
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Suci dan Zhein menengok ke arah asal suara yang memanggil.
"Waalaikumsalam, Fathan, mematikan kita bergabung disini. Aku baru saja pesan, kamu mau pesan apa Fathan?" ucap Zhein baik.
Suci menjadi salah tingkah, rasanya tidak enak harus semeja dengan orang yang pernah kita kagumi di masa lalu. Berbeda dengan Fathan yang terlihat tenang dan cool.
"Baiklah, sepertinya meja pun sudah penuh, jadi aku tidak ada pilihan lain." ucap Fathan tenang sambil melihat ke arah Suci.
"Mau pesan apa Fathan, biar aku traktir kmu, hari ini aku sedang bahagia karena istriku ini." ucap Zhein tersenyum manis kepada Suci.
Suci pun merapatkan duduknya kepada Zhein, sengaja ingin memperlihatkan kemesraannya bersama Zhein.
"Samakan saja Zhein. Kebetulan sekali bertemu ditempat ini. Kalian dari mana?" ucap Fathan menyelidik.
"Kami dari taman hanya berjalan jalan santai. Kamu dari mana Fathan? Kita jadi sering bertemu tidak sengaja begini." ucap Zhein tenang.
"Mungkin sudah jodohnya." ucap Fathan sambil menatap tajam kepada Suci.
Suci pun langsung menundukkan kepalanya. Zhein melihat perubahan wajah di keduanya, seperti ada yang aneh dan disembunyikan.
"Apa kalian mengenal sebelumnya? sepertinya aku lihat kalian seperti sudah mengenal atau hanya perasaanku saja." ucap Zhein pelan.
"Astaghfirullah, Zhein, apa kamu tidak tahu atau memang istri kamu yang tidak jujur? Aku Fathan, orang yang melamar Suci sesuai janji di masa lalu yang harus ditepati, tapi dia meninggalkan aku dengan menikahimu." ucap Fathan sedikit geram dan kecewa.
Fathan sengaja melakukan ini untuk menghancurkan rumah tangga Suci dan Zhein yang selalu tampil mesra. Fathan cemburu dan merasa muak dengan semua perilaku Suci dan Zhein yang seperti memanas manasinya.
Suci hanya terdiam dan menatap kebencian terhadap Fathan. Suci belum siap membuka semua ini kepada Zhein suaminya.
Suci memegang tangan Zhein dibawah meja, seakan meminta perlindungan.
Zhein hanya tersenyum kepada Fathan. Hatinya kecewa karena ada ketidakjujuran disini, tapi mungkin Suci melakukan ini karena suatu alasan dan bukan disengaja.
"Aku tahu, aku sangat mengenal istriku, dia begitu jujur padaku. Terima kasih atas kado pernikahan darimu karena itu bermanfaat bagi anak anak di panti asuhan." ucap Zhein mantap.
__ADS_1
Suci mendengar ucapan suaminya dengan kagum, bahkan suaminya pun menutupi kesalahannya didepan orang. Sungguh mulia hati suami hamba Ya Allah.
Fathan pun terlihat menatap tajam ke arah Suci yang hanya menundukkan kepalanya.
"Kamu tidak marah Zhein? bagaimana bila Suci masih berharap kepadaku?" ucap Fathan semakin memancing emosi Zhein.
"Coba kamu tanyakan sendiri Fathan, aku tidak cemburu, untuk apa cemburu? Kalaupun Suci lebih memilihmu, dia pasti akan menolakku dari awal. Dan Suci tidak mungkin mau menyerahkan mahkotanya untukku, terlebih sekarang Suci sedang mengandung buah cinta kita." ucap Zhein tenang dengan tidak terpancing emosi.
"Cukup Mas Fathan, hargai keputusanku, aku sudah memilih Mas Zhein untuk menjadi suamiku. Tolong lupakan semuanya, aku tidak ingin Mas Fathan berlarut-larut akan hal ini. Terima ini sebagai takdir kita, kalau ternyata kita memang tidak berjodoh. Tolong jangan ganggu rumah tangga Suci dan Mas Zhein. Ayo Mas Zhein kita pergi dari sini." ucap Suci menarik tangan Zhein dan pergi dari sana.
"Pers*tan dengan takdir Suci, takdirku untuk selalu bersama kamu!!! kembali padaku Suci." ucap Fathan dengan keras dan lantang hingga pengunjung restoran pun melihat ke arah mereka.
Suci tetap tidak memperdulikan Fathan yang berteriak keras dan menggebrak meja. Hatinya sakit, tapi Suci berusaha menutupinya dengan rasa syukur telah tepat memilih Zhein sebagai suaminya.
"Tenangkan hatimu Suci, aku tahu apa yang kamu rasakan, aku pernah ada di posisi mu dulu." ucap Zhein sambil memeluk Suci dengan erat dan mengelus elus punggung Suci dengan lembut.
"Aku takut jika Mas Fathan berbuat nekat." ucap Suci pelan.
"Ada aku Suci, aku akan menjagamu, kita do'akan Fathan agar cepat mendapatkan jodohnya. Jadi ke supermarket gak?" ucap Zhein lembut.
Berjalan kaki menuju supermarket dekat dengan apartemen Zhein. Suci dan Zhein sudah berada di dalam supermarket dan mulai memilih barang barang yang dibutuhkan minimal untuk seminggu ke depan, agar Suci tidak repot bila sedang ditinggal Zhein untuk ke kampus.
"Ambil saja, apa yang kamu mau, jangan ditahan, mau cemilan, biskuit, susu apa saja ambil yang penting sehat untuk anak kita." ucap Zhein lembut.
"Iya Mas, makasih. Mas kamu tidak marah dengan kejadian tadi?" ucap Suci pelan.
"Awalnya aku kecewa, kamu tidak jujur sama aku Suci. Tapi aku tahu, bukan maksud kamu untuk menutupi, alangkah baiknya aku tidak mengenal Fathan. Tapi nyatanya, takdir berkata lain Suci, kita dipertemukan karena hal yang tidak disengaja. Kamu dan Fathan hanya masa lalu, dan kita adalah masa depan. Inikan yang selalu kamu ucapkan padaku?" ucap Zhein mantap.
"Makasih ya Mas, aku usahain untuk tidak ada yang aku tutupi lagi darimu." ucap Suci pelan.
"Zhein......" ucap seorang wanita kemudian memeluk Zhein dengan erat.
Sadar tubuhnya dipeluk dengan wanita yang bukan mahramnya, Zhein pun melepaskannya dengan sedikit kasar.
"Waalaikumsalam, tolong jangan seperti ini didepan umum!!" ucap Zhein ketus.
"Astaghfirullah... Mas Zhein" ucap Suci lirih yang masih terdengar oleh Zhein.
__ADS_1
Zhein pun menarik pinggang Suci, agar merapatkan tubuhnya ke sisi Zhein.
"Ini istriku Siska. Jadi tolong jangan sembrono dalam bertindak." ucap Zhein tegas dengan menatap tajam mata Siska.
"Kita bersaudara Zhein, tidak ada salahnya berpelukan?" ucap Siska membela diri.
"Suci ini Siska sepupuku anak dari pakde Yuda. Aku pernah cerita ini ke kamu. Kamu ingat?" ucap Zhein pelan.
"Ya Mas, aku ingat. Haii aku Suci, istri Mas Zhein." ucap Suci sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Istri??? aku gak salah denger Zhein??" ucap Siska sedikit ketus dan angkuh.
Suci pun menarik kembali tangannya. Suci hanya diam dan mendengarkan kedua sepupu itu berdebat.
"Kamu gak undang papa atau aku?" ucap Siska keras.
"Untuk apa? menyakiti keluargaku lagi? sudah cukup Siska. Jalani hidup masing masing keluarga. Jangan saling mengganggu. Maaf aku duluan, kasian istriku menunggu." ucap Zhein ketus.
"Zhein... aku cinta sama kamu!!!" ucap Siska berteriak hingga pengunjung supermarket pun geleng-geleng kepala.
Zhein tetap berlalu menggandeng tangan suci dengan lembut, tanpa memperdulikan Siska yang berteriak kencang.
"Lucu ya Mas. Tadi Mas Fathan sekarang Siska, nanti siapa lagi?" ucap Suci terkekeh.
"Aku mencintaimu Suci.." ucap Zhein lembut dekat telinga Suci.
"Aku juga mencintaimu Mas Zhein." ucap suci lembut dan menautkan jari jemarinya ke telapak tangan Zhein.
Lupakan masa lalu, hari ini, esok dan selanjutnya hanya ada aku dan kamu.
---------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
__ADS_1