
"Kita dibawa kemana ini? aku rasa arah kantor polisi bukan lewat jalan ini?" Rini melihat kearah luar jendela mobil untuk melihat situasi. Rega yang dari awal merasa curiga hanya diam dan menggenggam tangan istrinya untuk menenangkan.
"Kenapa kita harus ke kantor polisi luar wilayah?" Rini tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Kasus di kantor polisi di wilayah kalian sudah sangat penuh untuk di selidiki dan di urus, jadi kami datang dari kantor polisi di luar wilayah kalian. Tapi tenang saja, karena kami juga sangat kompeten, bahkan melebihi kinerja polisi dari wilayah manapun"
"Apa itu masuk akal?" Rini sepertinya tidak takut pada para polisi yang duduk mengapit dirinya dan Rega.
"Sayang, tenanglah" Rega memeluk tubuh istrinya dan membisikkan sesuatu yang membuat Rini terdiam.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka sampai di sebuah kantor polisi yang sangat jauh dari perkiraan Rega. Dari awal Rega sudah sangat paham dan dapat membaca situasi dan apa yang direncanakan oleh Geby. Tapi kalau sampai sejauh ini, sepertinya ini membuat Rega sedikit merasa khawatir.
Mereka masuk kedalam kantor polisi, yang sepertinya kantor itu telah siap untuk kedatangan mereka. Rega dan Rini di periksa dalam ruangan yang berbeda.
"Kenapa harus terpisah ruang?" Rega yang awalnya terlihat sangat tenang, tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya melihat sang istri di giring kedalam suatu ruangan yang berbeda dengannya.
"Tentu saja, karena tuan adalah tersangka, sementara nyonya hanya sebagai saksi untuk kasus pelecehan. Sedangkan untuk kasus penyerangan dan kekerasan, itu akan diperiksa setelah selesai pemeriksaan mengenai kasus pelecehan. Kami harap nyonya kuat menghadapi pemeriksaan yang sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama" setelah memberikan penjelasan, Rega juga digiring memasuki sebuah ruangan.
"Kenapa sangat lama?" tanya sebuah suara yang tidak lagi membuat Rega terkejut. Geby duduk dengan kaki terangkat ke atas meja, ada seorang perawat yang tengah membersihkan luka-luka diwajahnya.
"Kami sengaja mengambil jalan berputar, supaya kesayanganku ini bisa sampai terlebih dahulu. Aduh sayang,, pasti sangat menyakitkan" polisi yang menggiring Rega ke dalam ruangan, langsung mengunci pintu dan mendekati Geby.
"Tidak sayang, ini tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit hatiku karena kamu terlalu sibuk sampai tidak mau menemui ku,, baru setelah aku membuat ulah ini, kamu baru datang. Apa kamu berharap aku terus melakukan keributan supaya kamu bisa menemui ku?" Geby menurunkan kakinya dan memeluk erat sang polisi.
"Sayangku,, kamu juga tau sendiri kalau istriku semakin waspada. Dia semakin mengikat kencang diriku, sampai aku sesak. Aku sangat membencinya, kalau bukan karena hartanya, aku sudah meninggalkan dirinya semenjak dahulu untuk bisa hidup bahagia bersama denganmu selamanya"
"Alek,, kasian sekali nasib cintaku ini" Geby mengecup bibir Alek sekilas lalu kembali focus melihat kearah Rega.
"Tuan besar, apa kamu sudah mempunyai rencana?, sepertinya tuan terlihat sangat tenang dan tidak terlihat terkejut sedikitpun"
__ADS_1
Rega terlihat malas menjawab dan bertanya pada Alek, untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap dirinya, supaya secepatnya segera selesai.
"Jangan terlalu terburu-buru, aku masih sangat merindukan kekasih ku, jangan dulu mengganggu waktu kami" Alek mendudukkan Geby, dan tanpa malu mencumbunya didepan Rega. Perawat yang tadi memberikan pengobatan pada Geby, langsung ambil langkah seribu dan segera bergegas keluar dari dalam ruangan.
Rega membalikkan badannya, dia merasa jijik dengan apa yang terjadi. Setelah beberapa saat terdengar jeritan dari Geby dan lenguhan dari Alek. Rega tau kalau mereka sudah menyelesaikan permainan mereka.
"Sungguh sangat singkat, dan lebih cepat dari dugaan awalku. Tapi untunglah, jadi telinga ku tidak akan pecah" Rega berbalik saat dipanggil oleh Alek.
Setelah dipersilahkan untuk duduk, Rega langsung menurut walau tetap saja tidak menunjukkan ekspresi apapun. Geby yang masih merapikan bajunya melihat Rega dengan tatapan penuh godaan. Rega tau dengan pasti, wanita seperti Geby tidak mungkin terpuaskan dengan permainan Alek yang ibarat gajian para karyawan biasa, seperti dirinya dahulu. Yaitu datang hanya mengucapkan salam sebentar, lalu pamit kembali.
Rega tidak melihat wajah Geby dan menatap tajam kearah Alek yang terlihat sangat segar, karena baru saja mengeluarkan kotorannya. Alek tidak suka dengan pandangan mata Rega padanya.
Bbrraaaakkkkkk
Meja yang tidak punya kesalahan apapun, menjadi sasaran rasa kesal Alek akan pandangan Rega padanya yang terlihat sangat jelas bahwa tidak ada ketakutan didalamnya.
"Kurang ajar!!" Alek semakin murka, karena tidak ada satu pukulan pun yang mengenai Rega. Hingga akhirnya dia mengambil sebuah kursi dan hendak memakainya sebagai sebuah senjata.
"Alek hentikan kegilaan mu!!!" seseorang masuk tepat saat Alek akan memukul Rega menggunakan kursi. Dengan tatapan penuh ketakutan, Alek melemparkan kursi yang sedang dia pegang.
"Sayang, untuk apa kamu datang ketempat ini. Kamu bisa menelpon diriku, dan aku akan segera mendatangimu" Alek mendekati wanita yang baru saja datang itu.
"Tuan Rega, saya mendengar kabar dari salah satu orangku disini, bahwa tuan mengalami kesulitan ditempat busuk ini. Maaf karena tuan harus mengalami hal yang tidak seharusnya" wanita itu menghempaskan tangan Alek yang masih memegangi lengannya.
"Sepertinya suami saya sudah sangat keterlaluan kali ini, saya mewakilinya meminta maaf, dan menjamin ini semua akan segera selesai"
"Nyonya Lina, untuk apa nyonya datang ketempat ini? apakah nyonya sedang mengunjungi suami nyonya yang merupakan seorang polisi?" Rega menganggukkan kepalanya sebagai salam pada Lina, yang selama ini menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaannya.
"Perkenalkan suami saya, namanya Alek" Lina memperkenalkan Alek pada Rega, tentu saja Alek begitu terkejut dengan situasi yang sangat mengancam kelangsungan hidupnya. Rega baru saja melihat tingkah nya, bagaimana kalau sampai Rega menceritakan tentang hal itu pada Lina. Alek tersenyum canggung dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Maafkan saya, tapi apa yang saya lakukan, semua sesuai dengan prosedur. Kalau tuan tidak mengikuti pemeriksaan dengan baik, maka kamu sebagai manusia biasa, bisa melakukan hal yang diluar batas. Ini semua kami lakukan supaya masalah ini segera selesai, jadi tolong bertindak secara kooperatif" Alek menjabat tangan Rega dan bisa merasakan kuatnya genggaman tangan pria yang baru saja dia intimidasi.
"Apakah nona cantik yang sedari tadi duduk diam di kursi ini adalah seorang polwan? tapi kenapa tidak memakai seragam?" Lina melihat kearah Geby, dengan pandangan memangsa.
"Bukan sayang,, ii, iinniii,, wanita ini adalah korban dari tuan Rega" Alek menjelaskan dengan terbata-bata. Lina menunjukkan rasa terkejutnya dan menutup wajahnya.
"Oohhh,, apa ini? sebenarnya apa yang terjadi?" Lina mundur menjauhi Rega dan mendekati suaminya. Alek memeluk Lina, berusaha untuk menenangkan istrinya, karena Alek yakin kalau Lina pasti syok dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi inilah sifatnya yang sesungguhnya. Kita tidak mengetahuinya karena tertutupi oleh jiwa sosialnya yang tinggi dan juga kesuksesannya" Alek sepertinya tidak hanya berniat untuk menenangkan istrinya, tapi juga untuk memberikan keterangan palsu supaya kondisinya aman.
Kalau Rega dipenjara, setidaknya Alek aman, karena tidak mungkin bagi Lina untuk mempercayai seorang narapidana. Geby bangkit dari duduknya dan berjalan untuk keluar dari dalam ruangan.
"Jangan pernah keluar dari ruangan ini, dasar wanita busuk tidak tau malu!!" Lina berteriak dan mendorong tubuh Alek yang sedang memeluknya. Lina mendekati Geby dan langsung menjambak rambutnya.
"Kalian pikir aku bodoh?! aku tau sejak awal, bahwa kalian selalu saja bermain permainan berkebun dimanapun kalian bertemu. Apa kamu masih tidak bisa melepaskan pria impoten yang hanya bisa menyemburnya tanpa memberikan kenikmatan??! jawab hey wanita jalan*, aku tau dengan pasti bahwa kamu adalah simpanan dari beberapa orang. Sekarang kamu membuat laporan palsu seperti ini, apa kamu pikir ini menyenangkan?? haahhhh!!" Lina terus menjambak rambut Geby dan segera melemparkan tubuhnya ke arah Alek yang tidak percaya dengan penglihatannya.
Alek tidak menyangka kalau selama ini istrinya telah mengetahui perbuatannya.
"Penghianat dan pelacur seperti kalian memang sangat pantas bersanding. Apa kamu pikir aku tidak memilih berpisah darimu setelah mengetahui kebusukan mu karena aku begitu mencintaimu?!" Lina berteriak dan terus memandangi wajah Alek.
"Aku hanya ingin menghancurkan kalian hingga kalian tidak bisa hidup tenang lagi. Aku ingin kalian merasa hidup segan matipun tidak mau!!" Lina kembali berniat mendekati Geby hingga terdengar bunyi yang membuatnya berhenti.
Dddooorrrrrr
Brrruuuukkkk
Salah satu dari mereka yang berada didalam ruangan itu terhuyung jatuh ke lantai. Rega panik dan mendekat.
"Nyonya sadarlah!!" Rega berteriak dan memeriksa kondisi Lina. Tangan Geby gemetaran dan masih mengacungkan pistol yang tadi diambilnya dari atas meja. Senjata itu bisa dipastikan adalah milik Alek.
__ADS_1