
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari semakin larut, senja mulai berganti malam. Perjalanan yang melelahkan bukan karena menyetir tetapi pikiran yang menyetir hati menjadi kalut, cemas, dan kecewa yang berkepanjangan. Mengingat pesan Kakek Furqon untuk tetap menjaga Umi dengan baik. Tetap menjadi anak yang mampu menguatkan hati Uminya.
"Assalamualaikum umi.. Fathan pulang." ucap Fathan pelan. Hatinya sudah mulai melunak, karena selama dalam perjalanan Fathan memperbanyak istighfar.
"Waalaikumsalam Fathan..." ucap Umi sedikit gugup.
"Umi sedang apa?" ucap Fathan pelan.
"Sedang menunggu kamu Fathan. Tadi Kakek bilang kamu sudah pulang sejak siang. Umi kan cemas sayang." ucap umi dengan tulus.
"Umi, ada yang ingin Fathan tanyakan. Fatima kemana?" ucap Fathan pelan.
"Fatima lagi kajian, belum pulang. Ada apa Fathan?" ucap umi pelan.
"Umi janji, umi akan menjawab jujur pertanyaan Fathan dan umi tidak boleh menangis. Umi siap?" ucap Fathan lembut dengan membawa uminya ke kamar umi Khadijah.
"Fathan kamu mandi dulu, sholat dulu, makan dulu. Umi janji akan menjawab semua pertanyaanmu sayang." ucap umi lembut.
"Baik umi, Fathan mandi dulu biar seger." ucap Fathan semangat.
Bagi Fathan, Umi adalah segala-galanya. Cintanya kepada Umi nya tidak akan tergantikan oleh wanita lain kecuali Suci. Hanya Suci yang mampu mematahkan hatinya, dan membuatnya tidak semangat seperti ini. Entah perasaan cinta yang tumbuh seperti ada ikatan batin tersendiri.
Fathan pun masuk ke kamar Umi Khadijah, Fathan melihat kamar yang bersih, wangi dan begitu rapi. Terlihat sajadah yang masih tergelar disana dan lipatan mukena Umi yang tertata rapi.
__ADS_1
"Umi... " panggil Fathan dan duduk diatas sajadah Umi.
Sajadah itu begitu harum semerbak, siapa pun pasti betah berlama-lama sujud di sajadah ini.
"Fathan sayang, sudah dikamar Umi. Kok Umi gak dengar ya." ucap Umi yang kaget melihat kedatangan Fathan.
"Maaf Umi, tadi Fathan panggil sepertinya umi dikamar mandi, jadi Fathan masuk ke dalam. Umi ini sajadah wangi sekali, seperti bukan wangi parfum Umi?" ucap Fathan lembut.
"Itu sajadah Abi, Fathan. Umi sering pakai bila rindu Abi. Itu juga wangi parfum Abi." ucap umi lembut.
"Setulus itu cinta Umi untuk Abi? walaupun Abi jarang pulang, Umi tetap merindukan Abi? Apakah bila Abi memiliki kesalahan fatal Umi akan memaafkannya Umi?" tanya Fathan dengan mata yang mulai basah.
Mendengar nama Abi disebut dengan lembut dari bibir Uminya membuat emosi Fathan tersulut seketika. Mengingat Abi nya bukanlah orang yang baik baik di masa lalunya.
"Apa yang kamu bicarakan Fathan, hargai Abi mu. Jangan sampai kamu menyesal karena perkataanmu ini sayang. Jangan mudah tersulut emosi dari cerita orang yang belum tentu kebenarannya. Tentulah anak Umi lebih paham agama, pasti bisa menyaring semua informasi yang ada." ucap Umi lembut dan tenang. Umi tahu persis, Fathan akan menanyakan masa lalu Umi dengan Abinya.
"Umi cinta dengan Abi? bukankan Umi hanya dijodohkan?" ucap Fathan berhati hati.
"Umi kalau gak dipancing gak cerita. Sekarang Fathan mau denger cerita Umi." ucap Fathan datar.
"Awalnya Umi itu tidak Suka dengan Abi. Abi itu pria dingin, keras kepala dan tidak ramah. Dulu Abi itu nakal, suka berjudi, mabuk mabukan, narkoba bahkan balapan motor. Tahu dong selera Umi seperti apa?.
Suatu hari Kakekmu menjodohkan Umi dengan Abi, tentu saja Umi menolak tegas. Umi tidak memiliki pacar saat itu tapi bukan berarti Umi harus menerima Abi, tapi Umi lebih ingin pria yang bisa membimbing Umi. Bukan Umi yang harus membimbing Suami Umi. Umi shalat Istikharah, meminta petunjuk dan jawaban terbaik dari Allah SWT. Umi pasrahkan semuanya sama Allah SWT. Umi terima takdir Umi kalau memang Abi itu jodoh Umi.
Singkat cerita, memang perjodohan itu adalah jawaban terbaik yang sudah ditentukan oleh Allah SWT untuk Umi. Umi pun menikah dengan Abi. Belum ada cinta, belum ada rasa sayang, belum ada rasa memiliki, yang ada hanya rasa yakin bahwa Abi adalah jodoh yang diberikan Allah SWT untuk Umi. Jodoh terbaik Umi untuk didunia dan diakhirat. Apapun resikonya pasti Umi hadapi, karena semuanya pasti ada jalan.
Umi berusaha menjadi istri yang baik, karena bagi Umi pernikahan hanya sekali. Umi ingin mendapatkan ridho Allah SWT, dengan berbakti kepada Abi. Setiap malam Umi selalu berdoa, agar Allah SWT melunakkan hati Abi.
__ADS_1
Doa Umi pun dikabulkan oleh Allah SWT. Semua melewati proses yang begitu panjang dan berliku. Umi bersyukur, pelan pelan Abi mulai berubah semenjak Abi tahu Umi sedang mengandung kamu Nak.
Hidup Umi mulai bersemangat hingga kabar usaha Abi mengalami kebangkrutan. Dan Abi mulai kembali pada dunia sebelumnya.
Ada satu hal yang Abi ceritakan baru baru ini, bahwa Abi memiliki anak dari wanita lain. Umi hancur, Umi tidak siap mendengar pengakuan Abimu. Umi menangis kenapa Abi begitu tega mengkhianati cinta Umi. Umi mencintai Abi karena Allah. Makanya kenapa akhir-akhir ini Umi sering menangis, karena Umi tidak siap harus mendengar pengakuan Abimu ini." ucap Umi kembali menangis kencang.
Bahunya bergetar hebat, ada rasa sakit yang luar biasa sakitnya menusuk hatinya. Pedih, perih menerima pengkhianatan ini.
Fathan memeluk Uminya dengan lembut. Benar ucapan Kakek, Umi membutuhkan sandaran, membutuhkan orang yang bisa menguatkannya. Fathan bisa merasakan, bagaimana rasanya dibohongi dan dikhianati.
"Umi yang sabar ya. Fathan akan selalu ada untuk Umi. Fathan sayang sama Umi. Umi jangan menangis. Air mata Umi membuat Fathan kesal Umi. Fathan kesal dengan keadaan seperti ini. Umi jangan lemah, Umi harus kuat." ucap Fathan terisak dan berusaha menguatkan hati Uminya yang sedang patah.
"Umi kuat Fathan, Umi tegar, Insya Allah Umi kuat. Umi selalu istighfar, mungkin ada kesalahan Umi di masa lalu. Umi selalu mohon ampunan atas segala dosa dosa Umi. Fathan harus seperti Umi, Fathan harus kuat ya Nak." ucap Umi sambil mengusap air matanya.
"Kita saling menguatkan ya Umi. Fathan ingin membahagiakan Umi." ucap Fathan pelan.
"Iya Fathan, jangan benci Abi mu. Semua ada alasannya hanya saja Umi belum sanggup mendengar semuanya. Hati Umi sudah terlanjur sakit dan kecewa. Abi mu laki laki yang baik, Fathan. Umi percaya Abi tidak salah." ucap Umi lirih.
Angin tidak berhembus menggoyahkan pepohonan, melainkan untuk menguji akarnya.
Tidak ada satupun ujian Allah SWT untuk memberatkan hambanya melainkan untuk menguji seberapa jauh hambanya mau bersyukur dalam keadaan apapun.
***SAMBUT YANG DATANG, IKHLASKAN YANG PERGI. HARGAI YANG BERJUANG DAN LUPAKAN YANG MENYAKITI.
----------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚***