
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Suci dan Zhein telah kembali dari jalan jalan sore dan berbelanja di supermarket. Suci merapikan semua belanjaan ke lemari pendingin dan lemari untuk menyimpan makanan. Karena hari sudah sore, Suci pun menyiapkan cemilan dan teh hangat untuk suaminya yang sedang bersantai di ruang TV.
"Ini teh hangat Mas, diminum, biar seger, dan ini bolu keju yang kita beli tadi, enak dan lembut." ucap Suci sambil meletakkan baki di meja, kemudian duduk disamping suaminya.
"Makasih ya istriku, kamu paling tahu, kalau suamimu ini sedang butuh penyegaran." ucap Zhein yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya dan meletakkan ponselnya di meja, beralih pada cangkir teh yang aromanya menyeruak di indera penciuman.
"Mas kita sudah beberapa hari disini. Tapi kamu kok jarang ke kampus, lebih sering di depan laptop." ucap Suci pelan sambil menyeruput teh hangatnya.
"Dosen Mas lagi sibuk jadi ada revisi lewat email. Besok Mas mau ke toko buku main Ari referensi? Kamu mau ikut sayang?" ucap Hein lembut dan mengunyah kue bolu dengan pelan.
"Asal bersama suamiku tercinta, aku akan ikut Mas." ucap Suci pelan dan mencubit pipi Zhein dengan gemas.
"Hanya dicubit? gak lagi pengen nyium?" ucap Zhein menggoda Suci.
"Kamu itu kalau di cium suka keterusan minta yang lain. Aku lagi capek, akhir akhir ini aku mudah lelah dan kepalaku sering pusing." ucap Suci pelan.
"Kamu memang sedikit pucat sayang, kamu terlalu lelah." ucap Zhein sedikit cemas.
"Dari dulu memang aku sering pusing, tapi biasanya minum obat atau dibuat tidur pusingnya hilang. Mas jangan khawatir ya." ucap Suci pelan menahan rasa sakit kepalanya yang semakin berdenyut.
"Minggu depan kita cek kandunganmu sekalian kita cek kondisi kamu, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita. Kamu mengerti Suci?" ucap Zhein lembut dengan membelai rambut Suci yang tergerai indah.
Sejak datang ke Kairo dan telah memiliki istri. Zhein pun membatasi diri berteman dan teman teman yang ingin main ke apartemennya. Zhein tidak ingin membuat Suci istrinya tidak nyaman dengan kedatangan teman temannya.
"Gimana baiknya aja Mas, ekhmm aku istirahat ya Mas, pusing banget." ucap Suci dengan memegangi kepalanya dan bangkit berdiri menuju kamar. Zhein pun mengikuti dari belakang.
"Sini sayang, pelan pelan. Aku panggil dokter ya, aku takut Suci." ucap Zhein lembut masih dengan membelai rambut Suci.
"Gak usah Mas, Minggu depan aja, aku cuma kecapean nanti juga sembuh." ucap Suci pelan.
"Istirahat ya, nanti kalau sudah waktu sholat aku bangunin kamu sayang." ucap Zhein lembut.
__ADS_1
"Iya terima kasih Mas Zhein." ucap Suci dengan tulus.
Zhein pun keluar kamar dan menelepon dokter Raina untuk datang ke apartemen dan memeriksa kondisi istrinya.
Tidak lama dokter Raina pun datang dan mulai memeriksa Suci.
"Mas, kok manggil dokter, kan aku sudah bilang Minggu depan aja gak papa." ucap Suci pelan.
"Sayang, suami mana yang tega melihat istrinya menahan sakit dengan wajah pucat seperti itu. Kenalkan ini dokter Raina, dia temanku dari Indonesia dan bekerja di salah satu Rumah Sakit Kairo. Raina ini Suci istriku." ucap Zhein memperkenalkan.
"Raina. Aku teman Zhein sejak SMA." ucap Raina dengan ramah.
"Suci." ucap Suci dengan lembut dan senyum yang manis.
"Langsung kita periksa ya. Ini untuk janinnya, bagus, usianya sekitar empat minggu ya." ucap Raina pelan sambil memegang perut Suci.
"Iya dokter. Tapi akhir-akhir ini saya sering pusing dan mudah lelah. Kenapa ya dok?" ucap Suci pelan menahan rasa sakit dikepalanya.
"Coba saya periksa, sejak kapan sering pusing kepala Suci?" ucap dokter Raina pelan sambil memeriksa bagian kepala dan leher.
"Jani sehat, ibunya hanya terlalu cape, jangan banyak pikiran dan jangan terlalu lelah. Untuk makan, pilih yang bergizi empat sehat lima sempurna, kalau mual ganti dengan makan buah dan sayur atau roti. Saya buatkan resepnya, cepat sembuh, saya permisi dulu ya Suci. Istirahat saja, tidak perlu mengantarkan saya." ucap Raina dengan baik dan sopan.
"Tidur dulu saja, aku mau nebus obat di apotik seberang jalan, sekalian antar dokter Raina ke depan." ucap Zhein lembut dan mengecup kening Suci dengan lembut.
"Iya Mas, hati hati. Dokter Raina terima kasih sudah mau berkunjung." ucap Suci lembut.
"Iya Suci, aku pulang dulu, assalamualaikum." ucap Raina dengan sopan.
"Waalaikumsalam." ucap Suci pelan.
Zhein dan dokter Raina pun keluar kamar dan duduk di sofa ruang TV. Zhein mengambil minuman untuk dokter Raina yang sedang menulis resep untuk Suci.
"Jadi bagaimana keadaan istriku Raina?" ucap Zhein menyelidik.
"Kondisinya memang sedikit lemah, tapi janinnya bagus, untuk lebih jelasnya di USG. Tadi Suci bilang sering pusing sudah dua tahun terakhir. Kalau melihat dari gejalanya ini seperti leukimia Zhein. Aku punya pasien leukimia tapi sembuh. Jangan panik Zhein, periksakan Suci ke rumah sakit, karena peralatannya lebih lengkap." ucap Raina menjelaskan secara rinci.
__ADS_1
"Leukimia? itu kanker darah Raina? Bayiku bagaiman?" ucap Zhein sedikit cemas.
"Tadi aku cek dileher Suci seperti ada gumpalan, takutnya itu kelenjar getah bening. Kita lihat bagaiman perkembangannya. Selama tidak menyebar dan kondisi janin baik baik saja." ucap Raina pelan.
"Ada cara lain?" ucap Zhein menyelidik.
"Kita cek dulu ke rumah sakit, kalau belum parah kita tunggu Suci sampai melahirkan, kemudian harus operasi sumsum tulang belakang. Ini baru prediksi aku Zhein, kamu jangan panik. Secepatnya kamu cek Suci ke rumah sakit agar hasilnya jelas. Ini resepnya untuk Suci. Untuk hal ini jangan beritahu Suci, karena akan berpengaruh pada kondisi tubuhnya dan janinnya." ucap Raina tegas.
"Baiklah, besok aku akan ke rumah sakit. Tolong bantu aku Raina, untuk kesembuhan istriku." ucap Zhein.
"Pasti Zhein, kita sudah lama bersahabat, aku pasti membantumu. Aku pulang dulu, jangan lupa tebus obatnya. Assalamualaikum" ucap Raina pelan.
"Waalaikumsalam." ucap Zhein pelan.
Dokter Raina telah pulang. Sekarang giliran Zhein yang keluar dari apartemen menuju apotik untuk menebus obat untuk Suci.
Obat pun sudah ditebus. Zhein pun membeli makanan untuk Suci dan dirinya. Tidak mungkin menyuruh Suci memasak bila kondisinya seperti ini.
Setelah selesai membeli makan, Zhein pun kembali ke apartemennya. Zhein pun menyiapkan makanannya di piring dan dibawanya ke dalam kamar untuk diberikan kepada Suci.
"Sayang, makan dulu, lalu minum obat. Ayok bangun dan duduk dulu. Mas suapin ya." ucap Zhein pelan.
"Iya Mas, terima kasih. Maafkan Suci sudah merepotkan Mas." ucap Suci.
"Sayang besok kita periksa ke rumah sakit untuk USG. Tadi dokter Raina menyarankan seperti itu." ucap Zhein pelan sambil mengecup telapak tangan Suci dengan lembut.
"Iya Mas, aku mau, besok kita periksa anak kita, semoga baik baik saja di dalam perutku." ucap Suci pelan.
Ya Allah, sembuhkanlah Istriku tercinta. Kalau memang penyakit itu datang karena kehendak Mu, biarkan bayiku tetap sehat tumbuh dan berkembang didalam perutnya hingga dilahirkan ke dunia. Lancarkanlah kehamilannya hingga proses persalinannya nanti. Dan berikanlah kesembuhan untuk istriku dari penyakitnya ini. aamiin......
------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
__ADS_1
💚💚💚💚💚