
"Apa rencanamu?" tanya Rega.
"Aku akan ke negara FF terlebih dahulu, karena itu negara yang juga bekerja sama dengan perusahaan kita, jadi aku bisa tetap sembari bekerja untuk mencari Qay"
"Baiklah, sekarang lebih baik kita beristirahat, besok kita jenguk mamamu, dan menceritakan rencana kedepannya"
Rega tidak membersihkan diri, dan langsung tertidur, sepertinya umur tidak mungkin bisa dibohongi, dia mudah lelah, apalagi kalau sedang menghadapi masalah besar, pikirannya akan sangat terkuras dan gampang setres.
Djani menitikkan air matanya, saat ayahnya sudah tertidur. Dia sangat bersedih dengan situasi yang ada, bagaimana dia kehilangan anak dan istrinya dalam satu waktu. Bahkan bayi dikandungan Qaynaya belum dia ketahui kehadirannya, tapi dia langsung mengetahui kepergiannya.
Dadanya terasa sangat sesak hingga menangis tersedu, sebenarnya Rega yang sudah sempat terlelap, terbangun karena mendengar tangisan memilukan anaknya, tapi Rega memilih diam, karena yakin kalau Djani saat ini lebih butuh waktu sendiri.
Djani mengingat darah yang mengalir di kaki Qaynaya saat dia membopongnya menuju rumah sakit, istrinya itu pasti sangat kesakitan, sakit lahir dan batin, karena selain harus merasakan sakit fisik akibat benturan dengan mobil, hatinya juga pasti sangat sakit menyangka kalau suaminya akan menikah lagi, ditambah dengan kehilangan janinnya.
"Kamu pasti sangat kesakitan dan kecewa padaku sayang" Djani meratapi kepergian Qaynaya.
Djani terus menangis, dan Rega yang mendengarnya juga tak kuasa menahan air matanya. Hingga hari menjelang pagi, barulah Djani tertidur diatas sofa, karena kelelahan menangis. Rega yang juga tidak bisa tidur, lalu bangun dan mengambil selimut dan menutupi tubuh anaknya yang melingkar memeluk lututnya, terlihat sangat menyedihkan.
"Ini adalah resiko yang harus kamu tanggung, jadi kuatlah" gumam Rega, lalu dia kembali ke atas ranjang, setelah beberapa saat, Rega juga tertidur pulas.
Waktu hampir lewat dari tengah hari, saat Djani terbangun. Dengan perlahan Djani berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, Rega juga terbangun mendengar suara gemericik air.
"Ayah, bersihkan diri terlebih dahulu, kita harus segera menjenguk mama, setelahnya aku harus langsung pergi untuk mencari Qay, aku tidak bisa terlalu berdiam diri"
"Baik, tunggu sebentar"
Setelah selesai bersiap, Djani dan Rega langsung pergi ke rumah tahanan dimana Rini di penjara, setelah selesai melepaskan rindu, dan menceritakan rencana apa yang akan dilakukan untuk mencari keberadaan Qaynaya, Djani segera pamit pergi terlebih dahulu.
"Pa, carilah rumah di daerah yang sangat nyaman dan aman, jangan terlalu ramai tapi penjagaannya ketat, aku percaya pada ayah. Maafkan aku yang hanya bisa terus merepotkan ayah"
"Tidak Djani, apa yang kamu katakan, kamu itu anak ayah yang sangat mandiri sedari dulu, dan tidak pernah menyusahkan, ayah malah sangat senang sekali kalau bisa selalu mendampingi mu, cepatlah cari Qay, di usia senja ayah ini, yang ayah inginkan hanya berkumpul bersama keluarga" Rega mengelus bahu anaknya.
"Qay, apa kamu yakin kita akan pergi ke negara yang sangat jauh itu?" tanya Serli begitu mereka masuk kedalam pesawat.
"Tentu saja, tempatnya sangat indah, aku selalu ingin bisa mengunjungi negara itu"
"Tapi itu sangat jauh, lalu bagaimana cara kita hidup disana nantinya?"
"Dengan ini tentu saja" Qaynaya menunjukkan tas yang diberikan oleh Rani, yang seperti dugaan Qaynaya, isinya adalah beberapa gepok uang.
"Aku tidak menyangka kalau Rani begitu menyayangimu, dia bahkan tidak memberiku apapun" Serli ingin mengambil satu gepok uang di dalam tas yang dipakai oleh Qaynaya, tapi tangannya ditahan oleh Qaynaya.
"Jangan macam-macam ya, ini nantinya bisa kita gunakan untuk membuka sebuah usaha"
"Yang paling pasti adalah, kamu harus kerumah sakit terlebih dahulu, kamu itu masih sangat lemah, perban di kepalamu harus segera diganti, dan kamu juga harus melakukan pemeriksaan lanjutan, kita belum tau kondisimu yang sebenarnya" Serli menggenggam tangan Qaynaya, supaya sahabatnya itu lebih menyayangi dirinya sendiri.
"Kita pikirkan nanti saja, tapi apakah kalian tidak akan menyesal mengikutiku?" tanya Qaynaya pada Serli dan Doni.
"Aku adalah pria yang akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi, jadi aku akan menjagamu selamanya" ujar Doni lalu menatap wajah Qaynaya.
"Doni, aku sangat berterima kasih, karena perasaanmu padaku. Tapi kalau kamu benar-benar mencintaiku, tolong cintai dirimu terlebih dahulu. Karena aku pastikan aku tidak akan pernah membalas perasaanmu, aku tidak mau memberikan harapan apapun, jadi masih ada waktu dan kesempatan untukmu turun dari pesawat ini"
"Kenapa kamu bisa sejahat ini?" tanya Doni kesal lalu menghentakkan kakinya seperti seorang anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.
"Aku jahat kalau aku tidak tegas, tapi aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan, dan mengatakan apa yang seharusnya, tapi bukankah terakhir kali aku tau kalau kalian tinggal bersama, aku pikir kalian sudah jadian. Tapi awas saja ya kamu, jangan pernah sakiti sahabatku" ujar Qaynaya menunjukkan kepalan tangannya ke arah Doni.
"Dihatinya hanya ada kamu Qay" ucap Serli.
"Mau bagaimana lagi, aku memang sangat mempesona" jawab Qaynaya dengan santainya, menghadapi Serli, memang harus lebih banyak dengan candaan.
Qaynaya lalu mencoba untuk tidur, kepalanya sebenarnya terasa sangat sakit dan berdenyut-denyut. Serli mengetahuinya, lalu membiarkan Qaynaya merebahkan kepalanya ke bahunya.
"Kuat Qay, saat kamu bercanda, aku selalu takut, karena kamu sering kali menyembunyikan rasa sakit dan sedihmu dengan tawa dan canda"
"Terimakasih" Qaynaya menahan air matanya dan memilih untuk tidur, karena perjalanan mereka sangat panjang.
"Qay, makanlah sesuatu" ujar Serli, lalu memberikan semangkuk makanan pada Qaynaya.
Qaynaya menggelengkan kepalanya, dia tidak nafsu makan, dan kepalanya masih saja terasa berat. Qaynaya meminta pada Serli dan Doni untuk makan saja, kalau nanti sudah lapar, Qaynaya akan mencari makanan sendiri saat mereka sampai ditujuan.
"Perjalanan kita bisa sampai 15 jam, mana mungkin kamu mau makan saat sampai, kamu bisa kelaparan" Serli memaksa Qaynaya untuk makan sesuatu dengan menyuapinya, tapi Qaynaya menggelengkan kepalanya, karena perut nya terasa sangat tidak nyaman, bahkan rasanya dia ingin muntah saat mencium bau makanan.
__ADS_1
Karena dipaksa oleh Serli, Qaynaya lalu membuka mulutnya, tapi begitu sendok makan memasuki mulutnya, Qaynaya tidak kuat lagi dan ingin muntah.
Dengan berpegangan pada ujung kursi, Qaynaya menuju ke kamar mandi dan muntah disana. Perjalanan panjang terasa begitu menyiksa bagi Qaynaya, karena dia tidak bisa makan dan terus merasakan sakit di kepalanya.
"Minumlah obat dahulu, sepertinya kamu masuk angin, atau mungkin kamu mabuk udara" Serli hendak meminta sebuah obat pereda sakit pada pramugari, tapi Qaynaya tetap menolaknya, entah kenapa mulutnya seperti tidak mengizinkannya untuk menelan sesuatu.
"Baiklah tidur lagi saja, aku akan membangunkan dirimu saat kita sampai" Serli memijat kepala Qaynaya supaya sahabatnya merasa lebih nyaman.
Perjalanan panjang akhirnya bisa mereka lalui, Qaynaya terduduk disebuah kursi di area bandara, mereka seperti orang hilang, karena baru menginjakkan kaki di negara itu.
"Kita hanya harus berbaur" ucap Qaynaya lemah lalu bangkit dari duduknya untuk mencari sesuatu yang bisa menyegarkan nya.
"Jangan terlalu banyak minum kopi nona cantik, itu tidak baik untuk janin" ujar seorang nenek pada Qaynaya menggunakan bahasa setempat, Qaynaya tidak terlalu mengerti dan bertanya menggunakan bahasa Inggris, tapi giliran nenek itu yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Qaynaya.
"Bahkan bahasa Inggris tidak begitu berguna ditempat ini, lalu bagaimana kita akan hidup mulai sekarang?" Doni merebut kopi yang dipegang oleh Qaynaya dan meminumnya, bahkan Qaynaya belum sedikitpun meminumnya.
Karena malas untuk mengantri lagi, Qaynaya memilih membeli jus jambu biji, yang tidak terlalu mengantri, dan ternyata Qaynaya sangat menyukainya, bahkan membeli lagi.
"Qay, sekarang kita harus kemana?" tanya Serli yang ingin meminta jus jambu yang sedang diminum oleh Qaynaya, tapi dengan gerakan cepat, Qaynaya langsung menghabiskannya.
"Aku sangat lapar, dan jus ini sangat enak, aku tidak bisa memakan yang lain, rasanya mual, tapi jus jambu ini sangat enak, kalau kamu mau, lebih baik beli saja, karena disini sekalian bisa menukarkan uang dengan mata uang yang dipakai di negara ini" Qaynaya lalu memberikan beberapa lembar uang pada Serli.
Mereka mencari sebuah penginapan untuk istirahat malam ini, dan besoknya baru berencana untuk mencari rumah yang bisa disewa.
Mereka memasuki sebuah penginapan yang tidak terlalu mewah, tapi tetap nyaman untuk ditempati.
"Pesan dua kamar saja" ujar Qaynaya.
"Tentu saja" jawab Serli dengan riang, sepertinya dia mulai nyaman berada di negara asing, sebuah tempat dimana tidak ada yang mengenalinya. Karena sebagai model yang terkenal di negara asalnya, Serli sering kesulitan saat ditempat umum, karena banyak yang meminta foto atau tanda tangan.
Menyadari dirinya hanya dijadikan sebagai boneka bermain oleh kekasihnya, Qaynaya memilih meninggalkan sang kekasih, dan mulai meninggalkan dunia modelling juga, karena dunia itu seperti semakin membuatnya menjadi manusia yang tidak berarti.
Dunia dimana dia harus terus tersenyum walau hatinya sedang terluka atau pun sakit.
"Aku akan tidur sendiri, jadi kalian tidur saja bersama" ujar Qaynaya, lalu berjalan melenggang ke arah nomor kamar yang tertera di kunci.
"Hey Qay, apa kamu gila?!" teriak Serli.
"Kalian saling mengobati saja, aku sangat yakin kalau kalian sangatlah cocok satu sama lain. Kita bukan anak kecil lagi, negara ini juga negara bebas, kalian tidak akan dimintai tanda pengenal, hanya untuk tidur dalam satu kamar. Lagipula kepalaku sangat sakit, aku butuh tidur dan istirahat sendirian"
Qaynaya mengelus bahu Serli, lalu segera masuk kedalam kamar. Serli sangat paham dengan situasi yang sedang dialami oleh Qaynaya, sahabatnya itu pasti akan menangis dalam kesendirian, begitulah Qaynaya.
"Kita biarkan dia, kalau kamu merasa tidak nyaman tidur satu kamar denganku, kamu bisa memesan lagi" ujar Serli lalu membuka kunci pintu kamarnya.
"Hanya pemborosan saja, kita bahkan tidak tau bisa bertahan berapa lama dinegara ini sebelum menjadi gembel. Lagipula kita hanya harus tidur dan memejamkan mata" Doni nyelonong masuk terlebih dahulu ke dalam kamar, begitu pintu terbuka.
"Jangan khawatirkan hal itu, Qay adalah wanita yang cerdas, dia pasti sudah punya rencana" jawab Serli, lalu menutup pintu dan segera berjalan cepat menuju ranjang.
"Apa tidak akan terjadi sesuatu pada Qay? kenapa dia ingin sendirian?" tanya Doni, lalu tiduran di samping Serli yang sedang tidur terlentang di atas ranjang.
"Dia memang seperti itu, dia butuh waktu sendiri saat tertekan, dia akan menangis sejadi-jadinya, lalu setelahnya akan mengubur masalahnya dengan sangat rapat" Serli lalu memejamkan matanya, perjalanan jauh membuatnya sangat kelelahan. Begitupun dengan Doni yang langsung terbang ke alam mimpi.
Entah sudah berapa lama dua insan itu tertidur, hingga tanpa sadar, mereka saling berpelukan. Serli membuka matanya karena merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya, tapi bukannya marah, Serli tersenyum dan semakin mendekati tubuh Doni.
__ADS_1
Serli adalah anak broken home, dia sebenarnya butuh kasih sayang yang sangat besar, tapi dia tidak mendapatkan nya.
Mantan kekasihnya yang hanya mengambil keuntungan darinya, tidak memberikan kasih sayang sedikitpun. Hingga saat dia melihat cinta dan kasih sayang Doni yang begitu besar pada Qaynaya, Serli menjadi jatuh hati pada lelaki malang tersebut.
Lelaki yang sebenarnya sangat baik hati, hanya saja mencintai wanita yang tidak tepat, karena wanita itu sudah mempunyai cinta yang sangat besar pada orang lain.
Doni membuka matanya saat merasakan pelukan Serli yang semakin erat. Mereka saling memandang, dan entah setan apa yang merasuki tubuh Serli, dengan perlahan dia mencium bibir Doni.
"Uuhhmm" lenguhan terdengar dari mulut Serli saat Doni membalas ciumannya. Mereka semakin kepanasan dan menginginkan lebih, hingga penyatuan itu akhirnya terjadi.
Doni ambruk setelah pelepasannya, lalu tidur disebelah Serli.
"Anggap lah aku wanita murahan, aku tidak masalah dengan hal itu. Karena memang aku seperti itu, bahkan aku tau kalau hatimu masih dipenuhi oleh Qaynaya. Tapi percayalah, aku melakukannya karena mencintaimu. Dan aku merasa tidak bersalah, karena kamu bukan siapa-siapa bagi Qaynaya. Akan menjadi kesalahan, saat kamu masih menjadi suaminya, tapi bukankah saat ini kamu bebas melakukan ini dengan siapapun, begitu juga dengan aku" Serli lalu masuk dalam pelukan Doni.
"Terimakasih Serli, dan maafkan aku, karena mungkin aku akan sering memanfaatkan dirimu untuk bisa melupakan perasaan ku pada Qay, maafkan aku" Doni membalas pelukan Serli.
"Baiklah, manfaatkan lah sesuka hatimu, aku sangat rela. Aku adalah wanita kotor dan murahan, sudah sepantasnya menjadi pelarian seseorang, tapi tetap saja aku bahagia walaupun ada sedikit rasa sakit, karena aku menjadi pelarian bagi orang yang aku cintai" Serli menahan air matanya lalu menciumi dada Doni yang masih polos karena belum memakai baju.
Didalam kamarnya, Qaynaya termenung lalu tanpa sadar memegangi perutnya.
"Mungkinkah kamu masih bertahan bersama mama nak?, maafkan mama karena begitu takut untuk melakukan pemeriksaan. Tapi entah kenapa mama sangat yakin kalau kamu masih berada di sini bersama dengan mama. Bersamamu, mama sangat yakin akan sanggup untuk menghadapi semua ini" Qaynaya lalu menangis tersedu mengingat akan Djani.
Kesendirian dan kesepian, akhirnya harus kembali Qaynaya rasakan. Dia tidak mengerti dengan hidupnya, kenapa dari dulu hanya sekejap mengalami kebahagiaan, lalu datang masalah lagi, dan terus seperti itu secara berulang.
Rasa takut saat mengetahui kalau janinnya sudah tidak bertahan lagi, membuat Qaynaya tidak mau melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kandungannya, karena dia sangat berharap janin dalam kandungannya masih terus bersama dengannya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Karena kelelahan dan juga terus menangis, Qaynaya juga tertidur, lalu terbangun saat mendengar suara berisik dari Doni dan Serli yang sedang bertarung di atas ranjang. Penginapan yang mereka tempati, hanyalah sebuah bilik-bilik kecil, jadi suara-suara di sebelahnya tentu saja terdengar.
Dengan bantal, Qaynaya menutupi telinganya dan mencoba untuk kembali tidur, tapi ternyata tidak bisa, lalu Qaynaya memilih untuk mandi menyegarkan badannya.
Waktu makan malam telah tiba, Qaynaya keluar dari dalam kamar lalu menuju kantin yang ada di dalam penginapan tersebut, ternyata Doni dan Serli sudah ada disana, dan sedang tertawa dan bercanda, sembari makan malam.
"Ceria sekali kalian, apa begitu mengasyikkan tinggal di negara ini?" tanya Qaynaya lalu duduk disamping Serli.
"Tentu saja sayangku, disini sangat indah dan suasananya juga nyaman. Apa yang ingin kamu makan?" tanya Serli lalu berniat untuk bangun memesankan makanan untuk Qaynaya.
"Tidak perlu Serli, aku masih bisa sendiri kalau hanya untuk memesan makanan, lagipula kepalaku sudah tidak terlalu sakit" Qaynaya menahan tangan sahabatnya, dan memilih memesan makanan untuknya sendiri.
Tidak ada pilihan makanan yang disukai oleh Qaynaya, karena hanya dengan membaca menunya saja sudah membuatnya mual tidak karuan.
Qaynaya melihat buah-buahan, dan memilih untuk membeli beberapa potong buah untuk makan malamnya.
"Apa kamu sedang diet?, tadi siang hanya minum jus saja, lalu sekarang hanya potongan buah. Nanti kamu sakit Qay, makanlah dengan benar" ujar Serli kembali berniat untuk memesankan makanan untuk Qaynaya. Tapi Qaynaya kembali menolaknya, dan mengatakan yang sebenarnya pada Serli, kalau dia merasa sangat mual dengan makanan, tapi tidak dengan buah-buahan.
"Baiklah, tapi makan yang banyak" Serli mengalah, dari pada kalau dia paksa, nantinya Qaynaya bisa muntah lagi seperti saat di pesawat.
Mereka makan malam sambil membicarakan apa yang akan mereka lakukan besok. Qaynaya memberi usulan untuk melihat-lihat dulu situasi, lalu mencari tempat untuk membuka sebuah usaha.
"Kita tidak mempunyai kolega bisnis, kita juga masih sangat baru ditempat ini, bagaimana mungkin kita bisa membuka sebuah usaha" Doni merasa usulan Qaynaya terlalu berlebihan.
"Dari pada kita mencari pekerjaan, yang kita bahkan tidak tau kapan akan mendapatkan nya, jadi lebih baik kita memulai sebuah usaha saja"
"Usaha apa yang kamu pikirkan?" tanya Serli.
"Kita bisa membuka usaha kuliner, aku merasa makanan disini tida terlalu berbeda dengan di negara kita, jadi kita bisa membuka warung sebuah warung atau mungkin cafe jika memungkinkan, kita akan mencari lokasinya mulai besok" ujar Qaynaya mantap, lalu menyuapkan beberapa potong buah ke mulutnya.
Mereka menyelesaikan makan malam, dan kembali ke kamar masing-masing, untuk beristirahat supaya besok rencana mereka berjalan dengan lancar.
Disaat kesendiriannya, Qaynaya kembali merasakan kesepian dan kesedihannya. Tapi Qaynaya sudah bertekad untuk tidak menangis lagi, karena berlarut-larut dalam kesedihan dan kesepian, tidak akan bagus bagi dirinya.
"Lagipula ini bukan pertama kalinya aku seperti ini, jadi aku harus lebih kuat" gumam Qaynaya lalu memejamkan matanya.
Keesokan paginya, mereka bangun di awal pagi dan segera pergi untuk mencari lokasi, dimana mereka akan membuka sebuah usaha, entah apa yang terjadi, tapi ternyata sangat sulit mencari tempat sebuah tempat usaha di negara itu.
"Ini sudah hampir sore, kita juga hanya makan sandwich untuk makan siang, ini benar-benar sudah seperti kita adalah sekelompok gembel" ujar Doni lalu duduk di sebuah kursi di pinggir jalan.
"Disini hanya ada satu laki-laki dan dua wanita, tapi kenapa laki-laki nya begitu gampang mengeluh" ujar Serli kesal.
Qaynaya focus melihat ke suatu arah, yang terdapat banyak sekali anak-anak kecil berkumpul di sebuah lahan kosong, tempatnya memang terlihat kumuh. Tapi Qaynaya mempunyai ide lalu mendekati arah pandangnya.
Setelah sampai di lokasi yang menjadi perhatian Qaynaya, dia lalu bertanya pada anak-anak itu, siapa pemilik lahan kosong yang sedang dipakai oleh anak-anak itu bermain. Salah satu anak menunjukkan sebuah rumah, sebenarnya mereka terkendala dengan bahasa, tapi dengan gerakan tangan, ada salah satu anak yang mengerti dengan pertanyaan Qaynaya.
Setelah mengetahui bahwa lahan kosong itu tidak terpakai, dan hanya dipakai untuk anak-anak bermain, sang pemilik lahan begitu senang saat Qaynaya akan menyewanya. Setelah mendapatkan harga yang disepakati bersama, mereka lalu segera tanda tangan kontrak selama dua tahun.
"Kenapa kamu memilih dua tahun?" tanya Serli.
"Sepertinya itu waktu yang sangat pas, karena aku melihat di daerah ini terdapat banyak penduduk dan juga banyak anak kecil, kita bisa membuat sebuah cafe, dengan jajanan yang harganya terjangkau dan kita sediakan ruang bermain juga, jadi pasti tempat ini akan menarik. Selain mereka bisa makan dengan nyaman, mereka juga bisa sambil membawa anak-anak mereka untuk bermain"
"Kamu terlalu gegabah Qay, ditempat seperti ini, biasanya banyak preman, lalu bagaimana dengan saingan bisnis. Apa kamu tidak memikirkannya?" tanya Doni yang lagi-lagi sangat pesimis.
"Mana ada pekerjaan yang tidak beresiko, yang penting kita berusaha dengan yakin terlebih dahulu" jawab Qaynaya, yang dijawab anggukan kepala oleh Serli.
Mereka terus bekerja mencari orang-orang yang bisa membantu untuk membuat cafe, dengan bantuan pemilik lahan, mereka dengan mudah mendapatkannya. Pemilik lahan yang sudah sangat tua tersebut, bercerita bahwa mereka ditinggalkan oleh anak-anak mereka untuk merantau ke luar wilayah, tapi sudah bertahun-tahun tidak ada yang pulang. Jadi kedatangan Qaynaya dan para sahabatnya, membuat pemilik lahan merasakan kesulitan mencari pekerjaan.
"Semoga dimanapun anak-anak saya berada, mereka juga bertemu dengan orang-orang yang bisa membantu mereka" ucap pemilik lahan lalu menggenggam tangan Qaynaya, seolah sedang memegang tangan anaknya.
"Tentu saja nenek, karena nenek baik, jadi anak-anak nenek juga pasti bertemu dengan orang-orang baik seperti nenek" Qaynaya membalas genggaman tangan pemilik lahan yang dia panggil dengan sebutan nenek.
Mereka tidak terkendala dengan bahasa, karena sang nenek bisa berbahasa Inggris dengan lancar (Author yang tidak bisa bahasa Inggris 😬jadi langsung translate bahasa Indonesia 🤭🙏🙏)
Suatu pagi saat pembuatan cafe mereka hampir selesai, tiba-tiba Qaynaya ambruk ke lantai dan memegangi kepalanya, karena terasa sangat berat, tentu saja Serli dan Doni menjadi sangat panik, lalu segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Seharusnya nona banyak beristirahat, kehamilan nona masih sangat lah muda" ucapan dokter membuat Qaynaya membuka matanya lebar, dia lalu menangis dan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Ternyata kamu benar-benar masih terus bersama mama, terimakasih karena kamu begitu kuat sayang" ucap Qaynaya bahagia.
Qaynaya lalu membalas pelukan Serli yang juga tidak bisa menahan tangis harunya.