Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 90 SIKAP BIJAK


__ADS_3

Hari itu juga Zhein memanjakan Suci untuk memilih dan membeli barang yang disukai, tentunya yang bermanfaat. Bukan sekedar membeli hanya untuk riya' atau kebutuhan nafsu semata.


Memasuki toko furniture dari satu ke satu tempat lain, cukup memakan waktu. Ibu hamil terlalu antusias dan bersemangat.


"Makan dulu sayang, kamu terlalu lelah." ucap Zhein di sela sela istirahatnya.


"Iya Mas, kita makan dulu. Kita kan kejar waktu, biar selesai sore ini. Bukannya rencana setelah maghrib mau ada pengajian selametan rumah, sekalian saja Mas syukuran empat bulanan Suci, walaupun sudah lewat kita minta doa dari orang orang." ucap Suci pelan.


"Iya sayang, itu juga yang mau Mas lakukan." ucap Zhein pelan, mobilnya sudah memasuki parkiran menuju Restoran Unik dengan gaya khas Jawa yang terletak di Kota Baru.


"Rumah makannya Unik banget Mas, RAMINTEN. Lucu, tempatnya asyik, barang barangnya unik." ucap Suci dengan takjub.


"Kita pilih tempat di joglo itu. Kamu mau pesan apa? banyak variannya sayang." ucap Zhein pelan.


"Gudeg Komplit Mas, sama Jus Alpukat, es krim bakar juga." ucap Suci memesan tiga menu.


Zhein pun memesan makanan kepada pelayan yang menggunakan baju khas Jawa, sungguh unik tempat ini.



Cukup menunggu lima belas menit, semua makanan pun sudah tersaji dengan baik. Mereka berdua melahap makanan itu dengan cepat dan tanpa malu malu.


Dulu sewaktu masih dekat, jangankan untuk makan, pesan minuman saja malu, tapi setelah halal rata rata pasangan itu lebih cuek dan terkesan mau maluin. Makan nambah cuek, makan berantakan bodi amat, bener kan?....


"Mas, kemarin sebenernya apa yang kamu bicarakan sama Mas Fathan?" tanya Suci sambil memakan es krimnya.


"Oh itu? gak papa sayang, bukan sesuatu yang penting." ucap Zhein masih mengunyah makanannya.


"Aku istrimu lho Mas? aku berhak tahu apapun itu." ucap Suci tidak mau kalah.


"Bram ditangkap polisi karena sedang transaksi narkoba dalam jumlah besar. Dia memiliki jaringan luas sebagai mafia narkoba. Bram juga DPO di Amerika. Disana dikenal sebagai Nunu. Reihan kakak Raina yang melaporkan keberadaan Bram alias Nunu, hukumannya pun hukuman mati. Saat ini Reihan dan Fathan akan kembali ke Indonesia setelah urusannya selesai. Kabar baiknya, Fathan akan mengkhitbah Raina langsung kepada Ibunya, makanya Fathan dan Reihan akan kembali." ucap Zhein menjelaskan.


"Lalu hubungannya dengan keperawanan apa? bukannya Mas Fathan tahu bahwa Kak Raina itu ..." ucapan Suci terhenti karena telunjuk Zhein sudah berada di depan bibir Suci agar tidak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Itu urusan mereka sayang, yang penting sudah ada kejujuran. Kita hanya perlu mendoakan dan mendukung mereka." ucap Zhein pelan meyakinkan istrinya.


"Iya Mas Zhein. Kita langsung pulang kan? biar bisa beres beres rumah, tadi Mama Laras sudah Suci telepon untuk datang ke rumah bantu Suci." ucap Suci pelan.


"Iya sayang, kalau itu bisa membuatmu bahagia, Mas akan memberikannya selagi Mas bisa dan mampu." ucap Zhein dengan senyum manis.


Setelah selesai bersantap siang, Suci dan Zhein kembali ke rumah baru mereka. Mereka berdua dibantu Bunda Jihan dan Mama Laras serta Mbok Wasih yang akan tinggal bersama Suci dan Zhein.


"Semua sudah beres sayang, katering dan berkat untuk selamatan dan syukuran kamu sudah dipesan. Mungkin sore baru datang." ucap Bunda Jihan pelan.


"Bunda besok ikut kan ke tempat eyang?" tanya Suci dengan lembut.


Bunda Jihan dan Mama Laras saling berpandangan dan tersenyum.


"Tentu dong, Bunda ingin berlibur di kota kecil itu. Bunda ingin ke Simpang Lima, sambil makan nasi pecel." ucap Bunda penuh semangat.


"Iya Bunda, nanti sama Suci, biar kalau pagi Suci jalan sehat dan bergerak. Sekarang kehamilan Suci sudah memasuki bulan kelima suka terasa ada yang bergerak gerak didalam." ucap Suci menjelaskan tentang kondisi kehamilannya.


"Nanti kamu akan merasakan, tendangan kecil di area perut kamu. Dan itu sangat membuat calon ibu bahagia." ucap Mama Laras menimpali.


"Raina sementara ingin di rumah saja. Dua masih takut dengan kejadian yang menimpanya kemarin. Mudah mudahan Raina bisa bangkit dan bahagia dengan orang yang dicintainya." ucap Bunda lembut.


"Sayang, kami sholat dulu terus istirahat. Itu tempat tidurnya sudah diberesin sama mbok Wasih." ucap Zhein mengingatkan Suci agar tidak kelelahan.


"Bunda dan Mama jadi ke supermarket, Zhein titip buat kebutuhan rumah, samain aja dengan yang di rumah Bunda. Biar ada cemilan dan makanan yang bisa di masak Mbok Wasih." ucap Zhein pelan.


"Iya Zhein, nanti sekalian Bunda belanjakan kebutuhan rumah tangga." jawab Bunda dengan lembut.


"Suci ikut bunda?" tanya Suci kepada bundanya.


"Kamu dirumah Suci, Mas gak ijinin kamu pergi. Seharian kamu sudah pergi sama Mas." ucap Zhein tegas.


"Hati hati ya Bunda... Mama.." ucap Suci pelan langsung meninggalkan semua orang menuju kamar tidurnya.

__ADS_1


"Zhein kamu jangan terlalu keras dengan Suci, dia sedang hamil sayang." ucap Bunda Jihan kepada Zhein.


"Tapi Bunda, seharian ini Suci sudah berada di luar rumah, aku gak mau dia kenapa-kenapa." ucap Zhein dengan tenang.


"Iya sayang, Bunda ngerti, tapi caramu harus lebih lembut bukan membentak seperti tadi. Susul istrimu, biar Mbok Wasih yang membersihkan rumah ini. Bunda berangkat dulu." ucap Bunda Jihan pelan.


"Iya Bunda, hati hati." ucap Zhein langsung menemui Suci di kamarnya.


Pintu kamar dibuka, Zhein melihat sesosok perempuan dengan rambut panjang yang tergerai indah sedang menatap jalan dari jendela besarnya. Di kunci kamar itu dan Zhein mengganti bajunya dengan yang lebih santai. Kedua tangannya melingkar dari belakang hingga ke perut Suci. Perlahan di usap perut itu dengan lembut.


"Maafkan Mas, sudah membentakmu tadi. Bukan maksud Mas tidak mengijinkan kamu pergi dengan Bunda. Tapi Mas gak mau kamu dan anak Mas lelah sayang. Kamu bisa mengerti posisi Mas, yang gak bisa melihat kamu dan anak kita capek." ucap Zhein lembut.


Kepalanya diletakkan di pundak Suci, sesekali mencium leher Suci yang terpampang dengan mulus. Ciuman itu membuat Suci kegelian tapi nikmat.


Suci membalikkan badannya ke arah Zhein, lalu memeluknya dengan erat.


"Aku mengerti Mas, kamu itu selalu memperhatikan aku dan anak kita, mungkin aku yang terlalu senang hingga ingin mengikuti hawa nafsuku untuk selalu bersenang senang tapi mengabaikan kesehatanku sendiri." ucap Suci pelan.


"Tidur dulu ya, biar gak lelah, Mas usap sampai kamu tidur." ucap Zhein sambil menuntun Suci ke tempat tidurnya.


Diusapnya perut itu hingga Suci pun lelap dalam tidurnya.


Malam ini sesuai dengan undangan, acara akan dimulai ba'da Maghrib. Semua orang dan tetangga yang diundang telah hadir untuk mendoakan dan mengaminkan segala munajat dan harapan dari sang pemilik hajat.


Acara selamatan Rumah baru dan syukuran kehamilan Suci pun berjalan dengan lancar dan sukses tanpa ada hambatan apapun.


Mereka berdua sudah memperkenalkan diri kepada para tetangga dan ketua RT setempat. Bahwa mereka warga baru yang akan menepati rumah baru biru bersama istri dan asisten rumah tangga.


Semakin sempurnalah suatu rumah tangga yang berhasil memisahkan diri dari keluarga besarnya karena niat menjalankan bahtera rumah tangganya dengan mandiri.


Pembelajaran hidup berumah tangga akan terasa bila ada ujian didalamnya. Jika hidup terlalu mulus dan lancar itu hanya ada dalam dongeng. Pendewasaan akan tercipta dengan sikap bijak dalam mengambil keputusan.


Masalah rumah tangga akan semakin kompleks seiring berjalannya waktu, jadilah orang yang bijak menyikapi suatu pemberitaan. Mencari bukti kebenaran itu penting, karena penyesalan datangnya selalu di akhir.

__ADS_1


JAZAKALLAH KHAIRAN


__ADS_2