
Suasana Rumah Sakit pagi hari masih terasa sepi. Lorong rumah sakit pun masih baru akan di sapu dan di pel oleh OB rumah sakit.
Zhein dan Suci berjalan menuju ruang perawatan papa Leo dengan menenteng makanan untuk sarapan pagi Bunda Jihan dan Mama Larasati.
"Mas, kok perasaanku gak enak ya." ucap Suci pelan.
"Memang apa yang kamu pikirkan Suci?" tanya Zhein pelan.
"Aku hanya kepikiran papa Leo." ucap Suci pelan.
"Kamu tenang ya, papa Leo pasti baik baik saja. Kasihan anakmu, kalau ibunya stres." ucap Zhein pelan.
Tangannya masih setia menggandeng Suci dan berjalan lurus ke arah ruang perawatan VIP.
"Assalamualaikum.... Bunda, Mama, gimana Papa?" tanya Suci pelan.
"Waalaikumsalam... sayang, ini masih pagi. Tadi tangannya sempat bergerak tapi matanya tidak terbuka, sempat diperiksa, masa kritisnya sudah selesai, tapi belum bisa diketahui hasil operasi yang mengenai jantung." ucap Mama Laras menjelaskan sesuai yang dijelaskan dokter jaga tadi.
"Sayang, kita doakan bersama, nanti kita sholat Sunnah dua rakaat mohon kesembuhan Papa Leo. Sekarang sarapan dulu, kamu belum makan, sini Mas suapin." ucap Zhein lembut.
Semua orang pun sarapan pagi di ruang perawatan itu. Sesekali mereka melirik ke arah Papa Leo, siapa tahu sudah siuman.
"Mas, kamu mau ke kampus sekarang? jangan jadikan beban ya. Kamu ngajar aja, aku disini mau menemani Papa Leo, nanti kamu pulang jemput aku disini." ucap Suci pelan meminta ijin kepada suaminya.
"Mas, ijinin asalkan kamu ditemani Bunda dan Mama, biar kamu makan dan gak telat makan lagi. Mas khawatir dengan keadaan kamu Suci. Kamu bisa mengerti perasaan Mas kan?" ucap Zhein lembut dan merangkul Suci serta mengecup keningnya.
"Aku janji Mas, aku pasti makan dan minum susu. Kita sholat Sunnah dulu untuk kesembuhan Papa Leo, Mas?" ucap Suci pelan.
"Ayo sayang, kita sholat, setelah itu Mas pergi ya." ucap Zhein mengusap pucuk kepala Suci.
"Iya Mas, Suci siapin dulu sajadahnya. Bunda dan Mama mau ikut sholat?" tanya Suci pelan.
"Iya Suci, Bunda dan Mama akan ikut sholat juga." ucap Mama Larasati pelan.
Mereka pun melaksanakan Sholat Sunnah dua rakaat dengan hajat kesembuhan Papa Leo. Sholat Sunnah itu di imami oleh Zhein dan dilakukan dengan sangat khusyuk.
Munajat mereka memohon agar Papa Leo segera siuman dan pulih kembali seperti sedia kala. Suci yang paling tampak khusyuk dengan munajat yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Hatinya yang begitu cemas dan panik sekaligus merasa iba dan kasihan melihat tubuh Papa Leo tergolek tidak berdaya.
"Sayang, Mas ke kampus dulu, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi Mas ya." ucap Zhein pelan dengan mencium kening Suci dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Iya sayang, kamu harus semangat. Ini masa depanmu, jangan terlalu mengkhawatirkan aku Mas." ucap Suci pelan.
"Bunda pulang dulu sayang, mandi dulu nanti kesini lagi, gantian dengan Mama Laras. Bunda tinggal ya." ucap Bunda Jihan pelan sambil berpamitan.
"Iya bunda. Hati hati dijalan." ucap Suci pelan sambil mencium punggung tangan bunda Suci dan Zhein Suaminya.
Zhein dan Bunda Jihan sudah berlalu pergi meninggalkan ruang perawatan itu untuk melaksanakan aktivitas kesehariannya.
Suci kembali ke dalam ruangan Papa Leo, dan duduk di sisi brankar tergoleknya tubuh lemas itu. Sedangkan Mama Larasati hanya terduduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya ke arah sofa empuk itu. Matanya masih terlihat lelah, ada bulatan hitam disekitar mata, mungkin semalam Mama Larasati menjaga Papa Leo hingga tidak beristirahat.
"Mama, kalau lelah tidur saja. Biar Suci yang menjaga Papa Leo. Kalau ada apa-apa, Suci akan membangunkan Mama." ucap Suci lembut menatap ke arah Mama Larasati dengan penuh kasih sayang.
"Iya sayang, Mama lelah sekali. Mama tiduran dulu ya. Apapun yang terjadi bangunkan Mama ya sayang." ucap Mama lembut sambil merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk.
Suci masih setia menunggu Papa Leo di sisinya. Tangannya digenggam dan di cium dengan penuh sayang. Mengingat kembali kebaikan kebaikan Papa Leo terhadap dirinya di masa lalu. Papa Leo sering mengajak berwisata dan ke toko mainan sekedar membelikan mainan kesukaanku. Dulu sering ke gereja bersama lalu makan bersama di restauran favorit keluarga. Itu dulu, sekarang kita sudah berbeda Papa, aku memiliki kehidupanku sendiri bersama Zhein pilihan hidupku. Sedangkan Papa lebih memilih untuk menumpuk harta Papa hingga Papa melupakan akhirat.
Air mata Suci pun jatuh ke pipi dan mulai membasahi niqabnya. Papa Leo memang bukan Papa kandungku tapi didalam tubuhku ada hasil keringat kerja keras Papa Leo yang Papa berikan untukku. Papa selalu memanjakan ku dengan harta, uang, dan fasilitas yang baik. Mungkin saat ini aku akan membalas semua Budi baik Papa Leo kepadaku. Isakan Suci semakin keras, air matanya jatuh membasahi punggung tangan Papa Leo. Seketika itu juga, Papa Leo terlihat bersusah payah membuka kedua matanya.
Dengan pelan Papa Leo berusaha membuka kedua matanya, dan berkali kali mengerjapkan kedua matanya yang indah.
"Papah.... papah bangun pah..." desah Suci yang melihat Papanya mulai membuka matanya perlahan.
Suci pun dengan segera berteriak memanggil Mama Larasati dan memencet tombol di sebelah brankar tempat Papa Leo tertidur.
Mama Larasati pun terkejut mendengar teriakan Suci dan membuka matanya langsung berlari ke arah Suci. Larasati mendapatkan Suaminya sudah siuman, dan sudah membuka matanya dan tersenyum ke arah Larasati, memanggil nama Larasati tapi tak bersuara hanya bibirnya bergerak membentuk kata Larasati.
Dokter pun datang untuk memeriksa pasien yang baru saja tersadar. Beberapa kali dokter itu mengecek hingga bisa memastikan semua kondisi Papa Leo. Papa leo terlihat meringis kesakitan saat tangan dokter menyentuh bagian dada dan perut.
Suci pun nampak ikut perih dan miris melihatnya. Dokter itu tampak serius memeriksa dan mulai menanyakan kepada Papa Leo.
"Apa yang bapak rasakan setelah sadar?" tanya Dokter itu pelan dan lembut.
Papa Leo ingin sekali berbicara namun sulit, seakan akan ada yang mengganjal di tenggorokannya. Dokter memperhatikan dengan seksama perubahan kondisi pasien dan raut wajahnya saat ditanya tentang keluhannya.
"Baiklah, bapak cukup anggukkan kepala bila itu jawabannya ya dan gelengkan kepala jika itu jawabannya tidak. Anda paham Pak Leo?" tanya Dokter itu pelan.
Leo pun mengganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Dada ini sakit? rasanya perih?" tanya Dokter itu pelan.
__ADS_1
Leo pun mengganggukkan kepalanya.
"Perut ini masih sakit?" tanya Dokter itu pelan.
Leo pun mengganggukkan kepalanya lagi.
"Oke baiklah terima kasih Pak Leo, jawaban anda sangat membantu kami." ucap Dokter itu dengan lembut.
"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Suci penasaran.
"Baiklah Bu Suci, datang ke ruangan saya sebentar. Karena ada beberapa pemeriksaan yang harus dilakukan Pak Leo untuk memastikan bekas luka tusukannya." ucap Dokter itu dengan tenang. Raut wajahnya tidak bisa berbohong, ada kecemasan disana.
"Baiklah Dokter, saya kesana. Pasien boleh makan atau minum? atau harus puasa?" tanya Suci kemudian sebelum Dokter itu pergi meninggalkan tiang perawatan itu.
"Berikan air putih biasa, jangan panas dan jangan dingin, coba siapkan makanan yang lunak seperti bubur tanpa apapun hanya bubur putih saja. Pelan pelan, bila terasa sakit segera hubungi saya." ucap Dokter itu pelan.
"Baiklah terima kasih Dokter. Setelah ini saya akan langsung ke ruangan Anda." ucap Suci pelan.
Suci dan Mama Larasati segera mengambil air minum untuk disendokkan secara perlahan kepada Papa Leo. Papa Leo pun menerima suapan itu dengan bulir bulir tetesan air mata yang sudah berada di sudut matanya.
Melihat dua wanita kesayangannya, yang merawat Papa Leo disaat tidak berdaya seperti ini. Dua wanita ini dahulu mengisi kehidupannya, hingga rumah tangganya tampak terlihat sempurna, ada istri dan anak. Walaupun sesungguhnya Leo itu mandul dan tidak bisa memiliki anak. Kehidupan itu hanya sementara, sifat egois dan kesombongan Leo pun masih kentara. Baginya semua bisa di beli dengan uang termasuk kebahagiaan.
"Papah kenapa menangis? ada Suci disini yang akan menemani papah dan merawat papah hingga sembuh. Ada Mama Laras, ada Mas Zhein dan ada Bunda Jihan. Papah gak sendiri, ada Suci dan calon cucu papa disini. Sini tangan papa pegang perut Suci." ucap Suci pelan dan memegang tangan Papa Leo untuk menyusuri perut Suci melihat keadaan calon cucunya.
Ada senyum tipis di bibir Leo. Senyum kebahagiaan yang tulus dan penuh kasih sayang.
"Papah bisa merasakan ada gerakan cucu papa? Papa harus sehat, agar bisa menggendong cucu papa." ucap Suci pelan.
Papa Leo hanya mengganggukkan kepalanya pelan, senyumnya masih terbingkai jelas. Raut wajah penuh binar kebahagiaan karena dua wanita yang sudah ia buang masih sayang dan tulus mencintainya.
"Suci sayang papah. Papah harus bertahan demi Suci dan anak Suci. Biar bagaimanapun juga Papa juga papah Suci. Dulu papa yang merawat Suci, sekarang ijinkan Suci ubah merawat papa." ucap Suci pelan dan mencium pipi papa Leo dengan penuh kasih sayang.
Tetesan air mata Leo pun jatuh membasahi kasur, tangisan yang sudah ditahan sejak tadi pun sudah tidak bisa terbendung lagi. Segala penyesalan sudah tidak berarti lagi. Luka dan goresan kesalahan besar pasti sudah menyayat kedua wanita ini.
Dua wanita yang luar biasa. Menyayangi walaupun sudah disakiti, hanya satu, naluri dan hati yang bermain di sini.
Ketulusan dan keikhlasan serta kesabaran menghilangkan rasa sakit dan dendam hingga membuahkan kebahagiaan yang hakiki.
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1