
Raina terus menangis pilu. Kisah Cintanya selalu membutakannya hingga berakhir kesedihan yang mendalam. Raina memeluk Suci mencari kenyamanan, ia terus menangis. Zhein dan Suci hanya terdiam dan tidak berani berkomentar sedikitpun. Hal ini bisa membuatnya menjadi malu dan tidak percaya diri.
Suci melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang masih turun ke pipinya. Suci mengambilkan air minum dan meminumkannya. Raina pun sudah sedikit tenang dan lega. Tangisannya sudah berhenti.
Raina melanjutkan ceritanya kembali setelah menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Malam itu seperti biasa, Bram menjemputku dari rumah sakit, dulu aku belum memakai jilbab seperti ini. Kemudian Bram membawaku ke Barnya, dengan alasan ada barang yang tertinggal. Dia mengajakku masuk ke ruangannya dan memberikanku sebuah minuman. Tidak sedikitpun aku curiga kepada Bram. Hingga aku merasa pusing setelah meminum minuman itu. Hingga malam itu terjadi, yang aku ingat aku sudah berada di kamar apartemenku, di sebelah ku sudah ada Bram yang masih tertidur nyenyak, aku ingin berteriak melihat tubuhku yang polos tanpa sehelai baju. Terasa linu di area pangkal paha dan terlihat baju yang sudah berserakan di lantai. Aku menangis seketika, hingga tangisanku membangunkan Bram." ucap Raina kembali menangis mengenang kembali kisah pilunya.
Tatapan Raina kosong mengarah pada kasur. Wajahnya sudah sembab, rambutnya pun tak beraturan.
"Bram meminta maaf karena khilaf, dan berjanji menikahiku. Hingga aku tahu kebenarannya dari mulut Bram sendiri bahwa dia tidak berniat menikahiku, itu semua semata-mata dia lakukan ingin membalas dendam kepada Kak Reihan. Dan perbuatan itu selalu dia ulangi, dengan mengancam untuk membunuh ibuku di Indonesia. Satu tahun yang lalu Bram menghilang, dari situ aku menata kembali kehidupanku. Aku yang sudah hina dan kotor berusaha menutupi dengan pakaian tertutup hingga aku memutuskan untuk berkerudung. Bram seorang Kristiani, makanya di tidak suka melihatku menggunakan kerudung, selama bersamanya aku diharuskan memakai baju seksi dan terbuka, alasannya agar kecantikanku membuat iri orang lain. Memang tidak ada yang berani mendekatiku, bila ada yang berani, maka bisa dipastikan akan mati di tangan Bram, termasuk anak buahnya. Makanya aku tidak pernah mengiyakan Fathan yang ingin melamarku, aku selalu bilang biar takdir yang menghampiri kita. Karena aku tidak pantas bersanding dengan Fathan. Aku sudah tidak perawan lagi, apa lagi yang mau diharapkan Fathan dariku. Tadi malam aku melarikan diri, ketika Bram ingin menyetubuhiku. Aku ingin disini dulu Zhein. Pekerjaanku, aku ingin menyudahi kontrak ini, resikonya hanya aku tidak bisa mendapatkan rekomendasi dari rumah sakit ini." ucap Raina pelan.
"Aku akan ke rumah sakit, kontrakmu masih berapa lama lagi?" tanya Zhein lembut.
"Sekitar dua bulan lagi, aku ingin bertahan tapi akub tidak sanggup Zhein." ucap Raina lirih dan menangis kembali dalam pelukan Suci.
Suci merasa Iba dengan apa yang telah terjadi pada Raina.
"Kamu pulang ke Indonesia saja dengan Fathan, tinggalah di rumah Fathan sementara, bawa ibumu. Minimal kamu menghilang untuk sementara." tanya Zhein pelan.
__ADS_1
"Mas, kok di rumah Fathan. Lebih baik di rumah eyang Atmojo. Disana sepi Raina, hanya ada eyang dan beberapa asisten yang membantu dirumah." ucap Suci mengingatkan.
"Kamu benar sayang, lebih baik dirumah eyang Atmojo. Gimana Raina? hubungi ibumu untuk mencari alamat ini. Nanti kita hubungi eyang Atmojo." tanya Zhein kepada Raina.
"Baiklah Zhein, aku percaya kepadamu. Terima kasih kalian sudah membantuku." ucap Raina tulus.
"Sebagai sahabat dan sesama Muslim bukankah kita diwajibkan untuk saling tolong menolong." ucap Suci pelan.
"Aku sementara disini tidak papa Zhein? Aku bisa tidur bersama Bunda dan Mama." ucap Raina sedikit mengiba.
"Iya, Raina, tinggal saja disini, lalu ikut kami pulang ke Indonesia. Selama disini kamu jangan keluar rumah hingga kita ke Indonesia. Aku tidak ingin Bram dan anak buahnya menemukanmu." ucap Zhein pelan.
"Kamu disini dulu Raina. Nanti malam kamu baru tidur di kamar bersama Bunda dan Mama. Aku tidur disofa dulu. Jaga Suci ya." ucap Zhein pelan sambil mengecup bibir Suci pelan dan berjalan keluar kamar.
"Kak Raina, bagaimana perasaanmu sebenarnya kepada Kak Fathan?" tanya Suci pelan sambil menatap Raina.
Raina tersenyum melebar.
"Kalau aku mencintainya, kamu cemburu Suci?" tanya Raina kemudian.
__ADS_1
"Astaghfirullah, sama sekali tidak Kak Raina, Allah SWT telah memberikan yang terbaik diantara yang baik untuk menjadi pendampingku. Saat ini dan selamanya aku hanya mencintai Mas Zhein." ucap Suci pelan dan memberikan senyum yang nampak bahagia dengan kehidupannya saat ini.
"Jujur awalnya aku biasa saja Suci. Semua pria itu kan sama, ada maunya pasti agresif ingin mengenal. Tapi mengenal Fathan dia seperti tulus dan serius. Tapi aku tidak bisa mencintainya lagi, aku takut dia tidak bisa menerimaku dan masa laluku Suci." ucap Raina pelan.
"Laki laki yang baik, pasti bisa menerima kekurangan pasangannya dan menerima apa yang menjadi masa lalunya. Mas Zhein seperti itu, dia menerimaku dengan ketulusannya, padahal aku terlahir entah dari benih yang mana. Bunda Jihan pun tidak pernah mengungkit itu. Dengan kisahku ini, aku belajar untuk mencintai orang yang sudah menjadi takdirku dengan penuh kasih sayang. Aku belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Aku belajar, tidak hanya menjadi istri, teman dan sahabat bagi suamiku. Aku belajar menerima keadaan dalam suka maupun duka bersama suamiku. Aku ingin selalu ada untuk suamiku, Kak Raina. Apa yang harus aku ragukan, mas Zhein selalu membuktikan, dia pria yang baik, suami siaga dan calon ayah yang bijaksana. Aku benar-benar mencintainya." ucap Suci menjelaskan dengan panjang lebar.
"Kamu beruntung, Zhein memang setia, dia tidak pernah main perempuan, kalau suka ya akan di dekati, kalau gak suka ya gak memberi harapan." ucap Raina polos.
"Mas Fathan juga baik Kak Raina, coba di jelaskan pelan pelan, kalau Mas Fathan bisa menerima Kak Raina, dia pria yang perlu dijaga." ucap Suci memberikan pendapatnya.
Aku takut Suci, aku seperti ingin lari saja dari kehidupanku sekarang." ucap Raina pelan.
"Kalau lari, berarti Kak Raina menyerah, bukan berusaha untuk bangkit, tapi malah memperparah keadaan." ucap Suci mengingatkan.
"Ya, kamu benar Suci. Aku harus bangkit dan berusaha menerima dengan ikhlas, semua itu harus aku jadikan pelajaran berharga untuk menjalani masa depanku. Aku akan coba menceritakan masalahku pada Fathan, apa reaksinya." ucap Raina dengan penuh semangat.
Semangatnya mulai tumbuh karena kepercayaan dirinya sudah kembali menguatkan Raina menjadi sosok wanita yang tegar dan kuat.
Semoga saja kejujurannya membuat semuanya menjadi lebih baik dan lebih meyakinkan untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
__ADS_1
JAZAKALLAH KHAIRAN