
Suci memapah Raina ke kamar tidurnya, lalu mengambil baskom yang berisi air hangat untuk mengompres pipi lebam itu. Suci juga memberikan baju ganti untuk Raina. Pelan pelan dengan telaten Suci membuka baju itu dan menggantikannya dengan daster panjang biar mudah menggantikannya. Diambilnya makanan dan disuapkan sesendok demi sesendok ke mulut Raina. Raina hanya menatap Suci, ada genangan air mata yang hendak jatuh ke pipinya.
"Minum ini Kak Raina biar lebih hangat dan lega." ucap Suci memberikan segelas teh hangatnya kepada Raina.
Raina pun menerima segelas teh hangat itu dan menghabiskannya.
"Sebentar Kak Raina, Suci ke dapur dulu menaruh piring dan gelas kotor ini." ucap Suci pelan kepada Raina.
Raina hanya menganggukkan kepalanya. Suci pun keluar kamar dan pergi menuju dapur. Membawa sebotol air mineral dan beberapa cemilan dan buah untuk Raina.
"Sayang, ini susunya, Mas sudah buat untuk anak kita, minum dulu, Mas gak mau lihat kamu kelelahan." ucap Zhein lembut sambil mengecup pipi Suci disampingnya.
Suci pun langsung mengambil gelas berisi susu itu dan menghabiskannya.
"Sudah habis Mas, makasih ya kamu selalu memperhatikan kehamilanku dengan baik. Mas mau ketemu Kak Raina?" tanya Suci kembali.
"Nanti Mas, ke kamar, terima kasih sudah mengurus sahabat Mas. Tadi Mas juga sudah telepon Fathan menanyakan tentang Raina. Tapi sejak semalam Raina tidak bisa di hubungi. Coba kamu tanyakan, mungkin kalau sesama perempuan Raina akan lebih terbuka." ucap Zhein penuh kelembutan. Lagi lagi mencuri kesempatan mencium pipi Suci.
Suci hanya tersenyum, memang ini rahasia Zhein yang baru Suci ketahui. Zhein itu romantis, dan sedikit mesum. Mungkin bukan mesum lebih terlihat posesif menandakan kepemilikannya. Bahkan di depan Bunda Jihan dan Mama Laras, Zhein pun tidak malu mengakui rasa cinta dan sayangnya kepada Suci baik secara lisan maupun secara tindakan, misalnya dengan pelukan, kecupan di kening, di pipi ataupun di bibir.
Bukan hanya itu Zhein tipe penyayang, selalu membantu istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumahnya, bahkan mencuci pun pernah dilakukan saat Suci sedang hamil muda. Zhein bukan tipe laki-laki yang jijik terhadap sesuatu, kemandiriannya sudah terbentuk sejak remaja, sewaktu salah pergaulan. Tapi kini kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Terlebih sekarang telah memiliki istri dan akan mempunyai anak, sifat dewasa dan kebapakannya sudah tampak.
"Suci ke kamar dulu Mas, mau menemani Kak Raina. Nanti pesankan makanan saja untuk Bunda dan Mama, takutnya Suci gak sempat masak." ucap Suci pelan.
__ADS_1
"Bunda dan Mama Laras sedang istirahat. Tadi mereka mau memasak sayang. Biarkan Bunda yang memasak ya." ucap Zhein lembut.
"Tapi Bunda kan tamu Mas, kita harus memuliakan Bunda." ucap Suci tidak mau kalah.
"Iya, tapi Bunda kan ibu kita sayang, beliau ingin memasakkan untuk cucunya. Biarkan sayang. Jangan berperasaan kamu bersalah, Bunda yang menginginkan." ucap Zhein mengecup bibir Suci, tandanya Suci harus diam dan tidak ada bantahan lagi.
"Baiklah Mas." ucap Suci berjalan menuju kamarnya.
Suci meletakkan minuman dan beberapa cemilan serta buah di atas meja. Kemudian Suci mengganti bajunya sendiri dengan daster panjang dan kerudung yang siap pakai.
Suci melirik ke arah Raina yang sudah memejamkan matanya. Raina pun duduk di tepian tempat tidur di sisi sebelahnya. Menyandarkan punggungnya dengan beberapa bantal uang ditumpuk agar pinggang tidak pegal dan sakit.
Zhein pun masuk ke kamar dan mengambil baju ganti dari lemari, kemudian mengganti bajunya di kamar mandi. Zhein tersenyum melihat istrinya yang sejak tadi memperhatikan kegiatannya.
Tangan mereka saling menggenggam dan satu tangannya lagi mengusap perut Suci yang terlihat sedang mengencang.
"Aku pengen kamu disini." ucapnya dengan manja.
"Ada Raina, kita harus menjaga perasaannya." ucap Zhein dengan lembut.
"Aku gak papa, sudah biasa kan kalian seperti bini di depanku?" ucap Raina membuka kedua matanya.
"Kak Raina, sejak kapan bangun?" tanya Suci merasa tidak enak. Suci pun melepaskan tautan jemari tangannya dai tangan Zhein.
__ADS_1
"Sejak mendengar kata kata bucin." jawab Raina terkekeh.
Zhein pun tertawa, sejak dulu Raina itu memang terkenal cablak dan ceplas ceplos bila bicara tapi hatinya lembut dan baik. Sejak meninggalnya Bima, Raina cenderung diam dan pergi melanjutkan studi nya ke luar negeri. Hingga kabar terkahir, Raina sudah sukses dengan gelar dokter kandungan.
"Raina, kamu kenapa? Bram itu siapa? lalu Fathan? apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zhein penasaran dan tidak sabar menunggu penjelasan Raina.
"Mas Zhein, biarkan Kak Raina menjelaskan, jangan kamu cerca dengan pertanyaan uang mengintimidasinya." ucap Suci mengingatkan kepada Zhein.
Raina itu kan perempuan, hatinya sangatlah lembut jadi harus diperlakukan dengan lembut pula agar Raina tidak merasa terbebani saat mengungkap masalah pribadinya.
"Baik, aku akan cerita semuanya, tapi rahasiakan ini dari Fathan. Aku tidak ingin kecewa ataupun sakit hati. Aku mohon Suci, Zhein." ucap Raina pelan dengan memohon.
"Insya Allah, kak Raina." ucap Suci dengan lembut.
"Bramantyo itu pemilik Bar dan Cafe terbesar di Kota ini. Kamu masih ingat Kak Reihan, Zhein? Bram itu teman Reihan di Amerika. Mereka dulu bersahabat, dan karena masalah perempuan dan kasus narkoba, Bram merantau ke kota ini membuka Bar. Kak Reihan sempat dua kali menemuiku disini, dan dia tidak tahu Bram ada disini. Kamu tahu kan Zhein aku tidak begitu dekat dengan Kak Reihan. Hingga suatu saat Bram mengetahui bahwa aku adik Kak Reihan. Bram ingin membalas dendam dengan cara mendekatiku dan merusak kehormatanku." ucapan Raina terhenti, tangisannya ditahan dan menghirup nafas dalam dalam.
"Bram telah merusak kehormatanmu?" tanya Suci pelan.
Raina hanya mengganggukkan kepalanya.
"Aku mengambil pendidikan kedokteran Di Surabaya. Lalu aku melamar di rumah sakit Kairo dengan rekomendasi Dosen ku, karena aku mendapatkan beasiswa untuk spesialis kandungan dengan catatan, setelah lulus, aku siap kontrak dua tahun di Rumah Sakit pilihan kampusku. Aku berkerja hampir tiga tahun selama pendidikan spesialis ku, setelah lulus, aku tanda tangan kontrak bekerja dua tahun. Selama bekerja menjadi dokter, aku hanya fokus bekerja dan menyelesaikan kuliahku dengan waktu cepat. Seiring waktu berjalan, aku berkenalan dengan pasienku, dia Bram hingga berlanjut hubungan kita semakin dekat bukan sekedar dokter dan pasiennya. Awalnya Bram baik dan lembut, semenjak dia tahu aku adiknya Reihan, sikapnya berubah dingin dan kasar. Bram yang mulanya menjagaku dengan baik, selalu memujiku, tapi semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Hingga kejadian malam itu, sungguh itu terjadi di luar dugaan ku....." ucapan Raina terhenti, ada rasa sesak untuk melanjutkan kisah pilunya ini.
Aib yang seharusnya Raina jaga hingga maut menjemputnya tapi justru Raina membukanya kepada sahabatnya. Raina tidak sanggup menyimpannya sendiri. Sosok Bram yang dianggap Malaikat justru menjadi Malaikat pencabut nyawa bagi Raina.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN