
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Hari mulai senja, Suci dan Zhein pun berangkat menuju rumah sakit untuk bergantian menjaga Eyang Atmojo. Suci pun sudah selesai mempersiapkan keperluannya selama menginap di rumah sakit, termasuk peralatan sholat dan pakaian ganti serta selimut.
Selimut harus ada selama tidur, Suci tidak akan bisa tidur bila tubuhnya tidak ditutupi selimut atau kain panjang. Walaupun kalau sudah pagi entah kemana perginya selimut itu. Perjalanan selama dua puluh menit menuju rumah sakit terasa sangat cepat. Mobil yang ditumpangi pun sudah berada di parkiran rumah sakit. Suci dan Zhein pun turun dan berjalan menuju kamar rawat inap Eyang melalui lorong rumah sakit yang cukup panjang.
"Assalamualaikum..." ucap Suci dan Zhein bersamaan sambil memasuki kamar rawat inap Eyang Atmojo.
"Waalaikumsalam..." ucap penghuni kamar itu serempak.
Ada pemandangan yang tidak biasa, tapi tidak asing lagi. Yaitu kehadiran Mama Larasati ditengah tengah mereka.
Apa yang dilakukan mama disini?, batin Suci.
Zhein melirik istrinya yang terlihat kaget pun menggandengnya masuk, dan mencium punggung tangan semua orang tua paru baya yang berada di dalam kamar itu, termasuk mama Larasati. Dan, iya sebuah pemandangan yang menakjubkan. Mama Larasati langsung memeluk Suci seperti ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya.
"Suci anakku, maafkan mama ya Nak, mama sudah jahat, kasar, dan menghina Suci. Suci mau memaafkan mama Nak?" ucap mama Laras, dengan isakannya.
"Mama.... mama gak ada salah sama Suci, kalaupun mama ada salah pada Suci tentu Suci akan memaafkan kesalahan mama dengan tulus dan ikhlas. Maafkan Suci yang sudah durhaka kepada mama, yang sudah mengecewakan mama. Suci hanya ingin menjadi orang yang lebih baik, yang lebih bermanfaat bagi sesama umat manusia. Suci sangat sayang sama mama, biar bagaimana pun juga mama yang telah susah payah mengandung Suci dan melahirkan Suci dengan taruhan nyawa mama. Suci bersyukur memiliki mama yang baik, yang sayang, yang kuat, yang sabar menghadapi Suci, tapi Suci malah mengecewakan mama. Maafkan Suci mama, Suci tidak bermaksud durhaka pada mama, tapi suci nyaman dengan agama suci saat ini. Suci ingin mama mengerti dan menerima keputusan Suci. Suci mohon kepada mama untuk mengampuni Suci." ucap Suci denga bergetar dalam tangisannya. Tubuh Suci pun luruh ke bawah bersimpuh di kedua kaki mama Larasati untuk memohon ampun dan meminta restu serta ridho dari wanita paruh baya itu. Air matanya sudah deras membasahi telapak kaki mama Larasati, Suci pun mencium kedua kaki mamanya dengan tulus.
__ADS_1
Semua yang melihat itu pun menangis sedih, sebegitukah mulianya seorang mama bagi Suci. Semua orang memandang iba pada kondisi keadaan mereka berdua.
Allah SWT, Maha Besar, Maha Pengasih dan juga Maha Pengampun. Allah SWT dengan mudahnya membolak balikkan hati dan perasaan manusia dalam sekejap.
Hati yang keras menjadi lembut. Hati yang lembut akan semakin peka terhadap rasa.
Mama Larasati pun sudah deras air mata, wajahnya sudah kusut, make up-nya pun sudah luntur karena air mata yang terus menerus mengalir seharian ini. Apalagi saat ini melihat anak kandungnya memohon ampun atas kesalahannya tapi yang sebenarnya Suci tidak melakukan kesalahan apapun. Semua ini terjadi karena ego Larasati yang terlalu tinggi.
Suci yang masih bersimpuh di kaki mama Larasati pun diberdirikan oleh sang mama.
"Bangun Nak, jangan membuat mama semakin merasa bersalah kepadamu, jangan buat mama terus menerus menyesali yang sudah terjadi. Mama bukanlah orang yang baik, bukan mama yang pantas menjadi mamamu. Seharusnya mama ada di setiap kamu membutuhkan mama, tapi kenyataanya mama gak pernah ada untuk kamu. Bahkan mama mengusir dan mengeluarkanmu dari keluarga mama. Mama yang seharusnya minta maaf, mama yang seharusnya mohon ampun kepada Allah SWT. Suci mau menemani mama di sisa hidup mama?" ucap mama Larasati dengan pelan.
"Iya mama, Zhein pun senang bila kita bisa bersama sama." ucap Zhein meyakinkan mama Larasati dan Suci.
"Iya Jeng Laras, saya senang kalau Jeng Laras tinggal bersama kita. Nanti kita urus cucu bersama. Sedang on proses kan Zhein, Suci jangan lama lama ya." ucap bunda Jihan yang menggoda kedua pengantin baru itu.
"Sini Nak Zhein, mendekat pada mama, maafkan mama ya, selama ini mama kurang baik dan tidak sopan denganmu. Tapi mulai hari ini mama benar benar merestui kalian. Kalian benar benar pasangan yang sangat romantis dan serasi. Jaga Suci untuk mama Zhein. Jangan pernah kecewakan Suci. Cintai Suci dengan tulus. Jadilah suami yang bertanggung jawab. Jadilah Imam yang bisa membawa makmummu ke surga. Mana tahu kamu laki laki yang baik, setia dan bertanggung jawab. Tapi kesetiaan laki laki itu akan teruji setelah menikah. Akan ada banyak masalah dan ujian dalam berumah tangga. Jadilah air bila pasanganmu sedang menjadi api. Kuncinya hanya ada dua yaitu KESABARAN DAN KOMUNIKASI. Jika keduanya tetap diutamakan Insya Allah rumah tanggamu abadi Nak Zhein." ucap mama Larasati dengan jujur dan bersemangat. Mama Larasati sudah merasa Zhein sebagai anaknya sendiri. Keduanya saat ini sebagai penguat hatinya yang sebenarnya sedang kalut dan cemas.
Seketika kesedihan menjadi kehangatan dan kebahagiaan.
Semoga akan tetap seperti ini Ya Allah, batin Suci.
__ADS_1
Turunkan HIDAYAHMU kepada mama Larasati agar mama kembali ke jalanmu Ya Allah.
"Tenang Bunda, semuanya lagi on proses tidak ada yang ditunda karena itu rejeki dari Allah SWT, iya kan sayang?" ucap Zhein menggoda istrinya.
Wajah Suci pun memerah, Suci hanya menunduk mendengarkan pembahasan tentang proyek keturunan.
"Iya bunda, Suci gak menunda, Insya Allah siap menjadi ibu kalau sudah dipercaya oleh Allah SWT." ucap Suci bijak.
Semua orang tersenyum dan tertawa bahagia. Eyang pun melihat perdamaian ini ikut bahagia. Semua itu campur tangan Allah SWT. Kita hanya memohon lewat doa, dan berusaha lewat ikhtiar, selanjutnya kita pasrahkan semua kepada Allah SWT.
Hanya Allah SWT, yang tahu kapan sesuatu itu diberikan karena sudah waktunya, kapan sesuatu itu ditunda karena belum waktunya. Semua jelas ada maksudnya, hanya saja kita sebagai manusia kurang peka dengan hal ini. Kita dengan mudahnya dikuasai amarah dan nafsu kekecewaan bila apa yang menjadi keinginan kita tidak terkabul.
JIKA KAMU MAMPU BERSABAR PADA SAAT DIRIMU MARAH, MAKA HAL ITU DAPAT MENGHINDARKANMU DARI RIBUAN PENYESALAN DIMASA YANG AKAN DATANG
------++++++---------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1