Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 89 RUMAH BARU UNTUK HUMAIRAHKU


__ADS_3

Hari ini sesuai janji Zhein kepada Suci istrinya ingin menunjukkan Rumah Baru yang dipersembahkan untuk Humairahku.


Setelah sarapan pagi bersama, Zhein dan Suci pamit kepada Bunda Jihan dan Mama Laras untuk melihat Butik Zaujati yang sudah lama ditinggalkan.


Hanya sekedar mampir dan bersilaturahmi kepada karyawannya. Ada beberapa cinderamata yang ingin Suci bagikan kepada Karyawannya itu.


"Assalamualaikum..." ucap Suci langsung masuk ke Butiknya.


"Waalaikumsalam... Mbak Suci, apa kabar?" ucap para karyawannya.


"Alhamdulillah baik... tuh punya bodyguard jadi aman." ucap Suci menunjuk ke arah Zhein.


"Walah Mbak Suci, kalau bodyguardnya kayak Mas Zhein, aku rela mbak." ucap Rani pelan.


"Rela apa Rani?" tanya Suci menyelidik.


"Rela dikawin mbak... " ucap Rani dengan asal.


"Mas Zhein ya gak mau. Ngimpi ojo duwur duwur nek tibo ki rasane loro. (mimpi itu jangan ketinggian kalau jatuh rasanya sakit)." ucap Maya menyela dengan gaya bahasa khas Jawa yang kental.


"Sudah, bodyguardnya udah ada yang punya. Ini oleh oleh buat kalian. Terus makan siang sudah mbak pesenin, nanti tolong bayarin ini uangnya. Selamat Makan ya. Mbak sama Mas Zhein masih ada perlu, mau pacaran halal dulu. Kangen jalan jalan di Yogya." ucap Suci dengan nada merengek.


Zhein pun hanya geleng-geleng kepala melihat ketiga karyawannya dan istrinya itu kalau sudah ngobrol jadinya panjang. Ada saja topik yang dibicarakan.


"Sudah ngobrolnya?" tanya Zhein kepada Suci sambil menggandeng Suci untuk segera pergi.


"Sudah temu kangen. Sekarang jalan jalan dulu muter-muter Yogya Mas?" tanya Suci pelan.


"Kita lihat rumah dulu ya, kalau sudah beres kita langsung pindah." ucap Zhein pelan.


"Oke siap Pak Dosen." ucap Suci terkekeh.


"Kamu nih, tiada hari menggoda suamimu. Kalau digoda, alasannya anak." ucap Zhein pelan, pandangannya fokus pada bundaran setir mobil dan jalanan yang padat.


"Menggoda Suami kan pahala Mas? Pegangan tangan aja pahala? iya kan?" tanya Suci meyakinkan.


"Nganu nganj juga pahala banget." ucap Zhein menahan tawanya.

__ADS_1


"Nganu nganu tuh apa? jelasin? anak didikmu ini gak ngerti." ucap Suci terkekeh.


"Anak didiknya sekarang ikut mesum." ucap Zhein tertawa.


"Iya yang ngajarin mesum, dosennya." ucap Suci dengan manyun.


Perjalanan kota Yogyakarta biasa padat apalagi jam kampus dan kerja. Motor srepat srepet di lampu merah Bangko Jalan Solo.


"Katanya deket Butik rumahnya. Butik di Serutan ini malah ke arah jalan solo mau kemana sih Mas?" tanya Suci.


"Ke kampus dulu sebentar ya sayang, gak papa kan Nak nemenin Abi sebentar, umi kamu manyun aja, apa mungkin ngajak nengok kamu lagi nanti malam. Tunggu Abi ya Nak." ucap Zhein pelan tanpa rasa bersalah dengan satu tangan mengusap perut Suci.


Suci pun menahan tawanya, mana ada merayu model begitu. Kalau bukan model dosen seperti Mas Zhein, gumamnya dalam hati.


Mobil pun sudah terparkir di parkiran dosen Kampus Islam Indonesia. Mereka berdua turun menuju Ruangan Dekan.


Setelah bertemu dengan beberapa orang penting di Kampus itu Zhein pun ditunjukkan ruangannya yang berada di lantai dua.


Ruangannya ada tiga, salah satunya milik Zhein. Ruangan tertutup dan berkaca gelap, lebih terlihat seperti kamar pas di mall. Ada meja dan kursi dosen, Rak buku, billing kabinet, dan sofa kecil untuk menerima tamu. Serah terima Kunci dan penanda tanganan kontrak sebagai Dosen try out selama tiga bulan lalu baru pengangkatan sebagai dosen tetap.


"Alhamdulillah sudah beres, mulai Senin aku sibuk mengajar, kamu baik baik di rumah." ucap Zhein pelan.


"Iya, namanya Rumah Humairahku. Semoga kamu suka, kalau tabungan Mas udah nambah, Mas janji belikan yang besar buat kamu dan anak anak kita, asal siap punya anak banyak." ucap Zhein terkekeh.


Suci pun melotot, dan meninju pelan lengan Zhein dengan kepalan tangannya yang mungil.


Zhein sudah melajukan mobilnya ke arah perumahan yang dimaksud. Memang benar arah itu menuju Seturan dekat Butik, dan ke dalamnya ada Perumahan Baru Cluster Gunung Kembar.


"Namanya lucu banget sih Mas?" ucap Suci saat membaca taman kecil bertuliskan nama perumahan itu.


"Biar Mas selalu ingat Gunung Kembar itu maksudnya." ucap Zhein terkekeh.


"Dasar kamu itu Mas, paling bisa mengait ngaitkan." ucap Suci kesal.


Perumahan itu tidak banyak hanya sekitar tiga puluh rumah tertata rapi letaknya. Mobil Zhein pun berhenti lima rumah dari depan. Ukurannya lumayan, modelnya unik warna catnya pun bagus.


"Ini Rumahnya sayang. Biasa ya. Ini juga sudah di renovasi sesuai kesukaanmu. Ayok turun, ini kunci rumahnya." ucap Zhein pelan sambil memberikan kunci rumah itu kepada Suci.

__ADS_1


"Mas, apa ini gak berlebihan? Aku malu, belum bisa jadi istri yang baik, kamu sudah menyerahkan rumah ini untukku. Makasih ya Mas." ucap Suci lirih sambil memeluk Zhein dengan erat.


Mereka pun turun dan masuk ke dalamnya. Betul betul rumah impian, rumah ini sesuai dengan keinginan Suci. Warna Cat hijau berpadu warna putih. Ruang tamu yang cukup luas dengan karpet berbulu. Rumah tidak tingkat, ada gazebo di depan rumah.


"Kamu suka, kalau ada yang gak kami suka bilang. Mas, sengaja belum membeli barang-barang, buat kamu memilih sendiri sesuai keinginanmu. Karena ini Rumah Humairahku." ucap Zhein lembut.


"Aku suka Mas." ucap Suci pelan.


"Suka apa?" tanya Zhein mulai menggoda istrinya.


"Suka sama rumahnya Mas, sama uang beliinnya juga. Makasih ya Mas." ucap Suci mengusap pipi Zhein yang mulai memerah.


"Cium donk, kalau suka?" ucap Zhein menantang.


Suci melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian membuka niqabnya dan mencium pipi Zhein.


"Hemmm yang ini juga donk, ngambek kalau gak di sentuh." ucap Zhein menunjuk arah bibirnya.


"Kesempatan nih." ucap Suci yang berjinjit sedikit menyetarakan tingginya dengan suaminya.


Cup.... Zhein pun menundukkan kepalanya agar bisa dijangkau oleh istrinya. Ciuman yang hanya kecupan pun, berubah menjadi ciuman yang sedikit berhasrat.


Karena sedang bahagia mereka pun larut dalam ciuman itu. Satu... dua.... tiga.... sepuluh menit berakhir sudah ciuman di bibir yang membuat bibir mereka terasa kebas karena gigitan kecil dan lum*tan panas pada bibir dan lidahnya.


Nafsu memburu nafasnya pun ikut naik turun, apalagi degub jantungnya ikut loncat loncat gak jelas. Hingga mereka saling berpandangan dan tertawa bersama.


"Ciumanmu selalu enak sayang, membuat Mas ketagihan." ucap Zhein merayu.


"Gombal terus....." jawab Suci meledek.


"Belanja yuk buat isi rumah, nanti malam kita coba tidur disini." ucap Zhein pelan.


"Aku boleh pilih apapun?" tanya Suci pelan.


"Apapun untuk humairahku.." ucap Zhein penuh semangat.


"I love you Mas Zhein...." ucap Suci sambil menoel hidung suaminya.

__ADS_1


"I Love you too Humairah..." ucap Zhein tersenyum manis.


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2