
INI PART 21+++
MAAF YA....
💚💚💚💚
Rangkaian acara pun selesai, pengajian dan tasyakuran yang dilakukan setelah Maghrib pun sudah beres terlaksanakan dengan lancar.
"Alhamdulillah semua beres ya Bi..." ucap Umi Khadijah pelan kepada suaminya.
Semua orang sibuk membereskan rumah, dipastikan rumah akan seperti kapal pecah bila setelah acara hajatan.
"Iya Umi, Alhamdulillah, anak anak sudah menikah semua. Tinggal Fatima mungkin tahun depan lebih baik kita nikahkan saja." ucap Abi Tito kepada istrinya.
"Malam ini semua pasangan pengantin itu kompak menginap disini Abi? apa jadinya besok pagi?" ucap Umi Khadijah terkekeh saat membayangkan ketiga anaknya itu bermalam pengantin bersama dengan pasangannya masing-masing.
"Kamu mau juga Umi? Abi siap kok jadi pengantin baru dikamar?" ucap Abi Tito menggoda istrinya. Kedipan matanya seolah mewajibkan apa yang Abi katakan barusan harus terlaksana.
"Abi... malu itu sama umur? kalau anak anak denger gimana?" ucap Umi Khadijah dengan nada yang malu.
"Mereka juga bermanja-manja, lihat semua anak kita sudah ke kamar masing masing mengerami telurnya masing-masing." ucap Abi Tito dengan penuh semangat dan antusias.
Umi Khadijah pun tidak menggubris rayuan gombal Sang Suami. Baginya, Umi Khadijah harus cepat menyelesaikan tugasnya dan cepat beristirahat di kamarnya.
"Alhamdulillah, selesai juga..." ucap Umi Khadijah lirih.
Lelah sudah pasti seharian penuh Umi Khadijah mengurus persiapan hingga acara berlangsung. Hanya mengandalkan dua asisten rumah tangganya dan beberapa tetangga untuk ikut membantu di dapur, selebihnya Umi Khadijah turun tangan sendiri.
Umi Khadijah pun kembali menuju kamarnya, nadanya sudah lengket karena keringat. Pintu terbuka, Suaminya masih setia menunggunya di tempat tidur, walaupun sudah jam sebelas malam, mata Tito masih terlihat segar.
"Kamu belum tidur Bi?" tanya Umi Khadijah pelan.
"Belum, menunggu sang pemilik datang." ucap Tito dengan senyuman tipis.
"Aku mau mandi dulu Mas, ini lengket semua." ucap Umi Khadijah berjalan menuju lemarinya untuk mengambil pakaian gantinya.
Tito pun berdiri menghampiri Umi Khadijah, sekian lama mereka memiliki masalah rumah tangga, dan baru beberapa hari ini Sang Istri pun mulai menjinak dan terkesan manja.
Tangan kekar si pemilik pria berusia paru baya itu sudah melingkar dengan cantik di pinggang menuju perut. Sentuhan itu tentu membuat merinding sekujur tubuh umi Khadijah. Mereka sudah lama tidak melakukan pemanasan apalagi bersenggama. Entah kapan terakhir kalinya merek melakukan hal itu.
Hembusan nafas di sekitar leher Umi Khadijah membuat wanita paru baya itu pun mulai terlena akan pesona seorang Tito, pria maskulin, keren, cerdas dan satu lagi yang tidak bakal dilupakan Kuat.
"Mas aku mau mandi lho, ini lengket semua." ucap Umi Khadijah pelan.
"Mandinya nanti saja, bila misiku sudah selesai, telurku sudah lama tidak kau erami, apa kau tidak takut dierami yang lain?" ucap Tito dengan memberikan kecupan kecupan nakal di leher Sang istri.
"Mas ini masih bau keringat." ucap Umi Khadijah yang masih malu malu.
__ADS_1
"Nikmati saja permainanku, wangi keringat yg mu membuatku menegang sejak tadi Khadijah. Kamu telah menyiksaku karena sudah lama telur ini kedinginan dan menyendiri. Telur ini bertuan dan membutuhkan kehangatan." ucap Tito pelan sambil menggiring istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.
Kasur itu benar-benar nyaman, wangi seprai yang tampak baru saja diganti menambah semangat dalam proses mengerami telur hingga menetas.
Pemanasan sudah dilakukan sejak satu jam yang lalu, bukan lelah tapi kedua paru baya itu seakan makin hilang kendali dan semakin tak terkontrol lagi. Seprai yang sudah makin acak acakan dan arah bantal yang sudah tidak beraturan.
Usaha mengerami telur pun sepertinya sukses besar walaupun agak telat Matang.
Nafas keduanya makin memburu dan makin membuncah karena hasrat yang tersalurkan dengan sempurna. Hingga titik klimaks pun mereka rasakan bersama.
Faktor usia yang membuat mereka berdua langsung terkulai lemas dan merebahkan diri di kasur empuk itu.
Di kamar yang berbeda, Fathan dan Raina pun masih lembur dengan pemanasan saja. Belum ada yang memulai, walaupun gayanya seperti sudah tidak amatiran ternyata nihil.
Mereka hanya berciuman dan saling menyentuh bagian intim mereka. Tanpa berani melakukan yang sudah menjadi haknya dan cap halal tentunya.
"Mas, kita akan seperti ini terus, lihat itu stik biliardmu sudah menegang sejak tadi, kita sudah berapa jam pemanasan, kamu bisa menahannya?" ucap Raina pelan kepada Fathan.
Wajahnya terlihat lelah, tapi menginginkan. Wanita memang seperti itu malu malu mau....
"Ajari aku Raina, aku benar-benar tidak mengerti." ucap Fathan pelan.
"Ikuti saja naluri lelaki lakianmu Mas. Aku sudah siap." ucap Raina pelan.
Posisi mereka adalah posisi yang legendaris, posisi pas bagi pria untuk segera memasukkan bola biliard hingga menembus lubang gelap. Tangan Raina pun mulai membimbing stik biliard yang mengeras itu menuju lubang gelap, agar bola yang akan dibidik pas dan tepat sasaran.
Begitu mudahnya mempelajari hal ini, tidak perlu buku atau tuntunan atau pedoman, cukup naluri yang bermain disana. Seketika itu juga, kejantanan Fathan pun teruji sangat memuaskan.
Kerja keras itu membawa hasil, peluh dan keringat asmara pun bercampur hingga kasur pun basah pergeludan mereka berdua.
Nikmat bercinta halal ternyata seperti ini, hingga sudah tidak terasa mana yang perawan dan mana yang tidak perawan. Hanya cap merah di sprei saja yang bisa membuktikan itu semua. Itu pun kalau ada, buktinya wanita yang pernah jatuh dari motor tidak akan mengeluarkan darah keperawanan karena benturan mengakibatkan sobeknya selaput dara dan mengeluarkan darah saat terjadinya jatuh.
"Gimana Mas? kamu menikmatinya kan?" ucap Raina menggoda Fathan suaminya.
Nafas Fathan yang belum teratur karena kelelahan pun hanya mengganggukan kepalanya tanpa berbicara sepatah kata pun.
Nikmat yang luar biasa, sungguhan yang menggiurkan adalah sungguhan di ranjang.
"Aku lelah Raina, ternyata seperti ini rasanya. Aku cape, tapi senang dan bahagia." ucap Fathan yang masih setia memeluk Raina.
Dadanya saling menempel membuta gesekan gesekan yang menggetarkan hingga keinginan melakukan lagi pun seketika harus dilaksanakan.
Tangan nakal Fathan pun mulai menjalar untuk melanjutkan aksinya. Menyusuri semua dari atas hingga ke bawah.
"Kenapa Mas?" tanya Raina pelan.
"Sekali lagi ya. Aku masih penasaran, Lolos gak sih tadi?" ucapnya pelan dengan senyum nakalnya.
__ADS_1
Mengulangi lagi dengan yang halal itu sah sah saja. Mau di ulangi sampai berapa kali pun itu terserah, asal mampu dan ikhlas.
Lain lagi di kamar Pengantin lawas yang belum berhasil menikmati serabi hangat milik Sang Istri. Kalau hanya menangkap buah yang masih dipohonnya sih sudah dilakukan. Tapi serabi hangat?? bagaiman rasanya ya?? kata orang sih enak, pasti nikmat, pasti nambah. Kita harus membuktikan bener gak sih, jangan kalah sama dua kamar disebelah.
"Mas Baihaqi, kopinya mantul ya, gak buat ngantuk. Mata kamu seger banget." ucap Aisyah pelan.
Aisyah berusaha mengingat pesan Suci, pahalanya besar bila dilakukan, dan itu hak Baihaqi untuk merasakan serabi hangat milikmu.
"Iya, dek Aisyah. Mas masih belum ngantuk. Kamu kenapa belum juga tidur dek Aisyah?" tanya Baihaqi pelan.
Mereka tidur berhadapan dan berbicara dengan suasana hangat. Sesekali tangan Baihaqi memeluk pinggang dan mengusap pipi Aisyah.
"Mas, mau kita coba sekarang?" tanya Aisyah pelan.
"Maksud kamu apa dek Aisyah? Mas gak ngerti?" ucap Baihaqi pelan.
"Katanya mau punya keturunan? aku siap Mas." ucap Aisyah malu malu.
Seketika mata Baihaqi pun berbinar dengan indahnya. Tatapan mata penuh cinta tanpa mengedip.
"Kamu serius kan dek Aisyah. Mas begitu menunggu moment ini. Menunggu kamu yang siap memberikannya kepada Mas." ucap Baihaqi pelan.
"Kita mulai dari mana Mas, Aisyah tidak mengerti." ucap Aisyah pelan.
"Dek Aisyah ikuti Mas aja ya. Jujur Mas juga belum tahu, tapi kita ikuti saja, feeling kita, kalau sakit dek Aisyah bilang Mas ya. Mas gak mau dek Aisyah merasa tersakiti." ucap Baihaqi pelan.
Mereka pun benar-benar mengikuti alur batinnya. Mereka mulai memoloskan tubuh mereka masing-masing.
Pergulatan panas pun mereka lakukan secara naluriah. Semuanya terjadi begitu saja sesuai keinginan mereka. Satu jam pemanasan sepertinya cukup untuk pemula seperti mereka.
Hingga serabi hangat milik Aisyah pun mulai berkedut tak jelas, basah, licin menjadi satu. Baihaqi pun merasa libidonya semakin naik dan memulai menerkam serabi hangat itu. Memang luar biasa hangat dan nikmat menjalar ke seluruh tubuh.
"Mas, pelan Mas, Aisyah merasa sedikit perih." ucap Aisyah pelan, menahan rasa perih itu agar tak terlihat Suaminya.
Aisyah tidak ingin membuat kecewa Suaminya dengan merusak moment abadi ini.
"Dek Aisyah, maafkan Mas, ini luar biasa nikmat, Mas baru merasakan ini. Tahan sebentar Auh...... owhhh... ahhhh!!!!" ucap Baihaqi sedikit nyaring.
Aktivitas nikmat itu tidak bisa di kontrol apalagi dihentikan semua berjalan begitu saja.
Lelesan keju didalam serabi hangat itu pun mulai mengalir deras.
Mereka berdua berhasil menerkam serabi hangat dengan baik. Ada perasaan ingin menambah, namun diurungkan.
Cukup sekali saja, besok bisa di ulang kembali, karena nikmatnya pun akan berbeda rasanya.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1