
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
"Kak Ahmad..." ucap Aisyah lirih yang cukup terdengar ditelinga semua orang.
Semua mata memandang Aisyah dengan penuh tanya. Aisyah pun langsung panik dan cemas dan menundukkan kepalanya lagi.
"Kenapa sayang?" tanya Umi Khadijah pelan.
"Bukankah itu Kak Baihaqi yang datang kemarin Umi?" tanya Aisyah pelan setengah berbisik.
"Iya sayang namanya Ahmad Baihaqi. Kenapa?" ucap Umi bertanya lagi.
"Tidak ada apa apa Umi. Aisyah belum halal untuk menatap Kak Ahmad eh Kak Baihaqi." ucap Aisyah pelan dan sedikit kaku.
"Masya Allah, Aisyah Bunda kira ada apa? Gimana Nak dengan Kak Baihaqi?" ucap Rinjani pelan ikut menimbrung.
"Aisyah, Umi ikut cemas. Umi kira kenapa." ucap Umi pelan sambil mengusap punggung Aisyah dengan lembut.
"Kita makan saja dulu, setelah ini kita selesaikan urusan Aisyah dan Ahmad. Ayok dimakan, hanya ada makan sederhana, semoga kalian menyukai." ucap Tito pelan.
"Dari dulu kamu selalu seperti itu, selalu merendahkan diri." ucap Anwar dengan santai.
Semua menyantap makanannya dengan nikmat. Tidak ada satupun yang bersuara, hanya fokus menikmati makanan yang sudah tersaji di piring masing masing.
Lain halnya dengan Aisyah dan Baihaqi yang saling mencuri pandang dalam kesempatan yang ada. Entah berpura pura minum atau mengambil kuah sayur dan lauk. Sampai pandangan mereka bertatapan sepersekian detik kemudian Aisyah menunduk kembali.
"Ekhmmm, udah natap natapnya Ahmad? cantik bukan Aisyah sesuai selera kamu." ucap Ayah Anwar kepada Ahmad anaknya sambil mengedipkan satu matanya.
Ahmad pun hanya terdiam dan tersenyum tipis. Tanpa rasa malu Ahmad Baihaqi memberanikan berbicara di meja makan itu.
"Maaf, saya mengganggu acara makan malam ini. Mungkin ini terlihat seperti berlebihan tapi Insya Allah tidak seperti itu. Pak Azam maafkan saya, kalau boleh, saya akan langsung menikahi Aisyah. Saya tidak ingin menunggu lama, karena memang saya sudah siap secara lahir bathin." ucapan Ahmad pun sontak membuat seluruh orang yang ada di meja itu memuji keberanian Ahmad Baihaqi.
"Apa yang membuatmu yakin dengan Aisyah?" tanya Abi Tito tegas. Ini pasti akan selalu dilakukan oleh ayah kandung, ingin memastikan bila anak perempuannya berada di tangan yang tepat.
"Saya yakin dengan ketetapan Allah SWT. Aisyah sudah menjadi takdir untuk saya Pak Azam. Izinkan saya untuk menikahi Aisyah." ucap Ahmad mantap. Perasaan gugup sejak tadi ia rasakan pun hilang seketika.
"Aku tanyakan dulu kepada anakku, jika Aisyah menerima kamu, maka restu akan ku berikan Ahmad." ucap Tito tegas.
__ADS_1
"Aisyah, bagaimana dengan kamu sayang. Apakah kamu menerima pinangan Ahmad Baihaqi?" tanya Abi Tito pelan dan lembut.
Aisyah pun menegakkan duduknya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh tamu yang ada di meja makan itu, termasuk Ahmad Baihaqi. Ingin melihat keseriusan lelaki dengan senyum manis ini.
"Boleh aku mengajukan satu pertanyaan dan satu permintaan kepada Kak Baihaqi?" tanya Aisyah pelan.
"Tanyakan saja Nak, dan mintalah apa yang menjadi permintaanmu?" ucap papa Anwar pelan.
"Maaf Kak Baihaqi, Apa Kakak benar benar mencintaiku karena Allah SWT?" tanya tanya Aisyah pelan.
"Iya Aisyah." ucap Baihaqi dengan mantap.
"Kalau aku meminta kakak untuk menikahiku malam ini juga dengan mahar surat Ar Rahman tanpa membaca Al Qur'an. Apa kakak sanggup?" ucap Aisyah mantap.
Semua mata memandang terkejut dengan permintaan Aisyah. Menikah malam ini juga, artinya mereka akan ijab kabul saat ini juga.
"Dengan Kebesaran Allah SWT, Insya Allah kakak siap. Kakak yakin dan siap lahir batin." ucapan Ahmad pun membuat kelegaan seisi ruangan itu, sekaligus membuat cemas dan panik.
"Baiklah, Kak Baihaqi. Ayah, biarkan Aisyah menikah malam ini juga, restui dan ridhoi Aisyah. Biarkan Kakek Furqon yang mengijabkan Aisyah. Kakek mau?" tanya Aisyah.
"Iya Aisyah Kakek mau. Setelah ini kita persiapkan semuanya. Undang tetangga dekat untuk dijadikan saksi. Anwar kamu ingin mengundang saudaramu?" tanya Kakek Furqon.
Seketika acara makan malam itu mendadak sirna, hilang sudah selera makan mereka tergantikan dengan kepanikan menyiapkan acara Ijab Kabul antara Ahmad Baihaqi dan Aisyah.
Kecemasan nampak jelas pada wajah Ahmad. Terlihat tenang tapi hatinya gugup dan takut. Aisyah sendiri sudah berada di kamarnya bersama Fatima dan Umi Khadijah. Mereka berdua merias Aisyah dengan sederhana.
Abi Tito dan Pak Anwar pun menyiapkan tempat untuk prosesi Ijab Kabul. Sedangkan Bunda Rinjani dan Haikal keluar untuk membeli cincin dan seserahan.
Begitu mendadak dan serba terburu buru. Kakek Furqon hanya melihat orang berlaku lalang mempersiapkan acara tersebut.
Acara sederhana hanya Ijab Kabul dan syukuran dengan tetangga sekitar.
Satu jam kemudian.Tempat dan semua yang diperlukan sudah siap. Ahmad Baihaqi sudah duduk manis di depan Kakek Furqon dan Abi Tito.
Semua keluarga dan tamu undangan pun dengan khidmat menjadi saksi pernikahan tersebut.
Semua tenang dan sunyi senyap. Mungkin hanya degub jantung yang terdengar disela sela hembusan nafas.
Keringat dingin dan tangan yang terus mengepal pelan tanda cemas dan gugup seorang Ahmad Baihaqi terlihat jelas.
__ADS_1
"Ahmad Baihaqi, apakah saudara sudah siap?" tanya Kakek Furqon pelan.
"Insya Allah siap Kek." ucap Ahmad Baihaqi pelan.
Ijab kabul pun di mulai. Tangan Ahmad dan Abi Tito saling berjabat dan mengucapkan ijab kab kabul dengan lantang dan mantap dengan satu tarikan nafas hingga terdengar kata SAH dari para tamu undangan.
Alhamdulillah ijab kabul pun berjalan dengan lancar. Dilanjutkan dengan membaca surat Ar Rahman dengan khidmat.
Suaranya yang lembut dan halus terdengar jelas sampai dikamar dimana Asiyah berada.
"Aisyah, kamu telah SAH menjadi istri Ahmad Baihaqi. Semoga pernikahan ini menjadikan keluarga kecilmu menjadi Sakinah Mawadah Warahmah. Kamu harus menurut apa akta suamimu, jaga aib suamimu, jangan kamu mengucapkan kata kata kasar apalagi bercetai. Bicarakan baik baik bila ada masalah." ucap Umi Khadijah menasehati.
"Iya Umi, terima kasih Umi, sudah memberikan yang terbaik untuk Aisyah. Walaupun Aisyah bukan anak kandung Umi." ucap Aisyah terisak.
"Sayang jangan pernah katakan itu. Biarlah aib itu untuk keluarga kita. Jangan pernah ceritakan ini kepada siapapun. Janji dengan Umi, termasuk kepada suamimu. Umi tidak ingin masalah ini berkepanjangan dan menjadi konsumsi publik." ucap Umi Khadijah mengingatkan.
"Iya Umi, Aisyah pasti akan mengingat ini semua." ucap Aisyah pelan.
"Kak Aisyah, selamat ya. Doain Fatima segera menyusul juga, biar cepat halal." ucap Fatima sambil memeluk Aisyah dengan tulus dan kasih sayang.
"Iya Fatima, kak Aisyah doain semuanya berjalan lancar, tinggal beberapa bulan lagi gak sampai satu tahun. Sabar ya Fatima." ucap Aisyah lembut.
"Aisyah, sudah selesai, ayok kita keluar." ucap Umi Khadijah pelan sambil menggandeng tangan Aisyah.
Mereka berjalan menuju ruang tamu, yang sudah dipenuhi para tamu undangan. Aisyah pun duduk di samping Ahmad Baihaqi.
Cincin pun sudah terpasang indah di jari manis Aisyah. Aisyah pun memasagkan cincin di jari manis Ahmad Baihaqi kemudian mencium punggung tangan suaminya, dan sang suami pun mencium kening Aisyah yang sudah SAH menjadi istrinya.
Alhamdulillah semua acara sudah selesai dan berjalan dengan lancar dan khidmat. Sekarang sebagai ungkapan syukur kebahagiaan dari pasangan pengantin, silahkan para tamu undangan untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan di halaman samping.
Pernikahan yang di ridhoi oleh Allah SWT, akan selalu berjalan dengan lancar. Walaupun itu hanya pernikahan sederhana, tidak mengurangi makna pernikahan itu sendiri. Jadilah imam dan makmum yang baik dalam keluarga kecilmu nanti.
--------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1