Kesepian

Kesepian
Menghadapi Mertua


__ADS_3

Djani dan Qaynaya berangkat pada sore harinya, setelah berpamitan kepada tetangganya, dan tidak lupa memberikan barang-barang yang tidak dibawa.


"Kamu yakin tidak akan membawa semua ini Qay?, bukankah ini masih baru, aku ingat kamu membelinya setelah gajian bulan kemarin" tetangga Qaynaya memegangi sebuah penanak nasi, dan di sebelahnya, ada juga berbagai alat dapur lainnya.


"Dipakai ya kak, aku harus segera pergi sekarang, karena takut terlalu malam sampai rumah, terimakasih atas semua kebaikan kakak selama ini, dan maafkan aku kalau banyak merepotkan" Qaynaya memeluk tetangganya, dan tidak lupa berpamitan kepada anak tetangganya.


"Kakak kenapa pergi? apa pacar kakak tidak suka kalau kakak berteman denganku, nanti siapa yang akan membelikan ku es krim lagi, biasanya kakak yang mengajakku setiap hari minggu untuk membeli es krim"


Qaynaya tersenyum mendengar perkataan anak itu, Qaynaya lalu berjongkok supaya sejajar dengan tinggi badan anak tersebut. Qaynaya membelai rambutnya dan memberikan uang saku.


"Maafkan kakak ya, karena kakak harus pulang, sudah terlalu lama kakak tinggal disini untuk berlibur, sekarang saatnya kakak harus kembali, besok kakak tidak menemani mu membeli es krim lagi, kamu beli bersama mama ya, jadilah anak pintar dan selalu menurut pada mama" Qaynaya lalu bangkit dan segera bergegas pergi. Qaynaya tidak bisa terlalu lama melihat anak itu yang terlihat mulai menangis.


"Bahkan anak kecil saja tidak mau berpisah dengan dirimu" Djani membantu Qaynaya memasuki mobil, telapak tangannya dia gunakan untuk melindungi kepala istrinya, supaya tidak terbentur.


"Dia yang selama ini selalu menemani ku setiap aku libur bekerja" Qaynaya masih melihat kearah anak kecil itu dari kejauhan, terlihat mamanya sedang menggendong anak itu untuk menenangkannya.


"Kamu berselingkuh dengannya?" tanya Djani, sepertinya niatnya adalah untuk menghilangkan kesedihan Qaynaya.


"Bisa dibilang seperti itu, karena memang dia adalah pria kecil yang lucu, sangat pas sebagai pelarian saat aku merindukan dirimu, terdengar aku sangat kejam padanya" Qaynaya memakai sabuk pengamannya dibantu oleh Djani.


"Ternyata kamu benar-benar berselingkuh? sungguh tidak pernah aku duga, hai anak kecil, aku tandai ya rumahmu" gumam Djani sambil melihat kearah anak kecil itu, sepertinya dia sedang bercanda, karena tau kalau Qaynaya masih terlihat sedih.


"Selamat tinggal semuanya, terimakasih untuk kenangan nya selama ini" gumam Qaynaya, lalu meminta pada Djani untuk segera bergegas.


"Kita bisa sesekali datang kesini" ucap Djani sambil menghapus air mata Qaynaya. Djani lalu segera melajukan mobilnya. Perjalanan jauh untuk sampai ke pusat kota, dimana rumah Djani berada.


Qaynaya belum pernah ke rumah Djani, selama ini dia hanya tau apartemen nya saja. Setelah beberapa jam berada diperjalanan, dan bahkan sempat beristirahat di sebuah rest area, saat ini mobil Djani memasuki sebuah rumah besar, tidak terlalu mewah, hanya saja untuk ukuran pengantin baru, rumah sebesar itu, sepertinya sudah sangat lebih dari cukup.


"Aku hanya asal-asalan memilih rumah ini, karena pernikahan kita dulu tidak dilandaskan pada hal yang semestinya, kalau kamu merasa tidak nyaman dan tidak suka, nanti kita cari rumah lain bersama-sama" ujar Djani menjelaskan setelah dia memarkirkan mobilnya di garasi.


Qaynaya turun dari mobil, hatinya sungguh sangat berdebar-debar kencang, dia benar-benar tidak tau apa yang harus dia katakan pada Rini nantinya. Djani menggandeng tangan istrinya dan membawanya masuk kedalam rumah.


Di dalam ruang tamu yang terlihat sangat nyaman dengan sofa besar itu, duduklah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun, Qaynaya sepertinya semakin tidak bisa mengendalikan rasa berdebarnya.


"Djani, kamu sudah pulang?" Rini yang awalnya sedang menonton televisi, perhatian nya teralihkan pada kedatangan anak dan menantunya.


Djani semakin berjalan mendekati mamanya, Qaynaya yang berada dalam gandengan nya juga mau tidak mau, mengikuti langkah kaki suaminya. Rini bangkit dari duduknya dan mendekati Qaynaya.


"Qay, maafkan atas kesalahan ku dulu, tante tidak menyangka kalau ternyata kamu tidak bersalah, tante mohon ampuni tante" Rini menggenggam tangan Qaynaya. Hati Qaynaya merasakan sakit yang tidak terkira, mama mertua nya memanggil dirinya sendiri dengan sebutan seperti itu.


Qaynaya dengan sekuat hati, menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Djani ingin mengatakan sesuatu, tetapi Qaynaya lebih dulu berbicara.

__ADS_1


"Tidak ada yang harus dimaafkan tante, bukankah sebenarnya kesalahan tetap ada padaku, seandainya aku lebih tegas dalam menolak keinginan mamaku, kejadian itu pasti tidak akan terjadi" Qaynaya mencoba tersenyum sambil menjawab mama mertuanya.


Entah lah, Qaynaya sendiri bahkan tidak mengerti dan bingung dengan situasi saat ini, tetapi Qaynaya lalu menguatkan hatinya, bukankah dari awal dia sudah paham kalau Rini tidak akan semudah itu memaafkan dirinya.


"Duduklah dahulu, kalian pasti kelelahan" Rini melepaskan genggaman tangannya, lalu mempersilahkan Qaynaya untuk duduk. Suasana canggung benar-benar sangat terasa.


"Ada yang ingin kamu makan atau minum? atau kita langsung istirahat saja, kamu pasti kelelahan karena lama diperjalanan" Djani menggenggam erat tangan istrinya. Djani mencoba memberikan kekuatan pada istrinya.


"Ma, bukankah Qay sekarang adalah menantu mama? jadi kenapa mama mengatakan omong kosong dengan sebutan tante?" Djani tidak bisa menahan lagi, dia tidak mau kalau istrinya terluka perasaannya.


"Sayang, pasti tante belum terbiasa, begitu juga dengan aku, biarkan kami secara perlahan saling mengenal terlebih dahulu" Qaynaya mencoba untuk memahami mama mertuanya, walau sebenarnya hatinya juga memang sebenarnya sangat sakit, karena dia merasa tidak dianggap dan diakui.


Ada pandangan yang tidak bisa diartikan dari sorot mata Rini mendengar ucapan Qaynaya, pada awalnya Rini mencoba untuk menerima siapapun pilihan anaknya, untuk menjadi pendamping hidup, hanya saja dengan Qaynaya yang menikah dengan Doni dan membuat Djani terluka, tentu tidak mudah bagi Rini untuk melupakan penderitaan Djani.


"Aku sudah memaafkan kesalahannya, tetapi apa yang dulu di alami oleh Djani, membuat hatiku belum sepenuhnya bisa menerimanya, lagipula bukankah Djani bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari wanita ini? wanita yang berasal dari keluarga yang harmonis dan terpandang" Rini menatap Qaynaya dengan terus berbicara di dalam hatinya.


Melihat mamanya yang melamun, Djani menyadarkan nya dan kembali pamit untuk menuju ke dalam kamar. Rini hanya mengangguk dan memaksakan sedikit senyuman di ujung bibirnya. Qaynaya mengangguk kepada Rini dan mengikuti langkah kaki suaminya.


"Djani pasti akan menderita hidup bersama dengan wanita ini, selain dia dari keluarga yang tidak mampu, dia juga mempunyai seorang mama yang sangat tidak bisa diandalkan, aku khawatir kalau Djani akan mengalami kesulitan suatu saat nanti" Rini terus berbicara dalam hati sambil memandangi kepergian anak dan menantunya yang memasuki sebuah kamar.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Djani langsung memojokkan tubuh Qaynaya di pintu kamar yang baru saja dia tutup, dengan pandangan yang sangat intens menatap dua bola mata cantik istrinya.


Qaynaya berjalan pelan dan duduk disebuah sofa, Djani mengikutinya dan langsung tiduran disampingnya, kepala Djani berada dalam pangkuan istrinya. Dengan lembut Djani menciumi perut Qaynaya.


"Cepat tumbuh sayang, ayah sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan mu" Djani berharap supaya segera memiliki momongan, banyak alasan didalamnya, terutama supaya ikatan pernikahan mereka semakin kuat. Dan saat ini ada alasan lain, Djani berharap, dengan hadirnya seorang cucu untuk Rini, maka akan lebih cepat bagi Rini untuk menerima pernikahannya dengan Qaynaya.


"Apa besok kamu mulai bekerja?" tanya Qaynaya sambil membelai rambut Djani.


"Sebenarnya aku masih ingin untuk terus bersama dengan dirimu, tetapi aku harus bekerja keras, tabunganku banyak terkuras karena mengambil alih perusahaan,,"


"Salah sendiri" Qaynaya memotong ucapan suaminya. Djani langsung bangkit dan mendorong tubuh Qaynaya terlentang di atas sofa. Djani dengan cepat langsung menindihnya.


"Memang itu salahku, tapi aku tidak menyesalinya, karena aku bisa menemukan dirimu, walau sekarang aku harus bekerja lebih keras, supaya kamu dan anak-anak kita nantinya tidak kekurangan suatu apapun" Djani dengan nyaman tiduran di atas dada istrinya.


"Apa kamu tidak masalah kalau aku tinggal bekerja?" tanya Djani kemudian. Qaynaya sebenarnya masih ragu, karena dia masih sangat canggung menghadapi mama mertuanya, tetapi bukankah cepat atau lambat, dia tetap harus menghadapi Rini. Qaynaya harus berusaha keras, supaya Rini bisa menerima dirinya sebagai menantunya.


"Tidak apa-apa, bukankah memang sudah seharusnya seperti itu, kamu bekerja lah dengan tenang, aku akan baik-baik saja dirumah, lagipula kan ada,,," Qaynaya menghentikan ucapannya, dia bingung untuk memanggil Rini, dia tidak tau apakah harus memanggil nya tante, atau mama.


"Mama,, panggil saja seperti itu, karena memang sudah seperti itu seharusnya" Djani mengangkat tubuhnya dari tubuh Qaynaya, karena terlihat istrinya itu merasa berat karena terus ditindih.


"Turun" pinta Qaynaya melihat kearah suaminya yang berada diatas tubuhnya dengan bertopang pada lutut. Djani menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar, melihat hal itu, Qaynaya langsung mendengus karena paham dengan apa yang akan dilakukan suaminya.

__ADS_1


"Apa kamu kesal?" tanya Djani tidak terima dengan reaksi dari istrinya. Qaynaya sadar kalau suaminya kesal, dengan lembut Qaynaya mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Qaynaya meraih kepala suaminya dan sedikit menarik nya supaya bibir mereka saling berdekatan, mereka lalu berciuman dengan panas di atas sofa. Djani mulai merasakan kepanasan, dengan gerakan cepat dia berusaha membuka baju Qaynaya.


"Apa kalian tidak akan makan terlebih dahulu?!" Rini tiba-tiba masuk ke dalam kamar, sudah pasti Qaynaya langsung panik dan mendorong tubuh suaminya, tetapi Djani dengan tenaga nya menahan istrinya.


Djani tetap meneruskan apa yang sedang dia lakukan, Rini malu melihatnya dan kembali keluar dari kamar setelah mengucapkan permohonan maaf. Djani terus memperdalam ciumannya, dia tidak memperdulikan istrinya yang terus berontak.


"Apa mama benar-benar berusaha untuk mengganggu pernikahan ku?, aku sangat tahu kalau mama sengaja melakukannya karena penasaran dengan apa yang terjadi, dan ingin tau apa yang sedang aku lakukan, untung saja mama masuk kedalam kamar tepat pada waktunya, mama harus tau, kalau aku tidak akan pernah menyerah dengan pernikahan ini, hanya Qay yang bisa mendampingi diriku, aku tidak mau yang lainnya" batin Djani lalu melepaskan ciumannya, karena dia menyadari bahwa istrinya sudah kewalahan, dan semakin kehabisan nafas.


"Kamu masih belum bisa mengimbanginya sayang?" goda Djani, lalu menggigit pelan pipi istrinya.


"Kamu saja yang terlalu berlebihan, kamu kenapa bisa sangat jago dalam hal ini, sepertinya kamu sangat berpengalaman" ujar Qaynaya sambil mengatur nafasnya. Djani tersenyum dan tidak marah mendengarnya.


"Entah kamu mau percaya atau tidak, tetapi hanya kamu, wanita yang aku sentuh, dan selamanya tidak akan pernah berubah sayang ku, hanya kamu dan harus kamu yang akan aku sentuh" Djani membelai lembut wajah Qaynaya. Dengan tatapan memangsanya, Djani turun dari sofa, lalu menggendong istrinya untuk dibawa menuju ranjang.


"Ranjang nya disini lebih luas, sebenarnya aku menyukai ranjang mungil seperti milikmu, karena kamu tidak bisa jauh dariku, tetapi ditempat luas ini, aku bisa melakukan banyak hal dan gaya baru" tanpa malu Djani mengucapkan nya, dan sambil dengan buasnya menerkam istrinya yang tergolek di atas ranjang.


Qaynaya sangat kewalahan dengan kelakuan suaminya, dia bahkan berkali-kali minta ampun dalam rintihan nya. Djani memang tidak kasar, tetapi durasi yang lama membuat Qaynaya kelelahan. Apalagi sudah berulang kali dia dibuat kejang oleh suaminya.


"Aku tidak akan berhenti sayang, aku tau kamu masih kuat, tahan sebentar lagi sayang" bisik Djani dan kembali mempercepat gerakannya, hingga membuat Qaynaya menggelengkan kepalanya kuat kekanan dan ke kiri, mereka lalu kembali melenguh bersamaan entah yang ke berapa kalinya.


Dua insan itu saling berburu oksigen disekitar mereka, Djani turun dari tubuh istrinya, tetapi dengan cepat lalu memeluk tubuh Qaynaya dengan erat, seolah dia tidak mau jauh walau satu inci pun dari istrinya.


"Apa kamu tidak malu, bukankah tadi mama Rini melihat kita, seharusnya tadi kita keluar terlebih dahulu untuk menghormati nya" ucap Qaynaya lemah, dari tadi Djani tidak memberinya kesempatan sedikitpun, untuk turun dari ranjang.


"Apa kamu lapar?" tanya Djani, dia tidak terlalu menghawatirkan apa yang dipikirkan oleh mamanya, yang terpenting baginya adalah istrinya.


Bukan dia mau durhaka atau apapun itu istilahnya, tetapi karena dia sudah paham dengan apa niat dari mamanya, saat ini istrinya yang lebih banyak, harus berada dalam perhatiannya. Djani paham kalau pasti tidak mudah bagi Qaynaya untuk bisa beradaptasi dengan keluarganya.


Kalau saja pernikahan mereka berjalan dengan semestinya, dengan tanpa dendam di dalamnya, Djani pasti memilih untuk mendekatkan dahulu Qaynaya dengan keluarganya. Tetapi nasib mereka berkata lain, pernikahan mereka terjadi karena landasan yang tidak semestinya, walau pada akhirnya, cinta mereka menjadi semakin kuat dari sebelumnya.


"Bukan itu maksudku, tadi aku tidak lapar, tetapi seharusnya kita menghargai penggilan mama" Qaynaya yang sekarang telah bisa mengatur nafasnya, lalu mencoba untuk bangun. Tapi Djani tidak membiarkannya dan terus menahan tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Diam sayang, ini sudah sangat malam, lihatlah jam sayangku, sekarang sudah pukul satu malam, mama juga pasti sudah tidur, lagipula tumben kamu tidak langsung tidur, biasanya langsung terbang ke alam mimpi, saat aku selesai" Djani menggoda Qaynaya dan kembali menggigit pipi Qaynaya, entah kenapa dia sangat gemas pada pipi istrinya, sehingga sering menggigit nya.


"Bagaimana aku bisa tidur, aku kepikiran dengan mama Rini, beliau pasti semakin membenciku, karena aku tidak datang saat dipanggil" Qaynaya yang sudah terbiasa dengan gigitan dari suaminya, tidak lagi mempermasalahkan hal itu, lagipula tidak sakit, karena Djani menggigit dengan pelan.


"Mama akan segera tau, kalau kamu adalah makananku yang paling enak, jadi kamu tidak perlu menghawatirkan hal itu" Djani mencoba menjawab dengan santai dan bercanda, dia tidak mau kalau sampai istrinya semakin merasa tegang tinggal di rumah ini.


"Kuat ya sayang, aku mohon kamu selalu ada disampingku, walau apapun yang akan terjadi, aku yakin suatu saat mama akan sangat menyayangimu, walau mungkin itu butuh waktu lama" batin Djani lalu memasukkan kepalanya kedalam dekapan Qaynaya. Kebiasaan itu benar-benar harus dilakukan, karena dalam dekapan Qaynaya, Djani menjadi sangat nyaman dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2