponsel dari sakunya. Setelah selesai dengan ponselnya, Djani mendekati Qaynaya lalu memeriksa seluruh tubuh istrinya, dari atas sampai bawah.
"Djani,, aahhh,, apa yang kamu lakukan?" Qaynaya merasa geli karena Djani menyentuhnya di semua inci tubuhnya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Djani, dia hanya terus memeriksa kondisi Qaynaya.
"Aku tidak apa-apa, aku tidak terluka, aku hanya kaget saja. Lagipula mobil Doni hanya menabrak tidak terlalu kencang, karena aku sempat menarik remnya" Qaynaya lalu terdiam setelah selesai berbicara, karena Djani menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Djani sangat marah karena Qaynaya berniat pergi bersama Doni, untung saja semalam dia bangun tidak lama setelah Qaynaya pergi. Djani yang terbiasa tidur dalam dekapan Qaynaya, merasakan keanehan karena dan terbangun. Dan benar saja, saat dia membuka mata. Qaynaya sudah tidak ada disampingnya lagi.
Djani langsung memeriksa ponselnya untuk melihat rekaman CCTV, kemarahan terlihat jelas saat melihat Qaynaya membawa koper keluar dari dalam rumah dengan mengendap-endap.
"Apa yang terjadi pada Doni" Qaynaya mengajukan pertanyaan yang semakin membuat Djani tidak bisa menahan lagi kemarahannya. Tangannya terlihat bergetar hebat dan terkepal, dia tidak menyangka kalau istrinya akan menghubungi kembali mantan suaminya.
"Jangan harap kamu bisa pergi dariku, apalagi kamu sudah sangat melewati batas. Mulai sekarang aku benar-benar akan mengurung mu" batin Djani dan terus menatap tajam kearah Qaynaya.
"Maaf, maafkan aku" Qaynaya berucap lirih, sekarang dia menyadari kalau suaminya marah besar padanya. Qaynaya menjadi sedikit takut karena Djani masih tidak mau untuk berbicara apapun.
Neli dan semua keluarga kembali masuk ke dalam lagi dengan membawa sebuah kursi roda. Mereka ingin segera membawa pulang Qaynaya, karena dokter sudah mengizinkan nya.
"Sayang, mari kita pulang, dokter mengizinkan karena tidak ada luka di tubuhmu. Kita harus segera pergi sekarang, karena sebentar lagi pasti para wartawan akan segera datang. Berita tentang kecelakaan mu, pasti saat ini sudah tersebar, sehingga nantinya pasti kita akan kesulitan untuk keluar" Neli hendak membantu Qaynaya untuk bangun, tapi Djani langsung menggendong istrinya tanpa menurunkan Qaynaya di kursi roda.
Tanpa banyak kata, Djani lalu berjalan cepat untuk segera pergi dari rumah sakit. Qaynaya yang masih takut karena Djani sedang marah padanya, hanya bisa pasrah dan diam. Qaynaya tidak mau kalau sampai suaminya semakin marah padanya.
Qaynaya yang terbaring lemah di jok belakang mobil dengan kepala nya yang berada dalam pangkuan Djani, hanya bisa terdiam karena suaminya masih saja mendiamkannya. Shasa dan Neli duduk di kursi depan, sementara Rega dan Rini naik mobil lain.
Djani kembali menggendong istrinya begitu mereka sampai, setelah memasuki kamar, Djani langsung merebahkan tubuh Qaynaya di atas ranjang mereka, tapi saat Djani akan turun dari ranjang, Qaynaya menahan tangan suaminya.
"Maaf,, tolong maafkan aku" Qaynaya sedikit terisak, karena suaminya terus saja cuek padanya. Djani melepaskan tangan Qaynaya dengan perlahan, dan langsung turun dengan cepat dari ranjang, lalu segera berjalan cepat menuju ke kamar mandi.
Qaynaya tidak bisa menahan air matanya dan terus menatap punggung suaminya.
__ADS_1