Kesucian Syahadat

Kesucian Syahadat
Bab 78 OLAH RAGA SORE


__ADS_3

Hari sudah menjelang sore, adzan ashar sudah berkumandang sejak tadi. Suci dan Zhein pun sudah melaksanakan sholat fardhunya secara berjamaah di kamar.


Dua jam yang lalu Fathan dan Raina sudah undur diri dengan alasan ingin mengantarkan Raina karena akan bertugas malam hari. Raina pun meninggalkan mobilnya di apartemen Zhein, karena Sang Bunda ingin jalan jalan malam bersama menantunya.


Bunda Jihan dan Mama Larasati pun sedang beristirahat di kamar tamu, kedua paruh baya itu, memang sudah terlihat lelah dan pegal, hingga mereka meminta izin untuk beristirahat di kamar.


Zhein masih berdzikir dan membacakan Surat Yusuf untuk diperdengarkan kepada anaknya. Sedangkan Suci sudah merebahkan diri dengan perut yang diperlihatkan tanpa ditutupi kain.


Perut ibu hamil itu terlihat seksi bila dilihat tanpa busana, bayangkan saja perut membuncit mengalahkan kedua gunung kembarnya.


Usai sudah ritual Zhein membaca surat Yusuf dan berdzikir. Zhein pun naik ke atas ranjang mendekati Suci.


"Perutmu semakin besar, apa kamu tidak lelah?" ucap Zhein sambil mengelus perut Suci dan mengecupnya berulang kali.


"Apa arti lelah bila selalu ada kamu yang menemaniku Mas." ucapan lembut itu sangat membuat hati Zhein menjadi bahagia.


Moodnya langsung melesat menginginkan kata kata yang lebih romantis dari ini. Elusannya pun bukan hanya sekedar di perut Suci tapi sapuan bibir zhein yang sudah berada dileher Suci, sukses membuat Suci melenguh dengan nikmat.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Suci kepada suaminya.


Pertanyaan itu tidak dijawab Zhein, pikirannya hanya bagaimana serangan sore ini bisa tuntas terselesaikan dengan baik dan lancar tanpa hambatan.


Penyatuan bibir mereka pun membuat suara aneh terdengar sedikit syahdu.


"Abi akan ajak kamu berjalan jalan sore sayang, kamu mau?" ucap Zhein kepada anaknya dengan mengelus perut Suci dan menciuminya dengan lembut.


Ciuman basah pun sudah absen di seluruh tubuh Suci, membuat wanita hamil itu semakin terlihat seksi dan agresif. Perutnya yang membulat, sedikit terasa kencang dan menegang.


"Sayang, kok perutnya keras begini, gak seperti biasanya. Sakit? kalau sakit, Mas puasa gak papa." ucap Zhein yang merasa cemas, tapi ingin melanjutkan.

__ADS_1


Sudah mengembang baik masa harus kembali di tidurkan, bisa pusing kepala Abang.


"Gak Mas, gak papa, asal pelan pelan. Kak Raina juga bilang begitu. Perut Suci biasa seperti ini, mungkin Suci terlalu cemas dan khawatir." ucap Suci pelan memberikan ruang bagi suaminya yang sudah mode on.


Gua sempit dan ular ularan pun sudah menahan hasratnya. Si ular sudah tidak sabar, melata di gua sempit nan basah dan licin, membuat si ular hanya bisa menahan nafasnya karena takut hilangnya kenikmatan. Beda dengan gua sempit itu, sudah lama tidak terjamah, hingga membuat gua sempit itu mudah sekali basah dan licin, sesekali si ular pun tergelincir, karena perut yang sudah membesar.


Permainan petak umpat pun sudah tidak bisa terelakkan, si ular sudah tidak tahan bermain main disana, menjelajah gua sempit hingga terasa penuh dan sesak, karena si ular mengembang sesuai dengan porsinya. Hanya terdengar suara-suara aneh yang menggema pada dinding gua itu, hingga si ular pun sudah tidak tahan untuk mengeluarkan bisanya didalam gua sempit itu hingga meluap keluar, karena bisa terlalu banyak. Membuat kehangatan tersendiri didalam gua itu, hingga si ular itu lelah dan mengecil kembali, lalu dengan mudahnya ular itu keluar dari gua sempit itu.


Perenggangan otot yang cukup melelahkan tapi juga menyenangkan. Mereka sama sama lelah dan tertidur pulas dibawah selimut tebal.


Hingga suara ketukan dari luar kamar sukses membuat mereka, terlonjak kaget dan menatap jam di dinding. Pukul Lima sore lewat, gumam Zhein pelan.


Suci masih tertidur, dipegangnya perut Suci dan benar sudah tidak sekeras tadi, bahkan sekarang lebih lentur dan empuk.


Zhein pun mandi junub, dan segera memakai bajunya kemudian keluar kamarnya.


Kedua ibunya itu menatap Zhein dengan senyum merekah.


Zhein pun hanya menatap Bundanya dan mengedipkan satu matanya ke arah Bundanya, karena Mama Laras sedang fokus menonton drakor kesukaannya.


Zhein pun mendekati bundanya dan duduk di sebelah bundanya.


"Bunda kita jalan jalannya setelah maghrib saja, sekalian makan malam. Besok pagi Zhein ke kampus jam tujuh. Sidang di mulai jam delapan biar ada persiapan Bunda." ucap Zhein yang terlihat cemas dan ragu.


"Anak Bunda pasti berhasil, kamu jangan takut atau cemas, harus yakin. Bangunkan Suci, suruh mandi, jangan sering-sering diajak olah raga, kasihan Suci." ucap Bunda Jihan menasehati.


"Bunda kayak gak pernah muda, Zhein tadi khilaf." ucapnya terkekeh sambil bangkit berdiri meninggalkan bundanya sendiri.


Sang Bunda pun menunjukkan kepalan tangannya ke arah Zhein, karena sudah berani menggoda Bundanya.

__ADS_1


Zhein pun membangunkan Suci dengan lembut, lewat kecupan kecupan basah tanpa khilaf. Bisa repot kalau khilaf terus, cape sudah tentu, pegal pegal pasti, lapar kemudian.


Suci pun terbangun, kedua matanya masih setengah terbuka, karena rasa kantuknya mengalahkan segalanya.


"Sayang... bangun, mandi junub dulu, sudah mau Maghrib, katanya mau jalan-jalan sama Bunda dan Mama. Jadi gak?" ucap Zhein pelan sambil mengelus kembali perut itu.


Perut Suci sudah seperti candu bagi Zhein, setiap melihatnya ingin terus mengelus, asal jangan perut yang lain, bisa bubar jalan kalau sampai terjadi.


Suci pun bangkit dan berdiri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mandi junub. Sedangkan Zhein membereskan tempat tidur yang porak poranda karena aktivitas olah raga sorenya. Mengingat ular yang masih ingin mendekam di dalam Gua sempit nan hangat itu.


Zhein hanya tersenyum membayangkan Suci lemas tidak berdaya karena keagresifan si ular hingga bantal dan guling berjatuhan dari tempatnya.


"Mas, ambilkan daster dong, Suci lupa bawa daster." ucapnya pelan.


"Iya sayang, sebentar Mas ambilkan." ucap Zhein pelan dengan segera mengambilkan daster panjang milik Suci.


Zhein memberikan daster tersebut kepada Suci.


"Kamu gak pake daleman sayang?" tanya Zhein pelan, karena melihat istrinya langsung saja meloloskan dasternya pada tubuhnya yang polos.


"Gak Mas, sekarang pengab kalau pake BH juga. Mending dilepas, nanti kalauau pergi baru dipake." ucap Suci pelan.


"Oh ya sudah, senyaman kamu saja sayang. Karena aku juga kan gak tahu, gak ikut merasakan." ucap Zhein pelan.


"Iya Mas, gak papa kan, cuma dikamar aja kok, kalau ke depan nanti aku pakai lagi." ucap Suci merajuk.


"Iya, sudah wudhu belum? sudah waktunya sholat Maghrib." ucap Zhein mengingatkan.


*Kehamilan yang ditunggu oleh pasangan halal akan terasa mudah dan nyaman dijalani. Berbeda dengan kehamilan yang terjadi karena suatu keadaan tertentu yang terpaksa.

__ADS_1


**JAZAKALLAH KHAIRAN***


__ADS_2