
"Kenapa tadi kamu terlihat sangat sedih?" Djani merapikan rambut Qaynaya yang beterbangan terbawa angin. Setelah selesai sarapan, mereka duduk di tepi pantai, di atas hamparan pasir putih.
"Tidak" Qaynaya menjawab singkat lalu merebahkan kepalanya pada bahu Djani.
"Jangan terlalu memikirkannya, bayi kita akan segera tumbuh sehat didalam sini" Djani membelai lembut perut Qaynaya.
"Aaakkkhh!!" Qaynaya menjerit karena tangan Djani yang tiba-tiba menyusup masuk ke arah dadanya.
"Jangan,," Qaynaya meremas pasir saat merasakan sentuhan tangan Djani di buah kembarnya. Tapi Djani yang sebelumnya sudah melihat keadaan sekitar, dan tidak melihat orang yang berada di dekat mereka, terus melakukan keinginannya.
Djani sudah cukup sabar dengan tidak menyentuh istrinya tadi malam, padahal dia berfikir kalau ditempat ini, dia bisa terus melakukannya. Qaynaya memundurkan tubuhnya, karena tidak mungkin bagi dirinya untuk melepaskan tangan Djani dari bagian tubuh sensitifnya.
"Jangan menjauh!!" Djani marah dan mendorong tubuh Qaynaya hingga terlentang di hamparan pasir, kepala Qaynaya tidak terbentur, karena Djani melindunginya menggunakan kedua tangannya.
"Djani, jangan disini sayang, ini tempat umum" Qaynaya panik dan berusaha untuk bangun, tapi Djani menahannya.
"Tidak ada, disini adalah pantai di sebuah pulau terpencil, tidak banyak yang berada di sini, lagipula kebanyakan orang hanya memilih bermain di dekat restoran yang tadi, tapi kamu mengajakku berjalan hingga sejauh ini. Pasti karena kamu menginginkan diriku" Djani semakin merebahkan tubuhnya hingga menindih tubuh Qaynaya.
"Ayo kita kembali ke tempat penginapan kita, aku janji akan memberikan apapun keinginanmu" Qaynaya menggigit dagu Djani yang awalnya suaminya itu berniat untuk menciumnya.
Djani tersenyum lebar, dia sangat senang karena istrinya tidak menolak. Dengan gerakan cepat, Djani langsung bangkit dan membantu Qaynaya untuk bangun. Mereka bercanda dan saling berkejar-kejaran. Di Kejauhan, supir mereka terlihat sangat tidak tenang.
Adam tentu saja sudah mendapatkan kabar mengenai kondisi yang sedang terjadi pada Rega dan Rini, tapi Adam bimbang untuk melaporkannya pada Djani. Karena sebelumnya, Djani berpesan untuk tidak memberitahu masalah apapun saat dia sedang berbulan madu.
"Tuan muda terlihat sangat bahagia bersama nona, aku tidak tega untuk memberitahukan masalah ini, tuan muda bahkan sudah sengaja tidak membawa ponsel supaya bulan madunya tidak terganggu. Tapi ini juga bukan masalah yang ringan, bagaimana kalau sampai saat nantinya mereka kembali, Adam takut kalau sampai dia disalahkan karena tidak memberi tahu secepatnya.
__ADS_1
Setelah banyak pertimbangan, Adam berjalan mendekati Qaynaya dan Djani yang tengah bercanda dan tertawa bersama, Djani terlihat sudah berhasil menangkap tubuh Qaynaya.
"Djani lepas,, ayo kita kembali dulu ke kamar" Qaynaya menahan bibir suaminya yang hendak melahap bibirnya.
"Orang lain bahkan melakukan hal yang lebih dari ini, lihat saja itu dipojokan sana, arah jam lima" jawab Djani dengan entengnya, lalu mempererat pelukannya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu waktu kita selama disini, sebelum ada yang tumbuh di sini, aku akan terus berusaha dengan keras" Djani membelai lembut perut Qaynaya.
Adam yang hampir sampai pada Djani, menghentikan langkahnya mendengar apa yang dikatakan oleh sang tuan mudanya. Keraguan kembali menghampirinya. Saat tanpa sengaja, Djani melihat ke arahnya, Adam hanya diam dan mengangguk.
"Ada apa pak Adam? apa ada yang bapak butuhkan?" Djani melepaskan pelukannya pada sang istri dan menggandeng tangan nya. Djani mengambil dompetnya dan mengulurkan tangannya setelah mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan kepada Adam, Djani pikir kalau sopir nya itu meminta uang tambahan.
"Ambillah dulu, apa bapak belum makan?" Djani terus mengulurkan tangannya walau Adam menggelengkan kepalanya.
"Jangan sungkan, bukankah bapak sudah bekerja denganku cukup lama, walau mungkin sekarang aku jarang memanggil bapak untuk menjadi sopir pribadi. Tapi hanya bapak yang aku percayai, ambillah dan beristirahat" Djani memaksa memberikan uang yang dia pegang, jadi dengan terpaksa, Adam mengambilnya karena dia tidak berani mengatakan kebenaran tentang kondisi Rega dan Rini untuk saat ini.
"Terimakasih tuan muda, panggil saja saya kalau tuan dan nona membutuhkan sesuatu" Adam segera pergi, karena dia merasa kalau Djani sudah terlihat tidak sabaran untuk memakan istri cantiknya.
"Pak Adam seperti menyembunyikan sesuatu" Qaynaya berkata lirih, sambil melihat kearah punggung Adam yang menjauh. Djani juga sebenarnya merasakan sedikit kejanggalan, karena sebelumnya dia berpesan kepada Adam, supaya tidak mendekatinya kalau tidak ada keadaan darurat. Karena Djani sendiri yang akan mendatangi Adam kalau membutuhkan bantuannya.
"Mungkin dia ingin pulang, lagipula kenapa juga kamu mengajak orang lain untuk acara bulan madu kita, mungkin dia kesepian ditempat ini, tanpa kehadiran istrinya" Qaynaya memegangi lengan Djani untuk menyadarkan lamunan suaminya.
"Aku membawanya untuk berjaga-jaga saja, karena aku tidak membawa alat komunikasi, jadi kalau ada hal penting, aku harap pak Adam melaporkannya padaku" Djani kembali memeluk tubuh Qaynaya dan menciumi kepala istrinya yang berada dalam dekapannya.
"Sudahlah ayo kita masuk kedalam kamar, mungkin ini hanya perasaan kita saja, lebih tepatnya perasaan mu, karena kamu mau menghindar dariku" Djani melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan istrinya untuk segera menuju kamar yang mereka tinggali.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam kamar mereka, Qaynaya meminta pada Djani untuk membelikan camilan. Saat Djani sedang memilih, Qaynaya memilih untuk duduk dan menunggu.
Brrruuuukkkk
Seorang wanita menabrak Djani yang sedang memasukkan beberapa snack ke dalam keranjang belanja yang dia pegang. Djani hanya merapikan snack yang berjatuhan, tanpa memperhatikan atau melihat ke arah penabraknya.
"Tuan Djani, bukankah anda adalah tuan Djani?" wanita itu sepertinya mengenal Djani dan menyapanya.
"Apa kabar tuan? aku adalah Sezkia, mungkin kesan pertemuan pertama kali kita dulu, tidak terlalu menyenangkan, jadi di kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada tuan"
"Maaf, aku tidak mengenalmu, dan tolong minggir, karena anda menghalangi jalan" Djani yang tidak merasa mengenal siapa wanita yang berada di depan nya, langsung pergi menuju kasir untuk segera membayar.
Setelah membayar semua belanjaannya, Djani menghampiri Qaynaya dan menyodorkan susu kotak, awalnya sudah pasti Qaynaya menolak, karena dia tidak menyukai susu, tapi saat Djani bahkan tidak berkata apa-apa dan hanya menatapnya tajam dan terus menyodorkan susu kotak itu, mau tidak mau Qaynaya lalu mengambilnya.
"Habiskan dulu, baru kita kembali" Djani menahan tangan istrinya yang sudah bangkit dari duduknya. Qaynaya dengan muka malasnya kembali duduk lalu memasangkan sedotan pada susu kotak yang dia pegang, dengan malas Qaynaya menghabiskannya supaya Djani tidak marah.
"Qay,,!,, aku tidak menyangka kalau kamu juga berada di pulau ini" Sezkia mendekati Qaynaya dan langsung duduk disampingnya. Dengan wajah cantiknya dan suara yang dibuat manja, Sezkia meminta maaf kepada Qaynaya dengan apa yang terakhir kali dia lakukan.
"Malam itu sepertinya aku sedang mabuk, tolong maafkan aku" Sezkia bahkan berniat memegangi tangan Qaynaya yang baru saja meletakkan susu di atas meja.
"Jangan sentuh istriku!!!" perkataan Djani membuat Qaynaya dan Sezkia membeku untuk sesaat, Djani juga sekarang sudah ingat siapa Sezkia.
Dengan sedikit menarik tangan Qaynaya, Djani membawa istrinya untuk segera kembali ke kamar mereka, bahkan Djani tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Qaynaya untuk berbicara dengan Sezkia.
"Kurang ajar, lihat saja,,, sebentar lagi aku akan menghancurkan hubungan kalian. Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada wanita lain yang berhak berada di sampingmu" gumam Sezkia dengan tatapan penuh dendamnya saat melihat Djani yang sudah menjauh sambil menggandeng Qaynaya pergi dari hadapannya.
__ADS_1