
"Kita harus segera kesana, pak Adam,, cepat antarkan kami ke rumah duka!" Rini kembali memakai sabuk pengamannya, tapi Djani menahannya.
"Jangan ma, kita harus terus berada dalam rencana awalku. Ini yang terbaik untuk kita semua, dan yang pasti ini yang terbaik untuk Qay"
"Apa maksudmu? apa kamu tega membiarkan istrimu menghadapi kesedihannya sendiri, sepertinya kamu sudah sangat tidak waras, cepat pak kita berangkat ke rumah duka!" Rega turut memberikan perintah pada Adam, dia juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Djani.
Bagaimana mungkin, seorang suami yang sangat mencintai istrinya seperti Djani, tega membiarkan istrinya melewati masalah yang sangat berat seperti itu.
"Pa, wanita gila itu akan terus mengganggu Qay kalau aku tidak segera mengurusnya, tolong percayalah padaku. Aku yakin Qay sangat kuat dan bisa melewatinya, tapi kalau sekarang kita kesana, wanita gila itu akan murka dan rencanaku bisa berantakan"
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? bagaimana bisa itu lebih penting dari Qaynaya?!,, sepertinya kamu juga sudah gila" Rini kembali memberikan perintah supaya Adam segera bergegas pergi, tapi Djani dengan tegas menolak, dan saat itu datanglah Geby dan dayang-dayangnya.
"Tidak ada waktu untuk berfikir, cepat masuk dan segera lakukan persiapan untuk pernikahan kita besok pagi, aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi" Geby berjalan masuk kedalam hotel dan di ikuti oleh Djani.
Rega dan Rini yang masih belum memahami situasi yang sedang terjadi, mau tidak mau lalu mengikuti langkah kaki anaknya. Mereka masuk kedalam sebuah kamar, sebelumnya Djani meminta pada Geby untuk menjelaskan pada kedua orang tuanya tanpa Geby jadi berharap Geby tidak mengganggunya sebelum acara pernikahan selesai.
"Apa kamu gila?! kenapa kamu harus menikah dengan wanita gila itu? ayah punya bukti bahwa ayah tidak pernah melakukan pelecehan terhadap dirinya. Kamu jangan sembrono mengambil keputusan, cepat batalkan dan kita segera menemui Qaynaya!!" Rega menarik tangan Djani, tapi Djani memohon pada ayahnya untuk mempercayainya.
"Aku tau ayah, dan aku juga sudah mendapatkan bukti itu dari orang kepercayaan ayah, bahkan bukti bahwa bukan ayah yang membunuh nyonya Lina juga telah aku dapatkan. Sekarang bahkan wanita itu juga telah mencabut laporannya pada polisi tentang pasal penyerangan yang dilakukan oleh mama"
"Apa karena kami, kami menukarnya dengan pernikahan besok?!!,, tidak perlu Djani, sungguh mama tidak mau seperti ini, biarkan mama membusuk dipenjara, daripada mama harus melihat dirimu menikah dengan wanita sundel seperti itu, cepat sudahi kegilaanmu!!" Rini marah dengan langkah yang diambil oleh anaknya.
"Kenapa ayah dan mama tidak mempercayai diriku? kalau wanita gila itu masih berkeliaran, itu malahan akan sangat membahayakan bagi Qay, aku hanya ingin Qay aman" Djani memegangi lengan Rini yang berniat untuk keluar dari dalam kamar.
"Djani, ini semua kesalahan mama, wanita gila itu seperti ini, karena mama yang menghubunginya, jadi sudah seharusnya mama yang menanggung akibatnya, jangan biarkan Qay menderita" Rini terkulai lemas dan duduk di sebuah kursi, dia ingin mempercayai rencana Djani, tapi di lain pihak dia tidak sanggup membayangkan Qaynaya yang tengah berduka harus jauh dari suaminya.
"Qay, bagaimana dengan Qay, dia sangat membutuhkan mu saat ini" Rini menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ma, wanita itu sangat gila dan mempunyai banyak orang dibelakangnya, dia mempunyai orang-orang di semua sektor industri apapun dia bahkan adalah simpanan dari beberapa bos besar, yang bahkan mama dan ayah pasti tidak akan menyangka nya. Sekarang tenangkan dahulu, besok semuanya akan aku ungkapkan, dan tidak ada lagi cara untuk wanita itu menghindar, atau berani macam-macam dengan keluarga kita terutama pada Qay"
"Bagaimana kalau rencanamu gagal? seperti yang kamu katakan, dia mempunyai orang-orang yang berada dibelakangnya, bahkan kedua orang tuanya adalah direktur dari dua perusahaan yang menjadi saingan perusahaan kita di negara WW" Rega duduk disamping Rini dan memeluk erat tubuh istrinya untuk menenangkan.
"Ayah dan mama sekarang istirahat terlebih dahulu, aku akan menyiapkan segalanya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Besok siang setelah acara selesai dan wanita itu mendapatkan hukumannya, aku akan segera menjemput Qay, lalu kita akan mencari rumah untuk tinggal dengan nyaman" Djani lalu berjalan ke arah sofa dengan meja didepannya, setelah mengeluarkan laptopnya, Djani dengan serius menyiapkan segalanya untuk rencana yang akan dia lakukan besok dihari pernikahannya dengan Geby.
Setelah hampir tengah malam, dan Djani merasa semua persiapannya telah sempurna, Djani menutup laptopnya dan berniat untuk menghubungi istrinya.
"Kenapa nomor ponselnya tidak juga aktif? Qay, sayangku,, tolong buka ponselmu" Djani berbicara pelan sambil terus menekan nomor kontak istrinya.
Karena merasa sangat khawatir, Djani keluar dari kamar hotelnya dan berniat untuk mencari istrinya walau hanya bisa melihat dari kejauhan.
"Apa tuan mau bepergian?" seseorang mendekati Djani, begitu Djani keluar dari kamar hotel yang ditempati nya bersama kedua orang tuanya.
"Tidak, aku hanya mencoba untuk mencari angin karena tidak bisa tidur, jangan terlalu tegang" Djani baru sadar kalau dia telah dijaga dengan sangat ketat, sepertinya dia tidak akan bisa kabur, walau hanya untuk sekejap.
Djani berjalan ke arah aula dimana besok acara pernikahannya dengan Geby akan di lakukan, terlihat sangat megah dan indah.
"Apa ini sesuai dengan keinginan mu sayang?" Geby datang entah dari mana lalu memeluk Djani dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?!" Djani menghempaskan tangan Geby yang melingkar di perutnya, karena tenaga Djani yang begitu besar, Geby terpental ke belakang, untung saja ada seorang pria yang entah siapa, menangkap tubuh Geby, sehingga Geby tidak terjatuh atau terbentur.
"Ini bisa disebut sebagai kekerasan, dan kalau kita sudah menikah, lalu kamu tetap bersikap seperti ini, maka sudahi aku pastikan dari sekarang, kalau kamu akan aku laporkan atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga. Tapi untuk saat ini kamu tenang saja, karena tidak mungkin aku menghancurkan pernikahan indah kita"
Djani tidak mau meladeni Geby lebih lama lagi, dan karena dia tidak bisa untuk melihat Qaynaya walau hanya sebentar, Djani lalu memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar hotel, dimana Rega sudah terlelap, tapi tidak dengan Rini yang masih duduk termenung.
"Ma, kenapa tidak tidur?" Djani mendekat dan memegangi tangan Rini.
"Mama merasa bahwa hal buruk akan terjadi"
"Tidak ma, itu tidak mungkin. Besok setelah rencana yang aku lakukan selesai, maka semuanya akan kembali ketempat nya"
"Mama takut Djani, entah kenapa mama merasa ini tidak benar, seharusnya kita memberi tahu pada Qay dengan rencana ini"
"Tidak perlu ma, Qay tidak aku izinkan untuk memikul masalah, walau sekecil apapun itu permasalahannya. Dia adalah wanita yang hanya boleh merasakan kebahagiaan berada di sampingku"
"Itu tidak benar Djani, seharusnya suka dan duka harus kalian hadapi bersama, Qay nantinya akan kecewa padamu"
"Tidak ma, aku memang pernah berfikir seperti itu, tapi tidak pada kenyataannya, karena aku tidak mau dia menderita sedikitpun, saat ini dia pasti sedang sangat bersedih karena kepergian ayahnya, dan aku tidak ada disampingnya, pasti itu sudah sangat berat untuk nya, aku menyadari hal itu. Tapi rencanaku harus aku selesaikan dahulu, karena semua bisa berantakan kalau tidak sesuai rencana awalku"
"Semoga saja besok tidak ada hal yang mama khawatirkan"
"Tenang ma, jangan memikirkan atau menghawatirkan apapun, sekarang istirahatkan, aku akan tidur di sofa"
"Djani memang pria gila, bagaimana bisa dia melakukan hal ini, bahkan saat keluarga istrinya tengah berduka. Ternyata selama ini begitu berat kehidupan yang dijalani oleh Qay karena begitu tidak diperhatikan oleh Djani" Lilis geram begitu mengetahui bahwa Djani akan melangsungkan pernikahan dengan Geby.
Qaynaya dan Qinanti tertidur di dalam sebuah kamar, karena mereka kelelahan menangis setelah ayah mereka dimakamkan. Qinara dengan setia memijat kepala kakaknya yang sudah lama tidak dia temui.
"Jangan beritahu pada Qay tentang masalah ini, menurut Qay, Djani hanya meminta pada Qay untuk tinggal sementara disini, dan akan segera menjemputnya kembali" Lilis tetap saja pada pendiriannya, dan tidak memperdulikan perasaan Qaynaya sedikitpun.
Doni yang memberikan informasi mengenai pernikahan Djani dan Geby yang akan dilaksanakan besok pagi, menjadi sangat kecewa dengan apa yang dikatakan oleh mantan mertuanya. Tapi dia tidak mungkin melakukan hal lainnya. Doni hanya berharap Qaynaya segera keluar dari kamar, sehingga dia bisa memberikan informasi secara langsung.
"Kenapa kamu masih ada disini? seharusnya kamu segera pergi dari sini. Tidak baik bagimu dan tentu saja bagi Qaynaya, karena bisa saja orang lain akan salah paham dan mengira ada hubungan antara kalian" Lilis mengusir Doni, karena tidak mau kalau sampai Djani atau orang suruhan Djani yang bisa saja memantau Qaynaya melihat keberadaan Doni.
Bisa kacau akibatnya, dan Qaynaya bisa saja kehilangan posisinya sebagai salah satu istri Djani, itulah yang dipikirkan oleh Lilis, yang dia perdulikan hanyalah Qaynaya harus selalu menjadi istri Djani, apapun yang terjadi.
Doni lalu keluar dari dalam rumah, karena terus diusir dari rumah oleh Lilis. Tapi Doni tidak serta merta pergi dari sana, dan terus memantau, karena berharap Qaynaya keluar dari dalam rumah.
Qaynaya membuka matanya karena mendengar keributan, tapi saat keluar dari dalam kamar, sudah tidak terlihat siapapun, sepertinya Lilis juga sudah masuk kedalam kamar. Qaynaya mengambil sebotol minuman dingin di dalam kulkas dan segera meminumnya.
Rasa sedih kembali menyeruak kembali kedalam hatinya, apalagi saat mengingat kenangan dirinya dan sang ayah didalam rumah. Untuk menghilangkan rasa sedihnya, Qaynaya keluar dari dalam rumah untuk menghirup udara segar.
"Akhirnya kamu keluar juga dari dalam rumah" Doni mendekati Qaynaya dan duduk disampingnya, tidak lama Serli dan Rani datang untuk menyampaikan bela sungkawa.
__ADS_1
"Maafkan kami karena terlambat mendapatkan beritanya" mereka berpelukan dan saling menangis, setelah sekian lama mereka tidak bertemu, dan saat berjumpa kembali, harus dibaluti dengan kesedihan.
Mereka duduk lagi berbicara bersama setelah bisa menguasai perasaan Mading. Serli terus saja menggenggam tangan Qaynaya, begitu juga dengan Rani yang terus memeluk lengan sahabatnya yang tengah berduka.
"Kenapa kamu ada disini Doni? apa kamu sebegitu tidak sabarnya melihat Qay menjadi janda? setelah menolak diriku mentah-mentah, kamu ternyata memang masih sangat mencintai Qay" Serli melihat kearah Doni yang terus saja menatap Qaynaya.
"Apa maksudmu Serli, jangan menjadi orang ketiga yang dari tadi saat aku baru datang, berbicara hal yang tidak aku mengerti, setelah mama dan Qinanti. Kenapa kalian berbicara omong kosong yang membuatku pusing" Qaynaya melihat kearah Serli, berharap sahabat nya itu mau berbicara dengan jelas.
"Kami ini adalah sahabatmu, kami ingin yang terbaik untuk mu, apa kamu tidak mengetahui berita tentang Djani yang sangat heboh?, apa dia ada disini menemanimu? tapi melihat ada Doni disini, tidak mungkin ada Djani kan?" Serli semakin mempererat genggaman tangannya, berharap memberikan kekuatan, dengan informasi yang akan dia berikan.
"Djani sedang menghadapi masalah besar, bukankah kalian juga tau kalau kedua mertuaku berada di penjara, Djani sedang berusaha membebaskan mama Rini dan ayah Rega" Qaynaya mengatakan kebenaran yang dia ketahui, karena itulah yang dikatakan oleh Djani saat kemarin mereka berpisah untuk sementara waktu.
"Apa kamu tidak membuka ponselmu, atau tidak mendengarkan berita?" tanya Rani heran, karena bisa-bisanya sahabatnya itu bisa lepas dari yang namanya ponsel, karena zaman sekarang, sangat jarang sekali orang yang bisa hidup tanpa ponsel.
"Tentu saja dia sanggup, bukankah saat dia melarikan diri dari Djani, dia juga bisa hidup tanpa berita dan ponsel, sahabat kita ini memang rada lain" Serli sedikit sewot saat mengatakannya.
"Djani akan menikah lagi besok pagi" ucapan Doni yang tiba-tiba, membuat Qaynaya terdiam untuk sesaat lalu tertawa terbahak-bahak. Baginya itu sangat mustahil, karena Djani begitu mencintainya.
Doni menyerahkan ponselnya, dan terlihatlah foto saat Geby memasuki sebuah hotel yang di ikuti oleh Djani. Qaynaya membeku saat melihatnya, bahkan tanpa sadar menjatuhkan ponsel Doni. Serli mengambilkan lagi ponsel Doni yang jatuh dan memberikannya pada Doni.
"Ponselku, ponselku dimana?!" Qaynaya bangun dari duduknya dan panik mencari ponselnya.
"Tidak perlu berlebihan, ponselmu ada pada mama. Lagipula kenapa kamu mendengarkan perkataan mereka? seharusnya kamu lebih percaya pada suamimu sendiri" Lilis keluar dari dalam rumah dan menarik tangan Qaynaya.
"Masuklah dan jangan pernah temui orang seperti mereka lagi, yang bisanya hanya iri pada kehidupan mewah mu" Lilis memasukkan Qaynaya kedalam kamar dan menguncinya.
"Tante, bagaimana bisa tante bersikap seperti ini? kasihan Qay, dia berhak tau yang sesungguhnya" Rani berusaha berbicara pada Lilis dan berharap mama dari sahabatnya itu tidak terus bersikap kejam pada anaknya sendiri.
"Tau apa kalian ini, yang terbaik untuk Qay adalah terus menjadi istri seorang konglomerat seperti Djani, apapun yang terjadi, sekarang pergilah kalian semua dari rumahku, atau akan aku panggilkan keamanan di depan komplek?!" Lilis marah lalu mendorong Rani yang telah masuk kedalam rumah.
"Kalian ini sudah dewasa, janganlah seperti anak kecil, apalagi saat ini Qay sedang membutuhkan kita semua" Rani berjalan ke arah mobil karena sepertinya Qaynaya tidak mungkin di izinkan untuk keluar lagi dari dalam kamar.
"Qaynaya begitu menderita sedari kecil hidup bersama mama yang mengerikan seperti Rini, aku lama-kelamaan menjadi kesal juga" Serli mengikuti Rani, lalu masuk ke dalam mobil.
"Apa kamu masih menyimpan perasaan pada Doni?" tanya Rani pada Serli saat mereka diperjalanan.
"Aku tidak tau, aku mungkin hanya mengingat sentuhan lembutnya saat menenangkan diriku yang sedang patah hati karena mantan kekasihku. Tapi setelahnya aku sendiri juga yang meminta padanya untuk melupakan kejadian malam itu. Tapi kenapa sekarang aku begitu menyukainya? mungkin karena aku kagum pada cintanya pada Qay yang begitu tulus"
"Coba nyatakan lagi saja cintamu" usul Rani setelah mendengarkan cerita sahabatnya.
"Saat itu dia menolak ku dengan sangat halus, dia akan tanggung jawab kalau terjadi sesuatu padaku karena kejadian malam itu, tapi bukan bertanggung jawab padaku, tapi pada bayinya, kalau seandainya itu hadir. Doni sangat polos, tidak pantas untuk ku yang sangat kotor ini. Bagaimana mungkin aku hamil, aku menggunakan alat kontrasepsi karena mantan kekasihku selalu minta jatah, tapi tidak mau kalau sampai aku hamil. Ini adalah hukuman dan akibat ulahku sendiri, aku tidak menyayangi diriku sendiri sebelumnya. Jadi aku tidak punya keberanian untuk menyatakan cintaku padanya, aku merasa tidak pantas"
Doni membawa mobil sendiri, jadi dia masuk kedalam mobilnya, tapi dia merasa tidak tenang, karena Qaynaya yang masih terkurung di dalam kamar.
"Djani memang sangat kurang ajar, aku harus memberinya pelajaran" Doni meninju jok mobil untuk melampiaskan kekesalannya.
Qaynaya tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Doni. Saat itu terdengar bunyi dari sebuah ponsel, Qaynaya menoleh dan melihat ponsel Qinanti yang berbunyi.
Sebelumnya Qinanti sudah mengantisipasi dengan hal ini dan telah menghapus pesan dan berita apapun yang tadi dalam pencariannya, karena sebenarnya Qinanti juga sangat penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada Djani. Pesan dari Djani telah terhapus, dan untungnya kakaknya tidak membuka ponsel untuk melihat berita.
Waktu berlalu, dan setelah makan malam, Qaynaya kembali masuk ke dalam kamar, ponselnya masih disita oleh Lilis, jadi Qaynaya memilih tidur, untuk merilekskan pikirannya. Qinanti menatap prihatin pada kakaknya, tapi tidak tega untuk mengatakan pada kakaknya tentang pernikahan Djani yang akan terjadi besok pagi. Tanpa sadar Qinanti juga tertidur dengan ponsel berada disampingnya.
Qaynaya terbangun saat tengah malam telah lewat. Dan saat mendengar bunyi notifikasi di ponsel Qinanti, Qaynaya mengambilnya untuk melihat dan memeriksa.
Matanya terbelalak melihat berita yang baru saja masuk di ponsel Qinanti, sepertinya Qinanti mengikuti akun media yang selalu mengupdate berita tentang Djani.
__ADS_1
Foto yang dilihat oleh Qaynaya adalah foto Djani yang tengah dipeluk oleh Geby dari belakang.
"Jadi apakah berita ini benar?" Qaynaya berteriak lalu menggedor pintu kamar, berharap Lilis membuka kuncinya.
"Kakak tenang" Qinanti dan Qirana terbangun dan menenangkan kakaknya, Lilis juga seperti nya terbangun, tapi tidur kembali dan tidak memperdulikannya.
"Kita cari cara sendiri kak, tidak mungkin mama akan membuka pintunya, sekarang tenangkan diri dulu" Qinanti memegangi lengan kakaknya dan membawanya untuk kembali ke ranjang.
"Apa kamu tau juga dengan berita ini? apa kamu juga bersekongkol dengan mama dan tidak memberi tahu padaku?" Qaynaya terlihat sedih melihat kearah adik-adiknya.
Qinanti lalu bercerita kalau memang dia berniat untuk tidak menceritakan berita ini, tapi bukan karena bersekongkol dengan mama mereka, jadi niat mereka juga pasti berbeda.
"Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ayah meminta padaku untuk membuat kakak pergi lagi, kakak jangan kembali lagi kerumah ini. Karena ayah tidak mau melihat kakak terus menderita dibuat oleh mama. Ayah begitu menyayangi mu kak,, dia tidak mau kalau sampai kakak terus diperlakukan sebagai penghasil uang oleh mama. Dan asal kakak tau, selama ini kak Djani rutin memberikan kebutuhan keluarga ini, dan telah menjamin pengobatan ayah. Jadi tidak mungkin orang yang sangat bertanggung jawab seperti kak Djani, tega menyakiti kakak. Ini pasti hanya salah paham, atau berita yang sengaja dibuat-buat seperti saat kejadian Kaela" Qinanti memberikan penjelasan untuk membuat kakaknya merasa lebih baik dan tidak merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
"Tapi foto ini begitu sangat jelas" Qaynaya melihat bagaimana Djani yang tengah dipeluk oleh wanita lain di dalam foto tadi, dan terus terpotret di dalam pikirannya.
"Itu hanyalah sebuah foto, apapun bisa saja terjadi. Kakak juga tidak tau apa yang terjadi setelahnya, itu hanya foto yang anggle nya pas. Setelahnya bisa jadi kak Djani menghempaskan tubuh wanita gila itu" Qinanti memberikan penjelasan lewat kaca mata pikirannya, karena dia sangat tau begitu besar cinta Djani pada kakaknya.
"Ingatlah pada kejadian Kaela, mungkin ini juga hanyalah sebuah rencana kak Djani" Qinanti terus menggenggam tangan Qaynaya untuk membuat Qaynaya merasa lebih baik. Qinanti sangat mirip dengan Qaynaya yang bisa sangat bijak disuatu waktu, saat ini pikiran Qaynaya tengah kacau, jadi tidak bisa berfikir dengan jernih.
"Sepertinya kakak tidak tahu, tapi saat ini kakak sedang mengandung, jadi tolonglah tenang demi bayi kakak. Sudah cukup kakak menderita dan bekerja keras untuk kami semua, sekarang saatnya kami yang akan terus menjaga kakak dan calon keponakan kami" Qinanti mengelus perut rata kakaknya, yang di ikuti oleh Qirana.
Qaynaya masih diam mencerna apa yang dikatakan oleh adiknya, dia tidak merasakan apapun perbedaan pada tubuhnya, hanya saja saat ayahnya meninggal, tiba-tiba kepalanya sangat pening dan berkunang-kunang, sehingga dia langsung pingsan.
"Apa kamu yakin?" tanya Qaynaya meminta diyakinkan.
Qinanti menganggukkan kepalanya dengan mantap, karena dia mendengar langsung dari dokter yang merawat Qaynaya.
Qaynaya tidak bisa tidur dan terus memegangi perutnya, dia tidak menyangka kalau didalam perutnya terdapat janin yang selama ini ditunggunya. Qaynaya begitu tidak sabar untuk memberikan kabar bahagia ini pada suaminya.
Pagi telah datang dan Lilis mengetuk pintu kamar dimana Qaynaya dan adik-adiknya tidur. Lilis awalnya hanya membawakan sarapan pagi untuk anak-anaknya, dan tidak membiarkan Qaynaya keluar dari dalam kamar.
"Ma, izinkan aku keluar dari kamar, aku harus menemui Djani, saat ini aku tengah mengandung, aku tidak sabar untuk memberi tahu hal ini pada Djani" Qaynaya memohon kepada mamanya. Lilis terdiam mematung mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak sulungnya.
"Baiklah, cepat mandi dan bersiap. Mama akan mengantarkan dirimu" Lilis memberikan perintah dan langsung kembali ke dalam kamarnya. Qaynaya yang gembira, langsung mengikuti perintah dari mamanya.
"Ini bisa menjadi senjata ampuh dan membuat Djani membatalkan rencana pernikahannya, jadi Qay tidak perlu berbagi suami, jadi uangnya tidak akan pernah terbagi" Lilis begitu sangat tergila-gila dengan uang dan materi, apapun yang dilakukannya hanya karena berfikir tentang uang.
Lilis dan Qaynaya menuju hotel dimana akan dilangsungkan pernikahan Djani.
"Ini berita yang sangat bagus, istri tua mendatangi pernikahan kedua suaminya, hahahaha" Geby sepertinya telah menunggu kedatangan Qaynaya, lalu menyerahkan bukti kehamilannya.
"Aku tidak tau bagaimana caranya kamu bisa kecolongan, tapi aku sedang mengandung bayi Djani, wanita kumal seperti dirimu yang tidak kunjung hamil membuat Djani muak dan mencari pelampiasan. Jadi sebagai sesama wanita, aku harap kamu tidak menghancurkan hidupku. Kamu akan selalu jadi istri pertamanya Djani, walau pasti aku yang akan jadi kesayangannya" Geby mengambil kembali bukti kehamilannya dari tangan Qaynaya dan segera menyimpannya begitu melihat Djani datang dari kejauhan.
"Sayang, kenapa kamu ada disini? tunggulah aku, karena aku akan segera menjemput mu" Djani berjalan mendekati Qaynaya, tapi Qaynaya menggelengkan kepalanya dan berjalan mundur.
"Aku sudah menjelaskan padanya bahwa pernikahan ini tidak akan lama, dan kamu akan segera kembali padanya, tapi dia tidak mau mendengarkan" Geby berkata tanpa merasa bersalah.
Lilis murka dan langsung berniat untuk menyerang Geby, tapi Djani menghalanginya, karena Djani tidak mau menambah masalah dan membuat Lilis harus berurusan dengan Geby yang sangat menakutkan.
Salah paham melihat Djani yang Qaynaya pikir melindungi Geby, membuatnya berlari tanpa melihat jalan dan terpelanting tersenggol sebuah mobil yang melaju kencang, darah bercucuran di kepala dan bagian bawah Qaynaya, Djani dan Lilis begitu panik dan langsung mendekat untuk memberikan pertolongan.
Djani panik dan segera membawa Qaynaya ke rumah sakit terdekat, setelah Qaynaya mendapatkan perawatan, Djani segera kembali ke acara pernikahan nya dengan Geby, tidak perduli walaupun Lilis menahannya.
Qaynaya membuka matanya dan menangis saat melihat Djani telah pergi, dia tadi siuman begitu mendengar keributan Lilis dan Djani, tapi dia terus memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ma, katakan pada Djani kalau aku keguguran. Aku harus kerumah sakit yang lebih bagus dari ini untuk membersihkan kandunganku"